Selasa, 10 Oktober 2017

MAKALAH TENTANG MOTIVASI



MAKALAH
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“MOTIVASI, HUBUNGAN DAN SOSIOKULTURAL”
DOSEN PPENGAMPU : Saimun, S.Ag, M.Si

Disusun oleh
NAMA : YUSRO ATIAH
NIM     : 160103090




JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM 2016/2017



PEMBAHASAN
A.    Motovasi, dan teori motivasi
a.      Pengertian motivasi
       Motivasa berasal dari bahasa Latin movere, yang berarti bergerak atau dalam bahasa inggrisnya, to move. Menurut Schunk, “Motivation is the process whereby  goal-directed activity is instigated and sustained.”( Motivasi adalah proses melalui kegiatan pencapaian tujuan yang telah mendorong dan berkelanjutan). Motivasi merupakan proses bukan output atau hasil. Sebagai proses, kita tidak dapat mengamatinya secara langsung, tetapi secara tidak langsung melalui tindakan-tindakan seperti pilihan kegiatan usaha-usaha, dan ketabahan. motivasi membutuhkan kegiatan baik fisik maupun phisik (mental). Kegiatan fisik misalnya, usaha-usaha, ketabahan, dan penggunaan keterampilan. Kegiatan mental. Misalnya penggunaan pengetahuan, seperti melakukan perancanaan, pengorganisasian, ppemantauan, pembuatan keputusan, pemecahan masalah dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut adalah tidak mencapai tujuan.[1]
       Motivasi berkenaan dengan tujuan yang langsung menjadi arah tindakan. Tanpa tujuan yang
jelas, sulit di dapatkan motivasi yang kuatmencapainya. Motivasi  adalah kegiatan yang  telah mendorong dari berkelanjutan (bertahan terus-menerus)nartinya tanda atau dorongan yang terus menerus, mustahil motivasi akan muncul.
     Motivasi ialah keinginan untuk berbuat sesuatu sedangkan motif adalah kebutuhan(need), keinginan (wish), dorongan (desire) atau impuls. Motivasi  merupakan keinginan yang terdapat pada seorang individuyang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan atau se suatu yang menjadidasar atau alasan seseorang  berprilaku. Motivasi kerja dapat diartikan sebagai keinginan atau kebutuha yang melatar belakangiseseorang sehingga ia terdorong untuk bekerja. Motivasi seseorang di tentukan oleh intensitas motipnya. Pertanyaan yang penting bagi pemimpin manajerial ialah “bagaimana menimbulkan motivasi kerja anggota kelompoknya?”
        Motavasi merupaka proses psikis yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat berasal dari dalam diri maupun luar dari seseorang Memotivasi diri apalagi memotivasi orang lain atau bawahan bukanlahlah pekerjaan yang mudah. Apalagi terhadap orang yang sudah berusia di atas 40 tahun, atau pegawai yang sudah cukup lama menggeluti pekerjaan yang sama, sementara kenaikan pangkat dan jabatan sudah kecil kemungkinannnya. Rutinitas pekerjaan sering menimbulkan kejenuhan mendalam yang dapat menurunkan motivasi berprestasi, yang diperparah oleh kondisi kerja yang tidak mendukung. Dalam memotivasi bahwasannya, manajer atau leader berhadapan dengan dua halyang memengaruhi orang dalam pekerjaan, yaitu kemauan dan kemampuan. Kemauan dapat diatasi dengan pemberian motivasi, sedangkan kemauan dapat diatasi dengan mengadakan diklat. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa kinerja manusia yang tampakdipengaruhi oleh fungsi motivasi dan kemampuaannya. [2]
       Motif cenderung menurunkan kekuatannya apabila sudah terpenuhi atau menghambat pemenuhannya. Pemuasan terhadap suatu kebutuhan mungkin terhambat dan orang itu kemudian putus asa (prustasi). Akan tetapi ada pula yang ulet untuk mengatasi hambatan itu dan akhirnya berhasil. Hubungan antara motif, prilaku dan kegiatan di gambarkan sebagai berikut:

b.      Teori motivasi
Teori motivasi meliputi isi(content) dan proses.
a)      Teori isi memusatkan perhatiannya pada pertanyaan, “apa penyebab prilaku dan nerhenti?” jawabnya terpusat pada
1.      Kebutuhan, keinginan,atau dorongan yang memacu untuk melakukan kegiatan
2.      Hubungan karyawan dengan faktor-faktor eksternal dan internal yang menyebabkan mereka melakukan kegiatan.
b)      Teori proses memusatkan perhatian pada bagaimana prilaku di mulai dan di laksanakan. Model teori isi adalah sepergi gambar berikut.
Dorongan
Kegiatan
Kebutuhan
Kepuasan
 







                                                                                            




Proses motivasi di gambarkan Chung & Megginson  (1981) seperrti pada gambar berikut
Kemampuan


Kebutuhan        Insentif         Dampak         Usaha         Tingkat         Ganjaran         Kepuasan  
                         Organisasi     persepsi        motivasi        kinerja   
                                                                                                                              


Produksi




Pada gambar diatas, dapat di ketahui terjadinya proses motivasi diawali oleh adanya kebutuhan. Kebutuhan itu di penuhi oleh insentif atau gaji/upah dari organisasi tempat dari kita bekerja. Gaji/upah yang kita diterima memberikan dampak persepsi. Misalnya, jika organisasi semakin maju maka organisasi semakin untung. Apabila organisasi banyak keuntungan , di harapkan gaji/upah atau bonus yang akan diterima semakin besar pula. Untuk maksud tersebut , muncul usaha-usaha motivasi. Usaha-usaha motivasi dan kemampuan memengaruhi tingkat kinerja. Tingkat kinerja memengaruhi ganjaran (hadiah) dan produktivitas. Produktivitas memengaruhi insentif organisasi dan ganjaran memengaruhi kepuasan. Apabila kepuasan telah terpenuhi, maka akan muncul pula kebutuhan-kebutuhan baru.
Newstrom & Davis (1997) memberikan pola motivasi dengan asumsi bahwa setiap manusia cendrung mengembangkan pola motivasi tertentu sebagai hasil dari lingkungan budaya tempat manusia hidup.pola ini sebagai sikap yang memengaruhi cara-cara orang memandang pekerjaan dan menjalani kehidupan mereka. Empat pola motivasi yang penting adalah prestasi, afiliasi, kompetensi, dan kekuasaan. Keempat motivasi adalah di jelaskan sebagau berikut.

