Minggu, 08 Oktober 2017

KESULITAN DALAM BELAJAR MATEMATIKA


KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA
A.    Hakikat Matematika
     Banyak orang yang mempertukarkan antara matematika dengan aritmetika atau berhitung. Padahal matematematika memiliki cakupan yang1 lebih luas dari pada aritmetika. Aritmetikan hanya merupakan bagian dari matematika. Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematiaka merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa, baik yang tidak berkesulitan belajar dan lebih-lebih bagi siswa yang berkesulitan belajar.

     Menurut[1]  Johnson dan Myklebust (1967: 244), matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatip dan keruangan sedangkan fungsi teoretisnya adalah untuk memudahkan berpikir. Lerner (1988: 430) mengemukakan  bahwa matematika di samping sebagai bahasa simbolis  juga merupakan bahasa universal  yang memungkin manusia, memikirkan, mencatat, dan mengmukakan bahwa matematika  merupakan bahasa simbolis dan ciri utamaanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif.

     Menurut Paling (1982: 1), ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengatahuan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup, tambah, kurang, kali dan bagi; tetapi ada pula yang melibatakan topik-topik seperti aljabar, geometri, dan trigonometri. Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan berpikir logis. Selanjutnya, paling mengemukakan  bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia; suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan  tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubunga-hubungan.  Berdasarkan pendapat Paling tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menemukan jawaban atas tiap masalah yang dihadapinya , manusia akan menggunkan (1) informasi yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi; (2) pengetahuan tentang bilangan , bentuk dan ukuran; (3) kemampuan untuk menghitung; dan (4)kemampuan untuk mengingat dan menggunakan hubungan-hubungan.

     Dari berbagai pendapat tentang hakikat matematika yang telah di kemukakan dapat di simpulkan bahwa definisi tradisional yang menyatakan bahwa matematika sebagai ilmu tentang kuantitatis (the science of quantity) atau ilmu tentang ukuran diskrit dan berlanjut ( the science of discrate and  continous) (Runes, 1967: 189) telah di tinggalkan. Dari berbagai pendapat yang telah dikemukakan menunjukan bahwa secara komtemporer pandangan tentang hakikat matematika lebih di tekankan pada metodenya dari pada pokok persoalan matematika itu sendiri.2

     Bidang studi matematika yang diajarkan di SD mencakup tiga cabang, yaitu aritmetika, aljabar, dan geometri. Menurut Dali S. Naga (1980: 1), aritmetika atau berhitung adalah cabang matematika yang berkenaan dengan sifat hubungan-hubungan bilangan-bilangan nyata dengan perhitungan mereka terutama menyangkut penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Secara singkat aritmetika atau terhitung adalah pengetahuan tentang bilangan.

     Dalam perkembangan aritmetika selanjutnya, penggunaan bilangan sering diganti dengan abjad. Penggunaan abjad dalam aritmetika inilah yang kemudian di sebut aljabar (Dali S. Naga, 1980:29). Aljabar ternyata tidak hanya menggunakan  abjad sebagai lambang bilangan yang di ketahui  atau yang belum di ketahui  tetapi juga menggunakan lambang-lambang lain seperti titik-titik (contoh: 3 + ... =5), lebih besar(>), lebih kecil (<),dan sebagainya.berbeda dari aritmetika dan aljabar,geometri adalah cabang matematika yang berkenaan dengan ttitik dan garis  (Aleks Maryunis: 1989:24). Itik adalah pernyataan tentang posisi yang tidak memiliki panjang dan lebaar sedangkan garis hanya dapat di ukur panjangnya.

     Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari semua siswa dari SD hingga SLTA dan bahkan juga di perguruan tinggi. Ada banyak alasan tentang perlunya siswa belajar matematika. Cornelius ( 1982:38 ) mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan (1) sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari , (3) sarana pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana untuk mengembangkan kreativitas, dan (5) sarana untuk meningktkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

     Cockroft (1982: 1-5) mengemukakan bahwa matematika yang diajarkan kepada siswa karena (1) selalu di gunakan dalam segala segi kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupaka saranankomunikasi yang kuat, singkat dan jekas; (4) dapat di gunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan; dan (6) memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang. Berbagai alasan perlunya sekolah mengajarkan matematika kepada siswa pada hakikatnya dapat di ringkaskan karena masalah kehidupan sehari-hari. Menurut Liebeck (1984: 12) ada dua hitungan matematis (mathematics calculationa) dan penalaran matematis (mathematics resoning) . berdasarkan hasil belajar matematika semacam itu maka Lerner (1988: 430) mengemukakan bahwa kurikulum bidang studi matematika hendaknya mencakup tiga elemen, (1) konsep, (2) keterampilan dan (3) memecahkan masalah.3

Konsep menunjukan pada pemahaman dasar. Siswa mengembangkan suatu konsep ketika mereka mampu mengklasifikasikan atau mengelompokkan benda-benda atau ketika mereka dapat mengasosiasikan suatu nama dan kelompok benda tertentu. Sebagai contoh anak mengenal konsep segitiga sebagai suatu bidang Yng di kelilingi oleh tiga garis lurus. Pemahaman anak tentang konsep segitiga dapat di lihat pada saat anak mampu membedakan berbagai bentuk geometri lain dari segitiga. Contoh lain adalah, ketika anak menghiting perkalian 2 x 10 = 20,           3 x 10 = 30 dan 4 x 10 = 40, anak memahami konsep perkalian 10 yaitu bilangan tersebut 0. Jika konsep menunjukan pada pemahaman dasar, maka keterampilan menunjuk pada suatu yang di lakukan oleh seseorang. Sebagai contoh, proses menggunakan operasi dasar dalam pemjulahan, pengurangan pembagian dan perkalian adalah suatu jenis keterampilan matematika. Suatu keterampilan dapat dilihat dari kinerja anak secara baik atau kurang baik, secara cepat atau lambat, dan secara mudah atau sangat sukar. Keterampilan cenderung berkembang dan dapat di tingkatkan melalui latihan.

Pemecahan masalah adalah aplikasi dari konsep dan keterampilan. Dalam pemecahan masalah biasannya melibatkan beberapa kombinasi konsep dan keterampilan dalam suatu situasi baru atau situasi yang berbeda. Sebagai contoh, pada saat siswa diminta untuk mengukur luas selembar papan, beberapa konsep dan keterampilan ikut terlibat. Beberapa konsep yang terlibat adalah bujursangkar, garis sejajar dan sisi; dan beberapa keteramplan yang terlibat adalah keterampilan mengukur, menjumlahkan, dan mengalikan.
     Dalam dunia pendidikan matematika diindonesia di kenal adanya mateamatika moder. Pada sekitar tahun1974 matematika modern mulai diajarkan di SD sebagai pengganti berhitung. Matematika modern lebih menekankan pada pemahaman struktur dasar sistem bilangan dari  pada mempelajari keterampilan dan fakta-fakta hafalan. Pelajaran matematika modern lebih menekankan pada mengapa dan bagaimana matematiaka elalui penemuan dan eksolorasi. Pengajaran semacam itu agaknya telah mengabaikan beberapa aspek dari psikologi belajar dan kurang menguntungkan bagi anak berkesulitan belajar.
     Karena adanya berbagai keulitan tentang matematika modern maka muncul gagasan untuk kembali ke berhitung. Sesungguhnya persoalannya bukan terletak pada nama matematika atau berhitung, tetapi terletk pada materi yang ahrus diajarkan dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran. Nama matematika bukan merupakan persoalan krena berhitung adalah bagian dari matematika. Di Amerika Serikat sendiri telah muncul4 gerakan keterampilan dasar (basic skills movement) yang mencerminkan kekecewaan terhadap matematika modern  dan mengusulkan agar lebih menekankan pada keterampilan menghitung. Gerakan back-to-basics mengusulkan agar kembali menekankan pada pengajaran komputasi matematika (Lerner, 1988: 435). Meskipun anak-ank berkesulitan belajar tampak mendapat keuntungan dari program yang secara langsung mengajarkan keterampilan menghitung  atau kalkulasi, keterampilan ini hanya merupakan sebagian dari pendidikan matematika. Konsep, keterampilan, dan pemecahan masalah matematika adalah keseluruhan elemen esensial dari belajar matematika , dan karena itu harus tergabung dalam kurikulum.
      Dewan nasional untuk pengajaran matematika di Amerika Serikat seperti dikutip oleh lerner (1918 : 436 ) mengusulkan agar kurikulum mencakup mencakup 10 keyerampilan dasar sbb;
(1)   Pemecahan masalah
(2)   Penerapan matematika dalam situasi kehidupan sehari-hari
(3)   Ketajaman perhatian terhadap kelayakan hasil
(4)   Perkiraan
(5)   Keterampilan perhitungan yang sesuai
(6)   Geometro
(7)   Pengukuran
(8)   Membaca menginterpretasikan, membuat tabel, cart, dan grafik
(9)   Melek komputer (comuter literacy)
     Ada beberapa pendekatan dalam pengajaran matematika, masing-masing di dasarkan atas teori belajar yang berbeda. Ada empat pendekatan yang paling berpengaruh dalam pengajaran matematika yaitu, (1) urutan belajar yang bersifat berkembang (development learning sekuences), (2) belajar tuntas (materi learning), (3) strategi belajar (learning strategies), dan (4) pemecahan masalah (problem solving).
Pendekatan urutan belajar yangbersifat berkembang menekankan pada pengukuran kesiapan belajar siswa, penyediaan pengalaman dasar, dan pengajaran matematika prasyarat. Pendekatan ini banyak di pengaruhi teori perkembangan kognitif Piaget. Mengingat kemampuan kognitip dan segala sesuatu yang terkait dengan berpikir berbrda-beda untuk tiap tahap perkembangan, maka guru harus menyesusaikan bahan pelejaran dengan tahap perkembangan anak. Ini bereti bahwa tidak ada manfaatnya mengajarkan konsep atau keterampilan matematika sebelum anak mencapai tahap perkembangan tersebut karena tidak berhasil.5 Teori ini juga menjelaskan perlunya pengajaran matematika dimulai dari benda atau peristiwa konkret, menutu ke semi konkret, baru akhinya ke abstrak.

