Minggu, 29 Oktober 2017

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DIMADRASAH / SEKOLAH





TEMA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI MADRASAH / SEKOLAH







JUDUL
MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI MADRASAH
OLEH:
SITI NURHALIMAH
NIM: 160103088
KELAS: C
SEMESTER II
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
TADRIS MATEMATIKA
UNIVERSITAS ISLAM  NEGERI  MATARAM
BABI
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Peradaban bangsa sedang dihadapkan pada berbagai tantangan, hal ini terjadi karena gencarannya informasi, serta lepasnya sekat antara bangsa lewat teknologi informasi. Untuk menghadapi tantangan ini bagi dunia pendidikan. Maka para pendidik dituntut untuk bisa meningkatkan mutu pembelajaran matematika di sekolah yang lebih khusus lagi pada pembelajaran matematika yang terdapat di Madrasah. Yang dimana kebanyakan sisiwanya yang cendrung tingkat kualitas matematikanya yang kurang atau sangat rendah.
B.     Permasalahan
Dari latar belakang diatas maka permasalahan yang dapat kita ambil adalah:
1.      Cara kita untuk meningkatkan mutu pembelajran matematika di madrasah tersebut ?









BAB II
PEMBAHASA
C.    Teori
1.      Cara Untuk meningkatakan mutu pembelajaran matematika di sekolah.
Pada masa lalu, pembelajaran matematika dalam sistem persekolahan diberikan sebagai pengetahuan dasar untuk mendalami lebih jauh lagi bidang-bidang pengethuan dan kerekanyasaanya. Sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya IPA dan Teknologi dalam kehidupan modern, kebutuhan akan penguasaan matematika menjadi sangatlah penting karena bekaitan dengan kemampuan untuk dapat berpatisipasi di masyarakat dan dalam memenuhi tuntutan pekerjaan sehari-hari. Pada masyarakat pengetahuan sekarang ini, setiap orabg di tuntut untuk memiliki tingkat literi matematika yang memadai.[1] Sesorang dianggap memiliki tingkat literis matematika apabila ia mampu menganalisis, memberi alasan dan mengomunikasikan pengetahuan dan keterampilan matematikanya secara epektif, serta mampu memecahkan dan menginterprestasikan permasalhan matemaika dalam berbagai situasi yang berkaitan dengan penjumlahan, bentuk dan ruang, probabilitas, atau konsep matematia lainnaya.[2]
Oleh karena itu sangat penting motivasi spiritual bagi guru agar bisa meningkatkan mutu pemberajaran matematikanya kepada siswa. Meskipun motivasi itu merupakan suatu keuatan, namun tidaklah merupakan suatu subtansi yang dapat kita amati. Yang dapat kita lakukan adalah mengidentifikasi beberapa indikator dalam term-term tertentu.[3]
Dalam proses pembelajaran, guru seringkali dihadapkan pada berbagai dinamika yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik. Perubahan-perubahan dan perkembangan yang terjadi pada peserta didik ini harus mendapat perhatian dari guru, karena beranjak dari pemahaman ini guuru dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pesrta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Dalam teorinya, piagnet megemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka beerbeda stu samalainnya. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap yang satu ketahap yang lebih tinggi. Semua perubahanyang terjadi pada setiap tahap tersebut merupakan kondisi yang di perlukan untuk mengubah atau menunggkatkan tahap perkembangan moral berikutnya.[4]
Dari pengamatan yang kita lakukan, pada umumnya orang tua dan guru kurang memberikan kepercayaan penuh kepada anak-anak untuk memecahkan masalah. Kebanyakan orang tua begitu cepat memberikan bantuan kepada anak dalam menyelesaikan sesuatu, padahal bantuan itu belum betul-betul dibutuhkan. Demikian pula bekitu sering orang tua maupun guru membuat suatu keputusan bagi anak-anak, padahal bilamana mereka diberikan kesenpatan dan dorongan yang lebih besar, mungkin sekali mereka bisa memandang suatu masalah dari segala sisi dan memecahkan masalah yang rumit sekalipun yang sesungguhnya sangat berguna bagi kelangsungan dan kualitas hidup mereka.
Hal yang sangat penting yang harus diketahi para pendidik adalah kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan yang menyantu dengan proses pertumbuhan.[5]
Dalam sebuah buku yang berjudul Becoming A Teacher, parkey (1997) mengemukakan bahwa untuk menghadapi tantangan, masa depan, siswa akan membutuhkan pengetahuan, keterampilan, ssikap dan nilai di sembilan area kunci yaitu; (a) kemampun bahasa, matematika dan sain, (b) keterampilan teknologi baru, (c) kemampuan pemecahan masalah, pikiran krtis dan kreativitas, (d) kecerdasan sosial, keterampilan berkomunikasi dan membangun sinegisitas kelompok, (e) keadaran global dan keterampilan konservasi, (f) pendidikan kesehatan dan kesejah teraan, (g) orientasi moral dan etika, (h) kesadaran estetika, (i) pendidikan seumur hidup untuk kemandirian belajar.[6]