Motivasi manusia menurut Claser(1998) adalah survival, belonging, power, fun dan freedom.
Sedangkan motivasi manusia menurut Charles (2002) adalah sex, security, dignity, power, enjoymeni dan competence.
Proses motivasi meliputi siklus yang di singkst AIDA, yaitu attention (perhatian), interest (tertarik), Desire (terangsang), dan action (tindakan) (Akronim, 2003). Manusia termotivasi karena ada perhatian. Ada perhatian menimbulkan ketertarikan. Ketertarikan menimbulkan rangsangan. Rangsangan menimbulkan tindakan atau aksi.
c)      Ada beberapa teori menurut para Ahli adalah sebagai berikut
1.    Hierarki Kebutuhan Maslow
Menurut teori hierarki kebutuhan maslow terdapat lima tingkatan kebutuhan, dari kebutuhan manusia yang paling rendahsampai pada kebutuhan manusia yang paling tinggi. Urutan motivasi yang paling rendah sampai kemotivasi yang paling tinggi.
a)      Kebutuhan fisiologikal
       Kebutuhan fisiologikal merupakan kebutuhan dasar atau kebutuhan yang paling         rendah dari manusia. Sebelum orang menginginkan kebutuhan, kebutuhan ini harus dipenuhi terlebih dahulu agar dapat hidup secara normal.
Contoh kebutuhan ini adalah kebutuhan akan sandang, panga, papan, istirahat, rekreasi, tidur dan hubungan seks. Untuk memenuhi kebutuhan ini manusia biasannya berusaha keras untuk mencari rezeki.
b)       Kebutuhan kesalamatan
       Setelah kebutuhan fisiologikalterpenuhi maka muncul kebutuhan baru yang   diinginkan manusia yaitu, kebutuhan akan kesalamatan atau rasa aman.
Contoh kebutuhan ini antara lain menabung, mendapatkan tunjangan pensium, memiliki asuransi, memasang pagar, teralis pintu dan jendela.
c)       Kebutuhan berkelompok
Setelah kebutuhan kesalamatan atau rasa aman terpenuhi maka muncul mula kebutuhan baru yang di inginkan manusia yaitu, kebutuhan hidup berkelompok, bergaul, bermasyarakat, ingin di mencintai dan dicintai, serta ingin memiliki dan dimiliki.
Contoh kebutuhan ini antara lain membina keluarga bersahabat, bergaul, bercinta, menikah dan mempunyai anak, bekerja sama, menjadi anggota organisasi. Untuk memenuhi kebutuhan ini, manusia biasannya berdoa dan berusaha untuk memenuhinya.
d)     Kebutuhan penghargaan
Setelah kebutuhan berkelompok terpenuhi maka muncul kebutuhan baru yang diinginkan manusia yaitu, kebutuhan akan penghargaan atau ingin berprestasi,
Contoh kebutuhan ini anatara lain ingin mendapat ucapakan terimakasih, ucapan selamat jika berjumpa, menunjukan rasa hormat, menghadapkan tanda penghargaan ( hadiah ), menjadi legislatif, menjadi pejabat (mendapat kekuasaan), menjadi pahlawan, mendapay ijazah sekolah, status simbol dan promosi.
e)      Kebutuhan aktualisasi diri
      Setelah kebutuhan penghargaan maka muncul kebutuhan baru yang di inginkan manusia yaitu, kebutuhan aktualisasi diri atau realisasi diri atau pemenuhan  kepuasan atau ingin berprestise.
Contoh kebutuhan ini antara lain memiliki sesuatu bukan hanya memiliki fungsi tetapi jugan gengsi, mengoptimalkan potensi dirinya secara kreatif dan inovatif, ingin mencapai taraf hidup yang serba sempurna tau derajat yang setinggi-tingginya, melakukan pekerjaan yang kreatif (menulis buku dan artikel), ingin pekerjaan yang menantang. Untuk memenuhu kebutuhan ini, manusia biasannya berdoa dan berusaha untuk memenuhinya.
      Hierarki kebutuhan maslow tersebut didasari dua fungsi yaitu;
(1). Kebutuhan seseorang tergantung dari apa yang telah di punyai.
(2). Kebutuhan merupakan hierarki di lihat dari pentingnya.
     Teori hierarki kebutuhan maslow ini mengandung kelemahan anatara lain
(1). Suka membuktikan bahwa kebutuhan  manusia itu mengikuti suatu hierarki.
(2). Terdapat kekuatan kebutuhan yang berbeda-beda pada setiap individu, terutama pada tingkat kebutuhan yang lebih tinggi.
(3). Timbulnya kebutuhan pada tingkatan yang lebih tinggi bukan semata-mata di sebabkan telah terpenuhinya kebutuhan yang lebih rendah, melainkan meningkatannya karier atau posisi seseorang.
(4). Kebutuhan ini luwes sifatnya sehingga sulit menetapkan suatu ukuran yang menetapkan suatu ukuran yang memuaskan segala pihak. Walupun teori hierarki kebutuhan maslow ini memiliki kelemahan, tetapi teori ini sangat berguna untuk menjelaskan mekanisme motivasi seseorang didalam suatu organisasi.
f)       Teori murray
Teori kebutuhan menurut murray (1938) berasumsi bahwa manusia mempunyai sejumlah kebutuhan yang memotivasinya untuk berbuat. Kebutuhan-kebutuhan itu menurut murrat antara lain;
1)      Pencapaia hasil kerja
2)      Afiliasi
3)      Agresi
4)      Otonomi
5)      Pamer
6)      Kata hati
7)      Memelihara hubungan baik
8)      Memerintah (berkuasa)
9)      Kekuatan dan
10)  Pengertian
Kebutuhan yang disampaikan murray tersebut bersifat kategorisasi saja. Sebenarnya kebutuhan manusia itu sangat, konpleks dan tidak terbatas.
g)      Teori Alderfer
Menurut teori Alderfer (1972) di sebutkan bahwa manusia itumemiliki kebutuhan yang disingkat ERG (Existence, Relatedness, Growth)
Manusia menurut Akderfer pada hakikatnya ingin di hargai dan diakui keberadaanya (Eksistensi), ingin diundang, dan dilibatkan. Di samping itu, manusia sebagai makhlik sosial berhubungan atau bergaul dengan manusia lainnya (relasi). Manusia juga ingin selalu meningkat taraf hidupnya menuju kesempurnaan (ingin selalu berkembang).
h)      Teori dua faktor dari herzberg
Teori dua faktor di kembangkan oleh Herzberg bersama-sama dengan mausnerdari snyderman. Mereka melakukan penelitian dengan bertanya pada sobyek penelitian tentang waktu ia merasapaling puas terhadap pekerjaannya. Kemudian mencari sebab-sebab mereka merasa puas. Paktor kesehatan (ekstrinsik)merupakan paktor lingkungan yang menyebabkan ketidakpuasan. Penelitian menyimpulkan terdapat dua faktor yaitu faktor pemuas dan faktor kesehatan seperti pada tabel berikut.

Faktor Motivasi (Intrinsik)

Faktor kesehatan (Ekstrinsik)

1.      Prestasi
2.      Penghargaan.
3.      Pekerjaan itu sendiri
4.      Tanggung jawab
5.      Pertumbuhan dan perkembangan.

