MAKALAH
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“MOTIVASI, HUBUNGAN DAN SOSIOKULTURAL”
DOSEN PPENGAMPU : Saimun, S.Ag, M.Si
Disusun oleh
NAMA : YUSRO ATIAH
NIM : 160103090
JURUSAN TADRIS
MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI (IAIN) MATARAM 2016/2017
PEMBAHASAN
A.
Motovasi,
dan teori motivasi
a.
Pengertian
motivasi
Motivasa berasal dari bahasa Latin movere, yang berarti bergerak atau dalam
bahasa inggrisnya, to move. Menurut
Schunk, “Motivation is the process
whereby goal-directed activity is
instigated and sustained.”( Motivasi adalah proses melalui kegiatan
pencapaian tujuan yang telah mendorong dan berkelanjutan). Motivasi merupakan
proses bukan output atau hasil. Sebagai proses, kita tidak dapat mengamatinya
secara langsung, tetapi secara tidak langsung melalui tindakan-tindakan seperti
pilihan kegiatan usaha-usaha, dan ketabahan. motivasi membutuhkan kegiatan baik
fisik maupun phisik (mental). Kegiatan fisik misalnya, usaha-usaha, ketabahan,
dan penggunaan keterampilan. Kegiatan mental. Misalnya penggunaan pengetahuan,
seperti melakukan perancanaan, pengorganisasian, ppemantauan, pembuatan
keputusan, pemecahan masalah dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut adalah
tidak mencapai tujuan.[1]
Motivasi berkenaan dengan tujuan yang
langsung menjadi arah tindakan. Tanpa tujuan yang
jelas, sulit di dapatkan motivasi yang kuatmencapainya. Motivasi adalah kegiatan yang telah mendorong dari berkelanjutan (bertahan terus-menerus)nartinya tanda atau dorongan yang terus menerus, mustahil motivasi akan muncul.
jelas, sulit di dapatkan motivasi yang kuatmencapainya. Motivasi adalah kegiatan yang telah mendorong dari berkelanjutan (bertahan terus-menerus)nartinya tanda atau dorongan yang terus menerus, mustahil motivasi akan muncul.
Motivasi ialah keinginan untuk berbuat
sesuatu sedangkan motif adalah kebutuhan(need),
keinginan (wish), dorongan (desire) atau impuls. Motivasi merupakan
keinginan yang terdapat pada seorang individuyang merangsangnya untuk melakukan
tindakan-tindakan atau se suatu yang menjadidasar atau alasan seseorang berprilaku. Motivasi kerja dapat diartikan
sebagai keinginan atau kebutuha yang melatar belakangiseseorang sehingga ia terdorong
untuk bekerja. Motivasi seseorang di tentukan oleh intensitas motipnya.
Pertanyaan yang penting bagi pemimpin manajerial ialah “bagaimana menimbulkan motivasi kerja anggota kelompoknya?”
Motavasi merupaka proses psikis yang
mendorong orang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat berasal dari dalam diri
maupun luar dari seseorang Memotivasi diri apalagi memotivasi orang lain atau
bawahan bukanlahlah pekerjaan yang mudah. Apalagi terhadap orang yang sudah
berusia di atas 40 tahun, atau pegawai yang sudah cukup lama menggeluti pekerjaan
yang sama, sementara kenaikan pangkat dan jabatan sudah kecil kemungkinannnya.
Rutinitas pekerjaan sering menimbulkan kejenuhan mendalam yang dapat menurunkan
motivasi berprestasi, yang diperparah oleh kondisi kerja yang tidak mendukung.
Dalam memotivasi bahwasannya, manajer atau leader berhadapan dengan dua halyang
memengaruhi orang dalam pekerjaan, yaitu kemauan dan kemampuan. Kemauan dapat
diatasi dengan pemberian motivasi, sedangkan kemauan dapat diatasi dengan
mengadakan diklat. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa kinerja manusia yang
tampakdipengaruhi oleh fungsi motivasi dan kemampuaannya. [2]
Motif cenderung menurunkan kekuatannya
apabila sudah terpenuhi atau menghambat pemenuhannya. Pemuasan terhadap suatu
kebutuhan mungkin terhambat dan orang itu kemudian putus asa (prustasi). Akan
tetapi ada pula yang ulet untuk mengatasi hambatan itu dan akhirnya berhasil.
Hubungan antara motif, prilaku dan kegiatan di gambarkan sebagai berikut:
b.
Teori
motivasi
Teori motivasi meliputi isi(content) dan proses.
a) Teori
isi memusatkan perhatiannya pada pertanyaan, “apa penyebab prilaku dan
nerhenti?” jawabnya terpusat pada
1. Kebutuhan,
keinginan,atau dorongan yang memacu untuk melakukan kegiatan
2. Hubungan
karyawan dengan faktor-faktor eksternal dan internal yang menyebabkan mereka
melakukan kegiatan.
b) Teori
proses memusatkan perhatian pada bagaimana prilaku di mulai dan di laksanakan.
Model teori isi adalah sepergi gambar berikut.
Dorongan
|
Kegiatan
|
Kebutuhan
|
Kepuasan
|
Proses
motivasi di gambarkan Chung & Megginson
(1981) seperrti pada gambar berikut
Kemampuan
Kebutuhan
Insentif Dampak Usaha Tingkat Ganjaran Kepuasan
Organisasi persepsi motivasi kinerja
Produksi
Pada
gambar diatas, dapat di ketahui terjadinya proses motivasi diawali oleh adanya
kebutuhan. Kebutuhan itu di penuhi oleh insentif atau gaji/upah dari organisasi
tempat dari kita bekerja. Gaji/upah yang kita diterima memberikan dampak
persepsi. Misalnya, jika organisasi semakin maju maka organisasi semakin
untung. Apabila organisasi banyak keuntungan , di harapkan gaji/upah atau bonus
yang akan diterima semakin besar pula. Untuk maksud tersebut , muncul
usaha-usaha motivasi. Usaha-usaha motivasi dan kemampuan memengaruhi tingkat
kinerja. Tingkat kinerja memengaruhi ganjaran (hadiah) dan produktivitas.
Produktivitas memengaruhi insentif organisasi dan ganjaran memengaruhi kepuasan.
Apabila kepuasan telah terpenuhi, maka akan muncul pula kebutuhan-kebutuhan
baru.
Newstrom
& Davis (1997) memberikan pola motivasi dengan asumsi bahwa setiap manusia
cendrung mengembangkan pola motivasi tertentu sebagai hasil dari lingkungan
budaya tempat manusia hidup.pola ini sebagai sikap yang memengaruhi cara-cara
orang memandang pekerjaan dan menjalani kehidupan mereka. Empat pola motivasi
yang penting adalah prestasi, afiliasi, kompetensi, dan kekuasaan. Keempat
motivasi adalah di jelaskan sebagau berikut.
Motivasi
manusia menurut Claser(1998) adalah survival, belonging, power, fun dan
freedom.
Sedangkan
motivasi manusia menurut Charles (2002) adalah sex, security, dignity, power,
enjoymeni dan competence.
