Minggu, 29 Oktober 2017

KARYA ILMIAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada umumnya kerangka karangan merupakan rencana garis besar karangan berdasarkan tingkat kepentingannya (teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan), serta pedoman bagi pembaca untuk mengetahui isi suatu karangan. Kerangka karangan yang belum final disebut outline sementara, sedangkan kerangka karangan yang sudah tersusun rapi dan lengkap disebut outline final. Didalam Bahasa Indonesia kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antar gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.  
Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk minatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan scara menyeluruh, bukan secara terleas-lepas.
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seoang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mrngenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kerangka karangan (outline) dan pengertian  karya ilmiah.
2.      Apa manfaat kerangka karangan (outline).
3.      Bagaimana pola susunan kerangka karangan.
4.      Bagaimana langkah-langkah dalam menyusun kerangka karangan satu per satu.


C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui pengertian kerangka karangan dan pengertian dari karya ilmiah.
2.    Supaya mengetahui manfaat dari kerangka karangan karya ilmiah.
3.    Untuk mengetahui bagaimana pola susunan outline (kerangka karangan) secara garis besar.
4.    Unrtuk mengetahui langkah-langkah dalam menyusun kerangka karangan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Kerangka Karangan (outline)
Pengertian outline menurut bahasa adalah : kerangka, regangan, garis besar, atau guratan. Jadi outline merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas terstruktur, dan teratur.
Sedangkan pengertian karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
Jadi, pengertian dari kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Kerangka karangan yang belum final disebut outline sementara, sedangkan karangan yang sudah tersusun rapi dan lengkap disebut outline final.
Kerangka karangan juga merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.
 Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan, atau dapat juga didefinisikan menjadi satu metode dalam pertumbuhan karangan yang mana topiknya dipecah kedalam sub-sub topik dan mungkin dipecah lagi kedalam sub-sub topik yang lebih terperinci.



B.  Manfaat Kerangka Karangan (outline)
a.       Untuk menjamin penulisan besifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
b.      Untuk menyusun karangan secara teratur. Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
c.       Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks utama tadi, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula sekian macam sehingga tercapai klimaks yang berbeda-beda yang dapat menikmati perhatian pembaca.
d.      Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap bagian dari karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu, karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak sadar betul maka pendapatannya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu berbeda dengan yang diutarakan, atau bahkan bertentangan satu sama lain. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi.
e.       Memudahkan penulis mencari materi pembantu. Dengan rincian-rincian (mempergunakan) dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan dibagian mana dalam karangannya itu. Bila seoarang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah siap, ia dapat menyusutkan kembali kepada karangan yang hakekatnya sama dengan apa yang telah dibuat penggarapnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu.


C.  Pola Susunan Kerangka Karangan (outline)
Secara garis besar, pola kerangka karangan dibagi menjadi dua yaitu pola alamiah dan pola logis, berikut akan dijelaskan secara singkat pola susunan kerangka karangan.
1.      Pola Alamiah
Merupakan suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Disebut pola alamiah karena memakai pendekatan berdasarkan faktor alamiah yang esensial. Pola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi  ruang dan waktu. Pola alamiah dapat terbagi menjadi 3 yaitu:
a.       Kronologis (waktu)
Urutan yang di dasarkan pada runtutan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Biasanya tulisan seperti ini kurang menarik minat pembaca. Contohnya : Topik (riwayat hidup seoarang penulis)
-          Asal usul penulis
-          Pendidikan si penulisan
-          Kondisi kehidupan penulis
-          Keinginan penulis
-          Karir penulis
b.      Spasial (ruang)
 Landasan yang paling penting, bila topik yang di uraikan mempunyai pertalian yang sangat erat dengan ruang atau tempat. Urutan ini biasanya digunakan dalam tulisan-tulisan yang bersifat deskriptif. Contohnya : Topik (hutan yang sering mengalami kebakaran)
-          Di daerah Kalimantan
-          Di daerah Sulawesi
-          Di daerah Sumatra
c.       Topik yang ada
Suatu pola peralihan  yang dapat dimasukkan dalam pola alamiah adalah urutan berdasarkan topik yang ada. Suatu peristiwa sudah di kenal dengan bagian-bagian tertentu. Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian-bagian itu harus dijelaskan berturut-turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa memberi tanggapan atas bagian-bagiannya itu.
2.    Pola Logis
Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu dituang dalam suatu susunan atau urutan logis. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetap erat dengan tanggapan penulis.
Dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan berpikir atau cara pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika.