1.      Suvervisi
2.      Kondisi kerja.
3.      Hubungan interpersonal.
4.      Bayaran dan keamanan.
5.      Kebijakan perusahaan,


i)        Teori X dan Y dari McGregor
Teori X dari Y di kembangkan oleh  McGregor atas dasar karakteristik manusia merupajkan anggota organisasi dalam hubungannya dengan penampilan organisasi secara keseluruhan dan penampilanindividu dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Teori McGregor berasumsi bahwa kedua teori X dan Y adalah berbeda, seperti tabel berikut ini,
Manusia Tive X

Manusia tive Y

1.      Males belajar atau bekerja (pasip)


2.      Mau bekerja kalu di perintah, dianca atau di paksa.


3.      Senang menghindar dari tanggung jawab.

4.      Tidak berambisi dan cukup menjadi anak buah saja.


5.      Tidak mempunyai kemampuan untuk mandiri.

1.      Rajin belajar dan atau bekerja (aktif) bekerja adalah bermain sehingga menyenangkan.

2.      Bekerja atas kesadaran sendiri, kurang senang diawasi dan kreatif dalam memecahkan masalah.
3.      Bertanggung jawab.


4.      Berambisi.


5.      Mampu mengendalikan  dirinya sendiri mencapai tujuan organisasinya (mandiri)

  
6.      Teori ekspektasi dari lewin
Teori ekspasi di kembangkan oleh lewin dan diterapkan oleh Vroom secara khusus dalam praktik memotivasi. Teori ekspektasi ini mempunyai asumsi.
1)      Manusia biasannya meletakkan nilai kepada sesuatu yang diharapkan dari karyanya , oleh sebab itu, manusia mempunyai urutan kesenangan diantara sejumlah hasilayang diharapkan.
2)      Suatau usaha yang menjelaskan motivasi yang terdapat pada seseorang lain harus mempertimbangkan hasil yang di capai, ia juga mempertimbangkan keyakinan orang tersebut bahwa yang dikerjakan memberikan sumbangan terhadap tercapainnya yujuan yang diharapkan.
Berdasarkan asumsi-asumsi diatas, vroom mengembangkan suatu teori motivasi, yaitu intensitas motif seseorang untuk melakukan sesuatu adalah fungsi nilai atau  kegunaan dari setiap hasil yang mungkin dapat dicapai dengan persepsi kegunaan atau tindakan dalam upaya mencapai hasil tersebut.
Berdasarkan asums-asumsi diatas Vroom mengembangkan suatu teori motivasi, yaitu intensitas motif sesorang untuk melakukan sesuatu adalah fungsi nilai atau kegunaan dari setiap hasil yang mungkin dapat di capai dengan persepsi kegunaan atau tindakan dalam upaya mencapai hasil tersebut.
Guna menguji teori froom tersebut telah banyak dilakukan penelitian. Terdapat dua hal penting yang di hasilkan oleh penelitian tersebut yaitu.
(1)   Perbedaan antara imbalan (insentif) intrinsik dan ekstrinsik .
(2)   Spesifikasi dari suatu keadaan dimana ekspektasi dan nilai memengaruhi kualitas pekerjaan sesorang.
Di samping itu, ditemukan fula bahwa da  ada dua kondisi yang harus di penuhi agar ekspektasi dan urutan kesenangan itu dapat memengaruhi kinerja yaitu.
1)      Kemampuan yang memadai untuk melaksanakan tugas.
2)      Persepsi yang akurat tentang peranan seseorang dalam organisasi.
Teori harapan dari Veroom (1964) telah di kembangkan Poster dan Lawler (1968) serta ahli-ahli lainya. Vroom menjelaskan bahwa memotivasi adalah hasil adari tiga faktor, yaitu (1) valensi, (2) harapan, dan(3) instrumentasi. Rumusnya sebagai berikut.
           Motivasi = Valensi  x  harapan  x   instrumentasi

Valensi ialah kekuatan preferensi sesorang untuk memperoleh imbalan. Valensi merupakan ungkapan seseorang untuk mencapai tujuan. Valensi setiap orang tidak sama tergantung pengalaman masing-masing. Valensi imbalan sangat di pengaruhi oleh usia, pendidikan, pengalaman dan jenis pekerjaan. Valensi mempunyai jenjang. Apabila seorang tidak menaruh perhatian kepada valensi maka valensinya 0 (nol). Apabila menghindali valensi nilainyan -1 dan apabila sangat menginginkan valensinya yang besar nilainya 1.
Harapan ialah kadar kekuatan keyaknan bahwa usaha kerja akan menghasilkan penyelesaian tugas. Harapan dinyatakan sebagai kemungkinan prestasi kerja seseorang terhadap usaha  kerja yang telah dilakukannya.seperti halnya dengan valensi, harapanpun memiliki jenjang. Jika harapannya kecil atau rendah maka nilainnya 0. Sebaiknya jika harapannya tinggi maka nialainya 1.
Instrumen ialah keyakinan seseorang bahwa ia akan memperoleh imbalan atas pekerjaan yang telah di selesaikannya. Seperti halnya dengan valensi dan harapan, instrumentasipun memiliki jenjang. Jika instrumentasinya kecil atau rendah maka nilainya 0. Sebaiknya, jika instrumentasinya nialai tinggi maka nilainya 1.
7.      Teori Meclelland
      Meclelland mengetengahkan teori motivasi yang berhubungan erat dengan teori belajar. Meclelland (1962) berpendaat bahwa banyak kebutuhan yang diperoleh dan kebudayaan. Tiga dari kebutuhan Meclelland  ialah
(1)   Kebeutuhan akan prestasi (need of achivement) di singkat n Ach
(2)   Kebutuhan akan diafiliasi (need of affilition) di singkat n Aff
(3)   Kebutuhan akan kekuasaan (need of fower) di singkat n fow.
Motivasi berprestasi ialah dorongan dari dalam diri untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam upapya mencapai tujuan. Motivasi afiliasi ialah dorongan yang berhubungan dengan orang lain atau dorongan untuk memiliki sahabat sebanyak-banyaknya . motivasi berkuasa ialah dorongan untuk memengaruhi orang lain agar tunduk kepada kehendaknya.
8.      Teori prilaku skinner
Teori pembentukan perilaku menurut yang di kemukakan Skinner (1997)menyatakan bahwa yang memengaruhi dan membentukan prilaku kerja di sebut pembentukan prilaku (operant conditioning) atau disebut juga behavior modivication, positive reirforcemet, dan skinnerian conditioning. Pendekatan ini di dasarkan pada hukum pengaaruh (law effect) yang menyatakan bahwa prilaku yang diikuti dengan konsekuensi pemuasan cendrung diulang , sedangkan perilaku yang diikuti dengan konsekuensi hukuman cendrung tidak diulang. Jadi, individu perilaku induvidu di masa mendatang dapat diramalkan atau di pelajarai.
Proses pembentukan prilaku seperti ppada gambar berikut ini.
Rangsangan
Tanggapan di masa  yang akan  datang
Tanggapan
Konsekuensi
 




