KESULITAN
BELAJAR MATEMATIKA
A.
Hakikat
Matematika
Banyak orang yang
mempertukarkan antara matematika dengan aritmetika atau berhitung. Padahal
matematematika memiliki cakupan yang1 lebih luas dari pada aritmetika. Aritmetikan hanya
merupakan bagian dari matematika. Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di
sekolah, matematiaka merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh
para siswa, baik yang tidak berkesulitan belajar dan lebih-lebih bagi siswa
yang berkesulitan belajar.
Menurut[1] Johnson dan Myklebust (1967: 244), matematika
adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan
hubungan-hubungan kuantitatip dan keruangan sedangkan fungsi teoretisnya adalah
untuk memudahkan berpikir. Lerner (1988: 430) mengemukakan bahwa matematika di samping sebagai bahasa
simbolis juga merupakan bahasa
universal yang memungkin manusia,
memikirkan, mencatat, dan mengmukakan bahwa matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamaanya
adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara
bernalar induktif.
Menurut
Paling (1982: 1), ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada
pengalaman dan pengatahuan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika
hanya perhitungan yang mencakup, tambah, kurang, kali dan bagi; tetapi ada pula
yang melibatakan topik-topik seperti aljabar, geometri, dan trigonometri.
Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang
berkaitan dengan berpikir logis. Selanjutnya, paling mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk
menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia; suatu cara
menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan
tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung,
dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam
melihat dan menggunakan hubunga-hubungan.
Berdasarkan pendapat Paling tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk
menemukan jawaban atas tiap masalah yang dihadapinya , manusia akan menggunkan
(1) informasi yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi; (2) pengetahuan
tentang bilangan , bentuk dan ukuran; (3) kemampuan untuk menghitung; dan
(4)kemampuan untuk mengingat dan menggunakan hubungan-hubungan.
Dari
berbagai pendapat tentang hakikat matematika yang telah di kemukakan dapat di
simpulkan bahwa definisi tradisional yang menyatakan bahwa matematika sebagai
ilmu tentang kuantitatis (the science of quantity) atau ilmu tentang ukuran
diskrit dan berlanjut ( the science of discrate and continous) (Runes, 1967: 189) telah di tinggalkan.
Dari berbagai pendapat
yang telah dikemukakan menunjukan bahwa secara komtemporer pandangan tentang
hakikat matematika lebih di tekankan pada metodenya dari pada pokok persoalan
matematika itu sendiri.2
Bidang
studi matematika yang diajarkan di SD mencakup tiga cabang, yaitu aritmetika,
aljabar, dan geometri. Menurut Dali S. Naga (1980: 1), aritmetika atau berhitung
adalah cabang matematika yang berkenaan dengan sifat hubungan-hubungan
bilangan-bilangan nyata dengan perhitungan mereka terutama menyangkut
penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Secara singkat aritmetika
atau terhitung adalah pengetahuan tentang bilangan.
Dalam
perkembangan aritmetika selanjutnya, penggunaan bilangan sering diganti dengan
abjad. Penggunaan abjad dalam aritmetika inilah yang kemudian di sebut aljabar
(Dali S. Naga, 1980:29). Aljabar ternyata tidak hanya menggunakan abjad sebagai lambang bilangan yang di
ketahui atau yang belum di ketahui tetapi juga menggunakan lambang-lambang lain
seperti titik-titik (contoh: 3 + ... =5), lebih besar(>), lebih kecil
(<),dan sebagainya.berbeda dari aritmetika dan aljabar,geometri adalah
cabang matematika yang berkenaan dengan ttitik dan garis (Aleks Maryunis: 1989:24). Itik adalah
pernyataan tentang posisi yang tidak memiliki panjang dan lebaar sedangkan
garis hanya dapat di ukur panjangnya.
Matematika
merupakan bidang studi yang dipelajari semua siswa dari SD hingga SLTA dan
bahkan juga di perguruan tinggi. Ada banyak alasan tentang perlunya siswa
belajar matematika. Cornelius ( 1982:38 ) mengemukakan lima alasan perlunya
belajar matematika karena matematika merupakan (1) sarana berpikir yang jelas
dan logis, (2) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari , (3)
sarana pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana untuk
mengembangkan kreativitas, dan (5) sarana untuk meningktkan kesadaran terhadap
perkembangan budaya.