Proses
motivasi meliputi siklus yang di singkst AIDA, yaitu attention (perhatian),
interest (tertarik), Desire (terangsang), dan action (tindakan) (Akronim,
2003). Manusia termotivasi karena ada perhatian. Ada perhatian menimbulkan
ketertarikan. Ketertarikan menimbulkan rangsangan. Rangsangan menimbulkan
tindakan atau aksi.
c) Ada
beberapa teori menurut para Ahli adalah sebagai berikut
1. Hierarki
Kebutuhan Maslow
Menurut teori hierarki kebutuhan
maslow terdapat lima tingkatan kebutuhan, dari kebutuhan manusia yang paling
rendahsampai pada kebutuhan manusia yang paling tinggi. Urutan motivasi yang
paling rendah sampai kemotivasi yang paling tinggi.
a) Kebutuhan
fisiologikal
Kebutuhan fisiologikal merupakan
kebutuhan dasar atau kebutuhan yang paling rendah dari manusia. Sebelum orang menginginkan
kebutuhan, kebutuhan ini harus dipenuhi terlebih dahulu agar dapat hidup secara
normal.
Contoh kebutuhan ini adalah
kebutuhan akan sandang, panga, papan, istirahat, rekreasi, tidur dan hubungan
seks. Untuk memenuhi kebutuhan ini manusia biasannya berusaha keras untuk
mencari rezeki.
b) Kebutuhan kesalamatan
Setelah kebutuhan fisiologikalterpenuhi
maka muncul kebutuhan baru yang
diinginkan manusia yaitu, kebutuhan akan kesalamatan atau rasa aman.
Contoh kebutuhan ini antara lain
menabung, mendapatkan tunjangan pensium, memiliki asuransi, memasang pagar,
teralis pintu dan jendela.
c)
Kebutuhan berkelompok
Setelah kebutuhan kesalamatan atau
rasa aman terpenuhi maka muncul mula kebutuhan baru yang di inginkan manusia
yaitu, kebutuhan hidup berkelompok, bergaul, bermasyarakat, ingin di mencintai
dan dicintai, serta ingin memiliki dan dimiliki.
Contoh kebutuhan ini antara lain
membina keluarga bersahabat, bergaul, bercinta, menikah dan mempunyai anak, bekerja
sama, menjadi anggota organisasi. Untuk memenuhi kebutuhan ini, manusia
biasannya berdoa dan berusaha untuk memenuhinya.
d) Kebutuhan
penghargaan
Setelah kebutuhan berkelompok
terpenuhi maka muncul kebutuhan baru yang diinginkan manusia yaitu, kebutuhan
akan penghargaan atau ingin berprestasi,
Contoh kebutuhan ini anatara lain
ingin mendapat ucapakan terimakasih, ucapan selamat jika berjumpa, menunjukan
rasa hormat, menghadapkan tanda penghargaan ( hadiah ), menjadi legislatif,
menjadi pejabat (mendapat kekuasaan), menjadi pahlawan, mendapay ijazah
sekolah, status simbol dan promosi.
e) Kebutuhan
aktualisasi diri
Setelah kebutuhan penghargaan maka muncul
kebutuhan baru yang di inginkan manusia yaitu, kebutuhan aktualisasi diri atau
realisasi diri atau pemenuhan kepuasan
atau ingin berprestise.
Contoh kebutuhan ini antara lain
memiliki sesuatu bukan hanya memiliki fungsi tetapi jugan gengsi,
mengoptimalkan potensi dirinya secara kreatif dan inovatif, ingin mencapai
taraf hidup yang serba sempurna tau derajat yang setinggi-tingginya, melakukan
pekerjaan yang kreatif (menulis buku dan artikel), ingin pekerjaan yang
menantang. Untuk memenuhu kebutuhan ini, manusia biasannya berdoa dan berusaha
untuk memenuhinya.
Hierarki kebutuhan maslow tersebut didasari
dua fungsi yaitu;
(1). Kebutuhan seseorang tergantung
dari apa yang telah di punyai.
(2). Kebutuhan merupakan hierarki
di lihat dari pentingnya.
Teori hierarki kebutuhan maslow ini mengandung kelemahan anatara lain
(1). Suka
membuktikan bahwa kebutuhan manusia itu
mengikuti suatu hierarki.
(2). Terdapat
kekuatan kebutuhan yang berbeda-beda pada setiap individu, terutama pada
tingkat kebutuhan yang lebih tinggi.
(3). Timbulnya
kebutuhan pada tingkatan yang lebih tinggi bukan semata-mata di sebabkan telah
terpenuhinya kebutuhan yang lebih rendah, melainkan meningkatannya karier atau
posisi seseorang.
(4). Kebutuhan
ini luwes sifatnya sehingga sulit menetapkan suatu ukuran yang menetapkan suatu
ukuran yang memuaskan segala pihak. Walupun teori hierarki kebutuhan maslow ini
memiliki kelemahan, tetapi teori ini sangat berguna untuk menjelaskan mekanisme
motivasi seseorang didalam suatu organisasi.
f) Teori
murray
Teori kebutuhan menurut murray
(1938) berasumsi bahwa manusia mempunyai sejumlah kebutuhan yang memotivasinya
untuk berbuat. Kebutuhan-kebutuhan itu menurut murrat antara lain;
1) Pencapaia
hasil kerja
2) Afiliasi
3) Agresi
4) Otonomi
5) Pamer
6) Kata
hati
7) Memelihara
hubungan baik
8) Memerintah
(berkuasa)
9) Kekuatan
dan
10) Pengertian
Kebutuhan
yang disampaikan murray tersebut bersifat kategorisasi saja. Sebenarnya
kebutuhan manusia itu sangat, konpleks dan tidak terbatas.
g) Teori
Alderfer
Menurut teori Alderfer (1972) di
sebutkan bahwa manusia itumemiliki kebutuhan yang disingkat ERG (Existence,
Relatedness, Growth)
Manusia menurut Akderfer pada
hakikatnya ingin di hargai dan diakui keberadaanya (Eksistensi), ingin
diundang, dan dilibatkan. Di samping itu, manusia sebagai makhlik sosial
berhubungan atau bergaul dengan manusia lainnya (relasi). Manusia juga ingin
selalu meningkat taraf hidupnya menuju kesempurnaan (ingin selalu berkembang).
h) Teori
dua faktor dari herzberg
Teori dua faktor di kembangkan oleh
Herzberg bersama-sama dengan mausnerdari snyderman. Mereka melakukan penelitian
dengan bertanya pada sobyek penelitian tentang waktu ia merasapaling puas
terhadap pekerjaannya. Kemudian mencari sebab-sebab mereka merasa puas. Paktor
kesehatan (ekstrinsik)merupakan paktor lingkungan yang menyebabkan
ketidakpuasan. Penelitian menyimpulkan terdapat dua faktor yaitu faktor pemuas
dan faktor kesehatan seperti pada tabel berikut.
Faktor Motivasi
(Intrinsik)
|
Faktor
kesehatan (Ekstrinsik)
|
1. Prestasi
2. Penghargaan.
3. Pekerjaan
itu sendiri
4. Tanggung
jawab
5. Pertumbuhan
dan perkembangan.
|
1. Suvervisi
2. Kondisi
kerja.