Pendekatan belajar tuntas menekankan pada pengajaran matematika melalui pembelajaran langsung (direct intruction)mdan struktur. Adapun langkah-langkah pendekatan belajar tuntas dalam bidang studi matematika adalah sbb;
(1)   Menentukan sasaran atau tujuan pembelajaran khusus. Sasaran tersebut harus dapat diukur dan diamati. Sebagai conto “ siswa dapat menuliskan jawaban terhadap 25 soal perkalaian 1 sampai 7 dalam waktu 10 menit dengan 100% benar.
(2)   Menguraikan langkah-langkah yang di perlukan untuk mencapai tujuan.
(3)   Menentukan langkah-langkah yang sudah di kuasai oleh siswa. Misalnya, siswa telah mampu menyelesaikan soal-soal perkalian 1 hingga 5 dengan mudah, dan dapat menyelesaikan soal-soal perkalian 6 dan 7 acara lamabat.
(4)   Mengurutkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh, jika siswa telah dapat menyelesaikan soal-soal perklian 1 sampai 5 dengan mudh dan erkalian 6 sampai 7 secara lambat, maka pembelajaran yang diperlukan hanya melatih kecepatan siswa dalam menyelesaikan soal-soal perkalian 6 dan 7.
     Program matematika yang didasarkan atas pendeatan belajar tuntas memiliki struktur bertaraf tinggi, di urutkan secara sistematis, dan memerlukan pembelajaran yang sangat langsung. Mengingat sifat matematika yang berurutan maka pendekatan belajar tuntas sangat sesuai dengan kurikulum matematika.
Pendekatan strategi belajar memusatkan pada pengajaran bagaiamana belajar matematika (how to learnmathematics) . pendekatan ini membantu siswa untuk mengembangkan strategi belajar metakognitif yang mengarahkan proses mereka dalam belajar matematika.siswa diajak belajar menantau pikiran sendiri dan di dorong untuk mengatakan kepada diri sendiri, mengajukan pertannyaan kepada diri sendiri, sebagai suatu metode untuk meningkat berpikir dan menfroses informasi.  Sebagai contoh, siswa bertanya “apa yang hilang?” atau “apakah harus menjumlah atau mengurangkan?” Atau siswa dapat memberi komentar, “ Oh saya pernah mengerjakan soal semacam ini pada waktu yang lalu, tetapi keliru “ atau mengatakan “saya harus menggambarkan ini kepada kertas supaya saya dapat melihat apa yang hilang.” Banyak anak berkesulitan belajar yang6 memiliki kekurangan dalam strategi belajar kogninip yang sangat di perlukan untuk blajar matematika. Oleh karena itu di perlukan pembelajaran matematikan menggunakan strategi ini.
Pendekatan pemecahan masalahmmenekankan pada pengajaran untuk berpikir tentang cara memecahkan masalah dan emrosesan informasi matematika. Dalam menghadapi masalah matematika, khususnya soal cerita, siswa harus melakukan analisis dan interpretasi informasi sebagai landasan untuk menentukan pilihan dan keputusan. Dalam memecahkan masalah matematika, siswa harus menguasai cara mengaplikasikan konsep-konsep dan menggunakan keterampilan komputasi dalam berbagai situasi baru yang berbeda-beda. Pemecahan masalah sering melibatkan beberapa langkah. Sebagai contoh, dlam mengukur luas selembar papan, siswa harus memahami konsep bujusangkar dan sisi-sisi sejajar; dan memiliki keterampilan dalam mengukur, menjumlah dan mengalikan. Dalam pendekatan pemecahan masalah, Fleischaer, Nuzum dan Marcola seperti yang dikutip oleh Lerner ( 1988 : 439 ) menyarankan agar siswa di perbolehkan menggunakan kalklolator. Penggunaan kalkulator dimaksudkan agar siswa dapat memusatkan perhatiannya pada pemecahan masalah, dan tidak terpusat pada komputasi. Dalam melaksanakan pendekatan ini, siswa di beri kartu saran guna membantu siswa dapat memecahkan masalah matematika yang berisi langkah-langkah sbb;
(1)   Baca : apa yang ditanyakan?
(2)   Baca kembali : informasi apa yang diperlukan?
(3)   Pikirkan :
(a)    Meletakkan bersama = menambah
(b)   Memisahkan = mengurang
(c)    Apakah saya memerlukan semua informasi tersebut?
(d)   Apakah in soal matematika dua langkah ?
(4)   Pemecahan masalah  :tulis persamaan tersebut !
(5)   Periksa :hitung kembali dan bandingkan!
Kennedy sperti di kutip oleh Lovit ( 1982 : 279 ) menyarankan empat langkah proses pemecahan masalah matematika, yiti;
(1)   Memahami masalah
(2)   Merencanakan pemecahan masalah
(3)   Melaksanakan pemecahan masalah dan
(4)   Memeriksa kembali
     Dalam menyelesaikan soal-soal cerita banyak anak yang mengalami banyak kesulitan. Kesulitan tersebut tampak terkait dengan pengajaran7 yang menutut anak membuat kalimat mateamatika tanpa lebih dahulu memberikan petunjuk tentang langkah-langkah yang harus di tempuh sebagai contoh, dapat di kemukakan sebagai berikut :
Ibu membeli 10 butir telur yang harganya 100,00 tiap butirdan 2 kg gula yang harganya Rp 1.00,00 tiap kg. Ibu membayar barang-barang tersebut dengan uang Rp 10.000,00.
Berapa uang yang kembali di terima oleh ibu?
Kalimat matematika : 10.000 – 10 X 100 + 2 X 1.000 = 7000
     Bagi anak yang berkesulitan belajar, dan bahkan juga bagi anak yang tidak berkesulitan belajar, menyelesaikan soal cerita semacam itu bukan pekerjaan yang mudan. Di samping itu, anak juga tidak terltih untuk menyelesaikan masalah matematikaa secara sistematis. Oleh karena itu, pendekatan pemecahan masalah dengan langkah-langkah yang telah di kemukakan tampaknya lebih baik untuk di gunakan baik bagi anak yang berkesulitan belajar maupun yang tidak berkesulitan belajar.
Empat pendekatan pembelajaran matematika yang telah di kemukakan implikasi bagi anak yang berkesulitan belajar matematika. Empat macam pendekatan tersebut  dapat di gunakan secara gabungan untuk membantu anak berkesulitan belajar matematika. Adapun implikasi dari keempat pendekatan tersebut adalah;
(1)   Guru harus menyadari taraf perkembangan siswa. Anak-anak berkesulitan belajar amtematika memerlukan lebih banyak pengalaman denagan belajar prabilangan sebagai lndasan belajar matematika. Anak tidak dapat diharapkan melakukan penalaran abstrak tanpa perkembangan dan pengalaman prasyaray.
(2)   Anak berkesulitan belajar matematika memerlukan pendekatan belajar tuntas tntang berbagai konsep melalui pembelajaran langsung yang terstruktur yang terancang secara sistematis. Proses analisis tugas, menetapkan tujuan khusus, dan merancang urutan pembelajaran adalah esensial. Di samping itu, alikasi waktu yang cukup untuk mempelajari tiap langkah urutan juga merupakan agis yang perlu di perhatikan oleh guru.
(3)   Pendekatan strategi belajar telah terbuki efektif dalam membantu anak berkesulitan belajar. Siswa harus di dorong untuk bertanya kepada diri sendiri tentang berbagai pertanyaan agar secara kognitif mereka memproses informasi sebagai strategi pemecahan masalah, dan mengembangkan pendekatan mereka sendiri dalam belajar dan berpikir tentang matematika.8
(4)   Bagu sebagian besar anak berkesulitan belajar, pemecahan masalah merupakan bagian yang paling sulit dalam pelajaran matematika. Oleh karena itu, binbingan dan lathan yang cakup sangat diperlukan untuk belajar mengkombinasikan berpikir dan berbahasa dengan keterampilan menghitung dan konsep-konsep yang di perlukan dalam pemecahan masalah matematika.
B.     Karakteristik Anak Berkesulitan Belajar Matematika
Kesulitan belajar matematika di sebut juga diskalkulia ( dyscalculis ) ( Lerner, 1988 : 430 ). Istilah diskalkulia memiliki konotasi medis, yang memandang adanya keterkaitan dengan gangguan sistem saraf pusat. Kesulitan belajar matematika yang berat oleh Kirk (1962 : 10 ) di sebut akulkulia (acalculia).
Menurut Lerner (1981: 357 ) ada berapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika yaiti (1) adanya gangguan dalam hubungan keruanagan, (2) abnormalitas persepsi visual, (3) asosiasi visual-motor, (4) perseverasi, (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol, (6)gangguan penghayatan tubuh, (7) kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan (8) Perpomence IQ jauh lebih rendah dari pada sekor Verbal IQ.
a.       Gangguan Hubungan Keruangan
Konsep hubungan keruangan seperti  atas bawah, puncak-dasar,jauh-dekat,tinggi-rendah,depan belakang,dan awal-akhir umumnya telah dikuasai oleh anak pada saat mereka belum masuk SD. Anak–anak memperoleh pemahaman tentang berbagai konsep hubungan keruangan tersebut dari pengalaman mereka dalam berkomunikasi dengan lngkungan sosial mereka atau melalui berbagai permainan.
      Tetapi sayangnya, anak berkesulitan untuk belajar sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan lingkungan sosial juga sering tidak mendukung9 tersenggelaranya suatu situasi yang kondusif bagi terjalinnya komunikasi antara mereka. Adanya kondisi instrinsik yang di duga karena disfungsi otak dan kondisi ekstrinsikbrupa lingkungan sosial yang tidak memunjang terselenggaranya komunikasi dapat menyebabkan anak mengalami gangguan dalam memahami konsep –konsep hubungan keruangan. Adanya ganguan dalam memahami konsep-konsep hubungan keruangan  dapat mengganggu pemahamananak tentang sistem bilangan secara keseluruhan. Akerana danya gangguan tersebut, anak mungkin tidak mampu merasakan jrak antara angka-angka pada garis bilangan atau penggarais, dan mungkin anak juga tidak tahu bahwa angka 3 lebih dekat ke angka 4 dari pada keangka 6.
     Untuk mempelajari matematika, anaktidak cukup hanya menguasai konsep hubungan keruangan, tetapi juga berbagai konsep dasa yang alin. Ada empat konsep dasar yang harus dikuasi oleh aanak pada saat masuk SD. Keempat konsep dasar tersebut adalah (1)konsep keruanagan, (2) konsep waktu, (3)  konep kuantitas, dan (4) konsep sarbenaka (Boehm, 1971).
Anak yyang emiliki abnormalitas persepsi visual juga sering tidak ampu membdakan bentuk-bentuk geometri. Suatu bentuk buju sangkar mungkin di lihat oleh anak sebagai empat garis yang tidak saling terkait, mungkin sebagai segi enam, dan bahkan mungkin tampak sebagai linkara. Adanya abnormalitas persepsi visual semacam ini tentu saja dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar matematika, terutama dalam memahami ebagai simbol.
b.      Abnormalitas Persepsi Visual
     Anak berkesulitan belajar matematika sering mengaami kesulitan untuk melihat berbagai objek dalam hubungannya dengan kelompok atau set. Kesulitan semacam itu merupakan salah satu gujala danya abnormalitaspersepsi visual. Kemampuan melihat berbagai objek dalam kelompok merupakan dasar  yang sangat penting yang memungkinkan anak dapat secara cepat mengidebtifikasi jumlah objek dalam suatu kelompok. Anak yang mengalami abnormalitas persepsi visual akan mengalami kesulitan bila mereka diminta untuk menjumlahkan dua  kelompok benda yang masing-masing terdiri dari lima dann empat anggota. Anak semacam itu mungkin akan menghitung satu persatu anggota tiap kelompklebih dahulu dalam menjumlahkannya.
     Anak yang memiliki abnormalitas perspsi visualjuga tidak dapat mampu membedakan bentuk-bentuk geometri. Suatu bentuk bujur sangkar mungkin di lihatoleh anak sebagai empat garis yang tidak saling terkait, mungkin sebagai segi enam, dan tampak sebagai lingkaran. Adanya abnormalitas persepsi visual semacam ini tentu saja dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar matematika, terutama dalam memahami berbagai simbol.
c.        Asosiasi visual-motor
     Anak berkesulitan belajar matematika sering tidak dapat menghitungbenda-benda secara berurutan sambil menyebutkan bilangannya “Satu10 , dua, tiga, empat, lima.” Anak mungkin baru memegang benda yang ketiga tetapi mengucapkan “lima” atau sebaliknya, telah menyentuh benda kelima tetapi baru mengucapkan “ tiga”. Anak-anak semacam itu dapat memberikan kesan mereka hanya menghapal bilangan tanpa memahami maknannya.
d.      Perseverasi
     Anak anak yang perhatiannya melekat pada suatu objek saja dalam jangka waktu yang relatip
Lama. Gangguan perhatian semacam itu disebut perseverasi. Anak demikian mungkin pada mulannya dapat mengerjakan tugas dengan bai, tetapi lama kelamaan perhatiannya meleket pada suatu objektertentu, misanya :
4 + 3 =7
5 + 3 = 8
5 + 2 = 7
5 + 4 = 9
4 + 4 = 9
3 + 4 = 9
Angka 9 diulang beberapa kali tanpa memperhatikankaitannya dengan sol matematika yang dihadapi.
e.       Kesulitan Mengenal Dan Memahami simbol
    Anak berkesulitan belajar matematika sering mengalami kesulitan daam mengenal dan menggunakan simbol-simbol matematika seperti +, -, =, >, <, dan sebagainnya. Kesulitan semacam ini dapat di sebabkan oleh adannya gangguan memori tetapi juga dapat di sebabkan oleh adanya gangguan persepsi visual.
f.        Gangguan Penghayatan Tubuh
     Anak yang berkesulitan belajar matematika sring memperlihatkan adanya gangguan penghayatan tubuh (body image ). Anak demikian merasa sulit untuk memahami hubungan bagiab-bagian dari tubuhnya sendiri. Jika anak diminta untuk menggambarkan tubuh orang misanya, mereka akan menggambarkan dengan bagian-bagian tubuh yang tidal lengkap atau menempatkan bagian tubuh pada posisi yang salah. Misalnya, leher tidak tampak, tangan diletakkan dikepala, dan subagainya.
g.      Kesulitan Dalam Bahasa dan Membaca
     Matematika itu sendiri pada gakikatnya adalah simbolis ( Johnson & Myklebust, 1967: 244). Oleh karena itu kesulitan dalam bahasa11 dapat berpengarauh terhadap kemampuan anak dibidang matematika. Soal matematika yang berbentuk cerita menuntut kemampuan membaca untuk memecahkannya. Oleh karena itu, anak yang mengalami kesulitan membaca akan mengalami kesulitan dalam memecahkan soal matematika yang berbentuk cerita tertulis.
C.    Kekeliruan Umum yang Dilakukan oleh Anak Berkesulitan Belajar Matematika
     Agar dapat membantu anak berkesulitan belajar matematika, guru perlu mengenal berbagai kesalahan umun yang dilakukan oleh anak dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam bidang studi matematika. Beberapa kekeliruan umum tersebut menurut Lerner (1981 : 367 ) adalah kekurangan pemahaman tentang, (1) simbol, (2) nilai tempat, (3) erhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, adan (5) tulisan yang tidak terbaca.
a.      Kekuranagn Pemahaman Tentang Simbol
     Anak-anak umumnya tidak terlalu banyak mengalami kesulitan jika kepada mereka di sajikan soal-soal12 seperti 4 + 3 =..., atau 8 – 4 =...; tetapi akan mengalami kesulitan jika dihadapkan pada soal-soal263 seperti 4 + ... = 7 ; 8 = ... + 5 = ; ... + 3 = 6; atau ... - 4 = 7; atau 8 - ... = 5.  Kesulitan semacam itu umumnya karena anak-anak tidak memahami simbol seperti sama dengan (=), tidak sama dengan (=), tambah (+), kurang (-), dan sebagainya, agar anak dapat menyelesaikan soal-soal matematika, mereka harus lebih dahulu memahami simbol-simbol tersebut.
b.      Nilai Tempat
     Ada anak yang belum memahami seperti satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya. Ketidak pahman tentang nilai tempat akan semakin mempersulit anak jika kepada mereka di hadapkan pada lambang bilangan basis bukan sepuluh. Bagi anak yang tidak berkesulitan belajarpun banyak mengalami kesulitan untuk memangahami lambang bilangan yang berbasis bukan puluhan. Oleh karena itu, banyak yang menyerankan agar pelajaran matemtika di SD lebih menekankan pada aritmetika atau berhitung yang dapat di gunakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Pengunaan Proses yang Keliru
      Kekeliruan penggunaan proses perhitungan dapat di lihat pada contuh berikut ini :
1)      Mempertukarkan simbol-simbol
2)      Jimlah satuan dan puluhan di tulis tanpa memperhatiakan niali tempat.13
3)      Semua digit ditmbahkan bersama (algoritma yang keliru dan tidak memperhatikan nilai tempat)
4)      Digit ditambahkan dari kiri kekanan dan tidak memperhatikan niali tempat
5)      Dalam menjumlahkan puluhan du gabungkan dengan satuan
6)      Bilangan yang besar di kurangi bilangan yang kecil tanpa memperhatikan nilai tempat
7)      Bilangan yang telah di pinjem nilainnya tetap. 264
d.      Perhitungan
      Ada anak yang belum mengenal dengan baik konsep perkalian tetapi mencoba menghapal perkalian tersebut.hal ini dapat menimbulkan kekeliruan jika hapalnya salah. Daftar perkalian mungkin dapat membantu memperbaiki kekeliruan anak jika anak telah memahami konsep perkalian.