Jika ada rangsangan maka terjadi tanggapan, jika da tanggapan maka akan terjadi konsekuensi. Jika konsekuensi itu positip maka orang akan memberikan tanggapan yang sama untuk tanggapan berikutnya dimasa yanag akan datang. Jika konsekiansinya negatif  maka orang tidak akan merasa senang  dan selalu menghindari konsekuensi itu dimasa yang akan datang.
9.      Teori porter-lawler
      Teori poter-lawler adalah teori pengharapan dari motivasi dengan orientasi masa depan dan menekankan antisipasi tanggapan-tanggapan atau hasil-hasil. Para manajer terutama tergantung pada penghargaan yang akan datang bukan pengalaman masa lampau.
     Model pengharapan ini menyajikan sejumlah cara menejer memotivasi bawahannya seperti yang di ungkapakan Porter & Lawler (1997) berikut
(1)   Pemberian penghargaan disesuaikan dengn kebutuhan bawahan.
(2)   Jelaskan prestasi yang diharapka.
(3)   Buatlah prestasi yang menantang dan dapat dicapai.
(4)   Hubungan penghargaan dengan prestasi.
(5)   Analisis faktor-faktor yang bertentangan.dan
(6)   Penentuan penghargaan yang memadai.
10.  Teori keadilan
       Teori keadilan menyatakan bahwa faktor keadilan/kewajaran yang memengaruhi sistem pengupahan mencakup tiga di mensi yaitu, di mensi internal, dimensi eksternal, dan dimensi individual. Di mensi internal berarti setiap jabatan/posisi dan pekerjaan individu dihargai oleh organisasi/perusahaan dengan perbandingan yang rasional, dari yang terendah sampai tertinggi. Dimensi kerja diluar organisasi/perusahaan yang mampu bersaing dengan pengupahan yang di berikan oleh organisasi/perusahaan lain yang sejenis. Di mensi individual berarti kewajaran/keadilan yang dirasakan oleh setiap individu dengan individu lainnya.
11.  Teori white
Menurut teori white seprti yang dikutif Handoko (2003) menyatakan motif uang bukanlah jaminan untuk meningkatkan kinerja manusia karena kebutuhan manusia akan uang adakalanya mengalami titik kejenuhan sehingga uang tidak lagi memotivasi manusia. Disamping itu, manusia dapat menolak uang karena tugas yang dibebankan kepadanya melampaui kemampuannya.  Sebagai contoh, seorang tukang angkat barang (portir) sehari kekuatan maksimalnya untuk mengangkat barang sebanyak 500 kg/hari dengan upah 100/kg, ya masih termonivasi untuk mengangkatnya. Namun, ketika di tawari untuk mengangkat lebih dari 500 kg dengan imbalan kelebihannya akan di bayar rp 200/kg ternyata ia menolak dengan alasan tidak cukup waktu dengan dan tenaga untuk mengangkatnya lagi. Di samping itu, pekerja juga membutuhkan makan dari istirahat, serta berkumpul dengan keluarga atau sahabat.
B.     Motivasi, Hubungan dan Sosiokultural
       Motivasi mempunyai komponen sosial.  Selain motif untuk  prestasi,siswa juga mempunyai motif sosial . area pembahasan kita  dimensi-dimensi  Sosial dari motivasi berpokus pada motif sosial siswa, hubungan sosial dan sosikulturak dari murid.
a.      Motif sosial
      Motif sosial adalah kebutuhan dan keinginan yang dipelajari melalui pengalaman terhadap dunia sosial. Kepentingan dalam motif sosial berkembang dari katalog panjang atas kebutuhan atau motif dari Henry Murray (1938), termasuk kebutuhan akan afiliasi atau keterkaitan, yang merupakan untuk  motip secara aman  terhubung/terkait dengan orang lain. Hal ini termasuk membentuk, memelihara, serta memulihkan hubungan yang hangat, dekat dan personal.  Kebutuhan sosisal siswa tercermin dalam keinginan mereka untuk menjdi populer dengan teman sebaya dan mempunyai  teman dekat serta minat kuat yang mereka rasakan kepada seseorang yang mereka cintai. Meskipun setiap siswa mempunyai kebutuhan akan afiliasi atau keterkaitan, beberapa isiwa mempunyai kebutuhan yang lebih kuat di bandingkan dengan yang lainnya. Beberapa siswa senang untuk dikelilingi oleh banyak teman. Di sekolah menengah pertama dan menengah atas, beberapa siswa merasakan sesuatu yang hilang secara drastis dari kehidupan mereka jika mereka tidak mempunyai pacar yang mereka kencani secara rutin. Yang lainnya tidak mempunyai kebutuhan akan akan afiliasi yang sedemikian kuat. Mereka tidak menjadi kacau jika mereka tidak mempunyai beberapa teman dekat di sekitar mereka sepanjang hari dan tidak duduk di kelas dalam keadaan cemas jika mereka tidak mempunyai pasangan romantis.[3]
        Baik persetujuan guru maupun persetujuan teman sebaya adalah motip sosial yang penting bagi sebagian besar siswa. Pada tahun-tahun sekolah dasar, siswa lebih termotivasi untuk menyenangkan orang tua mereka di bandingkan teman-teman sebaya mereka. Pada akhir sekolah dasar, persetujuan orang tua dan persetujuan teman sebaya kurang lebih setara dalam sistem motif sebagian besar siswa. Pada kelas orang tua. Di kelas dua belas, kecocokan dengan teman sebaya agak menurun bersamaan dengan meningkatnya kemandirian siswa dan lebih banyak mengambil  keputusan oleh diri mereka sendiri.[4]
      Masa remaja dapat menjadi titik yang penting terutama dalam motivasi prestasi dan motivasi sosial. Tekanan akademis dan sosial yang baru, memaksa remaja menuju peran-peran baru yang melibatkan lebih banyak tanggung jawab. Seiring remaja mengalami tuntutan prestasi yang lebih kuat, kepentingan sosial mereka dapat memangkas waktu yang mereka butuhkan untuk hal-hak akademis. Atau ambisi dalam satu area dapat melemahkan pencapaian tujuan dan area lainnya, seperti ketika prestasi akademis membawa celaan sosial. Pada masa remaja awal, siswa menghadapi pilihan antara apakah mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu mereka untuk mengejar tujuan sosial atau tujuan akademis. Hasil dari keputusan ini mempunyai konsekuensi jangka panjang pada seberapa jauh remaja akan menjalani pendidikan mereka dan karier yang ingin mereka kejar.[5]