3. Hubungan
interpersonal.
4. Bayaran
dan keamanan.
5. Kebijakan
perusahaan,
|
i)
Teori X dan Y dari
McGregor
Teori X dari Y di kembangkan
oleh McGregor atas dasar karakteristik
manusia merupajkan anggota organisasi dalam hubungannya dengan penampilan
organisasi secara keseluruhan dan penampilanindividu dalam melaksanakan
tugas-tugasnya. Teori McGregor berasumsi bahwa kedua teori X dan Y adalah
berbeda, seperti tabel berikut ini,
Manusia
Tive X
|
Manusia
tive Y
|
1. Males
belajar atau bekerja (pasip)
2. Mau
bekerja kalu di perintah, dianca atau di paksa.
3. Senang
menghindar dari tanggung jawab.
4. Tidak
berambisi dan cukup menjadi anak buah saja.
5. Tidak
mempunyai kemampuan untuk mandiri.
|
1. Rajin
belajar dan atau bekerja (aktif) bekerja adalah bermain sehingga
menyenangkan.
2. Bekerja
atas kesadaran sendiri, kurang senang diawasi dan kreatif dalam memecahkan
masalah.
3. Bertanggung
jawab.
4. Berambisi.
5. Mampu
mengendalikan dirinya sendiri mencapai
tujuan organisasinya (mandiri)
|
6. Teori
ekspektasi dari lewin
Teori
ekspasi di kembangkan oleh lewin dan diterapkan oleh Vroom secara khusus dalam
praktik memotivasi. Teori ekspektasi ini mempunyai asumsi.
1) Manusia
biasannya meletakkan nilai kepada sesuatu yang diharapkan dari karyanya , oleh
sebab itu, manusia mempunyai urutan kesenangan diantara sejumlah hasilayang
diharapkan.
2) Suatau
usaha yang menjelaskan motivasi yang terdapat pada seseorang lain harus
mempertimbangkan hasil yang di capai, ia juga mempertimbangkan keyakinan orang
tersebut bahwa yang dikerjakan memberikan sumbangan terhadap tercapainnya
yujuan yang diharapkan.
Berdasarkan
asumsi-asumsi diatas, vroom mengembangkan suatu teori motivasi, yaitu
intensitas motif seseorang untuk melakukan sesuatu adalah fungsi nilai
atau kegunaan dari setiap hasil yang
mungkin dapat dicapai dengan persepsi kegunaan atau tindakan dalam upaya
mencapai hasil tersebut.
Berdasarkan
asums-asumsi diatas Vroom mengembangkan suatu teori motivasi, yaitu intensitas
motif sesorang untuk melakukan sesuatu adalah fungsi nilai atau kegunaan dari
setiap hasil yang mungkin dapat di capai dengan persepsi kegunaan atau tindakan
dalam upaya mencapai hasil tersebut.
Guna
menguji teori froom tersebut telah banyak dilakukan penelitian. Terdapat dua
hal penting yang di hasilkan oleh penelitian tersebut yaitu.
(1) Perbedaan
antara imbalan (insentif) intrinsik dan ekstrinsik .
(2) Spesifikasi
dari suatu keadaan dimana ekspektasi dan nilai memengaruhi kualitas pekerjaan
sesorang.
Di
samping itu, ditemukan fula bahwa da ada
dua kondisi yang harus di penuhi agar ekspektasi dan urutan kesenangan itu
dapat memengaruhi kinerja yaitu.
1) Kemampuan
yang memadai untuk melaksanakan tugas.
2) Persepsi
yang akurat tentang peranan seseorang dalam organisasi.
Teori
harapan dari Veroom (1964) telah di kembangkan Poster dan Lawler (1968) serta ahli-ahli
lainya. Vroom menjelaskan bahwa memotivasi adalah hasil adari tiga faktor,
yaitu (1) valensi, (2) harapan, dan(3) instrumentasi. Rumusnya sebagai berikut.
Motivasi = Valensi x
harapan x instrumentasi
|
Valensi
ialah kekuatan preferensi sesorang untuk memperoleh imbalan. Valensi merupakan
ungkapan seseorang untuk mencapai tujuan. Valensi setiap orang tidak sama
tergantung pengalaman masing-masing. Valensi imbalan sangat di pengaruhi oleh
usia, pendidikan, pengalaman dan jenis pekerjaan. Valensi mempunyai jenjang.
Apabila seorang tidak menaruh perhatian kepada valensi maka valensinya 0 (nol).
Apabila menghindali valensi nilainyan -1 dan apabila sangat menginginkan
valensinya yang besar nilainya 1.
Harapan
ialah kadar kekuatan keyaknan bahwa usaha kerja akan menghasilkan penyelesaian
tugas. Harapan dinyatakan sebagai kemungkinan prestasi kerja seseorang terhadap
usaha kerja yang telah
dilakukannya.seperti halnya dengan valensi, harapanpun memiliki jenjang. Jika
harapannya kecil atau rendah maka nilainnya 0. Sebaiknya jika harapannya tinggi
maka nialainya 1.
Instrumen
ialah keyakinan seseorang bahwa ia akan memperoleh imbalan atas pekerjaan yang
telah di selesaikannya. Seperti halnya dengan valensi dan harapan,
instrumentasipun memiliki jenjang. Jika instrumentasinya kecil atau rendah maka
nilainya 0. Sebaiknya, jika instrumentasinya nialai tinggi maka nilainya 1.
7. Teori
Meclelland
Meclelland mengetengahkan teori motivasi
yang berhubungan erat dengan teori belajar. Meclelland (1962) berpendaat bahwa
banyak kebutuhan yang diperoleh dan kebudayaan. Tiga dari kebutuhan
Meclelland ialah
(1) Kebeutuhan
akan prestasi (need of achivement) di singkat n Ach
(2) Kebutuhan
akan diafiliasi (need of affilition) di singkat n Aff
(3) Kebutuhan
akan kekuasaan (need of fower) di singkat n fow.
Motivasi
berprestasi ialah dorongan dari dalam diri untuk mengatasi segala tantangan dan
hambatan dalam upapya mencapai tujuan. Motivasi afiliasi ialah dorongan yang
berhubungan dengan orang lain atau dorongan untuk memiliki sahabat
sebanyak-banyaknya . motivasi berkuasa ialah dorongan untuk memengaruhi orang
lain agar tunduk kepada kehendaknya.
8. Teori
prilaku skinner
Teori
pembentukan perilaku menurut yang di kemukakan Skinner (1997)menyatakan bahwa
yang memengaruhi dan membentukan prilaku kerja di sebut pembentukan prilaku
(operant conditioning) atau disebut juga behavior
modivication, positive reirforcemet, dan skinnerian conditioning. Pendekatan ini di dasarkan pada hukum
pengaaruh (law effect) yang menyatakan bahwa prilaku yang diikuti dengan
konsekuensi pemuasan cendrung diulang , sedangkan perilaku yang diikuti dengan
konsekuensi hukuman cendrung tidak diulang. Jadi, individu perilaku induvidu di
masa mendatang dapat diramalkan atau di pelajarai.
