Selasa, 10 Oktober 2017

KARYA TULIS ILMIAH



KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH INTEGRASI STATISTIKA DENGAN AL – QUR’AN

Oleh

Nurasini
160103089

Kelas IC



PRODI TADRIS MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH KEGURUAN
INSITUT AGAMA ISLAM NEGERI MATARAM
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “pengaruh integrasi statistika dengan al-qur’an  ”, yang mana makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran bahasa indonesia.
Adapun yang kami bahas dalam makalah ini yaitu integrasi, statistika, al-qur’an . Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan-kekurangannya, hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan, waktu, serta sumber yang kami miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan penyusunan selanjutnya.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
                                                                                            
Mataram, 29 November 2016


Penulis




                                                                                                                                         



DAFTAR ISI

COVER.............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR................................................................................... .. ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
I.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1
I.2. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
I.3. Tujuan ................................................................................................... 2
1.4. Manfaat ................................................................................................ 2
I.5. Hipotesis................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................. 3
 II.1 Integrasi............................................................................................... 3
II.2 Statistika............................................................................................... 4
II.3 Al-Qur’an .......................................................................................... .. 4

BAB III PENUTUP.......................................................................................... 11
III.1.  Kesimpulan  ……………………………………………………….. 11
III.2. Saran ……………………………………………………………….. 11

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... .. 12









BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Komplek masalah kehidupan ini yang terkandung dalam tampak saling tumpang tindih sehingga masalah menjadi semakin rumit dipecahkan, telah memaksa lahirnya pola -  pola berfikirr bbaru seperti  persialisasi – persialisasi masalah guna mempermudah memecehakan. Untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang demikian komplek tersebut maka diperlukan adanya tafsir alqur’an dengan metode baru yaitu metode  temmatik [1]
Secara etimologis kata “statistik” berasal dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan arti dengan kata state (bahasa Inggris) atau kata staat (bahasa Belanda), dan yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi negara. Pada mulanya, kata “statistik” diartika sebagai “kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu negara. Namun, pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada “kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif)” saja; bahan keterangan yang tidak berwujud angka (data kualitatif) tidak lagi disebut statistik.
Dalam kamus bahasa Inggris akan kita jumpai kata statistics dan kata statistic. Kedua kata itu mempunyai arti yang berbeda. Kata statistics artinya “ilmu statistik”, sedang kata statistic diartika sebagai “ukuran yang diperoleh atau berasal dari sampel,” yaitu sebagai lawan dari kata “parameter” yang berarti “ukuran yang diperoleh atau berasal dari populasi”.[2]


I.2. Rumusan Masalah
Apakah ada  pengaruh integrasi statistika dengan alquran


1.3 Tujuan
Untuk mengetahui adanya pengaruh integrasi statistika dengan alquran

I.4. Manfaat
sebagai alat bantu ilmu lain,bahwa statistik dapat menjadi alatbantu untuk memahami petunjuk al-qur’an.

I.5.  Hipotesis
adanya pengaruh integrasi statistika dengan alqur’an
                                           





















BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Integrasi
            Kata “integrasi” berasal dari bahasa latin integer, yang berarti utuh atau menyeluruh. Berdasarkan arti etimologisnya itu, integrasi dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat. Yang dimaksud dengan integrasi bangsa adalah proses penyatuan berbagai kelompok sosial dan budaya ke dalam kesatuan wilayah dalam rangka pembentukan suatu identitas nasional. Arti lainnya dari integer adalah tidak bercampur murni.
            Integrasi berasal dari bahasa inggris "integration" 
yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasisosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalamkehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasianfungsi.Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasidan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetapmempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :
a.  Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
b. Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satusama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.
                                                                                                                



II.2 Statistika
staitika adalah bagian dari sains dan termasuk cabang matematika[3]. Sedangkan ilmu statistika adalah ilmu pengatahuan yang membahas dan mengembangkan prinsip- prinsip, metode dan prosedur yang ditempuh(1)pengumpulan data angka (2)pengaturan data angka(3)penyajian atau pennggambaran data angka (4)penganalisaan terhadap data angka (5)penarikan kesimpulan, pembuatan pemikiran, dan penyusunan ramalaan secara ilmiah atas atas dasar kumpulan data angka tersebut.[4]