Kita sudah berbicara soal apa kemungkinan yang bakal terjadi sebagai konsekuensi dari perlakuan kita terhadap masalah. Jika kita memilih sebagai tantangan, cepat atau lambat, sudah pasti masalah itu aka membuat kita pintar dan kuat.semua masalah itu selama dihadapi dengan nalar yang benar sudah pasti akan membuat kita lebih paham, lebih kuat, atau lebih kompeten, meskipun semua masalah itu kita tidak dapat menemukan solusinya.[7]
Kegiatan belajar mengajar bagian terpenting dari seluruh kegiatan di sekolah. Oleh karena itu kegiatan mengajar perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat berlangsung dengan baik dengan mencapai tujuan yang diharapkan. Ada beberapa model yang bisa dipergunakan dalam menyusun rencana pengajaran, yang lebih dikenal dengan istilah “ disain pengajaran”.[8]
Pengetahuan dan keterampilan matematika itu  diukur berdasarkan tiga dimensi yang berkaitan dengan (1) isi atau konten matematika (2) proses yang perlu dilakukan siswa ketika mengamati suatu gejala, menghubngkan gejala itu dengan matematika, kemudian memecahkan masalah yang diamati itu, dan (3) situasi dan konteks dan konteks dalm soal matematika.
Isi atau Konten Matematika
Konten matematika dalam PISA ditentukan berdasarkan hasil study yang mendalam serta berdasarkan konsesnsus diantara Negara-negara OECD agar pencapaian siswa itu dapat dibandingkan secara internasional dengan memerhatikan keragaman masing-masing negar peserta. Konten itu dibagi menjadi empat bagian berikut ini.
·         Ruang dan bentuk (space and shape) berkaitan dengan pokok pembicaraan geometri. Soal dan bentuk ruang dan bentuk ini menguji kemampuan siswa mengenali bentuk, mencari persamaan dan perbedaan dalam berbagai dimensi dan representiasi bentuk, serta mengenai ciri-ciri suatu benda dalam hubunganya dengan suatu posisi benda tersebut.
·         Perubahan dan hubungan (change and relationships) berkaitan dengan pokok pembelajaran aljabar. Hubungan matematika sering dinyatakan denga persamaan dan hubungan yang bersifat umum, seperti penambahan, pengurangan, dan pembagian. Hbungan itu juga dinyatakan dalam berbagu simbol aljabar, garfik , bentuk geomerti, dan tabel. Oleh karena setiap representasi siimbol itu memiliki tujuan dan sifatnya masing-masing, proses penerjemahannya sering menjadi sangat penting dan menentukan sesuai dengan situasi dan tugas yang harus dikerjakan.
·         Bilangan (quantity) berkaitan dengan hubungan bilangan dan pola bilangan,anatara lain kemampuam untuk mengetahui ukuran, pola bilangan, dan segala sesuatu yang berhubungan denagn bilangan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berhitung dan mengukur benda-benda ertentu. Termasuk didalam konten bilangan ini adalah kemampuan bernalar secara kuantitatif, memreprensentasikan sesuatu dalm angka, memahami langkah-langka matematika, berhitung di luar kepala, dan melakukan penaksiran.
·         Probabilitas dan ketidakpastian (uncertainty) berhubungan dengan statistik dan probabilitas yang sering digunakan dalam masyarakatimformasi.
Keempat konten matematika di atas adalah landasan untuk belajar matematika sepanjang hayat untuk kebutuhan hidup keseharian. Dalam laporan ini, pencapaian siswa dalam mengerjakan soal-soal PISA dalam keempat konten tersebut diuraikan dan dibandingkan antar negara peserta.
Proses Matematika
Dalam mengukur kemampuan proses, PISA melakukannya denagn mengamati kemampan beranalar, menganalisis, mengemonikasikan gagasan, dan merumuskan dan menyelesaikan masalah. Kurikulim matematikadisekolah diharapkan dapat membelajarkan siswa untuk bernalar dan menganalisis suatu suatu keadaan sesuai denagn konteks kehidupan sehari-hari. Kemmpuan ini  kemudian harus disertai dengan kemampuan megomunikasikan gagasan yang akan menumbuhkan kopetensi berkmunikasi yang pada giliranya aan mengembangkan kompetensi dalam pemecahan permasalah. Proses ini dikenal dengan sebagai proses ‘matematisasi’.
Komppetensi yang diperlukan untuk dapat melakukan proses ini meliputi kemampuan berpikir dan bernalar, beragumentasi, berkomunikasi, membuat model, merumuskan dan mememcahkan masalah, melakukan representasi, dan menggunakan bahasa matematika.
Kendati sulit melakukan penelitian terhadap kompetensi proses diatas, PISA mengelompokkan kompenen proses ini kedalam tiga kelompok.
