BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Apakah Anda
pernah mengalami kesulitan berkonsentrasi, sulit untuk duduk diam, orang lain
terganggu selama percakapan atau bertindak impulsif tanpa memikirkan hal-hal
melalui? Dapatkah Anda ingat saat-saat ketika Anda melamun atau mengalami
kesulitan untuk fokus pada tugas di tangan?
Sebagian
besar dari kita bisa membayangkan bertindak dengan cara ini dari waktu ke
waktu. Tapi bagi sebagian orang, ini dan lainnya perilaku menjengkelkan yang
tidak terkendali, terus mengganggu keberadaan mereka sehari-hari dan mengganggu
kemampuan mereka untuk membentuk persahabatan abadi atau berhasil di sekolah,
di rumah dan dengan karier.
seperti patah tulang atau kanker, gangguan hiperaktivitas defisit perhatian (ADHD, juga
dikenal sebagai sekadar gangguan defisit perhatian atau ADD)
tidak menunjukkan tanda-tanda fisik yang dapat dideteksi oleh darah atau tes
laboratorium lainnya. Tipe ADHD khas gejala sering tumpang tindih dengan
gangguan fisik dan psikologis lain.
Penyebab
masih belum diketahui, tetapi ADHD dapat didiagnosis dan diobati secara
efektif. Banyak sumber daya yang tersedia untuk mendukung keluarga dalam
mengelola perilaku ADHD ketika mereka terjadi.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah yang di maksud
dengan ADHD ?
2.
Gangguan apa yang
menyertai ADHD ?
3.
Apa penyebab utama ADHD
?
4.
Solusi apa yang dapat
di berikan kepada anak ADHD ?
BAB II
ISI
ADHD
(ATTENTION DEFICIT
HYPERACTIVITY DISORDER)
ADHD adalah gangguan
perilaku yang ditandai dengan inattention (gangguan pemusatan perhatian dan
gangguan konsentrasi), impulsif ( berbuat dan berbicara tanpa memikirkan
akibatnya), dan hiperaktif yang tidak sesuai dengan umurnya. Keadaan ini
dijumpai pada 4-12% diantara anak sekolah dan sering ditemukan pada laki-laki.
ADHD, juga dikenal sebagai gangguan perhatian
defisit (ADD) atau gangguan hyperkinetic, telah ada lebih lama daripada
kebanyakan orang sadari. Bahkan, kondisi yang muncul untuk menjadi serupa
dengan ADHD digambarkan oleh Hippocrates, yang tinggal 460-370 SM. Nama
Perhatian Defisit Disorder pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980 di
DSM-III, edisi ketiga dari "Diagnostik dan Statistik Manual of Mental
Disorders", digunakan dalam psikiatri.Pada tahun 1994 definisi telah
diubah untuk memasukkan tiga kelompok dalam ADHD: jenis dominan
hiperaktif-impulsif, tipe didominasi lalai, dan jenis gabungan. ADHD biasanya
muncul pada masa kanak-kanak tetapi dapat didiagnosis pada orang dewasa.
Baru-baru ini langkah maju dalam pemahaman kita
tentang ADHD meliputi:
- Diperkirakan 3 sampai 5 persen anak-anak yang terkena - sekitar 2 juta anak di AS. Dalam sebuah kelas 25 sampai 30 anak, ada kemungkinan bahwa setidaknya satu akan memiliki ADHD.
- ADHD merupakan salah satu gangguan mental yang paling umum di antara anak-anak. Ini adalah salah satu alasan utama untuk rujukan ke dokter anak, dokter keluarga, ahli saraf anak, psikiater anak atau psikolog. ADHD terbaik didiagnosa oleh seorang psikolog anak atau spesialis anak lainnya di ADHD.
- ADHD adalah sekitar tiga kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.
- Gejala ADHD tidak selalu pergi - hingga 60 persen pasien anak mempertahankan gejala mereka menjadi dewasa. Banyak orang dewasa dengan ADHD tidak pernah didiagnosis, sehingga mungkin tidak sadar bahwa mereka mengalami gangguan tersebut. Mereka mungkin telah salah didiagnosis dengan depresi , kecemasan , gangguan bipolar atau ketidakmampuan belajar.
- ADHD telah diidentifikasi di setiap bangsa dan budaya yang telah dipelajari.
KRITERIA ADHD DARI DSM IV (1991) (Diacnistik Statistical Manual)
A1.KURANGPERHATIAN
Pada kriteria ini penderita ADHD paling sedikit mengalami 6 atau lebih dari gejala-gejala berikutnya dan berlangsung paling sedikit 6 bulan.