Proses
pembentukan prilaku seperti ppada gambar berikut ini.
Rangsangan
|
Tanggapan
di masa yang akan datang
|
Tanggapan
|
Konsekuensi
|
Jika
ada rangsangan maka terjadi tanggapan, jika da tanggapan maka akan terjadi
konsekuensi. Jika konsekuensi itu positip maka orang akan memberikan tanggapan
yang sama untuk tanggapan berikutnya dimasa yanag akan datang. Jika
konsekiansinya negatif maka orang tidak
akan merasa senang dan selalu menghindari
konsekuensi itu dimasa yang akan datang.
9. Teori
porter-lawler
Teori poter-lawler adalah teori pengharapan
dari motivasi dengan orientasi masa depan dan menekankan antisipasi
tanggapan-tanggapan atau hasil-hasil. Para manajer terutama tergantung pada
penghargaan yang akan datang bukan pengalaman masa lampau.
Model pengharapan ini menyajikan sejumlah
cara menejer memotivasi bawahannya seperti yang di ungkapakan Porter &
Lawler (1997) berikut
(1) Pemberian
penghargaan disesuaikan dengn kebutuhan bawahan.
(2) Jelaskan
prestasi yang diharapka.
(3) Buatlah
prestasi yang menantang dan dapat dicapai.
(4) Hubungan
penghargaan dengan prestasi.
(5) Analisis
faktor-faktor yang bertentangan.dan
(6) Penentuan
penghargaan yang memadai.
10. Teori
keadilan
Teori keadilan menyatakan bahwa faktor
keadilan/kewajaran yang memengaruhi sistem pengupahan mencakup tiga di mensi
yaitu, di mensi internal, dimensi eksternal, dan dimensi individual. Di mensi
internal berarti setiap jabatan/posisi dan pekerjaan individu dihargai oleh
organisasi/perusahaan dengan perbandingan yang rasional, dari yang terendah sampai
tertinggi. Dimensi kerja diluar organisasi/perusahaan yang mampu bersaing
dengan pengupahan yang di berikan oleh organisasi/perusahaan lain yang sejenis.
Di mensi individual berarti kewajaran/keadilan yang dirasakan oleh setiap
individu dengan individu lainnya.
11. Teori
white
Menurut
teori white seprti yang dikutif Handoko (2003) menyatakan motif uang bukanlah
jaminan untuk meningkatkan kinerja manusia karena kebutuhan manusia akan uang
adakalanya mengalami titik kejenuhan sehingga uang tidak lagi memotivasi
manusia. Disamping itu, manusia dapat menolak uang karena tugas yang dibebankan
kepadanya melampaui kemampuannya.
Sebagai contoh, seorang tukang angkat barang (portir) sehari kekuatan
maksimalnya untuk mengangkat barang sebanyak 500 kg/hari dengan upah 100/kg, ya
masih termonivasi untuk mengangkatnya. Namun, ketika di tawari untuk mengangkat
lebih dari 500 kg dengan imbalan kelebihannya akan di bayar rp 200/kg ternyata
ia menolak dengan alasan tidak cukup waktu dengan dan tenaga untuk
mengangkatnya lagi. Di samping itu, pekerja juga membutuhkan makan dari
istirahat, serta berkumpul dengan keluarga atau sahabat.
B.
Motivasi,
Hubungan dan Sosiokultural
Motivasi mempunyai komponen sosial. Selain motif untuk prestasi,siswa juga mempunyai motif sosial .
area pembahasan kita dimensi-dimensi Sosial dari motivasi berpokus pada motif
sosial siswa, hubungan sosial dan sosikulturak dari murid.
a.
Motif
sosial
Motif sosial adalah kebutuhan dan
keinginan yang dipelajari melalui pengalaman terhadap dunia sosial. Kepentingan
dalam motif sosial berkembang dari katalog panjang atas kebutuhan atau motif
dari Henry Murray (1938), termasuk kebutuhan akan afiliasi atau keterkaitan, yang
merupakan untuk motip secara aman terhubung/terkait dengan orang lain. Hal ini
termasuk membentuk, memelihara, serta memulihkan hubungan yang hangat, dekat
dan personal. Kebutuhan sosisal siswa
tercermin dalam keinginan mereka untuk menjdi populer dengan teman sebaya dan
mempunyai teman dekat serta minat kuat
yang mereka rasakan kepada seseorang yang mereka cintai. Meskipun setiap siswa
mempunyai kebutuhan akan afiliasi atau keterkaitan, beberapa isiwa mempunyai
kebutuhan yang lebih kuat di bandingkan dengan yang lainnya. Beberapa siswa
senang untuk dikelilingi oleh banyak teman. Di sekolah menengah pertama dan
menengah atas, beberapa siswa merasakan sesuatu yang hilang secara drastis dari
kehidupan mereka jika mereka tidak mempunyai pacar yang mereka kencani secara
rutin. Yang lainnya tidak mempunyai kebutuhan akan akan afiliasi yang
sedemikian kuat. Mereka tidak menjadi kacau jika mereka tidak mempunyai
beberapa teman dekat di sekitar mereka sepanjang hari dan tidak duduk di kelas
dalam keadaan cemas jika mereka tidak mempunyai pasangan romantis.[3]
Baik persetujuan guru maupun
persetujuan teman sebaya adalah motip sosial yang penting bagi sebagian besar
siswa. Pada tahun-tahun sekolah dasar, siswa lebih termotivasi untuk
menyenangkan orang tua mereka di bandingkan teman-teman sebaya mereka. Pada
akhir sekolah dasar, persetujuan orang tua dan persetujuan teman sebaya kurang
lebih setara dalam sistem motif sebagian besar siswa. Pada kelas orang tua. Di
kelas dua belas, kecocokan dengan teman sebaya agak menurun bersamaan dengan
meningkatnya kemandirian siswa dan lebih banyak mengambil keputusan oleh diri mereka sendiri.[4]
Masa remaja dapat menjadi titik yang
penting terutama dalam motivasi prestasi dan motivasi sosial. Tekanan akademis
dan sosial yang baru, memaksa remaja menuju peran-peran baru yang melibatkan
lebih banyak tanggung jawab. Seiring remaja mengalami tuntutan prestasi yang
lebih kuat, kepentingan sosial mereka dapat memangkas waktu yang mereka
butuhkan untuk hal-hak akademis. Atau ambisi dalam satu area dapat melemahkan
pencapaian tujuan dan area lainnya, seperti ketika prestasi akademis membawa
celaan sosial. Pada masa remaja awal, siswa menghadapi pilihan antara apakah
mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu mereka untuk mengejar tujuan sosial
atau tujuan akademis. Hasil dari keputusan ini mempunyai konsekuensi jangka
panjang pada seberapa jauh remaja akan menjalani pendidikan mereka dan karier
yang ingin mereka kejar.[5]
b.