II.3. Alqur’an
alquran diturunkan ketika kehidupan masyarakat arab sebagaiman juga bangsa lain msih berbudaya berpola hidup , alquran dipahami sesuai dengan ttingkat penalaran mereka. Kata qurʼān disebutkan 70 kali dalam Al-Qur'an itu sendiri memiliki arti yang cukup beragam. Arti yang beragam tersebut adalah sebuah kata benda (maṣdar) dari kata kerja bahasa Arab qaraʼa (قرأ), berarti "dia membaca" atau "dia menceritakan". Padanan kata yang tepat dalam bahasa Suriah adalah kata qeryānā, yang merujuk kepada ‘’membaca kitab suci" atau "membaca".
Al-Qur'an menjelaskan bahwa kitab ini adalah sebuah "pembeda" (al-furqān), "buku ibu" (umm al-kitāb), "petunjuk" (huda), "kebijaksanaan" (hikmah), "pengingat" (Dzikr) dan "wahyu" (tanzīl; sesuatu yang diturunkan, menandakan sebuah objek yang diturunkan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah). Istilah lainnya yakni al-kitāb (Buku), yang juga digunakan dalam bahasa Arab untuk skriptur lain, seperti Taurat dan Injil, Kata sifat "Quran" memiliki transliterasi yang beragam, termasuk "quranic", "koranic", dan "qur'anic", atau dikapitasisasikan menjadi "Qur'anic", "Koranic", dan "Quranic". Istilah lain dari Al-Qur'an adalah mushaf ('karya tulisan'). Transliterasi "Quran" lainnya termasuk "al-Coran", "Coran", "Kuran", dan "al-Qurʼan".
Logika atau benang merah yang menghubungkan al-quran dengan statistika, bahwa terdapat fakta qur’any yang member petunjuk adanya pengulanngan kata atau ayat dalam al-qur’an dimanaal-qur’an sendiri menyipati dirinya sebagai kitaban matsani (kitab yang diulang. Misalkan kata yang menunjukan perintah shalat dapat qita temukan dalam beberapa surrah. Secara spesifik dann normatif pelaksanan ibadah shalayt dalam islam sangat terkait dengan usaha dan proses pembenttukan kepribadan muslim secara kaffah yang selaiin membentuk sifat – sifat terpuji juga membangun benteng pengedalian diri dari perbuatan keji ddan munkar. Ditegaskan dalam surah al- an’kabut ayat 45
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
. artinya:
Bacalah kitab (Al Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.[5]
Perintah didirian shalat dan larang dari perbuataan keji dn munkar sebagai 2 variabel untuk diketahui adda atau tidaknya kolerasi atara duanya dapat dicari dan ditemukan rumus –rumus statistika.
Sebagai bukti keotentikan  al-quran dari susunan redaksinya, terdapat keseimbangan redaksional dari kosa kata yang menjadi obejek pengulangan dalaam al—qur’an dan bahwa terdapat rahasia dibalik  jumlah pengulangan kosa kata tersebut.[6]hal ini menjadi semacam landasan teoritik penerapan metode statistik dalam penafsiran (sekurang- kurangnya untuk membantu memahami)al-qur’an.sebab hubungan koleratif atau lebihh dalam batas tertentu akan mengggambarkan nilai keseimbanggan, meski mungkin secara mmatemmatis dan numeric hasilnya tidak menunjukkann angka yang sama.
Dengan menambahkan psal ini penulis tidak bermaksud untuk mengawinkan atau mensejajarkan al—qur’an yang  kebenarannya bersifaat mutlak(karena merupakan wahyu allaah ) dengan statistika semua yang besifat nisbi, baik sebagai ilmu maupun sebagai alat pemecahan data kuantitatif. Tetapi, dengan pasal ini, penulis ingin berbagi pengalaman dengan memberikan informasi tentang  hasil  kajian penulis tentang statisika dapat dijadikann alat bantu untuk memahami al-qur’an terutama dari aspek teori tanasub an-ayat (korelasi antar ayat). Dengan hasil kajian ini diharapkan kita akan dapat lebih memantapkan keyakinan akaan kebenaran dan kemukjizataan al-qur’an darii berbagai aspeknya.
Variable bebas (independen) yang dijadikan sampel adalah kata yang menunjukkan kaata salaat. Sedangkan untuk variable terikat (dependen ) ditentukan varibel al-fahksya dan al-munkar berikut sejumlah indicator-indikatornya. Hal ini ditetapkan selain karena kedua istilah al-fahksyah dan al-munkar merupakan konsep yang menandung indicator bannyak ( tidak seperti kata salat yang ini bermakna tunggal ) untuk berbagai macam kejahatan dan kemungkaran, juga keduaa istilah tersebut tidak banyak terulang dalam al-qur’an sebanyak pengulangan kata dan perintah salat. Pertimbangan ini semakin penting terutama setelah didasarkan kepada suatu teori bahwa untuk menghasilakan korelasi yang signifikan antara kedua variaberl, maka jumlah kemunculan varibel terikat harus lebih besar / banyak dari variable indevenden.
a.       Memahami hakekat salat melalui pendekatan statistik
Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ahli tafsir tentang arti shalat dalam susunan inna al-salata tanha an al-fakhsya wa al-munkar.  Sebagian imam mengartikan al-salat dengan aal-qur’an yang dibaca paada waktu salat. Sementara yang lainnya merujuk kepada artinya secara reklesif, yaitu doa tetapi ketika salat dikembalikan kea tri lahirnya maka yang dimaksud adalah ibadah yang telah diketahui secara umum.[7]
Mengetahui tanha an al-fakhsya wa al-munkar ibnu abbas menyatakan bahwa frase itu berarti bahwa salat akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji selama ia berada padaa tatanan dan nilai – nilai salat[8] artinya apaabilaa salat di laksanakan mmenurut ketentuannya maka sallat akan berfungsi demikian. Dan dalam shalat harus terkanndung tiga aspek:(1)ikhlas (2)takut siksa allah (3) dzikir.[9] Ikhlas akan mendorong seorang berbuat kebajikan. Rasa takut akan melahirkan sikap pengendalian diri dari berbuatan melarang aturan dan ingat kepada allah akan melahirkan sikap kedua- duanya.[10]
Sayyid qutb, ketika menafsirkkan ayat ini menjelaskan bahwa salat merupakan media rohania yang menghubungkan langsung seorang hamba dengan penciptaannya. Maka dalam rangka menghadap allah melalui salat ia akan merasa malu jika dalam dirinya masih banyak kotoran -  kotoran rohani. Karenanya, ketika seseorang berada pada kondisi “menegakan” salat ia akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar.[11]
Dari banyaknya frekwensi pengulangan kata al-salat dengan berbagai bentuk derivansinya dalam al-qur’an, salat hamper seluruhnya, untuk tidak mengatakan semuanya, bermakna”instrumental”, dan dari makna itu sebagian besar dikaitkan dengan melakukan perbuatan keji dan munkar. Ini menunjukan bahwa salat lebih bermakna proses penyucian jiwa dari sifat – sifat tercela.