1. sering gagal memperhatikan baik dalam tugas sekolah maupun kegiatan sehari-hari
2. kesulitan memusatkan perhatian terhadap tugas maupun kegiatan bermain
3. sering tidak mendengarkan kalau diajak bicara langsung
4. sering tidak mengikuti instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas
5. sering kesulitan dalam menjalankan tugas
6. sering kehilangan barang penting untuk menyelesaikan tugas
7. sering menghindari, enggan melaksanakan tugas
8.seringbingung/terganggu oleh rangsangan luar
9. lekas lupa dalam menyelesaikan tugas sehari-hari
A1.KURANGPERHATIAN
Pada kriteria ini penderita ADHD paling sedikit mengalami 6 atau lebih dari gejala-gejala berikutnya dan berlangsung paling sedikit 6 bulan.
1. sering gagal memperhatikan baik dalam tugas sekolah maupun kegiatan sehari-hari
2. kesulitan memusatkan perhatian terhadap tugas maupun kegiatan bermain
3. sering tidak mendengarkan kalau diajak bicara langsung
4. sering tidak mengikuti instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas
5. sering kesulitan dalam menjalankan tugas
6. sering kehilangan barang penting untuk menyelesaikan tugas
7. sering menghindari, enggan melaksanakan tugas
8.seringbingung/terganggu oleh rangsangan luar
9. lekas lupa dalam menyelesaikan tugas sehari-hari
A2.HIPERKAKTIFITASIMPULSIFITAS
Paling sedikit 6 gejala hiperaktif impulsifitas. Berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan tingkatan maladaptif dan dengan tingkat perkembangan.
Paling sedikit 6 gejala hiperaktif impulsifitas. Berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan tingkatan maladaptif dan dengan tingkat perkembangan.
HIPERAKTIF
n sering gelisah dengan tangan atau kaki menggeliat di kursi
n sering meninggalkan tempat duduk dikelas atau dalam situasi lainnya
n sering naik-naik atau berlarian secaraberlebihan dalam situasi dimana hal
ini tidak tepat.
n Sering kesulitan atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang
n Sering bergerak seolah-olah dikendalikan oleh motor
n Sering berbicara
berlebihan
Fitur utama dari gangguan defisit perhatian
(atau ADHD) adalah kurangnya perhatian, hiperaktif, dan impulsif waktu. Tapi karena anak-anak menampilkan
perilaku tersebut dari waktu ke, penting untuk tidak menganggap bahwa setiap
anak yang Anda lihat dengan gejala-gejala tersebut telah ADHD. Namun, jika
gejala melanjutkan, saran harus dicari dari seorang profesional kesehatan yang
berkualitas mental.
BEBERAPA GEJALA hiperaktif
impulsifitas atau kurang perhatian yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak usia 7 tahun
n Ada suatu gangguan di satu atau lebih situasi
n Ada gangguan yang secra klinis, signifikan dalam fungsi sosial, akademik
atau pekerjaan
n Gejala terjadi karena bukan gangguan zkizofrenia, psikotik atau gangguan
mental
( diambil dari Manual
Diagnostik dan Statistika mengenai
gangguan mental : Asosiasi Psikiater Amerika tahun 1994)
Gejala gangguan perhatian defisit biasanya
berkembang selama beberapa bulan. Secara umum, impulsif dan hiperaktif yang
diamati sebelum kita menyadari kurangnya perhatian, yang sering muncul
kemudian. Mungkin juga tidak diketahui karena "pelamun lalai" dapat
diabaikan bila anak yang "tidak bisa duduk diam" di sekolah atau jika
tidak mengganggu akan diperhatikan. Gejala diamati ADHD karena itu akan sangat
berbeda-beda tergantung pada situasi dan kebutuhan khusus itu membuat pada kontrol
diri anak-.
Berbagai bentuk ADHD dapat menyebabkan anak
dicap berbeda. Sebagai contoh, seorang anak yang impulsif dapat diberi label
"masalah disiplin." Seorang anak yang pasif dapat digambarkan sebagai
"tidak termotivasi." Tapi ADHD bisa menjadi penyebab dari kedua pola
perilaku. Ini hanya dapat diduga setelah hiperaktif anak, distractibility,
kurang konsentrasi, atau impulsif mulai mempengaruhi kinerja sekolah,
persahabatan, atau perilaku di rumah.
Diagnosis ADHD resmi meliputi tiga gejala utama
(tidak perhatian, hiperaktif, dan impulsif). Versi terbaru dari buku pegangan
bagi negara-negara profesional kesehatan mental yang orang dengan ADHD mungkin
memiliki salah satu atau semua gejala utama.