Cockroft
(1982: 1-5) mengemukakan bahwa matematika yang diajarkan kepada siswa karena
(1) selalu di gunakan dalam segala segi kehidupan; (2) semua bidang studi
memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupaka saranankomunikasi yang kuat, singkat dan jekas;
(4) dapat di gunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5)
meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan; dan
(6) memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang. Berbagai
alasan perlunya sekolah mengajarkan matematika kepada siswa pada hakikatnya
dapat di ringkaskan karena masalah kehidupan sehari-hari. Menurut Liebeck
(1984: 12) ada dua hitungan matematis (mathematics
calculationa) dan penalaran matematis (mathematics
resoning) . berdasarkan hasil belajar matematika semacam itu maka Lerner
(1988: 430) mengemukakan bahwa kurikulum bidang studi matematika hendaknya
mencakup tiga elemen, (1) konsep, (2) keterampilan dan (3) memecahkan masalah.3
Konsep
menunjukan
pada pemahaman dasar. Siswa mengembangkan suatu konsep ketika mereka mampu
mengklasifikasikan atau mengelompokkan benda-benda atau ketika mereka dapat
mengasosiasikan suatu nama dan kelompok benda tertentu. Sebagai contoh anak
mengenal konsep segitiga sebagai suatu bidang Yng di kelilingi oleh tiga garis
lurus. Pemahaman anak tentang konsep segitiga dapat di lihat pada saat anak
mampu membedakan berbagai bentuk geometri lain dari segitiga. Contoh lain
adalah, ketika anak menghiting perkalian 2 x 10 = 20, 3 x 10 = 30 dan 4 x 10 = 40, anak
memahami konsep perkalian 10 yaitu bilangan tersebut 0. Jika konsep menunjukan
pada pemahaman dasar, maka keterampilan menunjuk
pada suatu yang di lakukan oleh seseorang. Sebagai contoh, proses menggunakan operasi
dasar dalam pemjulahan, pengurangan pembagian dan perkalian adalah suatu jenis
keterampilan matematika. Suatu keterampilan dapat dilihat dari kinerja anak
secara baik atau kurang baik, secara cepat atau lambat, dan secara mudah atau
sangat sukar. Keterampilan cenderung berkembang dan dapat di tingkatkan melalui
latihan.
Pemecahan
masalah adalah aplikasi dari konsep dan keterampilan. Dalam
pemecahan masalah biasannya melibatkan beberapa kombinasi konsep dan
keterampilan dalam suatu situasi baru atau situasi yang berbeda. Sebagai
contoh, pada saat siswa diminta untuk mengukur luas selembar papan, beberapa
konsep dan keterampilan ikut terlibat. Beberapa konsep yang terlibat adalah
bujursangkar, garis sejajar dan sisi; dan beberapa keteramplan yang terlibat
adalah keterampilan mengukur, menjumlahkan, dan mengalikan.
Dalam
dunia pendidikan matematika diindonesia di kenal adanya mateamatika moder. Pada
sekitar tahun1974 matematika modern mulai diajarkan di SD sebagai pengganti berhitung.
Matematika modern lebih menekankan pada pemahaman struktur dasar sistem
bilangan dari pada mempelajari
keterampilan dan fakta-fakta hafalan. Pelajaran matematika modern lebih
menekankan pada mengapa dan bagaimana matematiaka elalui penemuan
dan eksolorasi. Pengajaran semacam itu agaknya telah mengabaikan beberapa aspek
dari psikologi belajar dan kurang menguntungkan bagi anak berkesulitan belajar.
Karena
adanya berbagai keulitan tentang matematika modern maka muncul gagasan untuk
kembali ke berhitung. Sesungguhnya persoalannya bukan terletak pada nama
matematika atau berhitung, tetapi terletk pada materi yang ahrus diajarkan dan
pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran. Nama matematika bukan merupakan
persoalan krena berhitung adalah bagian dari matematika. Di Amerika Serikat
sendiri telah muncul4
gerakan keterampilan dasar (basic skills
movement) yang mencerminkan kekecewaan terhadap matematika modern dan mengusulkan agar lebih menekankan pada
keterampilan menghitung. Gerakan back-to-basics
mengusulkan agar kembali menekankan pada pengajaran komputasi matematika
(Lerner, 1988: 435). Meskipun anak-ank berkesulitan belajar tampak mendapat
keuntungan dari program yang secara langsung mengajarkan keterampilan menghitung atau kalkulasi, keterampilan ini hanya merupakan
sebagian dari pendidikan matematika. Konsep, keterampilan, dan pemecahan
masalah matematika adalah keseluruhan elemen esensial dari belajar matematika ,
dan karena itu harus tergabung dalam kurikulum.
Dewan nasional untuk pengajaran matematika di
Amerika Serikat seperti dikutip oleh lerner (1918 : 436 ) mengusulkan agar
kurikulum mencakup mencakup 10 keyerampilan dasar sbb;
(1)
Pemecahan masalah
(2)
Penerapan matematika dalam situasi
kehidupan sehari-hari
(3)
Ketajaman perhatian terhadap kelayakan
hasil
(4)
Perkiraan
(5)
Keterampilan perhitungan yang sesuai
(6)
Geometro
(7)
Pengukuran
(8)
Membaca menginterpretasikan, membuat
tabel, cart, dan grafik
(9)
Melek komputer (comuter literacy)
Ada beberapa pendekatan
dalam pengajaran matematika, masing-masing di dasarkan atas teori belajar yang
berbeda. Ada empat pendekatan yang paling berpengaruh dalam pengajaran
matematika yaitu, (1) urutan belajar yang bersifat berkembang (development learning sekuences), (2)
belajar tuntas (materi learning), (3)
strategi belajar (learning strategies),
dan (4) pemecahan masalah (problem
solving).