e.       Tulisan yang Tidak Dapat Dibaca
      Ada anak yang tidak dapat membaca tulisannya sendiri karena bentuk-bentuk hurupnya tidak tepat atau tidak lurus mengikuti garis. Akibatnya, anak banyak mengalami kekeliruan karena tidak mampu lagi membaca tulisanya sendiri.
D.    Asesmen
      Informasi tentang kemampuan siswa dalam bidang studi mtematika dapat diketahui melalui asesmen informasi dan formal. Dalam kasus tertentu mungkin di perlukan pemakaian kedua jenis asesmen, tetapi dalam kasus yang lain mungkin cukup dalam asesmen infor,al.
a.      Asesmen Informal
      Para ahli di bidang pendidikan bagi anak berkesulitan belajar umumnya mempercayai bahwa asesmen informal merupakan cara terbaik untuk memperoleh informasi tentang kemampuan anak dalam bidang studi matematika. Berbagai observasi terhada prilaku anak sehari-hari dalam bidang studi matematika, kinerja anak dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, atau tes guru yang dikaitkan dengan kurikulum atau bukupelajaran dapat menyajikan informasi sebagai dasar pemberian pelayanan pengajaran remedial.14
      Berikut ini dikemukakan tiga jenis asesmen informal. (1) metode inventori, (2) tes buatan guru yang di dasarkan atas kurikulum, dan (3) analisis kekeliruan siswa.
1)      Inventori
      Orosedur informal  dalam bentuk inventori dapat dibuat oleh guru untuk mengukur keterampilan anak dalam bidang studi matematika secara cepat. Begitu di temukan adanya kesulitan suatutes diagnostik yang lebih ekstensif dapa di berikan kepada anak.
2)      Asesmen di dasarkan atas kurikulum
     Prosedur informal asesmen yang didasarkan atas kurikulum merupakan suatu cara yang bermanfaat untuk mengukur kemajuan belajar matematikan. Asesmen yang didasarkan atas kurikulum terkait langsung dengan yang diajarkan oleh guru di kelas.
Zigmond et ql. (Lerner, 1988: 444 ) merekomendasikan adanya 12 langkah strategi asesmen yang di dasarkan atas kurikulum idang studi matematika yang dapat membimbing para guru dari keputusan melakukan asesmen kerancangan pembelajaran. Langkah-langkah tersebut adalah :
(1)   Memutuskan apa yang akan diukur
(2)   Memilih atau mengembangkan suatu hirarki keterampilan
(3)   Memutuskan dimana memulai
(4)   Memilih atau mengembangkan instrumen
(5)   Melaksanakan tes
(6)   Mengadministrasikan tes
(7)   Mencatat  kekeliruan dan gaya kinerja
(8)   Menganalisis temuan dan meringkaskan hasil.
(9)   Memperkirakan alasan kekeliruan dan menetukan bidang yang akan di periksa.
(10)                      Memeriksa ;
(11)                      Melengkapi catatan dan merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran ; dan266
(12)                      melaksanakan pembelajaran; dan memutakhirkan informasi asesmen.
3)      Menganalisis Kekeliruan Siswa
      Guru yang mengajar anak berkesulitan belajar matematika hendaknya mampu menditeksi sebagai tipe kekeliruan siswa seperti yang telah dikemukakan. Dengan demikian, pembelajaran dapat diarahkan pada perbaikan kekeliruan-kekeliruan tersebut. Guru harus pekerjaan siswa dan meminta siswa menjelaskan bagaimana ia sampai pada penggunaan pemecahan masalah seperti itu. Guru jugaperlu melakukan observasi terhadap cara yang di gunakan oleh siswa dan melakukan perbaikan terhadapp kekeliruan tersebut.15
b.      Instrumen Asesmen Formal
      Instrumen formal mencakup tes yang bersipay umum untuk di gunakan secara individual.
1)      Tes Kelompok Baku
     Instrumen yang berupa tes baku yang di gunakan dalam kelompok perlu lebih dahulu diuji validitas dan reliabitasnya. Tes semacam itu biasannya mencantumkan berbagai tabel yang menjelaskan macam-macam interprestasi sekor kelas, usia, sekor baku, dan persentil.
2)      Tes Klinis Individual
     Tes klinis individual dirancang untuk diberikan kepada seorang siswa secara individual. Tes klinis umumnya lebih dapat memberikan informasi diagnostik dari pada tes ke-lompok, menyediakan dat tentang bidang-bidang khusus kesulitan matematika, dan lebih memberkan arah dalam penyusunan rancangan pembelajaran.
     Pengajaran remedial matematika harus didasarkan atas prinsip-prinsipbelajar matematika. Oleh karena itu, bada bagian dibahas berbagai prinsip pengajaranmatematika dan berbagai aktivitas pengajaran remedial matematika.
a.      Berbagai Prinsip Pengajaran Matematika.272
     Ada beberapa prinsip dalam pengajran matematika. Prinsip-prinsip tersebit tidak hanya berlaku dalam pengajaran matematika pada umumnya tetapi juga dalam pengajaran remedial. 
1)      Penyiapan anak untuk belajar amtematika
2)      Maju kekonkret ke abstrak16
3)      Menyediakan kesepatan untuk berlatih dan mengulang
4)      Generalisasi ke situasi baru
5)      Menyadari kekuatan dan kelemahan siswa
6)      Membangun pondasi yang kokoh tentang konsep dan keterampilan matematika.
7)      Menyajikan [rogram matematika yang seimbang.
8)      Penggunaan kalkulator17
b.      Berbagai Aktivitas untuk Pengajaran Remedial
     Aktivitas pengajaran remedial hendaknya mencakup dua kategori, konsep, keterampilan dan pemecahan masaalah.
1)      Pengajaran Konsep Matematika
     Konsep dan bentuk ukuran dapat diajarjan melalui permainan mamilah. Kepda anak  diberikan kepingan papanatau plastk yang memiliki betuk dan ukuran yang berbeda-beda. Untuk menanamkan konsep bentuk dan ukuran, anak diminta untuk memilah keoingan-keoingan tersebut berdasarkan bentuk atau ukurannya. Konsep warna juga dapat ditanamkan melalui permainan ini.
     Pemilahan hendaknya dimulai dari sederhana, yaitu sati sidat saja seperti bentuknya,ukurannya atau warnanya. Jika pemilahan sederhana telah dapat dilakukan enhgan dengan baik, permainan dapat ditingkatkan menjadi pemilihan yang komppleks, misalnya memilahkan kepingan-kepingan yang bentuk dan ukurannya sama.18

