TEMA
PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI MADRASAH / SEKOLAH
JUDUL
MENINGKATKAN MUTU
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI MADRASAH
OLEH:
SITI NURHALIMAH
NIM: 160103088
KELAS: C
SEMESTER II
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
TADRIS MATEMATIKA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MATARAM
BABI
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Peradaban bangsa sedang
dihadapkan pada berbagai tantangan, hal ini terjadi karena gencarannya
informasi, serta lepasnya sekat antara bangsa lewat teknologi informasi. Untuk
menghadapi tantangan ini bagi dunia pendidikan. Maka para pendidik dituntut
untuk bisa meningkatkan mutu pembelajaran matematika di sekolah yang lebih
khusus lagi pada pembelajaran matematika yang terdapat di Madrasah. Yang dimana
kebanyakan sisiwanya yang cendrung tingkat kualitas matematikanya yang kurang
atau sangat rendah.
B.
Permasalahan
Dari latar belakang
diatas maka permasalahan yang dapat kita ambil adalah:
1. Cara
kita untuk meningkatkan mutu pembelajran matematika di madrasah tersebut ?
BAB II
PEMBAHASA
C.
Teori
1. Cara
Untuk meningkatakan mutu pembelajaran matematika di sekolah.
Pada masa lalu,
pembelajaran matematika dalam sistem persekolahan diberikan sebagai pengetahuan
dasar untuk mendalami lebih jauh lagi bidang-bidang pengethuan dan
kerekanyasaanya. Sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya IPA dan Teknologi
dalam kehidupan modern, kebutuhan akan penguasaan matematika menjadi sangatlah
penting karena bekaitan dengan kemampuan untuk dapat berpatisipasi di
masyarakat dan dalam memenuhi tuntutan pekerjaan sehari-hari. Pada masyarakat
pengetahuan sekarang ini, setiap orabg di tuntut untuk memiliki tingkat literi
matematika yang memadai.[1] Sesorang dianggap memiliki tingkat literis matematika
apabila ia mampu menganalisis, memberi alasan dan mengomunikasikan pengetahuan
dan keterampilan matematikanya secara epektif, serta mampu memecahkan dan
menginterprestasikan permasalhan matemaika dalam berbagai situasi yang
berkaitan dengan penjumlahan, bentuk dan ruang, probabilitas, atau konsep
matematia lainnaya.[2]
Oleh
karena itu sangat penting motivasi spiritual bagi guru agar bisa meningkatkan
mutu pemberajaran matematikanya kepada siswa. Meskipun motivasi itu merupakan
suatu keuatan, namun tidaklah merupakan suatu subtansi yang dapat kita amati.
Yang dapat kita lakukan adalah mengidentifikasi beberapa indikator dalam term-term tertentu.[3]
Dalam
proses pembelajaran, guru seringkali dihadapkan pada berbagai dinamika yang
berkaitan dengan perkembangan peserta didik. Perubahan-perubahan dan
perkembangan yang terjadi pada peserta didik ini harus mendapat perhatian dari
guru, karena beranjak dari pemahaman ini guuru dapat memilih strategi
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pesrta didik yang terlibat dalam
proses pembelajaran.
Dalam
teorinya, piagnet megemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui
urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka beerbeda stu
samalainnya. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap yang
satu ketahap yang lebih tinggi. Semua perubahanyang terjadi pada setiap tahap
tersebut merupakan kondisi yang di perlukan untuk mengubah atau menunggkatkan
tahap perkembangan moral berikutnya.[4]
Dari
pengamatan yang kita lakukan, pada umumnya orang tua dan guru kurang memberikan
kepercayaan penuh kepada anak-anak untuk memecahkan masalah. Kebanyakan orang
tua begitu cepat memberikan bantuan kepada anak dalam menyelesaikan sesuatu,
padahal bantuan itu belum betul-betul dibutuhkan. Demikian pula bekitu sering
orang tua maupun guru membuat suatu keputusan bagi anak-anak, padahal bilamana
mereka diberikan kesenpatan dan dorongan yang lebih besar, mungkin sekali
mereka bisa memandang suatu masalah dari segala sisi dan memecahkan masalah
yang rumit sekalipun yang sesungguhnya sangat berguna bagi kelangsungan dan
kualitas hidup mereka.