Pendekatan
urutan belajar yangbersifat berkembang menekankan pada
pengukuran kesiapan belajar siswa, penyediaan pengalaman dasar, dan pengajaran
matematika prasyarat. Pendekatan ini banyak di pengaruhi teori perkembangan
kognitif Piaget. Mengingat kemampuan kognitip dan segala sesuatu yang terkait
dengan berpikir berbrda-beda untuk tiap tahap perkembangan, maka guru harus
menyesusaikan bahan pelejaran dengan tahap perkembangan anak. Ini bereti bahwa
tidak ada manfaatnya mengajarkan konsep atau keterampilan matematika sebelum
anak mencapai tahap perkembangan tersebut karena tidak berhasil.5 Teori ini juga menjelaskan
perlunya pengajaran matematika dimulai dari benda atau peristiwa konkret,
menutu ke semi konkret, baru akhinya ke abstrak.
Pendekatan
belajar tuntas menekankan pada pengajaran matematika
melalui pembelajaran langsung (direct
intruction)mdan struktur. Adapun langkah-langkah pendekatan belajar tuntas
dalam bidang studi matematika adalah sbb;
(1)
Menentukan sasaran atau tujuan
pembelajaran khusus. Sasaran tersebut harus dapat diukur dan diamati. Sebagai
conto “ siswa dapat menuliskan jawaban terhadap 25 soal perkalaian 1 sampai 7
dalam waktu 10 menit dengan 100% benar.
(2)
Menguraikan langkah-langkah yang di
perlukan untuk mencapai tujuan.
(3)
Menentukan langkah-langkah yang sudah di
kuasai oleh siswa. Misalnya, siswa telah mampu menyelesaikan soal-soal
perkalian 1 hingga 5 dengan mudah, dan dapat menyelesaikan soal-soal perkalian 6
dan 7 acara lamabat.
(4)
Mengurutkan langkah-langkah untuk
mencapai tujuan. Sebagai contoh, jika siswa telah dapat menyelesaikan soal-soal
perklian 1 sampai 5 dengan mudh dan erkalian 6 sampai 7 secara lambat, maka
pembelajaran yang diperlukan hanya melatih kecepatan siswa dalam menyelesaikan
soal-soal perkalian 6 dan 7.
Program matematika yang
didasarkan atas pendeatan belajar tuntas memiliki struktur bertaraf tinggi, di
urutkan secara sistematis, dan memerlukan pembelajaran yang sangat langsung.
Mengingat sifat matematika yang berurutan maka pendekatan belajar tuntas sangat
sesuai dengan kurikulum matematika.
Pendekatan
strategi belajar memusatkan pada pengajaran bagaiamana belajar
matematika (how to learnmathematics)
. pendekatan ini membantu siswa untuk mengembangkan strategi belajar
metakognitif yang mengarahkan proses mereka dalam belajar matematika.siswa
diajak belajar menantau pikiran sendiri dan di dorong untuk mengatakan kepada
diri sendiri, mengajukan pertannyaan kepada diri sendiri, sebagai suatu metode
untuk meningkat berpikir dan menfroses informasi. Sebagai contoh, siswa bertanya “apa yang
hilang?” atau “apakah harus menjumlah atau mengurangkan?” Atau siswa dapat
memberi komentar, “ Oh saya pernah mengerjakan soal semacam ini pada waktu yang
lalu, tetapi keliru “ atau mengatakan “saya harus menggambarkan ini kepada
kertas supaya saya dapat melihat apa yang hilang.” Banyak anak berkesulitan
belajar yang6
memiliki kekurangan dalam strategi belajar kogninip yang sangat di perlukan
untuk blajar matematika. Oleh karena itu di perlukan pembelajaran matematikan
menggunakan strategi ini.
Pendekatan
pemecahan masalahmmenekankan pada pengajaran untuk
berpikir tentang cara memecahkan masalah dan emrosesan informasi matematika.