Contoh penggunaan garis bilangan adalah seperti tampak di bawah ini

             .      .      .     .     .     .      .     .     .     .     .     .    .


                                0     1    2    3    4    5    6    7    8    9    10



     Konsep tentang suatu pola dapat diajarkan melalui permainan yang diminta kepada  anak-anak untuk menemukan pola dengan memilih objek-objek dalam suatu urutan yang telah di buat oleh guru. Contohnya adalah
Merah, putih, merah, putih, ...
             o * ^ , o * ^,  o * ^,  o .  . 
             2 4 6 8, 2 4 6 8, 2 4 6 8, 2 . . .

     Konsep angka hendaknya diajarkan dengan cara memperkenalkan angka itu sndiri, jumlah benda yang menunjuk angka, dan kata yang menunjuk angka tersebut. Sebagai contoh :

     O       OO      OOO     OOOO     OOOOO
      1         2           3              4               5
   Satu     dua      tiga         empat         lima20

2)      Pengajaran Keterampilan Matematika.
      Anak berkesulitan belajar sering di sebabkan oleh adanya kekurangan dalam keterampilan komputasional. Kekurangan tersebut hendaknya dievaluasi untuk menentukan faktor penyebabnya, misalnya karena faktor verbal, spatial, perseptual, atau mungkin karena memori. Berbagai keterampilan matematika yang perlu mendapat perhatian pada awal anak belajar matematika mencakup penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan pecahan.18[2]


KESULITAN BELAJAR DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA

      Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik ( academic perfomance ) yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tanpak jelas siswa itu mrmiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiaasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya.1

Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah kita pada umumnya hanya di tujukan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemaampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang berketagori “ diluar rata-rata  “ itu ( sangat pintar dan sangaat bodoh ) tidak mendpat kesempatan yang menaadai untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya. Dari sisni kemuan timbullah apa yang disebut kesulitan belajar ( leraning diffculty ) yang tidak hanya menimpa siswa dan berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Selain itu, berkesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata (normal) di sebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainnya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan.