b.      Hubungan Sosial
       Hubungan siswa dengan orang tua, teman sebaya, dan teman-teman mempunyai dampak yng sangat besar pada kehidupan mereka. Interaksi mereka dengan guru, mentor dan yang lainnya juga dapat sangat memengaruhi motivasi prestasi dan sosial mereka.[6]
-          Orang tua
      Riset telah dilakukan pada hubungan antara asuhan orang tua dan motivasi siswa. Studi telah meneliti karakteristik demografis keluarga, praktik membesarkan anak dan adanya pengalaman-pengalaman spesifik dirumah.
Ø  Karakteristik  Demografis
Di bandingkan orang tua yang kurang pendidikan, orang tua yang berpendidikan tinggi percaya bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak mereka merupakan hal yang penting, aktif untuk berperan dalampendidikan anak mereka, dan mempunyai bahan-bahan yang merangsang anak-anak mereka secara intelektual di rumah. Ketika waktu energi orang tua sebagian besar  di habiskan oleh persoalan atau orang lain selain anak, motivasi anak dapat di rugikan. Hidup dalam sebuah keluarga dengan orang tua tunggal, mempunyai orang tua yang tenggelam dalam pekerjaan mereka, dan hidup dalam keluarga besar dapat melemahkan prestasi anak.
Ø  Praktik pengasuhan anak
Meskipun faktor-faktor demokrafis dapat memengaruhi motivasi siswa , tetapi praktik pengasuhan anak yang di lakukan oleh orang tua adalah lebih penting.  Berikut adalah beberapa praktik  asuhan orangtua yang positip dalam menghasilkan motivasi dan motivasi yang meningkat.
1.      Mengetahui keadaan anak dengan cukup baik untuk memberikan tantangan dalam jumlah yang tepat dan dukungan dalam jumlah yang tepat .
2.      Memberikan iklim emosional positif yang memotivasi anak untuk menganut nilai dan tujuan orang tua mereka.
3.      Memberikan model prilaku prestasi termotivasi, yaitu bekerja keras dan berusaha dengan tekun pada tugas yang menantang.
Ø  Pemberian pengalaman-pengalaman yang spesifik dirumah.
Selain praktik membesarkan anak, orang tua memberikan beragamaktivitas atau sumber-sumber dirumah yang dapat memengaruhi minat dan motivasi siswa untuk mengejar beragam aktivitas dikemudian hari. Sebagian contoh, membacakan untuk anak-anak prasekolah dan memberikan bahan bacaan dirumah berkaitan secara positip dengan prestasi  dan motivasi membaca siswa di kemudian hari. Bahkan, para peneliti telah menemukan bahwa keterampilan dan kebiasaan kerja anak-anak ketika mreka memasuki taman kanak-kanak merupakan salah satu peramal terbaik atas motivasi dan kinerja akademis baik di sekolah dasar maupun disekolah menengah. Tingkat dimana orang tua menekankan prestasi akademis atau olahraga serta memberikan kesempatan dan sumber-sumber  bagi anak mereka untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas ini di tahun-tahun sekolah dasar, memengaruhi apakan anak-anak tersebut akan memilih tugas pembelajaran dan aktivitas ekstrakurikuler yang konsisten dengan aktivitas-aktivitas tersebut pada masa remaja.[7]
-          Teman sebaya
      Teman sebaya dapat memengaruhi motivasi siswa melalui pembandingan sosial, kompetensi dan motivasi sosial, pembelajaran bersama teman sebaya, serta pengaruh kelompok teman sebaya.
      Siswa membandingan diri mereka dengan teman sebaya mereka untuk mengatahui dimana dimana posisi mereka secara kademis dan secara sosial. Remaja cendrung untuk terlibat dalam perbandingan sosial di bandingkan anak-anak yang lebih muda, meskipun remaja cendrung menyangkalbahwa mereka pernah membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain. Perbandingan sosial positif biasanya menghasilkan harga diri yang lebih tinggi, sedangkan perbandingan negatif menghasilkan harga diri yang lebih rendah. Siswa lebih sering membandingkan diri mereka dengan orang lain yang paling mirip dengan mereka dalam umur, kemampuan dan minat.
       Siswa lebih terima oleh teman-teman sebayamereka dan mempunyai keterampilan sosial yang baik dan sering kali berhasil dengan lebih baik di sekolah dan mempunyai motivasi prestasi akademis yang positif. Sebaliknya, siswa-siswa  yang di tolak, terutama mereka yang sangat agresif, berisiko, teerkena sejumlah masalah prestasi, termasuk pendapatan nilai rendah dan putus sekolah.[8]
-          Guru
       Banyak anak yang tidak berprestasi baik di sekolah, mempunyai interaksi negatif dengan guru mereka. Mereka sering mendapatkan masalah untuk tidak mengerjakan tugas, tidak memperhatikan, menghindari tugars, atau berkelakuan buruk. Dalam banyak kasus, mereka layak dikriktikdan didisiplainkan, tetapi terlalu sering ruang kelas menjadi tempat yang sangat tidak menyenangkanbegi mereka. 
        Nel Noddings (1992, 1998,2001) menekankan bahwa siswa cenderung untuk berkembang menjadi manusia yang kompeten ketika mereka merasa di perhatikan. Hal ini mengharuskan guru untuk mengenalsiswa dengan cukup baik. Ia mengatakan bahwa hal ini sulit tercapai  di sekolah-sekolah besar dengan jumlah siswa yang sangat besar dalam setiap kelasnya. Ia menganjurkan guru untuk tetap bersama siswa-siswa yang sama untuk 2-3 tahun (secara suka rela pada pihak guru dan siswa) sehingga guru akan mempunyai posisi yng lebih baik untuk menangani minat dan kapisitas dari setiap siswa.
    Para peneliti telah menemukan bahwa siswa yang merasa bahwa mereka memiliki guru yang mendukung dan penuh perhatian lebih bermotivasi untuk terlibat dalam kerja akademis dibandingkan siswa yang memiliki guru yang tidak mendukung dan tidak memperhatiakan. Seorang peneliti penyelidiki pandanagan siswa terhadap kualitas hubungan baik dengan guru dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa-siswa sekolah menengah seperti bagaimana mereka mengatahui bahwa guru memedulikan mereka.  Siswa empunyai kesan yang positif terhadap guru yang penuh perhatikan kepada mereka sebagai manusia. Menariknya, siswa juga mempertimbangkan perilaku pembelajaran guru dalam mengevaluasi seberapa guru mereka memedulikanmereka. Siswa mengatakan bahwa guru menyampaikan bahwa mereka peduli kepda siswa mereka ketika mereka melakukan usaha serius untuk meningkatkan pembelajaran dan mempunyai standar tinggiyang layak.
     Motivasi siswa menjadi optimal ketika guru meberi mereka tugas yang menantang dalam lingkungan yang berorientasi pada kemampuan menguasai yang meliputi dukungan emosional dan kognitif yang baik, bahan yang berarti dan menarik untuk dipelajari dan dikuasai, serta dukungan yang menadai untuk mandiri dan memiliki inisiatif. Banyak peneliti menyimpulkan bahwa bila kerja akademis mempunyai arti,  akan dapat memelihara perhatikan dan minat siswa, melibatkan mereka dalam pembelajaran, serta mengurangi  kemungkinan siwa untuk merasa terangsingkan dari sekolah.  Selain itu seperti yang kita bahas diawal mengenai  gagasan Bandura pada efikasi diri, iklim motivasi dan prestasi dari seluruh sekolah memengaruhi motivasi siswa. Sekolah dengan ekspektasi dan standar akdemis tinggi, serta dukungan bagi siwa, akademis dan emosional sering kali mempunyai siswa-siswa yang termonivasi untuk berprestasi.
-          Guru dan Orangtua
       Di masa lalu, sekolah-sekolah hanya memberikan sedikit perhatikan pada bagaimana guru dapat melibatkan orangtua sebagai rekan mereka dala memberikan kesempatan bagi siswa untuk berprestasi.  Dimasa kini, terdapat banyak ketertarikan pada bagaimana untuk mencapai rekanan tersebut. Ketika guru secara sistematis dan sering mengimpormasikan kepada orang tua mengenai kemajuan anak-anak mereka serta terlibat dalam pembelajaran anak-anak mereka, sering kali anak-anak mencapai tingkat prestasi akademis yang lebih tinggi.
c.       Konteks Sosiokultural
       Dalam bagian ini kita kan berfokus pada bagaimana status sosial ekonomi, etnisitas, dan gender dapat memengaruhi motivasi dan prestasi. Fokusnya terutama pada keberagaman.
a)      Status Sosial dan Etnisitas
Keberagaman dalam kelompok monoritas etnis yang kita bahas dalam Bab 5juga terbukti dalam prestasi mereka. Sebagai contoh, banyak siswa Asia Amerika mempunyai orientasi prestasi akademis yang kuat, tetapi beberapa dari mereka tidak.
    Selain mengenali keberagaman yang ada dalam setiap kelompok budaya dalam hubungannya dengan prestasi mereka, merupakan hal yang penting pula untuk membedakan antara perbedaan dan kekurangan. Terlalu sering, prestasi dari siswa minoritas etnis  Khususnya Anerika Serika, Latin, dan Pribumi Amerikayang memiliki status sosial ekonomi menengah telah diinterpretasikan dalam pengertian standar kulit putih sebagai golongan kurang mampu seketika siswa-siswa ini secara budaya berbeda dan terpisah dengan mereka(golongan kulit putih).
       Akan tetapi, perbedaan prestasi lebih dikaitkan secara lebih dekat dengan status sosial ekonomi dibandingkan dengan etnisitas. Banyak studi telah menemukan bahwa status sosial ekonomi lebih baik dalam memprediksi sebuah prestasi dibandingkan etnisitas. Tampa memandang latar belakang etnis mereka, siswa dari keuarga berpenghasilan menengah dan atas berkinerja lebih baik di bandingkan mereka yang berasal dari keluarga yang berpenghasilan rendahdalam banyak situasi prestasi sebagai contoh, eksprektasi untuk berhasil, aspirasi terhadap prestasi dan pengenalan atas pentingnya usaha.
    Sandar Graham telah melakukan sejumlah studi yang mengungkapkan tidak hanya peran  status sosial ekonomi yang lebih kuat dibandingkan etnisitas dalam prestasi, tetapi juga pentingnya untuk mempelajari motivasi siswa minoritas etnis dalam komteks umum teori motivasi. Penyelidikannya jatuh dalam kerangka teori atribusi dan berpokus pada penyebab siswa Afrika Amerika mengidentifikasi orientsi prestasi mereka berhasil atau gagal. Graham telah menemukan bahwa siswa Afrika Amerika berpenghasilan menengah, seperti keluarga berkulit putih dari keluarga berpenghasilan menengah, mempunyai ekspektasi  prestasi yang tinggi dan memahami bahwa kegagalan biasannya dikarenakan kurangnya usaha dari pada karena nasib sial. Satu studi yang terkini yang para peserannya terutama siswa-siswa minoritas.
b)      Gender
Diskusi kita tentang gender dan motivasi di fokuskan pada bagaimana pria dan wanita berbeda dalam keyainan dan nialai yang mereka anut. Keyakinan berkaitan dengan soal kompetensi yang dianut murid pria dan wanita berbeda-beda menurut konteks prestasi. Misalnya, murid kelas lebih punya keyakinan kompetensi yang lebih tinggi ketimbang murid wanita untuk pelajaran matematika dan olahraga, sedangkan murid keyakinan perampuan lebih tinggi ketimbang murid lelaki untuk peljaran bahasa inggris, membaca dan aktivitas sosial. Perbedaan ini semakin bertambah setelah masa puber (Eccles, dkk, 1993)njadi, sejauh mana murid pria dan wanita mencapai prestasi masih dipengaruhi oleh wettotof peran gender.
Berkenaan dengan nilai prestasi, sejak SMA murid wanita tidak terlalu menghargai prestasi matematika di bandingkan murid lelaki (Eccles, dkk, 1993). Murid wanita berbakat sering kali mengalami konflik antara peran gender dan prestasi. Sebuah studi terhadap gadis terbakay menunjukan perasaan mereka yang terjebak diantara prestasi dan penampilan feminitas (Fell, 1989).