Dalam menghadapi masalah matematika, khususnya soal cerita, siswa harus
melakukan analisis dan interpretasi informasi sebagai landasan untuk menentukan
pilihan dan keputusan. Dalam memecahkan masalah matematika, siswa harus
menguasai cara mengaplikasikan konsep-konsep dan menggunakan keterampilan
komputasi dalam berbagai situasi baru yang berbeda-beda. Pemecahan masalah
sering melibatkan beberapa langkah. Sebagai contoh, dlam mengukur luas selembar
papan, siswa harus memahami konsep bujusangkar dan sisi-sisi sejajar; dan
memiliki keterampilan dalam mengukur, menjumlah dan mengalikan. Dalam
pendekatan pemecahan masalah, Fleischaer, Nuzum dan Marcola seperti yang
dikutip oleh Lerner ( 1988 : 439 ) menyarankan agar siswa di perbolehkan menggunakan
kalklolator. Penggunaan kalkulator dimaksudkan agar siswa dapat memusatkan
perhatiannya pada pemecahan masalah, dan tidak terpusat pada komputasi. Dalam
melaksanakan pendekatan ini, siswa di beri kartu saran guna membantu siswa
dapat memecahkan masalah matematika yang berisi langkah-langkah sbb;
(1)
Baca
:
apa yang ditanyakan?
(2)
Baca
kembali : informasi
apa yang diperlukan?
(3)
Pikirkan
:
(a)
Meletakkan bersama = menambah
(b)
Memisahkan = mengurang
(c)
Apakah saya memerlukan semua informasi
tersebut?
(d)
Apakah in soal matematika dua langkah ?
(4)
Pemecahan
masalah :tulis
persamaan tersebut !
(5)
Periksa
:hitung
kembali dan bandingkan!
Kennedy sperti di kutip oleh Lovit ( 1982 : 279 )
menyarankan empat langkah proses pemecahan masalah matematika, yiti;
(1)
Memahami masalah
(2)
Merencanakan pemecahan masalah
(3)
Melaksanakan pemecahan masalah dan
(4)
Memeriksa kembali
Dalam menyelesaikan
soal-soal cerita banyak anak yang mengalami banyak kesulitan. Kesulitan
tersebut tampak terkait dengan pengajaran7 yang
menutut anak membuat kalimat mateamatika tanpa lebih dahulu memberikan petunjuk
tentang langkah-langkah yang harus di tempuh sebagai contoh, dapat di kemukakan
sebagai berikut :
Ibu membeli 10 butir telur yang harganya 100,00 tiap
butirdan 2 kg gula yang harganya Rp 1.00,00 tiap kg. Ibu membayar barang-barang
tersebut dengan uang Rp 10.000,00.
Berapa uang yang kembali di terima oleh ibu?
Kalimat matematika : 10.000 – 10 X 100 + 2 X 1.000 =
7000
Bagi anak yang
berkesulitan belajar, dan bahkan juga bagi anak yang tidak berkesulitan
belajar, menyelesaikan soal cerita semacam itu bukan pekerjaan yang mudan. Di
samping itu, anak juga tidak terltih untuk menyelesaikan masalah matematikaa
secara sistematis. Oleh karena itu, pendekatan pemecahan masalah dengan
langkah-langkah yang telah di kemukakan tampaknya lebih baik untuk di gunakan
baik bagi anak yang berkesulitan belajar maupun yang tidak berkesulitan
belajar.
Empat pendekatan pembelajaran matematika yang telah
di kemukakan implikasi bagi anak yang berkesulitan belajar matematika. Empat
macam pendekatan tersebut dapat di
gunakan secara gabungan untuk membantu anak berkesulitan belajar matematika.
Adapun implikasi dari keempat pendekatan tersebut adalah;
(1)
Guru harus menyadari taraf perkembangan
siswa. Anak-anak berkesulitan belajar amtematika memerlukan lebih banyak
pengalaman denagan belajar prabilangan sebagai lndasan belajar matematika. Anak
tidak dapat diharapkan melakukan penalaran abstrak tanpa perkembangan dan
pengalaman prasyaray.
(2)
Anak berkesulitan belajar matematika
memerlukan pendekatan belajar tuntas tntang berbagai konsep melalui
pembelajaran langsung yang terstruktur yang terancang secara sistematis. Proses
analisis tugas, menetapkan tujuan khusus, dan merancang urutan pembelajaran
adalah esensial. Di samping itu, alikasi waktu yang cukup untuk mempelajari
tiap langkah urutan juga merupakan agis yang perlu di perhatikan oleh guru.
(3)
Pendekatan strategi belajar telah
terbuki efektif dalam membantu anak berkesulitan belajar. Siswa harus di dorong
untuk bertanya kepada diri sendiri tentang berbagai pertanyaan agar secara
kognitif mereka memproses informasi sebagai strategi pemecahan masalah, dan
mengembangkan pendekatan mereka sendiri dalam belajar dan berpikir tentang
matematika.8
(4)
Bagu sebagian besar anak berkesulitan
belajar, pemecahan masalah merupakan bagian yang paling sulit dalam pelajaran
matematika. Oleh karena itu, binbingan dan lathan yang cakup sangat diperlukan
untuk belajar mengkombinasikan berpikir dan berbahasa dengan keterampilan
menghitung dan konsep-konsep yang di perlukan dalam pemecahan masalah
matematika.
B.