D.  Langkah-langkah menyusun karangan satu per satu
1.    Menentukan tema dan judul  
Tema adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan yang mendasari suatu karangan. Sedangkan judul adalah kepala karangan, misalkan tema cakupannya lebih besar dan menyangkut pada persoalan yang diangkat sedangkan judul lebih pada penjelasan awal (penunjuk singkat) isi karangan yang akan ditulis.
2.    Mengumpulkan bahan
Bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan, banyak cara mengumpulkannya, masing-masing penlis mempunyai cara masing-masing sesuai juga dengan tujuan tulisannya.
3.    Menyeleksi bahan
Agar tidak terlalu bias dan abstrak, perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan. Polanya melalui klarifikasi singkat urgensi bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis.


E.  Konsep tentang karya ilmiah
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seoang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mrngenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan.
Istilah karya ilmiah disini yaitu mengacu keapada karya tulis yang menyusun dan penyajiannya didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Dilihat dar panjang pendeknya atau kedalaman uraian, karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper) dan laporan penelitian. Dalam penulisan, baik makalah maupun laporan penelitian, didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Penyusunan dan penyajian karya semacam itu didahului oleh study pustaka dan lapangan.
Karangan ilmiah ialah karya tulis yang memaparakan pendapat, gagasan, tanggapan, atau hasil penelitian yang berhubungan dengan kegiatan keilmuan. Karangan ilmiah antara lain : makalah, laporan, skripsi, tesis, dan disertai; yang tergolong karangan semi ilmiah antara lain: artikel, editorial, opini, feature, reportase; dan yang tergolong dalam karangan non-ilmiah antara lain: anekdot, opini, dengeng, hikayat, cerpen, nopel, roman, dan naskah drama.
Ketiga jenis karangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah pesyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa. Adapun karangan non-ilmiah adalah karangan yang tidak terikat pada karangan baku, sedangkan karangan semi ilmiah berada diantara keduanya.
Jadi, karya ilmiah didefinisikan sebagai karya tulis yang memaparkan ide atau gagasan, pendapat, tanggapan, fakta, dan hasil penelitian yang berhubyngan dengan segala kegiatan keilmuan dan menggunakan ragam bahasa keilmuan.