A.    Faktor-faktor Kesulitan Belajar
     Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasannya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapatd dibuktikan dengan munculnya kelainan prilaku ( misbehavior )siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering minggat dari sekolah.
     Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam, yaitu ;
1)      Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan mum dari dala didri siswa sendiri.
2)      Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa.
     Kedua faktor ini meliputi aneka ragam hal dan kedaan yang antara lain tersebut di bawah ini.
1)      Faktor Intern Siswa
     Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko-fisik siswa, yakni :
a)      Yang bersifat kogniif (ranah cipta ), antara lain seperti rendahna kapasitas intelektual/inteligensi siswa;
b)      Yang bersifat efektif ( ranah rasa ), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
c)      Yang bersifat fsikomotor ( ranah rasa ), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar ( mata dan telinga ).2
2)      Faktor Ekstern Siswa
     Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkongan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat di bagi tiga macam yaitu;
a)       Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisa hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
b)      Lingkungan berkampungan/masyarakat,  contohnya  : wilyah berkampungan kumuh ( sluuum area ), dan teman sepermainan (peer group )  yang nakal.
c)      Lingkungan sekolah, contohnya ; kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
     Selain faktor-faktor yang bersifat umum d atas, ada fula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor yang dapat di pandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disabillity ( ketidak mampuan belajar). Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis  ( Reber,  1988 ) yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
a)      Disleksiaa (dyslexia), yakni ketidak mampuan belajar membaca.
b)      Disgrafia (dysgraphia), yakni keyidak mampuan belajar menulis
c)      Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidak mampuan belajar matemaetika.
      Akan tetap, siswa yang mengalami sindro-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahkan dianntaranya ada yang memiliki kecerdasa di atas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkinhanya di sebabkan oleh adanya minimal brain dysfuncttion, yaitu gangguan ringan pada otal (Lask, 1985: Reber, 1988 )
1.      Diagnosis Kesulitan Belajar
     Sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikiasi ( upaya mengenal gejala denagncermat.) terhadap fenomena yang menunjukan kemungkinan  adanya kesulitan belajar yang melanda  siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan jebnis penyakit” yakni jenis kesulitan belajar siswa.
     Dalam melakukan diagnosis di perlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada di temukannnya kesulitan belajjar jenis tertentu yang dialami siwa. Prosdur seperti ini dikenal sebagai “diagnotis” kesulitan belajar.3
Banyak langkah diagnotis yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut;
1.      Melakukan observasi kelas untuk melihat prilaku penyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2.      Memeriksa pemglihatan dan pendengaran siswa khususnyayang diduga mengalami kesulitan belajar.
3.      Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
4.      Memberikan tes diagnostik bidang kecekapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5.      Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya siswa yang di duga mengalami kesulitan belajar.
      Secara umum,  langkah-langkah tersebut di atas dapat dilakukan dengan mudah oleh guru kecuali langkah ke-5 (tes Q). Untuk keperluantes IQ, guru dan orang tua dapat berhubungan dengan klinik psikologi. Dalam hal ini, yang sangat perlu dicatat ialah apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar itu ber-IQ jauh di bawah normal(tunagrahita), orang tua hendanya mengirimkan siswa tersebut kelembaga pendidikan khusus anak-anak tuna grahita 9 sekolah luar biasa), karena lembaga sekolah biasa tidak menyediakan tenaga pendidian dan kemudahan belajar khusus untuk anak-anak normal.  Selanjutanya para siswa yang nyata-nyata menunjukan misbehavior berat berarti prilakuagresif yang berpotensi antisosial atau kecanduan narkotika, harus diperlukan secara khusus pula,  umpamannya dimasukkan kelembaga permasyarakatan anak-anak atau ke  “pesantreri” khusus pecandu narkotika.
     Adapun untuk mengatasi kesulitan belajar siswa mengdap sindrom disleksia, disgrafia,dan diskalkuliasebagaimana yang telah penyusun uraikan dimuka, guru dan orang tua sangat dianjurkan untuk memanfaatkan support teacher (guru pendukung). Guru khususini biasannya bertugas menanganipara siswa mengidap sindrom-sindrom tadi disamping melakukan remedial teaching (pengajaran perbaikan).
     Sayangnya disekolah-sekolah kita,  tidak seperti kebanyakan sekolah negara-negara maju, sebelum menyediakan guru-guru pendukung. Namun, untuk mengatasi kesulitan tidak adanya support teachers itu orang tua siswa dapat berhubungan dengan biro konsultasi  psikologi dan pendidikan yang biasannya terdapat pada pakultas psikologi dan fakultas perguruan yang terkemuka di kota-kota besartertentu.
     Selanjutanya, bagaimana kiat guru mengatasi kesulitan belajar yang dialami para siswa yang tergolong gifted child ( anak cemerang, berbakay) dan para siswa underchiever ( berprestasi rendah).4
2.      Altematif  Pemecahan Kesulitan Belajar
      Banyak alternatif yang diambil guru dalam mengatasi kesulitann belajar siswannya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru angat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan berapa langkah penting sebagai berikut;
a.       Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan anatar bagian tersebut untuk memperoleh penegertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihaapi siswa.
b.      Mengidentifikasi dan menentikan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
c.       Penyusun progran perbaikan, khususnya program remedial teaching (engajaran perbaikan)
     Setelah langkah-langkah diatas selesai, barulah guru melakukan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.
1.      Analisis hasil diagnosis
     Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnotis kesulitan belajar tadi perlu dianalisis sedeamikian rupa, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti. Contoh : badu mengalami kesulitan khusus dan memahami konsep kata “polisemi” . polisemi ialah sebuah istilah yang menunjukan kata yang memiliki dua makna tau lebih. Kata “turun”, umpamannya, dapat di pakai dalam berbagai frase seperti turun harga, turun ranjang,turun tangan, dan seterusnya. Contoh sebaliknya, kata “naik” yang juga dapat di pakai dalam banyak prase seperti : naik daun, naik darah, naik banding, dan sebagainnya.
2.      Menentukan kecakapan bidang bermasalah
      Berdasarkan hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidangg kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat di kategorikan menjadi tiga macam.
a.       Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
b.      Bidang kecakapan bermasalah yang dapat di tangani oleh guru dengan bantuan orang tua.
c.       Bidang kecakapan yang bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orang tua.
      Bidang kecakapan yang tidak dapat di tangani atau terlalu sulit untuk diitangani oleh baik guru maupun orang tua dapat bersumber dari kasus-kasus tunagrahita (lemah mental) dan kecanduan narkotika. Mereka yang5 termasuk dalam lingkup dua macam kasus yang bermasalah berat in dipandangtiak berketerampilan (unskilled people). Oleh karenannya,para siswa yang mengalami kedua masalah yang berkesulitan belajar yang berat tersbut tidak hanya memerlukan pendidikan khusus, tetapi juga memerlukan perawatan khusus.
3.      Menyusun Program Perbaikan
     Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnnya guru perlu menetapkan hal-hal sbb;
a.       Tujuan pengajaran remedial.
b.      Materi pengajaran remedial
c.       Metode engajaran remedial
d.      Alikasi waktu pengajaran remedial
e.       Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.
4.      Melaksanakan Program Perbaikan
      Kapan dan dimana program pengajaran remedial yang telah dirancang itu dapat anda laksanakan? Pada prinsipnya, progranm pengajaran remedial yang telah dirancang itu dapat anda laksanakan? Pada prinsipnya, program pengajaram remedial itu lebh cepat dilaksanakan tentu saja lebih baik. Tempat penyelengaraannya bisa dimana saja, asal tempat itu memungkinkan siswa klien ( siswa yang memerlukan bantuan ) memusatkan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut. Namun patut dipertimbangkan oleh guru pembimbing kemungkinan digunakannya ruang bimbingan dan penyuluhan yang tersedia disekolah dalam rangka mendayagunakan ruang BP tersebut.
Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai alternatif-alternatif kiat pemecahan maslah belajar siswa , guru sangat dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimbingan dan penyuluhan. Selain itu, guru juga dianjurkan untuk mempertimbangkan pengunaan model-model mengakar tertentu yang duianggap sesuai sebagai alternatif lain atau pendukung secara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.7[3]