Karakteristik
Anak Berkesulitan Belajar Matematika
Kesulitan
belajar matematika di sebut juga diskalkulia ( dyscalculis ) ( Lerner, 1988 : 430 ). Istilah diskalkulia memiliki
konotasi medis, yang memandang adanya keterkaitan dengan gangguan sistem saraf
pusat. Kesulitan belajar matematika yang berat oleh Kirk (1962 : 10 ) di sebut
akulkulia (acalculia).
Menurut Lerner (1981: 357 ) ada berapa karakteristik anak
berkesulitan belajar matematika yaiti (1) adanya gangguan dalam hubungan
keruanagan, (2) abnormalitas persepsi visual, (3) asosiasi visual-motor, (4)
perseverasi, (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol, (6)gangguan penghayatan
tubuh, (7) kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan (8) Perpomence IQ jauh lebih
rendah dari pada sekor Verbal IQ.
a. Gangguan
Hubungan Keruangan
Konsep hubungan keruangan seperti atas bawah,
puncak-dasar,jauh-dekat,tinggi-rendah,depan belakang,dan awal-akhir umumnya
telah dikuasai oleh anak pada saat mereka belum masuk SD. Anak–anak memperoleh
pemahaman tentang berbagai konsep hubungan keruangan tersebut dari pengalaman
mereka dalam berkomunikasi dengan lngkungan sosial mereka atau melalui berbagai
permainan.
Tetapi sayangnya, anak berkesulitan untuk
belajar sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan lingkungan sosial
juga sering tidak mendukung9 tersenggelaranya suatu situasi yang
kondusif bagi terjalinnya komunikasi antara mereka. Adanya kondisi instrinsik
yang di duga karena disfungsi otak dan kondisi ekstrinsikbrupa lingkungan
sosial yang tidak memunjang terselenggaranya komunikasi dapat menyebabkan anak
mengalami gangguan dalam memahami konsep –konsep hubungan keruangan. Adanya
ganguan dalam memahami konsep-konsep hubungan keruangan dapat mengganggu pemahamananak tentang sistem
bilangan secara keseluruhan. Akerana danya gangguan tersebut, anak mungkin
tidak mampu merasakan jrak antara angka-angka pada garis bilangan atau
penggarais, dan mungkin anak juga tidak tahu bahwa angka 3 lebih dekat ke angka
4 dari pada keangka 6.
Untuk
mempelajari matematika, anaktidak cukup hanya menguasai konsep hubungan
keruangan, tetapi juga berbagai konsep dasa yang alin. Ada empat konsep dasar
yang harus dikuasi oleh aanak pada saat masuk SD. Keempat konsep dasar tersebut
adalah (1)konsep keruanagan, (2) konsep waktu, (3) konep kuantitas, dan (4) konsep sarbenaka
(Boehm, 1971).
Anak yyang emiliki abnormalitas persepsi visual juga
sering tidak ampu membdakan bentuk-bentuk geometri. Suatu bentuk buju sangkar
mungkin di lihat oleh anak sebagai empat garis yang tidak saling terkait,
mungkin sebagai segi enam, dan bahkan mungkin tampak sebagai linkara. Adanya
abnormalitas persepsi visual semacam ini tentu saja dapat menimbulkan kesulitan
dalam belajar matematika, terutama dalam memahami ebagai simbol.
b. Abnormalitas
Persepsi Visual
Anak
berkesulitan belajar matematika sering mengaami kesulitan untuk melihat
berbagai objek dalam hubungannya dengan kelompok atau set. Kesulitan semacam
itu merupakan salah satu gujala danya abnormalitaspersepsi visual. Kemampuan
melihat berbagai objek dalam kelompok merupakan dasar yang sangat penting yang memungkinkan anak
dapat secara cepat mengidebtifikasi jumlah objek dalam suatu kelompok. Anak
yang mengalami abnormalitas persepsi visual akan mengalami kesulitan bila
mereka diminta untuk menjumlahkan dua
kelompok benda yang masing-masing terdiri dari lima dann empat anggota.
Anak semacam itu mungkin akan menghitung satu persatu anggota tiap kelompklebih
dahulu dalam menjumlahkannya.
Anak yang
memiliki abnormalitas perspsi visualjuga tidak dapat mampu membedakan
bentuk-bentuk geometri. Suatu bentuk bujur sangkar mungkin di lihatoleh anak
sebagai empat garis yang tidak saling terkait, mungkin sebagai segi enam, dan
tampak sebagai lingkaran. Adanya abnormalitas persepsi visual semacam ini tentu
saja dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar matematika, terutama dalam
memahami berbagai simbol.
c. Asosiasi visual-motor
Anak
berkesulitan belajar matematika sering tidak dapat menghitungbenda-benda secara
berurutan sambil menyebutkan bilangannya “Satu10 , dua, tiga, empat,
lima.” Anak mungkin baru memegang benda yang ketiga tetapi mengucapkan “lima”
atau sebaliknya, telah menyentuh benda kelima tetapi baru mengucapkan “ tiga”.