Hubungan
Sosial
Hubungan siswa dengan orang tua, teman
sebaya, dan teman-teman mempunyai dampak yng sangat besar pada kehidupan
mereka. Interaksi mereka dengan guru, mentor dan yang lainnya juga dapat sangat
memengaruhi motivasi prestasi dan sosial mereka.[6]
-
Orang
tua
Riset telah dilakukan pada hubungan
antara asuhan orang tua dan motivasi siswa. Studi telah meneliti karakteristik
demografis keluarga, praktik membesarkan anak dan adanya pengalaman-pengalaman
spesifik dirumah.
Ø Karakteristik Demografis
Di bandingkan orang tua yang kurang
pendidikan, orang tua yang berpendidikan tinggi percaya bahwa keterlibatan
mereka dalam pendidikan anak mereka merupakan hal yang penting, aktif untuk
berperan dalampendidikan anak mereka, dan mempunyai bahan-bahan yang merangsang
anak-anak mereka secara intelektual di rumah. Ketika waktu energi orang tua
sebagian besar di habiskan oleh
persoalan atau orang lain selain anak, motivasi anak dapat di rugikan. Hidup
dalam sebuah keluarga dengan orang tua tunggal, mempunyai orang tua yang
tenggelam dalam pekerjaan mereka, dan hidup dalam keluarga besar dapat
melemahkan prestasi anak.
Ø Praktik
pengasuhan anak
Meskipun faktor-faktor demokrafis
dapat memengaruhi motivasi siswa , tetapi praktik pengasuhan anak yang di
lakukan oleh orang tua adalah lebih penting.
Berikut adalah beberapa praktik asuhan
orangtua yang positip dalam menghasilkan motivasi dan motivasi yang meningkat.
1. Mengetahui
keadaan anak dengan cukup baik untuk memberikan tantangan dalam jumlah yang
tepat dan dukungan dalam jumlah yang tepat .
2. Memberikan
iklim emosional positif yang memotivasi anak untuk menganut nilai dan tujuan
orang tua mereka.
3. Memberikan
model prilaku prestasi termotivasi, yaitu bekerja keras dan berusaha dengan
tekun pada tugas yang menantang.
Ø Pemberian
pengalaman-pengalaman yang spesifik dirumah.
Selain praktik membesarkan anak,
orang tua memberikan beragamaktivitas atau sumber-sumber dirumah yang dapat
memengaruhi minat dan motivasi siswa untuk mengejar beragam aktivitas
dikemudian hari. Sebagian contoh, membacakan untuk anak-anak prasekolah dan
memberikan bahan bacaan dirumah berkaitan secara positip dengan prestasi dan motivasi membaca siswa di kemudian hari.
Bahkan, para peneliti telah menemukan bahwa keterampilan dan kebiasaan kerja
anak-anak ketika mreka memasuki taman kanak-kanak merupakan salah satu peramal
terbaik atas motivasi dan kinerja akademis baik di sekolah dasar maupun disekolah
menengah. Tingkat dimana orang tua menekankan prestasi akademis atau olahraga
serta memberikan kesempatan dan sumber-sumber
bagi anak mereka untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas ini di
tahun-tahun sekolah dasar, memengaruhi apakan anak-anak tersebut akan memilih
tugas pembelajaran dan aktivitas ekstrakurikuler yang konsisten dengan
aktivitas-aktivitas tersebut pada masa remaja.[7]
-
Teman
sebaya
Teman sebaya dapat memengaruhi motivasi siswa
melalui pembandingan sosial, kompetensi dan motivasi sosial, pembelajaran
bersama teman sebaya, serta pengaruh kelompok teman sebaya.
Siswa membandingan diri mereka dengan
teman sebaya mereka untuk mengatahui dimana dimana posisi mereka secara kademis
dan secara sosial. Remaja cendrung untuk terlibat dalam perbandingan sosial di
bandingkan anak-anak yang lebih muda, meskipun remaja cendrung menyangkalbahwa
mereka pernah membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain. Perbandingan
sosial positif biasanya menghasilkan harga diri yang lebih tinggi, sedangkan
perbandingan negatif menghasilkan harga diri yang lebih rendah. Siswa lebih
sering membandingkan diri mereka dengan orang lain yang paling mirip dengan
mereka dalam umur, kemampuan dan minat.
Siswa lebih terima oleh teman-teman
sebayamereka dan mempunyai keterampilan sosial yang baik dan sering kali
berhasil dengan lebih baik di sekolah dan mempunyai motivasi prestasi akademis
yang positif. Sebaliknya, siswa-siswa
yang di tolak, terutama mereka yang sangat agresif, berisiko, teerkena
sejumlah masalah prestasi, termasuk pendapatan nilai rendah dan putus sekolah.[8]
-
Guru
Banyak anak yang tidak berprestasi baik
di sekolah, mempunyai interaksi negatif dengan guru mereka. Mereka sering
mendapatkan masalah untuk tidak mengerjakan tugas, tidak memperhatikan,
menghindari tugars, atau berkelakuan buruk. Dalam banyak kasus, mereka layak
dikriktikdan didisiplainkan, tetapi terlalu sering ruang kelas menjadi tempat
yang sangat tidak menyenangkanbegi mereka.
Nel Noddings (1992, 1998,2001)
menekankan bahwa siswa cenderung untuk berkembang menjadi manusia yang kompeten
ketika mereka merasa di perhatikan. Hal ini mengharuskan guru untuk
mengenalsiswa dengan cukup baik. Ia mengatakan bahwa hal ini sulit
tercapai di sekolah-sekolah besar dengan
jumlah siswa yang sangat besar dalam setiap kelasnya. Ia menganjurkan guru
untuk tetap bersama siswa-siswa yang sama untuk 2-3 tahun (secara suka rela
pada pihak guru dan siswa) sehingga guru akan mempunyai posisi yng lebih baik
untuk menangani minat dan kapisitas dari setiap siswa.
Para peneliti telah menemukan bahwa siswa yang merasa bahwa mereka
memiliki guru yang mendukung dan penuh perhatian lebih bermotivasi untuk
terlibat dalam kerja akademis dibandingkan siswa yang memiliki guru yang tidak
mendukung dan tidak memperhatiakan. Seorang peneliti penyelidiki pandanagan siswa
terhadap kualitas hubungan baik dengan guru dengan mengajukan pertanyaan kepada
siswa-siswa sekolah menengah seperti bagaimana mereka mengatahui bahwa guru
memedulikan mereka. Siswa empunyai kesan
yang positif terhadap guru yang penuh perhatikan kepada mereka sebagai manusia.
Menariknya, siswa juga mempertimbangkan perilaku pembelajaran guru dalam
mengevaluasi seberapa guru mereka memedulikanmereka. Siswa mengatakan bahwa
guru menyampaikan bahwa mereka peduli kepda siswa mereka ketika mereka
melakukan usaha serius untuk meningkatkan pembelajaran dan mempunyai standar
tinggiyang layak.