Tiga subtipe ADHD diakui oleh para profesional:
- Jika gejala hiperaktif-impulsif tapi tidak gejala kurangnya perhatian telah ditunjukkan selama setidaknya enam bulan ke tingkat yang mengganggu dan tidak pantas untuk itu perkembangan tingkat individu.
- Terutama lengah Type - Jika gejala kurangnya perhatian tetapi tidak gejala hiperaktif-impulsif telah terbukti selama setidaknya enam bulan ke tingkat yang mengganggu dan tidak pantas untuk itu perkembangan tingkat individu.
- Gabungan Type - Jika gejala dari kedua kurangnya perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas telah terbukti selama setidaknya enam bulan ke tingkat yang mengganggu dan tidak pantas untuk itu perkembangan tingkat individu.
PENYEBAB UTAMA HIPERAKTIF
Peluang Anak
Berperilaku Hiperaktif
Menurut
Dr. Erik Taylor, perbedaan jenis kelamin dapat menentukan peluang seorang anak
untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki mempunyi kemungkinan 3 sampai 4
kali lebih besar untuk menjadi hiperaktif dibanding anak perempuan. Karena
masalah yang biasanya menyertai hiperaktivitas (misal sifat agresif) pada anak
perempuan tidak begitu berkembang.
Dr. Erik Taylor membagi
perilaku aktif yang berlebihan menjadi 3, yaitu :
1.
Overaktivitas, yaitu perilaku anak yang tidak mau diam yang disebabkan kelebihan
energi. Hal ini menandakan bahwa anak tersebut sehat, cerdas dan penuh
semangat. Tapi overaktifitas sesaat bisa terjadi pada anak yang keaktifannya
normal.
2.
Hiperaktivitas, yaitu pola perilaku overaktif yang cenderung ngawur (tidak pada
tempatnya).
3.
Sindrom hiperkinetik, yaitu semua bentuk hiperaktifitas parah, yang menyertai
jenis kelambatan lain dalam perkembangan psikologi, misalnya sikap kikuk dan
kesulitan bicara. Anak yang berperilaku sangat aktif pada usia 2-3 tahun belum
bisa dikatagorikan hiperaktif, karena rentang aktivitas yang dianggap normal
masih besar.
Gejala autis dan
hiperaktif adalah termasuk gangguan yang disebabkan oleh perkembangan otaknya
yang tidak normal. Sehingga membuat pertumbuhan sang anak menjadi tidak biasa.
Pada awalnya gangguan seperti ini tidak tampak pada usia balita, baru dapat
dipastikan saat menjelang masuk sekolah atau di atas usia 4 atau 5 tahun.
Akan tetapi, tidak
semua perhitungan umur seperti ini bisa dijadikan sebagai patokan yang pasti.
Karena batasan usia terkena gangguan semacam ini memang bervariasi. Bisa jadi
seorang anak justru mengalami gangguan ini pada usia balita. Oleh karena itu
orang tua harus selalu waspada dalam menghadapi setiap perkembangan anaknya.
Penyebab perilaku hiperaktif
1.
Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan
(ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi
protein melalui urin), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan.
2.
Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
3.
Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak.Hal ini
ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif. Polusi
timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan
atau cat rumah yang tua. Obat untuk mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya
diberikan dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya sudah sangat
tinggi, karena obat tersebut mempunyai efek samping.
4.
Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat
mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak
terkendali & perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter
THT jika anak menunjukkan ciri berikut : perkembangan bahasa yang lambat, lebih
banyak memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap
perubahan mimik & isyarat.
5.
Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia
luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula menjadi
penyebab hiperaktivitas. Contoh kasus, orang tua yang bersikap sangat tegas
menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk mengatasi
ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak malah mempunyai
energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih negatif dibanding
kesalahan sebelumnya.
Problem-problem yang
biasa dialami oleh anak hiperaktif:
1.
Problem di sekolah
Anak tidak mampu
mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang
mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara
keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai
bila mengerjakan tugas-tugas sekolah.
2.
Problem di rumah
Dibandingkan dengan
anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati.
Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang
disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini
berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami
kekecewaan, ia gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras
kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi.
Hambatan-hambatan tersbut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri
dengan lingkungannya.
3.
Problem berbicara
Anak hiperaktif
biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang
efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit
melakukan komunikasi yang timbal balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan
diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.
4.
Problem fisik
Secara umum anak
hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain.
Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering
dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak
anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari.
Faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak
1. Faktor neurologik
Insiden hiperaktif yang
lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal
seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara
ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan
kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang
lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan
minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif
Terjadinya perkembangan
otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini
banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di
otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk
memelihara proses konsentrasi.