Anak-anak semacam itu dapat memberikan kesan mereka hanya menghapal bilangan tanpa
memahami maknannya.
d. Perseverasi
Anak anak yang
perhatiannya melekat pada suatu objek saja dalam jangka waktu yang relatip
Lama. Gangguan perhatian semacam itu disebut perseverasi. Anak demikian mungkin pada
mulannya dapat mengerjakan tugas dengan bai, tetapi lama kelamaan perhatiannya
meleket pada suatu objektertentu, misanya :
4 + 3 =7
5 + 3 = 8
5 + 2 = 7
5 + 4 = 9
4 + 4 = 9
3 + 4 = 9
Angka 9 diulang beberapa kali tanpa
memperhatikankaitannya dengan sol matematika yang dihadapi.
e. Kesulitan
Mengenal Dan Memahami simbol
Anak
berkesulitan belajar matematika sering mengalami kesulitan daam mengenal dan
menggunakan simbol-simbol matematika seperti +, -, =, >, <, dan
sebagainnya. Kesulitan semacam ini dapat di sebabkan oleh adannya gangguan memori
tetapi juga dapat di sebabkan oleh adanya gangguan persepsi visual.
f.
Gangguan Penghayatan Tubuh
Anak yang
berkesulitan belajar matematika sring memperlihatkan adanya gangguan
penghayatan tubuh (body image ). Anak
demikian merasa sulit untuk memahami hubungan bagiab-bagian dari tubuhnya
sendiri. Jika anak diminta untuk menggambarkan tubuh orang misanya, mereka akan
menggambarkan dengan bagian-bagian tubuh yang tidal lengkap atau menempatkan
bagian tubuh pada posisi yang salah. Misalnya, leher tidak tampak, tangan
diletakkan dikepala, dan subagainya.
g.
Kesulitan Dalam Bahasa dan Membaca
Matematika itu
sendiri pada gakikatnya adalah simbolis ( Johnson & Myklebust, 1967: 244).
Oleh karena itu kesulitan dalam bahasa11 dapat berpengarauh terhadap
kemampuan anak dibidang matematika. Soal matematika yang berbentuk cerita
menuntut kemampuan membaca untuk memecahkannya. Oleh karena itu, anak yang
mengalami kesulitan membaca akan mengalami kesulitan dalam memecahkan soal
matematika yang berbentuk cerita tertulis.
C. Kekeliruan
Umum yang Dilakukan oleh Anak Berkesulitan Belajar Matematika
Agar dapat
membantu anak berkesulitan belajar matematika, guru perlu mengenal berbagai
kesalahan umun yang dilakukan oleh anak dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam bidang
studi matematika. Beberapa kekeliruan umum tersebut menurut Lerner (1981 : 367
) adalah kekurangan pemahaman tentang, (1) simbol, (2) nilai tempat, (3)
erhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, adan (5) tulisan yang tidak
terbaca.
a.
Kekuranagn Pemahaman Tentang Simbol
Anak-anak
umumnya tidak terlalu banyak mengalami kesulitan jika kepada mereka di sajikan
soal-soal12 seperti 4 + 3 =..., atau 8 – 4 =...; tetapi akan
mengalami kesulitan jika dihadapkan pada soal-soal263 seperti 4 +
... = 7 ; 8 = ... + 5 = ; ... + 3 = 6; atau ... - 4 = 7; atau 8 - ... = 5. Kesulitan semacam itu umumnya karena
anak-anak tidak memahami simbol seperti sama dengan (=), tidak sama dengan (=),
tambah (+), kurang (-), dan sebagainya, agar anak dapat menyelesaikan soal-soal
matematika, mereka harus lebih dahulu memahami simbol-simbol tersebut.
b.
Nilai Tempat
Ada anak yang
belum memahami seperti satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya. Ketidak pahman
tentang nilai tempat akan semakin mempersulit anak jika kepada mereka di
hadapkan pada lambang bilangan basis bukan sepuluh. Bagi anak yang tidak
berkesulitan belajarpun banyak mengalami kesulitan untuk memangahami lambang
bilangan yang berbasis bukan puluhan. Oleh karena itu, banyak yang menyerankan
agar pelajaran matemtika di SD lebih menekankan pada aritmetika atau berhitung
yang dapat di gunakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
c.
Pengunaan Proses yang Keliru
Kekeliruan
penggunaan proses perhitungan dapat di lihat pada contuh berikut ini :
1) Mempertukarkan simbol-simbol
2) Jimlah satuan dan puluhan di tulis tanpa memperhatiakan
niali tempat.13
3) Semua digit ditmbahkan bersama (algoritma yang keliru dan
tidak memperhatikan nilai tempat)
4) Digit ditambahkan dari kiri kekanan dan tidak memperhatikan
niali tempat
5) Dalam menjumlahkan puluhan du gabungkan dengan satuan
6) Bilangan yang besar di kurangi bilangan yang kecil tanpa
memperhatikan nilai tempat
7) Bilangan yang telah di pinjem nilainnya tetap. 264
d.