KESULITAN BELAJAR

      Kesulitan belajar dapat menghinggapi seseorang dalam kurun waktu yang lama. Beberapa kasus memperlihatkan bahwa kesulitan ini memengaruhi banyak aspek kehidupan sesorang, baik itu  disekolah, pekerjaan, rutinitassehari-hari, kehidupan keluarga, atau bahkan terkadang dalam hubungan persahabatan dan bermain. Bebrapa penderita menyatakaan bahwa kesulitan ini berpengaruh pada kebahagiaan mereka. Sementara itu, bagi penderita yang lain, gangguan ini menghambat proses belajar mereka, sehingga tentu saja pada gilirannya juga akan berdampak pada aspek lain dari kehidupan mereka. Terkadang sesorang juga mengalami berbagai kesulitan belajar yang saling tumpang tindih, sementara itu yang lainnya ada yang hanya mengalami satum macam kesulitan belajar saja , sehingga hanya sedetik pengaruhny bagi aspek lain bagi kehidupan mereka.1
a.       Jenis-jenis kesulitan belajar
Mengenali kesulitan belajar jelas berbeda dengan mendiagnosis penyakit cacar air atau campak. Cacar air dan campak tergolong penyakit dengan gejala yang dapat dikenali dengan mudah. Berbeda dengan LD yang sangat rumit dan meliputi begitu banyak kemungkinan penyebab, gejala-gejala, perawatan,serta penanganan. LD yang memiliki beragam gejala ini, sangatlah sulit untuk didiagnosis dan dicari penyebabnya secara pasti. Hingga saat ini, belum ditemukan ibatvyang perawatan sanggup menyembuhkan mereka sepenuhnya.
       Tidak semua kesulitan dalam proses belajar dapat di sebutkan LD. Sebagian anak mungkinhanya mengalami kesulitan dalam mengembangkan bakatnya. Kadang-kadaang seorang memperlihatkan ketidakwajaran dalam perkembangan alaminnya, sehingga tampak seperti penderita LD, namun ternyata hanyalah keterlambatan dalam proses pendewasaan diri saja. Sebenarnya, para ahli telah menentukan kriteria-kriteria pasti dimana seseorang dapat dinyatakan sebagai penderita LD.
       Kriteria yang harus dipenuhi sebelum seorang dinyatakan menderita LD tertuang dalan sebuah buku petunjuk yang berjudul DSM (Diagnostic and Statistical Manualof Mental Disorders). Diagnosis yang didasarkan pada DSM umumnya dilakukan ketika seseorang mengajukan perlindungan asuransi kesehatan dan layanan perawatan.2
Kesulitan belajar dapat di bagi menjadi tiga kategori besar.
1)      Kesulitan dalam Berbicara dan Berbahasa
     Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa serng enjadi indikasi awal bagi kesulita belajar yang dialami sesorang anak. Orang yang mengalami kesulitan jenis ini menemui kesulitan dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahsa yang tepat, berkomunikasi dengan orang lain melalui penggunaan bahasa yang benar, atau memahami apa yang orang lain katakan.
Berdasarkan definisi gangguan ini, maka kita dapat meringkaskan ciri-ciri spesifiknya sebagai berikut;
(a)    Keterlambatan dalam hal pengucapan bunyi bahasa.
      Anak-anak yang mengalami gangguan ini biasannya mengalami maslah dengan mengucapkan sesuatu denga tepat. Sebagai mana Contoh; pada umur 6 tahun, Wellace masih mengucapkan kata “Wibbit” yang seharusnya berbunyi “rabbit” dan “twiim” untuk “swiim”. Keterlambatan perkembangan untuk mengucapan sebenarnya merupakan sesuatu yang umum terjadi. Sepuluh persen anak di bawah usia 8 tahun mengalami kesulitan ini. Untungnya, kesulitan mengucapan daapat diatasi sepenuhnya dengan mengikut terapi bicara.
(b)   Keterlambatan dalam hal mengeksresikan pikiran atau gagasannya melalui bahsa yng baik dan benar.
       Sebagian anak yang menderita kesulitan berbahasa semacam ini mengalami kesulitan dalam mengkspresikan dirinya saay berbicara. Kesulitan semacam ini disebutjuga keterlambatan kemampuan untuk berbahasa dengan baik dan benar3. Susan, yang sering menyebutkan suatu benda dengan nama yang salah, adalah contoh seorang anak yang mengalami prmasalahan semacam ini. Tetapi tentu saja gangguan perkembangan berbahasa ini daat timbul alm wujud yang lain. Sebagai contoh; seorang anak berumur 4 tahun yang hanya dapat mengucapkan dua frasa saja, dan seorang anak lain yang telah berusia 6 tahun tetapi tidak dapat  menjawab pertanyaan yang sederhana sekalipun, dapat pula di golongkan sebagai anak yang mengalami kesulitan dalam hal berbahasa.
(c)    Keterlambatan dalam hal pemahaman bahasa.
       Sebagian oran menemui kendala dalam mencerna apa yang diucapkan oarang lain. Kendala ini terjadi ketika otak mereka brada pada frekuensi yang berbeda, dan sistem penerimaannya sedang tidak berpungsi atau lemah. Kita akan memberikan beberapa contoh kasus sehubungan dengan hal ini. Seorang anak kecil yang tidak mampu merespon ketika namannya di panggil, anaak seorang anak pra-sekolah yang memberikan lonceng, (dalam bahasa inggris; bell) ketika Anda meminta bola (dalam bahasa inggris; ball). Selanjutnya terdapat pula pekerja yang berulang-ulangtidak dianggap mengerjakan tugas-tugas yang sederhana sekalipun, pendengaraan mereka normal, tetapi tidak dapat memberikan respon yang baik dan benar terhadap suara, kata-kata, atau kalimat yang di dengar. Mereka tampaknya tidak memerhatikan apa yang orang lain katakan pada mereka. Orang-orang semacam ini menderita keterlambatan pemahaman bahasa. Hal ini terjadi karena mengucapakan atau mengekspresikan sesuatu dan memahami apa yang dikatakan orang lain memilikiketerkaitan yang sangat erat. Karenannya orangyang mengalami masalah dalam memahami bahasa juga mengalami masalah dalam mengekspresikan.4
2)      Gangguan Kemampuan Akademik
       Siswa-siswa yang mengalami ganguan kemampuan akademikberbaur bersaama teman-teman sekelasnya dari meningkatkan kemampuan membaca, menulis da berhitung mereka. Sesorang dapay didagnosis megalami gangguan ini, bila mengalami ;
(a)    Keterlambatan dalam hal membaca
       Tipe gangguan ini di sebut juga dengan dengan disleksia. Pada kenyataannya, kesulitan membaca dialami oleh 2-8 persen anak sekolah dasar.
      Ketika  Anda berpikit tentang apa saja yang etrlibar dalam proses “tiga R”; membaca (Reading), menulis( Riting), dan berhitung (Rithmetic) maka kita akan tercengang karena kebanyakan dari kita memang mempelajari proses-prose tersebut. Untuk memahami apa yang Anda baca, maka Anda harus;
Ø  Memmusatkan perhatian pada hurup-hurup  yang tertukis serta mengendalikan gerakan mata dengan menjelajahi tiap halaman.
Ø  Menenali bunyi tiap-tiap hurup atau gabungan hurup.
Ø  Memahami makna kata-kata, tata bahasa dan susunan kalimatnya.
Ø  Menciptakan ide-ide dan gagasan baru.
Ø  Membandingkan ide-ide baru dengan yang telah Anda ketahui.
Ø  Mengingat berbagai hal dalam benak Anda.5
(b)   Keterlambatan dalam Hal Menulis.
     Menulis juga memerlukan koordinasi berbagai bagian dan fungsi otak. Bagian-bagian otaak yang mengatur perbendaharaan kata tata bahasa, gerakan tangan dan ingatan harus berada dalam kondisi serta koordinasi yang baik. Permasalahan dalam hal ini dapat mengakibatkan gangguan dalam kemampuan menulis sesorang . sebagai contoh; ennis yang tidak sangup memisahkan atau membedakan berbagai bunyi di dudnia ini memiliki masalah dalam mengerja kata-kata. Sesorang anak yang memiliki kesulitan dalam membaca serta mengekspresikan gagasan atau ide dalam bentuk bahasa yang baik dan bennar, kemungkinan besar menderita ktidak mampuan dalam menyusun kalimat yang lengkap serta benar.
(c)    Keterlambatan dalam Hal Menulis.
       Berhitung melibatkan pengenalan angka-angka, pemahaman berbagai simbol matematis, mengingat berbagai fakta seperti tabel perkalian, dan pemahaman konsep-konsep abstrak seperti nilai tempay secara pecahan. Hal seperti inimungkinterasa sulit bagi anak-anak penderita kesulitan berhitung. Masalah dengan angka-angka atau konsep dasar sepertinya datang sejak awal. Sedangkan masalah yang berhubungan denagn matematika yang baru terjadi pada kelas-kelas terakhir lebih sering berkaitan dengan logika.6

       Banyak aspek dan berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, dan berhitung itu saling tumpang tindih serta bersatupadu membangun apa yangdi sebut dengan fungsi kemampuan otak. Jadi, tidaklah aneh bila ada orang yang diagnosis mengalami lebih dari satu kesulitan belajar. Sebagai contoh; kemampuan untuk memahami suatu bahasa mendasari proses belajar berbicara. Oleh karena itu, kesulitan lain yang menghambat sesorang dalam memahami bahasa juga akanmmemengaruhi perkembangan kemampuan berbicarannya, sehingga hal ini pada gilirannya juga menghambat proses belajar membaca sert menulis. Ini berlaku pula dengan ganguan-ganguan atau keterlambatan lainnya. Suatu hambatan atau gangguan pada alur proses kerja otak aja akan memengaruhi aktivitas apapun.
3)      Gangguan belajar Lainnya
       DSM juga mencatat kategori tambahan, seperti “ gangguan kemampuan motorik” dan “ gangguan berkembang khusus yang belum diklasifikasikan”. Gejalaa-gejalanya adalaah keterlambatan atau keterbelakangan dalam memahami bahasa, kemampuan akademis serta motorik yang pada gilirannya memengaruhi kemampuannya untuk mempelajari sesuatu. Tetapi bedanya, itu semua tidak sesuai kriteriannya dengan jenis-jenis keterlambatan belajar yang telaj kita bahas sebelummya. Gejala-gejala ini juga mencangkup ganguaan koordinasi tubuh yang pada gilirannya dapat mengakibatkkan buruknya tulisan sesorang, dan begitu pula halnya dengan kesulitan mengerja dan mengngingat.
4)      Kesulitan Dalam Memusatkan Perhatian
      Hampir  4 juta anak menderita kesulitan belajar. Berdasarkan data yang ada, 20% dari mereka mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian.7
Anak-anak maupun orang dewasa yang menderita kesulitan dalam memusatkan perhatian biasannya gemar melamun secara berlebihan. Kendali demikian, saat mereka berhasil memusatka perhatian pada suatu hal, maka perhatian itu engan segera mudah buyar kembali.
Dalam diri orang dewasa, tindakan hiferaktif sering tampak dalam wujud kegugupan dan kegelisahaan. Namun, masalah yang berkaita dengan perhatian dalam konsentrasi ini terus berlanjut hngga mereka dewasa. Di tempat kerja orang dewasa penderita ADHD (Attention Deficit Hiperactivity = Gangguan Hiperaktif Memusatkan Perhatian) sering mengalami masalah yang berkaitan dengan penyusunantugas dan penyelesaian pekerjaan mereka. Mereka seolah-olah terlihat tidak mendengarkan atau tidak bersedia mengikuti pengarahan. Pekerjaan mereka terlihat kacau dan terbelengkalai.
       Kesulitan dalam memusatkan perhatian, baik disertai sikap hiperaktif maupun tidak, tidak dianggap sebagai kesulitan belajar. Kendati demikian, kesulitan dalam memusatkan perhatian dapay memengaruhi performa akademis sesorang secara serius, dimana gangguan ini kerap menyertai kelemahan dalam kemampuan akademis.8
b.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Kesulitan Belajar
      Para ahli kesehatan jiwa menekankan bahwa hingga saat ini masih belum ada sesorang yang mengetahui secra pasti sebab-musahab kesulitan belajar. Oleh karena itu, mereka tidak sanggup membantu para orang tua untuk menemikan penyebab pasti dari ganguan kejiwaan iniserta melakukan tindakan pencegahan. Terlalu banyak kemungkinan yang diduga menjadi penyebab dari keterlambatan belajar. Sesungunya, jka di renungkan mendalam, lebih penting bagi keliarga    penderita untuk menemukan cara penyembuhan yang tepat.
     Namun para ahli tetap perlu mempelajari penyebabnya, sebagai bagian dari upaya mereka menemukan cara mengatasi gangguan belajar ini.
      Sebagian ahli pernah mengemukakan bahwa gangguan belajar disebabkan oleh ganguan saraf. Tetapi penelitian yang9 disokong oleh NIMH telah membantu kita untuk menyadari bahwa penyebab kesulitan belajar itu benar-benar kompleks dan luas. Bukti paling mutakhir memperlihatkan bahwa sebagian besar keterlambatan belajar tidak hanyaa berkaitan dengan bagian otak tertentu, tetapi karena kesulitan dalam menyalurkan berbagai informasi yang datang dari berbagai bagian otak secara bersamaan.
     Dewasa ini, teori yang paling banyak penganutnya menyatakan bahwa kesulitan elajar itu di sebabkan oleh kerusakan susunan dari fungsi otak.  Dalam khusus khusus terentu bagian para aahli menyakini bahwa kerusakan terjadi sebelum sang anak di lahirkan.10
PENTINGNYA BRAIN GYM UNTUK KESUKITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA

Tugas siswa adalah belajar. Dalam hal ini disamping harus memahami sejumlah
mata pelajaran, siswa di tuntut untuk mampu menyelesaikan bebagai tugas
belajar yang dibebankan kepadanya. Sedangkan bebagai peserta didik, yang melakukan aktivitas belajar +7 jam perhari, siswa juga dihadapkan pada sejumlah tugas-tugas akademik dan aktivitas aktivitas minat ekstrakurikuler, sebagai wadah pengembangan potensi dan bakat diri. Pagi berangkat kesekolah, siang pulang kerumah,sore belajar malam mengerjakan PR, dini hari mempersiapkan pralatn sekolah. Disamping itu, tidak sedikit juga siswayang memanfaatkan waktu senggangnya untuk berorgansasi, membantu orang tua, dan bekerja untuk memenuhi biaya sekolah. Bila dibayangkan , begitu muliannya, betapa banyak tenaga dan fikiran yang harus dikeluarkannya untuk itu semua. Dalam kondisi seperti ini, siswa perlu memmerhatikan berbagai hal berbgai hal yang terkait denga cara bagaimana bisa belajar efektif, tanpa ada gangguan berarti secara bio-psikososial dan tercapai semua yang diorentasikan, baik secara akademuk dan maupun sosial.