C.    Motivasi dan Tujuan Henry Murray
      Henry murray mendifinisikan kepribadian sebagai cabang dan psikologi yang pada prinsipnya memberikan perhatian kepada studi mengenai kehidupan manusia dan berbagai faktor yang mempengaruhi jalan hidup mereka, dan yang menyelidiki tentang berbagai perbedaan individual. Sejak memandang kepribadian sebagai suatu studi mengenai kehidupan manusia di sepanjang waktu, ia memandang perlunya memperhatikan dan mengenalisis berbagai interaksi antara individu dengan situasi yang individu tersebut temui di sepanjang hidupnya. Murray menggunakan konsep motivasi tidak sadar dan Freud, Jung, Adler, di samping konsep tuntutan lingkungan dari Lewin serta konsep trait yang canggih dari allport, ia mensintesiskan konsep-konsep tersebut ke dalam sebuah pendekatan yang konprehensip tentang kepribadian. Dengan demikian Murray dapat dianggap sebagai perintis utama pendekatan interaksionisme terhadap kepribadian.[9]
       Henry Murray di lahirkan di New York dan menjadi dokter yng melakukan riset biokimia (dengan gelar ph. Dar cambridge university)sebelum beralih ke pisikologi setelah mengunjungi jung di Zurich. Murray mrnjalani psikonalisis pertama kali oleh Jung, kemudian oleh Franz Alexander, seorang tokoh dalam pengobatan psikosomatis. Ia melaporkan bawa dua tokoh tersebut membuatnya menyadari betapa dahsyatnya kekuatan motivasi tidak sadar. Murray menjadi di rektur harward psychological clinic ( yang merawat orang yang mengalami masalah-masalah psikologis); namun memutuskan untuk belajar lebih banyak dari oorang-orang yang sehat. Ia menggabungkan ide-ide fsikonalisis dan neo-analisiske dalam sebuah kerangka dasar untuk keperluan riset enpiris. Ia termasuk orang pertama kali melakukan riset semacam itu.
D.    Motivasi Dan Dinamika Prilaku Manusia
1.      Dinamika Proses Prilaku Manusia
a.       Di pandang dari segi motifnya setiap gerak perilaku manusia itu selalu mengandung tiga asfek, yang kedudukannya bertahap berurutan (sequential), yaitu;
(1)   Motivating states (tibulnya kekuatan dan terjadinya kesiap sediaan sebagai akibat terasannya kebutuhan jaringan atau sekresi, hormonal dalam diri organisme atau karena terangsang oleh atimulasi tertentu).
(2)   Motivated behavior (bergeraknya organisme kearah tujuan tertentu sesuai dengan sifat kebutuhan yang hendak dipenuhi dan di puaskannya, misaalnya lapr cari makanan dan memakannya). Dengan demikian setiap perilaku pada hakikatnya bersifat instrumental (sadar atau tidak sadar).
(3)   Satisfied condition (dengan berhasinya di capai tujuan yang dapat memenuhu kebutuhan yang terasa, maka keseimbangan dalam diri  organisme pulih kembali ialah terpeliharannya, homeostasis, kondisi demikian di hayati sebagai rasa nikmat dan puas atau lega). Namun, didalam kenyataannya, tidak selamanya kondisi pada tahap ketiga itu kemudian, bahkan mungkin sebalinya. Ialah terjadinya ketegangan yang memuncak kalau insentifnya (goals) tidak tercapai, sehingga individu merasa kecewa (frustration).
b.      Karena terjadinnya metabolisme dan penggunaan atau pelepasan kalori, perangsangan kembali, dan sebagainya, kepuasan itu hanya bersifat tempora (sementara). Oleh karena itu, geraknya atau dinamika proses prilaku itu sebenarnya akan berlangsung secara siklus (cyclical), yang dapat di gambarkan secara skematik seperti di bawah ini.