Perhitungan
Ada anak yang
belum mengenal dengan baik konsep perkalian tetapi mencoba menghapal perkalian
tersebut.hal ini dapat menimbulkan kekeliruan jika hapalnya salah. Daftar
perkalian mungkin dapat membantu memperbaiki kekeliruan anak jika anak telah
memahami konsep perkalian.
e.
Tulisan yang Tidak Dapat Dibaca
Ada anak yang
tidak dapat membaca tulisannya sendiri karena bentuk-bentuk hurupnya tidak
tepat atau tidak lurus mengikuti garis. Akibatnya, anak banyak mengalami kekeliruan
karena tidak mampu lagi membaca tulisanya sendiri.
D.
Asesmen
Informasi
tentang kemampuan siswa dalam bidang studi mtematika dapat diketahui melalui
asesmen informasi dan formal. Dalam kasus tertentu mungkin di perlukan
pemakaian kedua jenis asesmen, tetapi dalam kasus yang lain mungkin cukup dalam
asesmen infor,al.
a.
Asesmen Informal
Para ahli di
bidang pendidikan bagi anak berkesulitan belajar umumnya mempercayai bahwa
asesmen informal merupakan cara terbaik untuk memperoleh informasi tentang
kemampuan anak dalam bidang studi matematika. Berbagai observasi terhada
prilaku anak sehari-hari dalam bidang studi matematika, kinerja anak dalam
menyelesaikan pekerjaan rumah, atau tes guru yang dikaitkan dengan kurikulum
atau bukupelajaran dapat menyajikan informasi sebagai dasar pemberian pelayanan
pengajaran remedial.14
Berikut ini
dikemukakan tiga jenis asesmen informal. (1) metode inventori, (2) tes buatan
guru yang di dasarkan atas kurikulum, dan (3) analisis kekeliruan siswa.
1) Inventori
Orosedur
informal dalam bentuk inventori dapat
dibuat oleh guru untuk mengukur keterampilan anak dalam bidang studi matematika
secara cepat. Begitu di temukan adanya kesulitan suatutes diagnostik yang lebih
ekstensif dapa di berikan kepada anak.
2) Asesmen di dasarkan atas kurikulum
Prosedur informal
asesmen yang didasarkan atas kurikulum merupakan suatu cara yang bermanfaat
untuk mengukur kemajuan belajar matematikan. Asesmen yang didasarkan atas
kurikulum terkait langsung dengan yang diajarkan oleh guru di kelas.
Zigmond et ql. (Lerner, 1988: 444 ) merekomendasikan
adanya 12 langkah strategi asesmen yang di dasarkan atas kurikulum idang studi
matematika yang dapat membimbing para guru dari keputusan melakukan asesmen
kerancangan pembelajaran. Langkah-langkah tersebut adalah :
(1) Memutuskan apa yang akan diukur
(2) Memilih atau mengembangkan suatu hirarki keterampilan
(3) Memutuskan dimana memulai
(4) Memilih atau mengembangkan instrumen
(5) Melaksanakan tes
(6) Mengadministrasikan tes
(7) Mencatat
kekeliruan dan gaya kinerja
(8) Menganalisis temuan dan meringkaskan hasil.
(9) Memperkirakan alasan kekeliruan dan menetukan bidang yang
akan di periksa.
(10)
Memeriksa
;
(11)
Melengkapi
catatan dan merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran ; dan266
(12)
melaksanakan
pembelajaran; dan memutakhirkan informasi asesmen.
3) Menganalisis Kekeliruan Siswa
Guru yang mengajar anak berkesulitan
belajar matematika hendaknya mampu menditeksi sebagai tipe kekeliruan siswa
seperti yang telah dikemukakan. Dengan demikian, pembelajaran dapat diarahkan
pada perbaikan kekeliruan-kekeliruan tersebut. Guru harus pekerjaan siswa dan
meminta siswa menjelaskan bagaimana ia sampai pada penggunaan pemecahan masalah
seperti itu. Guru jugaperlu melakukan observasi terhadap cara yang di gunakan
oleh siswa dan melakukan perbaikan terhadapp kekeliruan tersebut.15
b. Instrumen Asesmen Formal
Instrumen
formal mencakup tes yang bersipay umum untuk di gunakan secara individual.
1) Tes Kelompok Baku
Instrumen yang
berupa tes baku yang di gunakan dalam kelompok perlu lebih dahulu diuji
validitas dan reliabitasnya. Tes semacam itu biasannya mencantumkan berbagai
tabel yang menjelaskan macam-macam interprestasi sekor kelas, usia, sekor baku,
dan persentil.