       Belajar memang tidak hanya proses untuk memperoleh kepandaian atau lmu, tapi juga untuk mengubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBOI, 1989: 13). Bigg, misalnya mengertikan belejar sebagai tiga fungsi yaitu;
1)      Kegiatan pengisisan kemampuan kognitif realitas atau fakta, sebanyak-banyaknya (aspek kuantitatif)[4]
2)      Proses palidasi atau pengabsahan terhadap ppestasi yang dicapai (aspek institusional)
3)      Belajar merupakan proses perolehan arti dan pemahaman serta cara-cara untuk menafsirkan Dunia disekeliling siswa. Sehingga dengan berbekan pengetahuan dan pengalaman tersebut, terjadi engubahan tingkah laku dan gaya berpikir (aspek kualitatif)
     Di samping itu, belajr juga diartikan sebagai prses mengubah, mereduksi, memerinci, menyimpan, dann memekai setiap masukan (infut) pengetahuan yang datang dari alata indra sebagai enejan fungsi kognitif. Karena bagian paling mendasardari kognisi manisia adalah representation of knowledge, atau bagaimana informai yang bersal dari pengalaman-pengalaman sensorik di simbolkan dan di kombinasikan dengan suatu yang tersimpan dalam otal. Pendapat ini dikemukakan oleh Solso (Solso, 1991 : 9 ).
     Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajr adalah proses pengubahan individu (secara kognitif, efektif dan psikomotorik) yang relatif permanen akibat danya latihan, pembelajaran atau pengetahuan konkret sebagai produk adanya interaksi dengan lingkungan luar. Belajar tidak lain adalah pematangan fungsi kognitif, dan kognitif adalh peta pikir otak yang menghubungkan antara aspek internal dan eksternal, hingga tercipta pengetahuan. Dan begitu, otak adalah pusat segala kegiatan dan minat manusia diatur dan dikendalikan.” Otak adalah seorang seniman, seorang ahli kimia, seorang ahli teknik, ia terus bekerja menyusun dan mengatur dirinya sendiri. Ia bukan saja tempat penyimpanan yang paling efektif di dunia, melainkan juga pencatat kejadian dan pengurus perpustakaan yang episien kecepatannya belum tertandingi oleh komputer manapun” (H. Benson dalam Paisak, 2003 : 57 ).
      Dalam proses belajar, berpikir, sebagai hasil kerja otak,, merupakan hal yang terpenting dan banyak berperan. Agar fungsi kinerjannya bisa dioptimalkan: sebagai drive sebagai gaya pikir adftif dan sehat, yang beriorentasi pada peningkatan hasil belajar siswa, terutma dalam mengembangkan kecerdasan-kecerdasannya, maka aspek ini perlu mendapatkan perhatian lebih. Dengan demikia, otak itu sangat terpengaruh bagi proses dan hasil belajar siswa.
     Menurut Paisak (2003 : 17 ), dalam otak menusia itu terdapat 7 kecerdasan, yaitu linguistik, matematika, spesial.kinestik, musik, intrpribadi, dan antarpribadi,. Semua potensi ada pada manusia, namun kadarnya berbeda. Sesorang munkin saja memiliki satu kecerdasa yang menonjol, tapi kadar kecerdasan lainnyarendah. Musisi seperti Iwan Fals, EwinGutawa, Ebiet G. Ade , dan Yovie Widianto adalah sejumlah orang yang memiliki kecerdasan musik yang tinggi, tetapi mungkin saja kecerdsan matematikamereka rendah.
      Memang, peredaban suat bangsa yang maju ditandau oleh pendidikan yang maju pula. Namun sayang, orientasu pendidikan di indonesia cendrung mengoptimalkan satu adau du kecerdasan saja ( matematika dan linguistik). Fokusnya lebih pada otalk sebelah kiri yang bertanggung jawab atas konpertensi numerikdan bahasa, itu saja masih belum optimal. Penghargaanpun masih terpakuuntuk dua kecerdasan itu saja.tapi ironisnya, dalam perkembangannya, salah satu dari dua kecerdasan ini banyak malah menimbulkan masalah dan perlu mendapat perhatian serius dari para ahlidan pendidik.
     Berdasarkan dari hasil penelitin di indonesia, di temukan bahwa tingkatpenguasaan peserta didik dalam matematika pada semua jenjangpendidikan maih sekitar34%. Ini sangta memperhatinkan. Anggapn masyarakat, khususnya dikalangan pelajar, matematika masuh merupakanmata pelajaran sulit, membingungkan bahkan sanagt di takuti oleh sebagian besar pelajar. Tahun 2000 lalu international Assocation of edication Evaluationin Achievement (IEA) menerbitkan hasil survei prestasi belajar matematika dan IPA bagi siswa-siawa sekolah usia 13 tahun di 42 negara, dan Indonesia berada pada posisi ke-39 untuk kemampuan IPA dan ururtan ke-40 untuk prestasi belajar matematika. Ini menunjukan bahwa mutu pendidikan kita memang sangat mengkhwatirkan (Kompas, 2001).
      Matematika oleh sebagaian besarvsiswa masih dianggap sebagai momok, ilmu yang kering,teoetis, penuh dengan lambang-lambaang,rumus-rumus yang sulit dan sangat membngungkan.akinatnta, matematika tidaklagi menjadi disiplin ilmu yang objektif sistemati, tapi justru menjadi bagian yang sangat subjektif dan kehilangan sifat netralnya. Repotnya lagi, kondisi tersebut di perparah oleh sikap guru pengjar matematika yang sering berprilaku killer, galak, mudah parah, suka mencela, menoton, dan terlalu cepat dalam mengajar.
      Pranato, salah satu pemerhati pendidikan matematika dan dosen matematikaITB, menyebutnya, “selain kurang bervariasinya pola pengejaran yang ada, ketakutan anak didik pada matematika juga disebabkan oleh pola pengajaran guru yang otoriter, yang menganggap siswa yang banyak bertanya sebagai hal yang kurang ajardan tidak patuh pada pola pengejaran guru. Disamping itu, juga dises=babkan ileh tekanan berlebihan pada hapalan, kecepatan berhitung dab prestasi individu, sertabanyaknya guru pengajar mata pelajaran ini yang tidak mengetahui proses terpenting dalam bermatematika adalah nalar, bukan kemampuan berhitung, dan mereka menganggap siswa yang tidak bisa berhitung tidak pinter matematika” (Wirasto, 1987).
      Secara umum, tujuan diberikannya matematika di sekolah  adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar bisa menghadapai perubahan kehidupan  dan dunia yang selalu berkembang dan sarat perubahan, melalui latihan bertindak atas dasr pemikiran logis, rasional, , dan kritis. Juga untuk memersiapkan siswa agar dapat bermatematika dalam kehidupan sehari-hari, mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi dan seni(IPTEKS0. Sedangkan penekanan tujuan umum pembelajarn matematik disekolah adalah penataan nalaar, pembentukan sikap siswa dan keteramplan dalam penerapan ilmu matematika (Depdikbud, 1995).
     Namun sejauh mana tujuan pendidikan matematika disekolah sudah dapat direalisasikan? Inilah kirannya yang masih menjadikeprihatinan kita bersama,. Sebab, banyak kesulitan yang ada dan merambah hamoir keseluruh komponen pembelajaran matematika, mulai dari faktor intern (siswa, guru, kurikulum, sarana, dan prasarana yang belum memadai) sampai pada faktor ekstern ( pentingnya peran orang tua dan lingkungan ). Dalam hal ini, psikolog Alva Handayani menyebutkan, peranan orang tua sangat dibutuhkan untuk mengatsi foia matematika anak. Menurutnya, mengajar matematika bukan sekadar mengenalkan angka dan menghapalnya, namun bagaimana anak didik memahami kebermaknaan matematika dengan arahan, dukungan, dan bimbingan orang tua dirumah(Marpaung, 1998).
Menurut Drost (1998), kurikurum SMU diindoesia hanya dapat diikiti oleh 30 persen siswanya. Kurikulum matematika yang padat, menyebabkan pengajaran matematikadisekolah-sekolah cndrung didominasi proses transfer of knowledge sajadan tidak memberikan kesempatan kepda siswa untuk menetukan sebdirikearah mana mereka berksplorasi dan menemukan pengetahuan yang bermakna bagi diri mereka . selain itu, kurikulum matematika juga kurang sistematis dan tumpag tindih. Keterkaitan antara ssatu bidang studi dan bidang studi lain tampaknya juga kurang diperhitungkan secara matang. Sebagai contoh , di SMU, dalam penyelesaian sistem persamaan linear (SPL), determinan matriks lebih dahulu diberikan dari pada bahasa tentang matriks. Padahal, determinan matriks tercakup dalam pokok bahasan matriks, serta contoh-contoh yang lain (Sriyano dalam BASIS, 2004: 46)
     Dari uarain diatas, dapat di ketahui bahwa disamping begitu berat beban belajar yang harus di selesaikan siswa untuk setiap jenjang pendidikan yang dilalui, arah pendidikan diindonesia yang masih menenangkan kerja otak kiri (otak rasional) yang menyimpan dua kecerdasan matematis dan bahaasa dan seriusnya komplelsitas permasalahan pendidikan dan pembelajaran matematika, kirannya problem otak yang belum dipungsikan secara optimal (engan sejumlah potensi yang dimiliki) juga perlu mendapat perhatian serius dan di carikan alternatif pemecahannya.
      Senam otak ( brain gym), kirannya dapat dijdikan sebagai salah satu solusi penting, agar otak bisa fungsikan secara optimal. Karena bukan hanya tubuh yang bisa disehatkan, otak bisa juga di sehatkan. “senam otak bermanfaat menjadikan otak bekerja lebih efisien. Sehingga, otak akan membutuhkannlebih sedikit enerki ketika akaan bekerja. Ni juga akan membuat otak bekerja lebih ringan, dan tidak mudah mengelami kelelahan, “ begitu kata Mangungson, Psokolog UI (Jawa Pos, 1005). Brain gym, merupakan serangkaian gerak sederhana yang menyenangkan dan di gunakan oleh para murid di Educational Kinesology (Edu-K), untuk meningkatkan kemampuan belajarmereka dengan menggunakan keseluruhan otak. Geraakan-gerakan dalam senam itu membuat segala macam pelajaran menjadi lebih mudah, dan terutama sangat bermanfaat bagi kemampuan akademik.
      Edu-K merupakan suatu sistem yang memberdayakan semua orangyang belajar, tana harus umur, dengan menggunakan aktivitas gerakan-gerakan untuk mengeluarkan seluruh potensisesorang. Prinsip brain gym adalah cross the mind line, yang melibatkan hampir seluruh bagian tubuh; mata, tangan, kaki, perut, dan sebagainnya. Seperti menyilangkan kaki kanan pada kaki kiri, yang dipadukan dengan gerakan tangan kiri yang menyilang pada tangan kanan (cross crawl). Ini dilakukan secara bergantian tangan kiri hitungan dua kali delapan. Perpaduan gerakan ini membuat otak kanan dan kiri aktifsecara kebersamaan dan menghasilkan kerja luar biasa. Gerakan brain gym dapat membantu banyak orang; anak-anak, pemuda, sampai orang tua, untuk mengoptimalkan kemampuan belajarnya, dengan pembagian otak kedalan tiga  fungsi yakni, dimensi lateralis (otak kiri kanan), dimensi pemfokusan (otak dpan belakang), serta dimensi pemusataan (otak atas bawah), lengkap dengan geraka-gerakanpenggugahnya (Paul E & Gail E Dennison, 2005)
PENUTUP
A.    Kesimpulan
      Matematika adalaah bahasa simbolis untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatifdan keruangan, perhitungan matematika dan keruanagan, yang memudahkan manusi berpikir dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
     Hasil belajar matematika ada dua macam. Perhitungan matematika dan penalaran matematika. Ada tiga elemen bidang studi matematika. (1) konsep. (2) keterampilan, dann (3) pemecahan masalah. Ada empat pendekatan yang paling berpengaruh dengan pengajaran maematika, (1) urutab belajar yang bersifat perkembangan,, (2) belajar tuntas, (3) strategi belajr dan (4) pemecahan masalah.
     Kesulitn belajar matematika sering di sebut juga disleksia, dan kesulitan belajar matematika sering di sebut juga disleskia,dan kesulitan belajar matematika yang berat di sebut aleksia.Ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika, (1) gangguan dalam memahami memahami hubungan keruanagn, (2) abnormalitas persepsi visual,(3) gangguan asosiasi visual-motor,(4) perseverasi, (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol, (6) gangguan penghayatan tubuh, (7) kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan (8) sekor PIQ yang jauh lebih rendah, dari pada sekor VIQ.
     Ada beberapa kekeliruan umum yang dilakukan oleh anak erkesilitan belajar matematika yaitu, dalam memahami simbol, nilai tempat, perhitungan , penggunaan proses yang keliru,, dan tulisan yang tidak dapat dibaca.
     Asesmen kesulitn belajar matematik dapat dilakukan secara informaldan/atau secara formal. Instrumen asesmen formar memerlukan pengujian validitas dan realibitas.
     Ada beberapa prinsip pengajaran remedial matemayika, yaitu; (1) perlunya menyiapkan  anaka untuk belajar matematika, (2) mulai dari yang konkret ke yang abstrak, (3) kesempatan untuk erlatih dan mengulang yang cukup, (4) generalisasi ke berbagai situasi baru, (5) bertolak dari kekuatan dan kelemahan siswa, (6) perlunya membangun fondasi yang kuat tentang konsep dan keteramplan matematiaka,  (7) penyediaan program matematika yang seimbang, dan (8) gangguan kalkulator untuk menanamkan penalaran matematika.





Hasil/pertemuan Penelitian Dan Analisis.
Hasil/pertemuan Penelitian
Pertemuan yang sata dapat dari judul yang saya buat tentang kesulitan belajar matematika di madrasah kelas 1 MTS ISLAAH AL-UMMAH thn 2017/2018 adalah
a.       Kesulitan dalam Berbicara dan Berbahasa
Ø  Keterlambatan dalam hal membaca
Ø  Keterlambatan dalam Hal Menulis.
Ø  Keterlambatan dalam Hal Menulis.
Analisis.
Jadi yang saya ketahui tentang kesulitan belajar matematika di madrasah kelas 1 dia selalu kesulitan tentang mengenai pembagiian, penjumlahan, pengurangan dan perkalian, juga kesulitan bagi para siswa dalam mengerjakan trigonometri dan saya mengajari mereka dengan caranya mudah dalam mengerjakan matematika seperti mereka kesulitan mengenai penjumlahan.
















DAFTAR PUSTAKA
1.      Dr. Molyono Abdurrahman, 2003, PENDIDIKAN Bagi Anak Berkesulitan Belajar, jakarta: PT RINEKA CIPTA.
2.      Dr. Muhibbin Syah, M.ED. 2010, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT REMAJA ROSDAKARTA.
3.      Derek Wood, dkk. 2009, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar, Jogjakarta : KATA HATI.
4.      Moch. Masykur Ag dan Abdul Halim Fathani, 2007, Mathematical Intelligence, Jogjakarta : AR-RUZZ MEDIA.


LAMPIRAN












[1] Mulyono Abdurrahman , Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, penerbit PT RINEKA CIPTA, thn.2003, hal.251-252

1Muhibbina Syah, Psikologi Pendidikan, Penerbit PT REMAJA ROSDAKARYA Bandung, th. 1995 s.d 2009, hal.169-170.
1Derek Wood, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar, Penerbit KATAHATI Jogjakarta, thn.2009, hal.23
1  Masykur  dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Intelligence, penerbit Jogjakarta  R-RUZZ MEDIA, thn 2007, hal. 31

0 komentar:

Posting Komentar

RPP tentang SITEM PETIDAKSAMAAN LINIER TIGA VARIABEL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : MA. Ittihadil Ummah Mata Pelajaran/Tema : Matematika/Sistem Persamaan dan Pe...