Tolong di gambar bentuk lingkaran
2.      Beberapa Cara pengukuran dan Usaha Peningkatan Kekuatan Motivasi Kerja dan Belajar.
a.       Meskipun motivasi itu merupakan suatu kekuatan, namun tidaklah merupakan sesuatu substansi yanf dapat kita kita amati. Yang dapat kita lakukan ialah mengidentifikasi beberapa indikatonta dalam term-term tertentu, antara lain;
(1)   Durasinnya kegiatan (beberapa kemampuan penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan).
(2)   Frekuensinnya kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu)
(3)   Persistensinya (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegiatan.
(4)   Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan.
(5)   Devosi (pengabdian) atau pengorbanan (uang, tenaga, pikiran, bahkan jiwanya tau nyawanya) untuk mencapai tujuan.
(6)   Tingkatan aspirasinnya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target, dan idolannya), yang hendak di capai dengan kegiatan yang dilakukan.
(7)   Tingkatan kualifikasi prestasi atau produk atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa bantak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak).
(8)   Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan (like or distike; positif atau negatif).
Sudah barang tentu harus diingat bahwa faktor-faktor yang terlibat dalam proses kegiatan ini bukanlah hanya motivasi semata-mata, tercakup unsur lain dalam indikator-indikatornya tersebut di atas.
b.      Dengan memperhatikan indikator-indikator tersebut diatas sebagai tekhnik pendekatan dan pengukuran tertentu dapat di pergunakan antara lain;
(1)   Tes tindakan (performance test) di sertai absevasi untuk memperoleh invormasi dan data tentang persistensi, keuletan, ketabahan, dan kemampuan menghadapi masalah, durasi dan frekuensinnya: dalam hal ini berbagai eksperimen dapat dilakukan:
(2)   Kuesioner dan inventori  trhadap subjeknya untuk mendapat informasi tentang devosi dan pengobananya, aspirasinnya.
(3)   Pengarang bebas untuk mengetahui cita-cita dari aspirasinnya.
(4)   Tes prestasi dan sakala sikaf untuk mengetahui kualifikasi dan arah sikapnya.
Namun, sudah barang atau menarik kesimpulan dari tafsirannya harus sangat hati-hati (tentatif dan hipotetik) mengingat kemungkinan faktor-faktor lain dalam proses kegiatan yang bersangkutan. Tehnik analisis statistik yang tepat untuk itu diantarannya dengan multiple regression analisis (analisis regresi berganada) yang formularnya yang telah diperkenalkan dalam unit 1 (P = a + b1 X1 +..........bn Xn + E ).
c.       Dari berbagai hasil studi laboratories dan eksperimental telah di kembangkan berbagai saran upaya untuk meningkatakan motivasi kerja dan termasuk perbuatan belajar sebagai berikut.
(1)   Hindarkan segusti dan kondisi yang negatif (kurang menunjang dan menggairahkan).
(2)   Ciptakan situasi kompetisi yang sehat, baik anatar individu dalam kelompok/kelasnya maupun self competition.
(3)   Adakan pocemaking ( atas dasar prinsip goalgradient: makin jelas dan dekat pada tujuan/sasaran, makin kuat motif berusaha)
(4)   Informasikan hasil kegiatan dan berikan kesempatan kepada individu atau kelompok bersangkutan untuk mendiskusikannya.
(5)   Dalam hal tertentu, ganjaran dan hadiah (reward and bonus atau insentif dapat juga di berikan dalam bentuk penghargaan dengan pujian, piagam, fasilitas, kesempatan , fromosi, dan sebagainya). Bila di pandang mungkin dapat juga di gunakan hukuman pedagogis (punishment, fenalty).
3.      Proses Membuat Pilihan dan Keputusan, Konflik dan Frustasi, serta Bentuk-Bentuk Perilaku Penyesuaiannya.
a.       Dalam rangkaian proses pemenuhan felt-needs-nya individu pada umumnya dihadapkan kepada sejumlah alternatif, baik dalam asfek maupun dalam tahapan:
(1)   Instrumental behavior-nya (kemungkinan-kemungkinan tindakan yang dapat di tempuh)
(2)   goal atauincentive-nya (kemungkinan-kemungkinan sasaran tau tujuan yang hendak di capai)
b.      mengingat hal tersebut diatas, individu haruskan oleh situasinnya untuk mengadakan pilihan diantara internatif yang ada. Dalam hal ini faktor-faktor:
(1)   pertimbangan untung rugi (cost-benefit) dari setiap alternatif srcara rasional diuji ; di saming itu
(2)   kemauan (the willingness) dan kata hati (the cosscince of man) juga turut menentukan dalam proses pemilihan dan pengambilan keputusan itu, karena risiko (akibat)-nya juga harus di tanggung. Dalam hal ini tertentu bentuk risiko tersebut kadang-kadang akan sampai kepada kemungkinan kehilangan kedudukan, kesempatam, harta benda, keluarga, bahkan jiwa raganya.
c.       Seandainya, individu menghadapi alternatif-alternatif yang mengandung motif-motif atau risiko untung-rugi atau positif-negatif yang sama kuatnya, dan proses pemilihan dan pengambilan keputusan pun tidak dapat di lakukan dengan segera, maka dalam diri individu yang bersangkutan akan terjadilah perang batin yang tidak berkesudahan dan berkeputusan (psychological comflict).
Sesuai dengan sifat motivasi atau risikonnya dari setiap alternatif, ia akan mengalami kemungkinan.
(1)   Approach-approach comflict (kalu semua alternatif yang ada, sama-sama di kehendaki karena mengandung risiko yang sama-sama positif)
(2)   Avoidence-avoidance complict (kalu semua alternatif yang ada, sama-sama tidak dikehendaki karena mengandung risiko yang sama-sama negatif)
(3)   Approach-avoidence complict (kalau alternatif tertentu yang dikehendaki mengandung risiko yang fositif, tetapi sekaligus juga negatif yang sama kuatnya)
d.      Kalu perang batin ini tidak terdapat segera diatasi, individu yang bersangkutan atau mengalami sesuatu rasa kekecewaan yang amat mendalam karena tujuan yang di kehendakinya tak kunjung  terlaksanakan dan tercapai. Perasaan kecewa itu dan situasi tidak tercapai tujuan yang di kehendakinnya, itulah yang dalam psikologi lazim di sebut frustrasi . sumber yang mendatangkan frustrasi itu berwujud manusia (persons) baik diri sendiri maupun orang lain, hal yang bukan orang,pristiwa atau keadaan alam, situasi lain dan sebagainnya.
e.       Reaksi individu yang bersangkutan terhadap irustrasi itu bermacam-macam bentuk prilakunya, tergantung pada kemampuan berpungsi akal sehatnya (reasoning, inteligensi).
f.       Kalau akal sehatnya berani menghadapai kenyataan, pada akhinya (mungkin dengan bantuan fihak dan cara tertentu; konselor, psikolog, orangtua, teman dekat, ulama, pendeta, istikharah/meditasi dan sebagainya) ia dapat juga mengambil keputusan atau tindakan penyesuaian yang sehat secara rasional sehingga tujuannya tercapai. Tindakan seperti itu yang disebut adjusment
(1)   Aktif  ( ia mengubah lingkungan, mungkin mencarai dan mengubah alaternatifnya tetapi dapat sampai kepada goal-nya yang di kehendaki)
(2)   Pasif  ( ia mengubah dirinya, mungkin mengadakan modifikasi aspirasinnya sehingga ia dapat menetapkan tujuannya secara realistik  dan bertindak secara realistik pula).
g.      Namun, jika akal sehatnya itu tidak mampu berpungsi sebagaimana mestinya, perilaku yang bersangkuta di kendalikan oleh hasrat emisionalnya. Oleh karena itu, reaksinya pun akan bersipat emosional pula. Dengan demikian, meskipun ia berusaha mencapai penyelesaian dan pencapaian tujuan, kemungkinan besar akan selalu kandas bahkan mungkin mendapatkan hasil dan mengalami situasi yang lebih buruk dari apa yang diharapkan. Penyesuaian yang salah atau keliru seperti yang di sebut maladjusment. Bentuk-bentuk perilaku yang salahsuai maladjusment)itu dapat kita bedakan berdasarkan tingkat keterlibatan inteligensi secara fungsional di dalam proses tindakan tersebut. Diantarannya dapat di kemukakan disini jenisnya ialah:
(1)   Agresi marah (angry aggression);
(2)   Kecemasan tak berdaya (helplessness anxiety);
(3)   Regresi (regression, kembali perilaku kekanak-kanakan)
(4)   Fiksasi (fixation)
(5)   Refresi (repression)
(6)   Rasionalisasi (mencari dalil atau alasan)
(7)   Proyeksi (melemparkan kesalahan itu kepada lingkungan )
(8)   Sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan ke objek sejeenisnya)
(9)   Kompensasi (mengimbangi atau menutupi kelemahannya di bidang tertentu dengan seksesdi didang lainnya)
(10) Berfantasi  (seakan-akan dalam angan-angannya itu ia dapat mencapai tujuan yang di dambakannya.
h.      Sudah barang tentu, para guru mempunyai kewajiban moral yang amat berat kalau situasi sekolah dan tindakan para guru yang mengakibatkan para siswa mengandung risiko harus mengalami situasi-situasi dan berperilaku seperti di atas. Merupakan kewajiban mral pula untuk memberikan bantuan dan bimbingan secara positif terhadap siswa yang mungkin tak terelakkan mengalaminnya.