Pengaitan variable X (Al-salat) dengan variable Y (al-fahksyah wa al-munkar) dapat dilihat  pada tebel bberikut:
Table I
Distribusi frekwensi variable X dan variable  Y
NO
NAMA SURAT
FREKWENSI X
FREKWENSI Y
1
AL-BAQARAH
10
51
2
AL-INSA
11
31
3
AL-MAIDAH
6
27
4
AL-AN'AM
3
15
5
AL-A'RAF
1
17
6
AL-ANFAL
2
5
7
HUD
2
4
8
AL-HAJJ
4
3
9
AL-NUR
4
13
10
AL-NAML
3
2
11
AL-ANKABUT
2
6
12
LUQMAN
2
5
13
AL-AHZAB
1
5
14
AL-MUJADILAT
1
7
15
AL-MA'UN
2
5


RUMUS UJI REGRESI
Untuk mengetahui keterkaitan korelatif antara banyaknya frekwensi pengulangan kata al-salat dengan banyaknya frekwensi larangan allah sebagai indicator dari variable al-fahksyah wa al-munkar, dapat diperhatikan table berikut :





Tabel II
Penolong untuk mencari r antara kedua variable
                                                                            
NO
SURAH
X
Y
X^2
Y^2
XY
1
AL-BAQARAH
10
51
100
2601
510
2
AL-INSA
11
31
121
961
341
3
AL-MAIDAH
6
27
36
729
162
4
AL-AN'AM
3
15
9
225
45
5
AL-A'RAF
1
17
1
289
17
6
AL-AFAL
2
5
4
25
10
7
HUD
2
4
4
16
8
8
AL-HAJJ
4
3
16
9
12
9
AL-NUR
4
13
16
169
52
10
AL-NAML
3
2
9
4
6
11
AL-ANKABUT
2
6
4
36
12
12
LUQMAN
2
5
4
25
10
13
AL-AHZAAB
1
5
1
25
5
14
AL-MUJADILAT
1
7
1
49
7
15
AL-MA'UN
2
5
4
25
10