Hal
yang sangat penting yang harus diketahi para pendidik adalah kemampuan
memecahkan masalah merupakan kemampuan yang menyantu dengan proses pertumbuhan.[5]
Dalam
sebuah buku yang berjudul Becoming A
Teacher, parkey (1997) mengemukakan bahwa untuk menghadapi tantangan, masa
depan, siswa akan membutuhkan pengetahuan, keterampilan, ssikap dan nilai di
sembilan area kunci yaitu; (a) kemampun bahasa, matematika dan sain, (b)
keterampilan teknologi baru, (c) kemampuan pemecahan masalah, pikiran krtis dan
kreativitas, (d) kecerdasan sosial, keterampilan berkomunikasi dan membangun
sinegisitas kelompok, (e) keadaran global dan keterampilan konservasi, (f)
pendidikan kesehatan dan kesejah teraan, (g) orientasi moral dan etika, (h)
kesadaran estetika, (i) pendidikan seumur hidup untuk kemandirian belajar.[6]
Kita
sudah berbicara soal apa kemungkinan yang bakal terjadi sebagai konsekuensi
dari perlakuan kita terhadap masalah. Jika kita memilih sebagai tantangan,
cepat atau lambat, sudah pasti masalah itu aka membuat kita pintar dan
kuat.semua masalah itu selama dihadapi dengan nalar yang benar sudah pasti akan
membuat kita lebih paham, lebih kuat, atau lebih kompeten, meskipun semua
masalah itu kita tidak dapat menemukan solusinya.[7]
Kegiatan
belajar mengajar bagian terpenting dari seluruh kegiatan di sekolah. Oleh
karena itu kegiatan mengajar perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya sehingga
dapat berlangsung dengan baik dengan mencapai tujuan yang diharapkan. Ada
beberapa model yang bisa dipergunakan dalam menyusun rencana pengajaran, yang
lebih dikenal dengan istilah “ disain pengajaran”.[8]
Pengetahuan dan
keterampilan matematika itu diukur
berdasarkan tiga dimensi yang berkaitan dengan (1) isi atau konten matematika
(2) proses yang perlu dilakukan siswa ketika mengamati suatu gejala,
menghubngkan gejala itu dengan matematika, kemudian memecahkan masalah yang
diamati itu, dan (3) situasi dan konteks dan konteks dalm soal matematika.
Isi
atau Konten Matematika
Konten
matematika dalam PISA ditentukan berdasarkan hasil study yang mendalam serta
berdasarkan konsesnsus diantara Negara-negara OECD agar pencapaian siswa itu
dapat dibandingkan secara internasional dengan memerhatikan keragaman
masing-masing negar peserta. Konten itu dibagi menjadi empat bagian berikut ini.
·
Ruang dan bentuk (space and shape) berkaitan dengan pokok
pembicaraan geometri. Soal dan bentuk ruang dan bentuk ini menguji kemampuan
siswa mengenali bentuk, mencari persamaan dan perbedaan dalam berbagai dimensi
dan representiasi bentuk, serta mengenai ciri-ciri suatu benda dalam hubunganya
dengan suatu posisi benda tersebut.
·
Perubahan dan hubungan
(change and relationships) berkaitan
dengan pokok pembelajaran aljabar. Hubungan matematika sering dinyatakan denga
persamaan dan hubungan yang bersifat umum, seperti penambahan, pengurangan, dan
pembagian. Hbungan itu juga dinyatakan dalam berbagu simbol aljabar, garfik ,
bentuk geomerti, dan tabel. Oleh karena setiap representasi siimbol itu
memiliki tujuan dan sifatnya masing-masing, proses penerjemahannya sering
menjadi sangat penting dan menentukan sesuai dengan situasi dan tugas yang
harus dikerjakan.
·
Bilangan (quantity) berkaitan dengan hubungan
bilangan dan pola bilangan,anatara lain kemampuam untuk mengetahui ukuran, pola
bilangan, dan segala sesuatu yang berhubungan denagn bilangan dalam kehidupan
sehari-hari, seperti berhitung dan mengukur benda-benda ertentu. Termasuk
didalam konten bilangan ini adalah kemampuan bernalar secara kuantitatif,
memreprensentasikan sesuatu dalm angka, memahami langkah-langka matematika,
berhitung di luar kepala, dan melakukan penaksiran.
·
Probabilitas dan
ketidakpastian (uncertainty)
berhubungan dengan statistik dan probabilitas yang sering digunakan dalam
masyarakatimformasi.
Keempat
konten matematika di atas adalah landasan untuk belajar matematika sepanjang
hayat untuk kebutuhan hidup keseharian. Dalam laporan ini, pencapaian siswa
dalam mengerjakan soal-soal PISA dalam keempat konten tersebut diuraikan dan
dibandingkan antar negara peserta.
Proses Matematika
Dalam
mengukur kemampuan proses, PISA melakukannya denagn mengamati kemampan
beranalar, menganalisis, mengemonikasikan gagasan, dan merumuskan dan
menyelesaikan masalah. Kurikulim matematikadisekolah diharapkan dapat
membelajarkan siswa untuk bernalar dan menganalisis suatu suatu keadaan sesuai
denagn konteks kehidupan sehari-hari. Kemmpuan ini kemudian harus disertai dengan kemampuan
megomunikasikan gagasan yang akan menumbuhkan kopetensi berkmunikasi yang pada
giliranya aan mengembangkan kompetensi dalam pemecahan permasalah. Proses ini
dikenal dengan sebagai proses ‘matematisasi’.
Komppetensi
yang diperlukan untuk dapat melakukan proses ini meliputi kemampuan berpikir
dan bernalar, beragumentasi, berkomunikasi, membuat model, merumuskan dan
mememcahkan masalah, melakukan representasi, dan menggunakan bahasa matematika.