F.   Prinsip-prinsip umum yang mendasari penulisan sebuah karya ilmiah.
a.    Objektif, artinya setiap pernyataan ilmiah dalam karyanya harus didasarkan kepada data dan fakta. Kegitan ini disebut study empiris. Objektif dan empiris merupakan dua hal yang bertautan.
b.    Prosedur atau penyimpulan  penemuannya melalui penalaran induktif dan deduktif.
c.    Rasional dalam pembahasan data. Seoarang penulis karya ilmiah dalam menganalisis data harus menggunakan pengalaman dan pikiran secara logis.
G. Ciri-ciri karya ilmiah
a.       Logis, artinya segala keterangan yang disajikan dapat diterima oleh akal.
b.      Sistematis, artinya segala yang dikemukakan disusun dalam urutan yang memperlihatkan adanya kesinambungan.
c.       Objektif, artinaya segala keterangan yang dikemukakan menrut apa adanya.
d.      Lengkap, artinya segi-segi masalah yang diungkapkan itu dikupas selengkap-lengkapnya.
e.       Lugas, artinya pembicaraan langsung kepada hal pokok.
f.       Saksama, artinya berusaha menghindarkan diri dari segala kesalahan betapa pun kecilnya.
g.      Jelas, artinya segala keterangan yang dikemukakan dapat mengungkapkan maksud secara jernih.
h.      Kebenarannya dapat diuji (empiris).
i.        Terbuka, artinya konsep atau pandangan keilmuan dapat berubah seandainya muncul pendapat baru.
j.        Berlaku umum, artinya semua simpulan-simpulannya berlaku bagi semua populasinya.
k.      Penyajian menggunakan ragam bahasa ilmiah dan bahasa tulis yang lazim.
l.        Tuntas, artinya segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.
Pada dasarnya, metode ilmiah menggunakan dua pendekatan yaitu :
1.      Pendekatan rasional, berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan kajian dat yang diperoleh dari berbagai rujukan (literatur).
2.      Pendekatan empiris, berupaya merumuskan kebenaran berdasarkan fakta yang diperoleh dari lapangan atau hasil percoban (laboratorium).
Jadi, pada hakikatnya karya tulis itu merupakan dokumen tentang segala temuan manusia yang diperoleh dengan metode ilmiah dan disajikan dengan bahasa khas serta ditulis menurut konvensi tertentu. Yang dimaksud dengan bahasa khas ilmiah yaitu, bahasa yang ringkas (hemat), jelas, cermat, baku, lugas, denotatif, dan runtun.
Adapun karangan ilmiah itu memliki beberapa tujuan antara lain :
1)   Memberi penjelasan.
2)   Memberi komentar atau penilaian.
3)   Memberi saran.
4)   Menyampaikan sanggahan.
5)   Membuktikan hipotesis.
H.      Ragam ilmiah
Bahasa ragam ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa indonesia baku), logis, cermat, dan sistematis.
Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa, bentuk, luas, dan ide yang disamapaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam, tidak dapat dipisahkan. Hal ini terlihat pada ciri bahasa ilmu, seperti berikut ini :
1.      Baku. Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa indonesia baku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata.
2.      Logis. Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal.
3.      Kuantitatif. Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti.
4.      Tepat. Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh pemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda.
5.      Denotatif. Yang berlawanan denga konotatif. Kata yang digunakan atau dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang objektif.
6.      Runtun. Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya, baik dalam kalimat maupun dalam alinea atau paragraf ialah seperangkat kalimat yang mengemban satu ide atau satu pokok bahasan.
I.     Laras Ilmiah
Sebuah karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil pemikiran, fakta, peristiwa, gejala,dan pendapat. Jadi seoarang penulis karya ilmiah menyusun kembali berbagai bahan informasi menjadi sebuah karangan yang utuh. Oleh sebab itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah tidak disebut pengarang melainkan disebut penulis.
Dalam uraian di atas dibedakan antara pengertian realitas dan fakta. Seoarang pengarang akan merangkaikan realita kehidupan dalam sebuah cerita, sedangkan seorang penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan. Realistis berarti bahwa peristiwa yang diceritakan merupakan hal yang benar dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya, tetapi tidak secara langsung dialami oleh penulis.
Karya ilmiah memiliki tujuan khalayak sasaran yang jelas. Meskipun demikian, dalam karya ilmiah, aspek komunikasi tetap memegang peran utama. Oleh karenanya, berbagai kemungkinan untuk penyampaian yang komunikatif harus dipikirkan. Jadi, sebuah karya ilmiah harus dapat secara jelas menyampaikan pesan kepada pembaca.
Persyaratan bagi sebuah tulisan untuk dianggap sebagai karya ilmiah adalah sebagai berikut :
a.       Karya ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan.
b.      Aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
c.       Karya ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur, dan tidak bersifat terkaan.
d.      Karya ilmiah disusun secara sistematis, setiap langkah direncanakan secara terkendali.
e.       Karya ilmiah menyajikan sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang induktif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
f.       Karya ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis.
g.      Karya ilmiah ditulis secara tulus, penyajiannya tidak boleh bersifat emotif.
h.      Karya ilmiah pada dasarnya bersifat ekspositoris.
Laras ilmiah populer merupakan sebuah tulisan yang bersifat ilmiah, tetapi diungkapkan dengan cara penuturan yang mudah dimengerti. Karya ilmiah populer tidak selalu merupakan hasil penelitian ilmiah.
Berdasarkan uraian di atas, dari segi bahasa dapat dikatakan bahwa karya ilmiah memiliki tiga ciri yaitu :
a.       Harus tepat dan tunggal makna, tidak remang nalar atau mendua makna.
b.      Harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah, sifat, dan pengertian yang digunakan agar tidak menimbulkan keraguan.
c.       Harus singkat, berlandaskan ekonomi bahasa.  
BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Disini dapat kami simpulkan bahwa, karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang ilmiah yang dilakukan oleh seorang peneliti dan penulis. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan.
B.  Saran
Sebagai penulis yang baik, sebelum menulis suatu karya ilmiah kita harus memahami pengertian dari karangan ilmiah itu sendiri. Mengetahui prinsip-prinsip umum yang mendasari penulisan sebuah karya ilmiah. Untuk itu, kami menghimbau pada penulis atau peneliti sebuah karya ilmiah itu untuk mengarang atau merangkai suatu karya ilmiah supaya pesan yang ditulis sampai pada pembaca.











DAFTAR PUSTAKA

Aleka, Achmad. 2010. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Arifin, E. Zaenal dan S.Amran Tasai. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : CV Akademika Pressindo


0 komentar:

Posting Komentar

RPP tentang SITEM PETIDAKSAMAAN LINIER TIGA VARIABEL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : MA. Ittihadil Ummah Mata Pelajaran/Tema : Matematika/Sistem Persamaan dan Pe...