Motivasi siswa menjadi optimal ketika guru meberi mereka tugas yang
menantang dalam lingkungan yang berorientasi pada kemampuan menguasai yang
meliputi dukungan emosional dan kognitif yang baik, bahan yang berarti dan
menarik untuk dipelajari dan dikuasai, serta dukungan yang menadai untuk
mandiri dan memiliki inisiatif. Banyak peneliti menyimpulkan bahwa bila kerja
akademis mempunyai arti, akan dapat
memelihara perhatikan dan minat siswa, melibatkan mereka dalam pembelajaran, serta
mengurangi kemungkinan siwa untuk merasa
terangsingkan dari sekolah. Selain itu
seperti yang kita bahas diawal mengenai gagasan Bandura pada efikasi diri, iklim
motivasi dan prestasi dari seluruh sekolah memengaruhi motivasi siswa. Sekolah
dengan ekspektasi dan standar akdemis tinggi, serta dukungan bagi siwa,
akademis dan emosional sering kali mempunyai siswa-siswa yang termonivasi untuk
berprestasi.
-
Guru
dan Orangtua
Di masa lalu, sekolah-sekolah hanya
memberikan sedikit perhatikan pada bagaimana guru dapat melibatkan orangtua
sebagai rekan mereka dala memberikan kesempatan bagi siswa untuk
berprestasi. Dimasa kini, terdapat banyak
ketertarikan pada bagaimana untuk mencapai rekanan tersebut. Ketika guru secara
sistematis dan sering mengimpormasikan kepada orang tua mengenai kemajuan
anak-anak mereka serta terlibat dalam pembelajaran anak-anak mereka, sering
kali anak-anak mencapai tingkat prestasi akademis yang lebih tinggi.
c.
Konteks
Sosiokultural
Dalam bagian ini kita kan berfokus pada
bagaimana status sosial ekonomi, etnisitas, dan gender dapat memengaruhi
motivasi dan prestasi. Fokusnya terutama pada keberagaman.
a) Status
Sosial dan Etnisitas
Keberagaman dalam kelompok
monoritas etnis yang kita bahas dalam Bab 5juga terbukti dalam prestasi mereka.
Sebagai contoh, banyak siswa Asia Amerika mempunyai orientasi prestasi akademis
yang kuat, tetapi beberapa dari mereka tidak.
Selain mengenali keberagaman yang ada dalam setiap kelompok budaya dalam
hubungannya dengan prestasi mereka, merupakan hal yang penting pula untuk
membedakan antara perbedaan dan kekurangan. Terlalu sering, prestasi dari siswa
minoritas etnis Khususnya Anerika
Serika, Latin, dan Pribumi Amerikayang memiliki status sosial ekonomi menengah telah
diinterpretasikan dalam pengertian standar kulit putih sebagai golongan kurang
mampu seketika siswa-siswa ini secara budaya berbeda dan terpisah dengan
mereka(golongan kulit putih).
Akan tetapi, perbedaan prestasi lebih
dikaitkan secara lebih dekat dengan status sosial ekonomi dibandingkan dengan
etnisitas. Banyak studi telah menemukan bahwa status sosial ekonomi lebih baik
dalam memprediksi sebuah prestasi dibandingkan etnisitas. Tampa memandang latar
belakang etnis mereka, siswa dari keuarga berpenghasilan menengah dan atas
berkinerja lebih baik di bandingkan mereka yang berasal dari keluarga yang
berpenghasilan rendahdalam banyak situasi prestasi sebagai contoh, eksprektasi
untuk berhasil, aspirasi terhadap prestasi dan pengenalan atas pentingnya
usaha.
Sandar Graham telah melakukan sejumlah studi yang mengungkapkan tidak
hanya peran status sosial ekonomi yang
lebih kuat dibandingkan etnisitas dalam prestasi, tetapi juga pentingnya untuk
mempelajari motivasi siswa minoritas etnis dalam komteks umum teori motivasi.
Penyelidikannya jatuh dalam kerangka teori atribusi dan berpokus pada penyebab
siswa Afrika Amerika mengidentifikasi orientsi prestasi mereka berhasil atau
gagal. Graham telah menemukan bahwa siswa Afrika Amerika berpenghasilan
menengah, seperti keluarga berkulit putih dari keluarga berpenghasilan
menengah, mempunyai ekspektasi prestasi
yang tinggi dan memahami bahwa kegagalan biasannya dikarenakan kurangnya usaha
dari pada karena nasib sial. Satu studi yang terkini yang para peserannya
terutama siswa-siswa minoritas.
b) Gender
Diskusi kita tentang gender dan
motivasi di fokuskan pada bagaimana pria dan wanita berbeda dalam keyainan dan
nialai yang mereka anut. Keyakinan berkaitan dengan soal kompetensi yang dianut
murid pria dan wanita berbeda-beda menurut konteks prestasi. Misalnya, murid
kelas lebih punya keyakinan kompetensi yang lebih tinggi ketimbang murid wanita
untuk pelajaran matematika dan olahraga, sedangkan murid keyakinan perampuan
lebih tinggi ketimbang murid lelaki untuk peljaran bahasa inggris, membaca dan
aktivitas sosial. Perbedaan ini semakin bertambah setelah masa puber (Eccles,
dkk, 1993)njadi, sejauh mana murid pria dan wanita mencapai prestasi masih
dipengaruhi oleh wettotof peran gender.
Berkenaan dengan nilai prestasi,
sejak SMA murid wanita tidak terlalu menghargai prestasi matematika di
bandingkan murid lelaki (Eccles, dkk, 1993). Murid wanita berbakat sering kali
mengalami konflik antara peran gender dan prestasi. Sebuah studi terhadap gadis
terbakay menunjukan perasaan mereka yang terjebak diantara prestasi dan
penampilan feminitas (Fell, 1989).
C.
Motivasi
dan Tujuan Henry Murray
Henry murray mendifinisikan kepribadian
sebagai cabang dan psikologi yang pada prinsipnya memberikan perhatian kepada
studi mengenai kehidupan manusia dan berbagai faktor yang mempengaruhi jalan
hidup mereka, dan yang menyelidiki tentang berbagai perbedaan individual. Sejak
memandang kepribadian sebagai suatu studi mengenai kehidupan manusia di
sepanjang waktu, ia memandang perlunya memperhatikan dan mengenalisis berbagai
interaksi antara individu dengan situasi yang individu tersebut temui di
sepanjang hidupnya. Murray menggunakan konsep motivasi tidak sadar dan Freud,
Jung, Adler, di samping konsep tuntutan lingkungan dari Lewin serta konsep
trait yang canggih dari allport, ia mensintesiskan konsep-konsep tersebut ke
dalam sebuah pendekatan yang konprehensip tentang kepribadian. Dengan demikian
Murray dapat dianggap sebagai perintis utama pendekatan interaksionisme
terhadap kepribadian.[9]
Henry Murray di lahirkan di New York dan
menjadi dokter yng melakukan riset biokimia (dengan gelar ph. Dar cambridge
university)sebelum beralih ke pisikologi setelah mengunjungi jung di Zurich.
Murray mrnjalani psikonalisis pertama kali oleh Jung, kemudian oleh Franz Alexander,
seorang tokoh dalam pengobatan psikosomatis. Ia melaporkan bawa dua tokoh
tersebut membuatnya menyadari betapa dahsyatnya kekuatan motivasi tidak sadar.