E.     Ayat Tentang Motivasi
Surat al-Hujurat ayat 11-13 

يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ وَلاَنِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى اَنْ يَكُنَّ خَيْرًامِنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَاْلإِيْمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ () يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَلاَتَجَسَّسُوْاوَلاَيَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُواللهَ اِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ () يَاَيُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍوَاُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًاوَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا اِنْ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقَاكُمْ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ () 

(11). Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olok lebih baik dari wanita yang mengolok-olok dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (12). Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (13) Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan umat Islam, yaitu:

a. Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
b. Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
c. Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan, kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas yang lain.














DAFTAR PUSTAKA
Santrock, Jhon W , 2011, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Selamba Humanika.
Friedman, Howard, Miriam W. Schustack, 2008, keperibadian, Jakarta: Erlangga.
Usman, Husain, 2014, Manajemen, Jakarta: Bumi Aksara.
Makmun,AbinSyamsuddin.2005. Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajara Modul. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.



[1] Husain Usman, Manajemen, Penerbit Bumi Aksara, th. 2014, h. 275-276
[2] Ibid h. 276-277
[3] Jhon W Santrock, 2011, Psikologi Pendidikan , Penerbit  Selamba Humanika, h.224
[4] Ibid, h. 225
[5] Ibid, h. 225
[6] Ibid, h. 225
[7] Ibid, h. 226
[8] Ibid, h. 226
[9] Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack, Kepetibadian, th. 2008. Penerbit Erlangga, h. 374

0 komentar:

Posting Komentar

RPP tentang SITEM PETIDAKSAMAAN LINIER TIGA VARIABEL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : MA. Ittihadil Ummah Mata Pelajaran/Tema : Matematika/Sistem Persamaan dan Pe...