Jumlah
54
196
330
5188
1207

R HITUNG




0.840098

R TABEL






r^2




0.705765

Dengan demikian maka korelasi r antara variable  x dengan variable y ditunjukan dengann rumus UJI  REGRESI yang dimana didapat
R hitung = 0.840098
R^2 = 0.705765
Jadi, ada kolerasi positif sebesar 0.840098 antara banyaknya frekwensi pengulangan kata / perintah salat dengan banyaknya frekwensi  berbagai larangan allah dalam al-qur’an (sampel). Sekarang, apakah koefisien korelasi sebesar 0.840098 tersebut signifikan atau tidak sehingga dapat dilakukan generalisasi terhadap seluruh surah (populasi) ? maka perlu diperbandingkan dengan r table dengan taraf keselahan tertentu.  Apabila taraf keselahan ditetapkan 5% dan N -=15, maka harga r table =0.514. jika taraf kesalahan ditetapakan 1% dengan yang sama maka harga r table sebesar 0.641. ternyata, baik pada taraf kesalahan 5% atau 1% , harta r hitung lebih besar dari r table.[12]  Kesimpulannya ada korelasi positip, signifikan serta amat meyakinkan antara banyaknya frekwennsi pengulangan kata/ perintah salat dalam al-qur’an dengan banyakya frekwensii larangan – larangan allah.
b.      Simpul hasil kajian
Koefiesien korelasi r hitung sebesar 0.840098 merupakan angka korelasi menakjubkan yang dihasilkan dari sebuah penelitian kuantitatip. Jarang sekali – kalu tidak dikatakan tidak ada sma sekali- suatu penelitiann menghasilkan angka korelasi pada interval angka 0.70- 1,00 yang menunjukan korelasi sempurna.












BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Hasil ekspolorasi dengan menggunakan pendekatan statistik untuk memahami makna salat memberikann gambaran bahwa salat ideal yang berfungsi tanha’ an al-fakhsyah wa al-munkar bukan salat ritual belaka melainkan salat “ instrumental” yang mempunyai kaitan korelatif dengan berbagai aspek kehidupan di luar pelaksanaan ritualitas salat.sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh integrasi statistika dengan al-qur’an.

B.        Saran
Shalatlah sebelum kamu disalatkan karena salat  bukan ritual belaka melainkan salat “ instrumental “ yang mempunyai kaitan korelatf dengan berbagai  kehidupan manusia.

















DAFTAR PUSTAKA

Alfira Mulya Astuti M. Si, STATISTIKA PENELITIAN (Mataram:2016) hal 180
Jalal, Al- Din Al-Suyuthy (Beirut: 1983)hal 464-465
Abu Hayan, Al-Andalusiy, (Beirut: 1993) hal 149
AL-QUR’AN DAN TERJEMAHANNYA SURAH AL-ANKABUT AYAT 45
Drs. Nanang Gojali M. Ag, MANUSIA PENDIDIKAN DAN SAINS (Jakarta : 2004)hal 117








[1]
[2]
[3]
[4] Drs. Nanang gojali M.Ag, manusia pendidikan dan sains (Jakarta: 2004)hal114-115
[5] Al-qur’an dan terjemahannya surah al-ankabut ayat 45
[6] Drs. Nanang gojali m. ag, manusia pendidikan dan sains (Jakarta : 2004)hal 117
[7] Abu hayan al-andalusiy, (Beirut: 1993) hal 149
[8] ibid
[9] Jalal al- din al-suyuthy (Beirut: 1983)hal 464-465
[10] ibid
[11] ibid
[12] Alfira mulya astuti M. Si, statistika penelitian (mataram:2016) hal 180

0 komentar:

Posting Komentar

RPP tentang SITEM PETIDAKSAMAAN LINIER TIGA VARIABEL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : MA. Ittihadil Ummah Mata Pelajaran/Tema : Matematika/Sistem Persamaan dan Pe...