·         Kompenen proses reproduksi
·         Kompenen proses koneksi
·         Kompenen proses refleksi
Konteks Matematika
Dalam PISA, konteks matematika dibagi menjadi empat situasi berikut ini.
·         Konteks pribadi yang secara langsung berhubungan dengan kegiatan pribadi siswa sehari-hari
·         Konteks pendidikan dan perkerjaan yang berkaitan dengan kehidupan siswa disekolah atau di lingkungan tempat berkerja.
·         Konteks umum yang berkaitan dengan penggunaan matematiaka dalam kehidupan bermasyarakat dan lingkungan yang lebuh luas dalam kehidupan sehari-hari.
·         Konteks keilmuaan yang secara khusus berhubungan denagn kegiatan ilmiah yang lebih bersifat abstrak dan menuntut pemahaman dan penguasaan teori dalam melakukan pemecahan masalah matematika.[9]
D.    Hasil / Temuan Penelitian dan Analisis
Madrasah Tsanawiyah Annajah sebagai lembaga pendidikan islam, merasa terpanggil dan mempunyai tanggung jawab untuk turut serta dalam menghidupan bangsa. Madrasah Tsanawiyah Annajah selalu berusaha untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan peradaban dan perkembangan teknologi.  Tetapi metode yang sering digunakan oleh guru madrasah tsanawiyah annajah cendrung menggunakan metode ceramah dan jarang menggunakan metode yang lainnya. Dan guru yang penulis wawancarai ini beranggapan bahwa peserta didik itu kalau ditekan atau kalau dipaksa dalam memahami matematika itu akan membuat anak akan semakin tambah takut oleh matematika dan beranggapan bahwa matematika itu adalah pelajaran yang sangat sulit dan ditakuti. Dan hasil wawancara yang penulis lakukan adalah seorang guru matematika seharunya mempunyai sikap yang baik bagi peserta didiknya karena matematika adalh pelajaran yang sulit dan jangan lebih ditakutkan lagi dengan sikap guru yang galak.
Setrategi yang di gunakan di MTS Annajah ini cendrung menggunakan strategi tanya jawab dan tiba-tiba ditunjuk untuk menjawab. Dengan cara ini peserta didik akan siap-siap untuk menerima perintah yang di suruh oleh gurunya.
Adapun media yang digunakan itu macam-macam tapi lebih cendrung menggunakan LCD supanya bisa mempermudah dalam memahamnya.
Seorang peserta didik tidak boleh di tekan karena tidak boleh itu sama saja dengan mengurangkan mental anak dan mengurangi emosional peserta didik.
E.     KESIMPULAN
Dalam proses pembelajaran, guru seringkali dihadapkan pada berbagai dinamika yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik. Perubahan-perubahan dan perkembangan yang terjadi pada peserta didik ini harus mendapat perhatian dari guru, karena beranjak dari pemahaman ini guuru dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pesrta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Dalam teorinya, piagnet megemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka beerbeda stu samalainnya. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap yang satu ketahap yang lebih tinggi. Semua perubahanyang terjadi pada setiap tahap tersebut merupakan kondisi yang di perlukan untuk mengubah atau menunggkatkan tahap perkembangan moral berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hayat,Bahrul dan Suhendra Yusuf.  2010. Mutu Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Ubaedy,AN. 2014. Mengajar Dengan Hati. Jakarta: Bee Media Pustak.
Muslim,Sri Banun. 2013. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru. Bandung: Alpabeta.
Makmun, Abin Syamsuddin. 2009. Psikologi  Kependidikan.. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Aunurrahman . 2011. Belajar dan Pembelajaran .Bandung: Alfabeta.



[1] Bahrul Hayat dan Suhendra Yusuf “ Mutu Pendidikan”  (Jakarta: Bumi Aksara,2010), hlm 211
[2] Ibid
[3] Abin Syamsuddin Makmun “ Psikologi Kependidikan” ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009 ), hlm 40
[4] Aunurahman “ Belajar Dan Pembelajaran”  penerbit Alfabeta Bandung, 2011. Hlm 58
[5] Anurrahman “ Belajar Dan Pembelajaran” penerbit Alfabet, Bandung, 2011, hlm 106
[6] Ibid 107
[7] AN. Ubaedy “Mengajar Dengan Hati”  (penerbit bee media pustaka, jakarta, 2014), hlm 14
[8] Sri Banun Muslim “ Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru”. (Penerbit Alfabeta, Bandung,2013), hlm 116
[9] Bahrul Hayat dan Suhengra Yusuf “Mutu Pendidikan”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm 213-217

0 komentar:

Posting Komentar

RPP tentang SITEM PETIDAKSAMAAN LINIER TIGA VARIABEL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : MA. Ittihadil Ummah Mata Pelajaran/Tema : Matematika/Sistem Persamaan dan Pe...