2. Faktor toksik
Beberapa zat makanan
seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memilikipotensi untuk membentuk
perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum
darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena
sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
3. Faktor genetik
Didapatkan korelasi
yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif.
Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya
hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
4. Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif
sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya.
PENANGANAN ANAK
HIPERAKTIF
n Pengobatan secara medis : antidepresan, Ritalin , Dexedrine , Desoxyn , Pemoline, Busiprone , Clonidine (3-4 jam dan diberikan
2 atau 3 kali dalam sehari)merupakan obat yang paling sering dipergunakan .
Obat sifatnya sementara) karena
tidak jelas sasaran pengobatan.
n Terapi biomedis = memperbaiki metabolisme tubuh
anak. Terapi nutrisi dan diet diantaranya adalah
keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan , penanganan alergi makanan . Diet dapat dipakai sebagai terapi alternatif
yang dilaporkan cukup efektif. Suatu
substansi asam amino (protein), L-Tyrosine,
n Terapi modifikasi perilaku berupa interaksi
sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi
perilaku yang tidak diinginkan, seperti agrsif, emosi labil.
n Terapi integrasi sensori Pengorganisasian informasi melalui beberapa jenis
sensori di anataranya adalah sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan grafitasi, penglihatan, pendengaran,
pengecapan, dan penciuman yang sangat berguna untuk menghasilkan respon yang
bermakna
n Terapi musik
n Terapi bermain
n Terapi medikamentosa = penambahan vitamin
tertentu
n Terapi konsentrasi
n Terapi gelombang otak
n Terapi wicara
MENGELOLA ANAK
HIPERAKTIF
n Pertama, PERIKSALAH.
Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif.
Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang
harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya
kepada ahli terapi psikologi anak.
n Kedua, PAHAMILAH. Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya
pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting
skill-training.
n Ketiga, LATIH kefokusannya. Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam
menerapkan norma dan tugas
n Keempat, TELATENLAH.
Jika dia telah “betah” untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih
koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk
angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis
angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan
menggambar bentuk sederhana dan mewarnai.
n Kelima, BANGKITKAN
kepercayaan dirinya. gunakan
teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif.
n Keenam, KENALI
arah minatnya. jika dia bergerak terus, jangan panik, ikuti saja, dan catat
baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang
semuanya, nanti dia prustasi.
n Ketujuh, MINTA dia bicara. Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat,
anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan
dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi
n Terakhir, SIAP bahu-membahu. Jika dia telah mampu mengungkapkan
pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan.
Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru
memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak,
menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi
kesehatan mentalnya
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hiperaktif adalah suatu
pola perilaku seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak menaruh
perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak yang hiperaktif cenderung untuk
selalu bergerak, bahkan dalam situasi yang menuntut agar mereka bersikap
tenang. Mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu beberapa menit saja.
Sebentar-sebentar mereka bergerak untuk pindah dari permainan yang satu ke
permainan yang lain.
Menurut Dr. Erik Taylor, perbedaan jenis kelamin dapat
menentukan peluang seorang anak untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki
mempunyi kemungkinan 3 sampai 4 kali lebih besar untuk menjadi hiperaktif
dibanding anak perempuan. Karena masalah yang biasanya menyertai hiperaktivitas
(misal sifat agresif) pada anak perempuan tidak begitu berkembang.
Untuk dapat disebut
memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam
perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsive:
1.
Inatensi
Inatensi atau pemusatan
perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam
memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu.
2.
Hiperaktif
Gejala hiperaktif dapat
dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan
sesuatu yang sulit dilakukan.
3.
Impulsif
Gejala impulsif
ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk
mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali.
Penyebab perilaku hiperaktif :
a.
Kondisi saat hamil & persalinan.
b.
Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
c.
Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak.
d.
Lemah pendengaran,
e.
Faktor psikis
Faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :
1. Faktor neurologic
2. Faktor toksik
3. Faktor genetic
4. Faktor psikososial dan lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Paternotte, Arga & Buitelaar, Jan.
2010. ADHD – Attention Deficit
Hyperactivity Disorder
(Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas): Tanda-tanda,
diagnosis,terapi,
serta penanganannya di rumah dan
di sekolah. Penerbit Prenada
Media, Jakarta
Zaviera, Ferdinand. 2007. Anak Hiperaktif : Cara Cerdas Menghadapi
Anak
hiperaktif dan gangguan
Konsentrasi. Penerbit : Ar-ruzz
Media, Yogyakarta
http
://www.trigonalworld.com/2010/12/upaya-mengatasi-anak-hiperaktif.html
(di akses 23 Februari 2011)
http://id.answers.yahoo.com/question/index (diakses 23 Februari 2011)






0 komentar:
Posting Komentar