Kendati
sulit melakukan penelitian terhadap kompetensi proses diatas, PISA
mengelompokkan kompenen proses ini kedalam tiga kelompok.
·
Kompenen proses
reproduksi
·
Kompenen proses koneksi
·
Kompenen proses
refleksi
Konteks
Matematika
Dalam PISA, konteks matematika dibagi
menjadi empat situasi berikut ini.
·
Konteks pribadi yang
secara langsung berhubungan dengan kegiatan pribadi siswa sehari-hari
·
Konteks pendidikan dan
perkerjaan yang berkaitan dengan kehidupan siswa disekolah atau di lingkungan
tempat berkerja.
·
Konteks umum yang
berkaitan dengan penggunaan matematiaka dalam kehidupan bermasyarakat dan
lingkungan yang lebuh luas dalam kehidupan sehari-hari.
·
Konteks keilmuaan yang
secara khusus berhubungan denagn kegiatan ilmiah yang lebih bersifat abstrak
dan menuntut pemahaman dan penguasaan teori dalam melakukan pemecahan masalah
matematika.[9]
D.
Hasil
/ Temuan Penelitian dan Analisis
Madrasah Tsanawiyah
Annajah sebagai lembaga pendidikan islam, merasa terpanggil dan mempunyai
tanggung jawab untuk turut serta dalam menghidupan bangsa. Madrasah Tsanawiyah
Annajah selalu berusaha untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan peradaban
dan perkembangan teknologi. Tetapi
metode yang sering digunakan oleh guru madrasah tsanawiyah annajah cendrung
menggunakan metode ceramah dan jarang menggunakan metode yang lainnya. Dan guru
yang penulis wawancarai ini beranggapan bahwa peserta didik itu kalau ditekan
atau kalau dipaksa dalam memahami matematika itu akan membuat anak akan semakin
tambah takut oleh matematika dan beranggapan bahwa matematika itu adalah
pelajaran yang sangat sulit dan ditakuti. Dan hasil wawancara yang penulis
lakukan adalah seorang guru matematika seharunya mempunyai sikap yang baik bagi
peserta didiknya karena matematika adalh pelajaran yang sulit dan jangan lebih
ditakutkan lagi dengan sikap guru yang galak.
Setrategi yang di
gunakan di MTS Annajah ini cendrung menggunakan strategi tanya jawab dan tiba-tiba
ditunjuk untuk menjawab. Dengan cara ini peserta didik akan siap-siap untuk
menerima perintah yang di suruh oleh gurunya.
Adapun media yang
digunakan itu macam-macam tapi lebih cendrung menggunakan LCD supanya bisa
mempermudah dalam memahamnya.
Seorang peserta didik tidak boleh di
tekan karena tidak boleh itu sama saja dengan mengurangkan mental anak dan
mengurangi emosional peserta didik.
E.
KESIMPULAN
Dalam
proses pembelajaran, guru seringkali dihadapkan pada berbagai dinamika yang
berkaitan dengan perkembangan peserta didik. Perubahan-perubahan dan
perkembangan yang terjadi pada peserta didik ini harus mendapat perhatian dari
guru, karena beranjak dari pemahaman ini guuru dapat memilih strategi
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pesrta didik yang terlibat dalam
proses pembelajaran.
Dalam teorinya, piagnet
megemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama,
meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka beerbeda stu samalainnya.
Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap yang satu ketahap
yang lebih tinggi. Semua perubahanyang terjadi pada setiap tahap tersebut
merupakan kondisi yang di perlukan untuk mengubah atau menunggkatkan tahap
perkembangan moral berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hayat,Bahrul dan
Suhendra Yusuf. 2010. Mutu Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Ubaedy,AN. 2014. Mengajar Dengan Hati. Jakarta: Bee Media
Pustak.
Muslim,Sri Banun. 2013.
Supervisi Pendidikan Meningkatkan
Kualitas Profesionalisme Guru. Bandung: Alpabeta.
Makmun, Abin
Syamsuddin. 2009. Psikologi Kependidikan.. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Aunurrahman . 2011. Belajar dan Pembelajaran .Bandung:
Alfabeta.
[1] Bahrul Hayat dan
Suhendra Yusuf “ Mutu Pendidikan” (Jakarta: Bumi Aksara,2010), hlm 211
[2] Ibid
[3] Abin Syamsuddin Makmun “ Psikologi Kependidikan” ( Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2009 ), hlm 40
[4] Aunurahman “ Belajar Dan Pembelajaran” penerbit Alfabeta Bandung, 2011. Hlm 58
[5] Anurrahman “ Belajar Dan Pembelajaran” penerbit
Alfabet, Bandung, 2011, hlm 106
[6] Ibid 107
[7] AN. Ubaedy “Mengajar Dengan Hati” (penerbit bee media pustaka, jakarta, 2014),
hlm 14
[8] Sri Banun Muslim “ Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas
Profesionalisme Guru”. (Penerbit Alfabeta, Bandung,2013), hlm 116
[9] Bahrul Hayat dan
Suhengra Yusuf “Mutu Pendidikan”, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2010), hlm 213-217






0 komentar:
Posting Komentar