Murray menjadi di rektur harward psychological clinic ( yang merawat orang yang
mengalami masalah-masalah psikologis); namun memutuskan untuk belajar lebih
banyak dari oorang-orang yang sehat. Ia menggabungkan ide-ide fsikonalisis dan neo-analisiske
dalam sebuah kerangka dasar untuk keperluan riset enpiris. Ia termasuk orang
pertama kali melakukan riset semacam itu.
D.
Motivasi
Dan Dinamika Prilaku Manusia
1. Dinamika
Proses Prilaku Manusia
a. Di
pandang dari segi motifnya setiap gerak perilaku manusia itu selalu mengandung
tiga asfek, yang kedudukannya bertahap berurutan (sequential), yaitu;
(1) Motivating
states (tibulnya kekuatan dan terjadinya kesiap sediaan sebagai akibat
terasannya kebutuhan jaringan atau sekresi, hormonal dalam diri organisme atau
karena terangsang oleh atimulasi tertentu).
(2) Motivated
behavior (bergeraknya organisme kearah tujuan tertentu sesuai dengan sifat
kebutuhan yang hendak dipenuhi dan di puaskannya, misaalnya lapr cari makanan
dan memakannya). Dengan demikian setiap perilaku pada hakikatnya bersifat
instrumental (sadar atau tidak sadar).
(3) Satisfied
condition (dengan berhasinya di capai tujuan yang dapat memenuhu kebutuhan yang
terasa, maka keseimbangan dalam diri
organisme pulih kembali ialah terpeliharannya, homeostasis, kondisi
demikian di hayati sebagai rasa nikmat dan puas atau lega). Namun, didalam
kenyataannya, tidak selamanya kondisi pada tahap ketiga itu kemudian, bahkan
mungkin sebalinya. Ialah terjadinya ketegangan yang memuncak kalau insentifnya
(goals) tidak tercapai, sehingga individu merasa kecewa (frustration).
b. Karena
terjadinnya metabolisme dan penggunaan atau pelepasan kalori, perangsangan
kembali, dan sebagainya, kepuasan itu hanya bersifat tempora (sementara). Oleh
karena itu, geraknya atau dinamika proses prilaku itu sebenarnya akan
berlangsung secara siklus (cyclical), yang dapat di gambarkan secara skematik
seperti di bawah ini.
Tolong di gambar bentuk lingkaran
2. Beberapa
Cara pengukuran dan Usaha Peningkatan Kekuatan Motivasi Kerja dan Belajar.
a. Meskipun
motivasi itu merupakan suatu kekuatan, namun tidaklah merupakan sesuatu
substansi yanf dapat kita kita amati. Yang dapat kita lakukan ialah
mengidentifikasi beberapa indikatonta dalam term-term
tertentu, antara lain;
(1) Durasinnya
kegiatan (beberapa kemampuan penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan).
(2) Frekuensinnya
kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu)
(3) Persistensinya
(ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegiatan.
(4) Ketabahan, keuletan
dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan
untuk mencapai tujuan.
(5) Devosi
(pengabdian) atau pengorbanan (uang,
tenaga, pikiran, bahkan jiwanya tau nyawanya) untuk mencapai tujuan.
(6) Tingkatan aspirasinnya
(maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target, dan idolannya), yang hendak
di capai dengan kegiatan yang dilakukan.
(7) Tingkatan kualifikasi
prestasi atau produk atau output yang
dicapai dari kegiatannya (berapa bantak, memadai atau tidak, memuaskan atau
tidak).
(8) Arah sikapnya terhadap
sasaran kegiatan (like or distike; positif atau negatif).
Sudah
barang tentu harus diingat bahwa faktor-faktor yang terlibat dalam proses
kegiatan ini bukanlah hanya motivasi semata-mata, tercakup unsur lain dalam
indikator-indikatornya tersebut di atas.
b. Dengan
memperhatikan indikator-indikator tersebut diatas sebagai tekhnik pendekatan
dan pengukuran tertentu dapat di pergunakan antara lain;
(1) Tes tindakan
(performance test) di sertai absevasi untuk
memperoleh invormasi dan data tentang persistensi, keuletan, ketabahan, dan
kemampuan menghadapi masalah, durasi dan frekuensinnya: dalam hal ini berbagai
eksperimen dapat dilakukan:
(2) Kuesioner dan inventori trhadap subjeknya untuk mendapat informasi
tentang devosi dan pengobananya, aspirasinnya.
(3) Pengarang bebas untuk
mengetahui cita-cita dari aspirasinnya.
(4) Tes prestasi dan
sakala sikaf untuk mengetahui
kualifikasi dan arah sikapnya.
Namun,
sudah barang atau menarik kesimpulan dari tafsirannya harus sangat hati-hati
(tentatif dan hipotetik) mengingat kemungkinan faktor-faktor lain dalam proses
kegiatan yang bersangkutan. Tehnik analisis statistik yang tepat untuk itu
diantarannya dengan multiple regression analisis
(analisis regresi berganada) yang formularnya yang telah diperkenalkan dalam
unit 1 (P = a + b1 X1 +..........bn Xn +
E ).
c. Dari
berbagai hasil studi laboratories dan eksperimental telah di kembangkan
berbagai saran upaya untuk meningkatakan motivasi kerja dan termasuk perbuatan
belajar sebagai berikut.
(1) Hindarkan
segusti dan kondisi yang negatif (kurang menunjang dan menggairahkan).
(2) Ciptakan
situasi kompetisi yang sehat, baik anatar individu dalam kelompok/kelasnya
maupun self competition.
(3)
Adakan pocemaking ( atas dasar prinsip goalgradient: makin jelas dan dekat pada
tujuan/sasaran, makin kuat motif berusaha)
(4)
Informasikan hasil
kegiatan dan berikan kesempatan kepada individu atau kelompok bersangkutan
untuk mendiskusikannya.
(5)
Dalam hal tertentu,
ganjaran dan hadiah (reward and bonus
atau insentif dapat juga di berikan dalam bentuk penghargaan dengan pujian,
piagam, fasilitas, kesempatan , fromosi, dan sebagainya). Bila di pandang
mungkin dapat juga di gunakan hukuman pedagogis (punishment, fenalty).
3. Proses
Membuat Pilihan dan Keputusan, Konflik dan Frustasi, serta Bentuk-Bentuk
Perilaku Penyesuaiannya.
a. Dalam
rangkaian proses pemenuhan felt-needs-nya
individu pada umumnya dihadapkan kepada sejumlah alternatif, baik dalam asfek
maupun dalam tahapan:
(1) Instrumental behavior-nya
(kemungkinan-kemungkinan tindakan yang dapat di tempuh)
(2) goal atauincentive-nya (kemungkinan-kemungkinan sasaran tau
tujuan yang hendak di capai)
b. mengingat
hal tersebut diatas, individu haruskan oleh situasinnya untuk mengadakan
pilihan diantara internatif yang ada. Dalam hal ini faktor-faktor:
(1) pertimbangan untung
rugi (cost-benefit) dari setiap
alternatif srcara rasional diuji ; di saming itu
(2) kemauan (the
willingness) dan kata hati (the cosscince of man) juga turut menentukan dalam proses pemilihan
dan pengambilan keputusan itu, karena risiko (akibat)-nya juga harus di
tanggung. Dalam hal ini tertentu bentuk risiko tersebut kadang-kadang akan
sampai kepada kemungkinan kehilangan kedudukan, kesempatam, harta benda,
keluarga, bahkan jiwa raganya.
c. Seandainya,
individu menghadapi alternatif-alternatif yang mengandung motif-motif atau
risiko untung-rugi atau positif-negatif yang sama kuatnya, dan proses pemilihan
dan pengambilan keputusan pun tidak dapat di lakukan dengan segera, maka dalam
diri individu yang bersangkutan akan terjadilah perang batin yang tidak
berkesudahan dan berkeputusan (psychological
comflict).
Sesuai dengan sifat motivasi atau
risikonnya dari setiap alternatif, ia akan mengalami kemungkinan.
(1)
Approach-approach
comflict (kalu semua alternatif yang ada,
sama-sama di kehendaki karena mengandung risiko yang sama-sama positif)
(2)
Avoidence-avoidance
complict (kalu semua alternatif yang ada,
sama-sama tidak dikehendaki karena mengandung risiko yang sama-sama negatif)
(3)
Approach-avoidence
complict (kalau alternatif tertentu yang
dikehendaki mengandung risiko yang fositif, tetapi sekaligus juga negatif yang
sama kuatnya)
d. Kalu
perang batin ini tidak terdapat segera diatasi, individu yang bersangkutan atau
mengalami sesuatu rasa kekecewaan yang amat mendalam karena tujuan yang di
kehendakinya tak kunjung terlaksanakan
dan tercapai. Perasaan kecewa itu dan situasi tidak tercapai tujuan yang
di kehendakinnya, itulah yang dalam psikologi lazim di sebut frustrasi . sumber yang mendatangkan
frustrasi itu berwujud manusia (persons) baik
diri sendiri maupun orang lain, hal yang bukan orang,pristiwa atau keadaan
alam, situasi lain dan sebagainnya.
e. Reaksi
individu yang bersangkutan terhadap irustrasi itu bermacam-macam bentuk
prilakunya, tergantung pada kemampuan berpungsi akal sehatnya (reasoning, inteligensi).
f. Kalau
akal sehatnya berani menghadapai
kenyataan, pada akhinya (mungkin dengan bantuan fihak dan cara tertentu;
konselor, psikolog, orangtua, teman dekat, ulama, pendeta, istikharah/meditasi
dan sebagainya) ia dapat juga mengambil keputusan atau tindakan penyesuaian
yang sehat secara rasional sehingga tujuannya tercapai. Tindakan seperti itu
yang disebut adjusment
(1)
Aktif ( ia mengubah
lingkungan, mungkin mencarai dan mengubah alaternatifnya tetapi dapat sampai
kepada goal-nya yang di kehendaki)
(2)
Pasif
( ia mengubah
dirinya, mungkin mengadakan modifikasi aspirasinnya sehingga ia dapat
menetapkan tujuannya secara realistik
dan bertindak secara realistik pula).
g. Namun,
jika akal sehatnya itu tidak mampu berpungsi sebagaimana mestinya, perilaku
yang bersangkuta di kendalikan oleh hasrat emisionalnya. Oleh karena itu,
reaksinya pun akan bersipat emosional pula. Dengan demikian, meskipun ia
berusaha mencapai penyelesaian dan pencapaian tujuan, kemungkinan besar akan
selalu kandas bahkan mungkin mendapatkan hasil dan mengalami situasi yang lebih
buruk dari apa yang diharapkan. Penyesuaian yang salah atau keliru seperti yang
di sebut maladjusment. Bentuk-bentuk
perilaku yang salahsuai maladjusment)itu
dapat kita bedakan berdasarkan tingkat keterlibatan inteligensi secara
fungsional di dalam proses tindakan tersebut. Diantarannya dapat di kemukakan
disini jenisnya ialah:
(1)
Agresi
marah (angry aggression);
(2)
Kecemasan
tak berdaya (helplessness anxiety);
(3)
Regresi
(regression, kembali perilaku kekanak-kanakan)
(4)
Fiksasi
(fixation)
(5)
Refresi
(repression)
(6)
Rasionalisasi
(mencari dalil atau alasan)
(7)
Proyeksi
(melemparkan kesalahan itu kepada lingkungan )
(8)
Sublimasi
(menyalurkan hasrat dorongan ke objek sejeenisnya)
(9)
Kompensasi
(mengimbangi atau menutupi kelemahannya di bidang
tertentu dengan seksesdi didang lainnya)
(10)
Berfantasi (seakan-akan
dalam angan-angannya itu ia dapat mencapai tujuan yang di dambakannya.
h. Sudah
barang tentu, para guru mempunyai kewajiban moral yang amat berat kalau situasi
sekolah dan tindakan para guru yang mengakibatkan para siswa mengandung risiko
harus mengalami situasi-situasi dan berperilaku seperti di atas. Merupakan
kewajiban mral pula untuk memberikan bantuan dan bimbingan secara positif
terhadap siswa yang mungkin tak terelakkan mengalaminnya.
E.
Ayat
Tentang Motivasi
Surat al-Hujurat ayat 11-13
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ
قَوْمٍ عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ وَلاَنِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى
اَنْ يَكُنَّ خَيْرًامِنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوْا
بِاْلاَلْقَابِ بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَاْلإِيْمَانِ وَمَنْ لَمْ
يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ () يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ
اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ
وَلاَتَجَسَّسُوْاوَلاَيَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ
يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُواللهَ اِنَّ اللهَ
تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ () يَاَيُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ
ذَكَرٍوَاُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًاوَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا اِنْ
اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقَاكُمْ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ()
(11). Hai
orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka yang yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang
mengolok-olok dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain karena
boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olok lebih baik dari wanita yang
mengolok-olok dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu
panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk panggilan yang
buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah
orang-orang yang dzalim. (12). Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu
menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya,
dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang. (13) Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang
laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan
adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama mukmin, dan juga
menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan umat Islam, yaitu:
a. Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
b. Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
c. Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah
menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya
menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah
menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain
adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan,
kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas
yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Santrock, Jhon W
, 2011, Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Selamba Humanika.
Friedman, Howard,
Miriam W. Schustack, 2008, keperibadian, Jakarta:
Erlangga.
Usman, Husain,
2014, Manajemen, Jakarta: Bumi
Aksara.
Makmun,AbinSyamsuddin.2005. Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajara Modul.
Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
[1] Husain
Usman, Manajemen, Penerbit Bumi
Aksara, th. 2014, h. 275-276
[2] Ibid h.
276-277
[3] Jhon W
Santrock, 2011, Psikologi Pendidikan , Penerbit
Selamba
Humanika, h.224
[4] Ibid, h. 225
[5] Ibid, h. 225
[6] Ibid, h. 225
[7] Ibid, h. 226
[8] Ibid, h. 226
[9] Howard
S. Friedman dan Miriam W. Schustack, Kepetibadian,
th. 2008. Penerbit Erlangga, h. 374






0 komentar:
Posting Komentar