2) Tes Klinis Individual
Tes klinis
individual dirancang untuk diberikan kepada seorang siswa secara individual. Tes
klinis umumnya lebih dapat memberikan informasi diagnostik dari pada tes
ke-lompok, menyediakan dat tentang bidang-bidang khusus kesulitan matematika,
dan lebih memberkan arah dalam penyusunan rancangan pembelajaran.
Pengajaran
remedial matematika harus didasarkan atas prinsip-prinsipbelajar matematika.
Oleh karena itu, bada bagian dibahas berbagai prinsip pengajaranmatematika dan
berbagai aktivitas pengajaran remedial matematika.
a.
Berbagai Prinsip Pengajaran Matematika.272
Ada beberapa
prinsip dalam pengajran matematika. Prinsip-prinsip tersebit tidak hanya
berlaku dalam pengajaran matematika pada umumnya tetapi juga dalam pengajaran
remedial.
1) Penyiapan anak untuk belajar amtematika
2) Maju kekonkret ke abstrak16
3) Menyediakan kesepatan untuk berlatih dan mengulang
4) Generalisasi ke situasi baru
5) Menyadari kekuatan dan kelemahan siswa
6) Membangun pondasi yang kokoh tentang konsep dan
keterampilan matematika.
7) Menyajikan [rogram matematika yang seimbang.
8) Penggunaan kalkulator17
b.
Berbagai Aktivitas untuk Pengajaran Remedial
Aktivitas
pengajaran remedial hendaknya mencakup dua kategori, konsep, keterampilan dan
pemecahan masaalah.
1) Pengajaran Konsep Matematika
Konsep dan
bentuk ukuran dapat diajarjan melalui permainan mamilah. Kepda anak diberikan kepingan papanatau plastk yang
memiliki betuk dan ukuran yang berbeda-beda. Untuk menanamkan konsep bentuk dan
ukuran, anak diminta untuk memilah keoingan-keoingan tersebut berdasarkan bentuk
atau ukurannya. Konsep warna juga dapat ditanamkan melalui permainan ini.
Pemilahan
hendaknya dimulai dari sederhana, yaitu sati sidat saja seperti
bentuknya,ukurannya atau warnanya. Jika pemilahan sederhana telah dapat
dilakukan enhgan dengan baik, permainan dapat ditingkatkan menjadi pemilihan
yang komppleks, misalnya memilahkan kepingan-kepingan yang bentuk dan ukurannya
sama.18
Contoh penggunaan garis bilangan adalah seperti tampak di
bawah ini
.
.
. . .
. . .
. . .
. .
0 1
2 3 4
5 6 7
8 9 10
Konsep tentang
suatu pola dapat diajarkan melalui permainan yang diminta kepada anak-anak untuk menemukan pola dengan memilih
objek-objek dalam suatu urutan yang telah di buat oleh guru. Contohnya adalah
Merah, putih, merah, putih, ...
o * ^ ,
o * ^, o * ^, o .
.
2 4 6
8, 2 4 6 8, 2 4 6 8, 2 . . .
Konsep angka
hendaknya diajarkan dengan cara memperkenalkan angka itu sndiri, jumlah benda
yang menunjuk angka, dan kata yang menunjuk angka tersebut. Sebagai contoh :
O OO
OOO OOOO OOOOO
1 2 3 4 5
Satu dua
tiga empat lima20
2) Pengajaran Keterampilan Matematika.
Anak
berkesulitan belajar sering di sebabkan oleh adanya kekurangan dalam
keterampilan komputasional. Kekurangan tersebut hendaknya dievaluasi untuk
menentukan faktor penyebabnya, misalnya karena faktor verbal, spatial,
perseptual, atau mungkin karena memori. Berbagai keterampilan matematika yang
perlu mendapat perhatian pada awal anak belajar matematika mencakup
penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan pecahan.18[2]
KESULITAN
BELAJAR DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA
Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak
memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik ( academic perfomance ) yang memuaskan. Namun dari kenyataan
sehari-hari tanpak jelas siswa itu mrmiliki perbedaan dalam hal kemampuan
intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiaasaan dan
pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan
siswa lainnya.1
Sementara itu,
penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah kita pada umumnya hanya di
tujukan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang
berkemaampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian,
siswa-siswa yang berketagori “ diluar rata-rata
“ itu ( sangat pintar dan sangaat bodoh ) tidak mendpat kesempatan yang
menaadai untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya. Dari sisni kemuan
timbullah apa yang disebut kesulitan belajar ( leraning diffculty ) yang tidak
hanya menimpa siswa dan berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh
siswa yang berkemampuan tinggi. Selain itu, berkesulitan belajar juga dapat
dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata (normal) di sebabkan oleh
faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainnya kinerja akademik yang
sesuai dengan harapan.
A. Faktor-faktor
Kesulitan Belajar
Fenomena kesulitan belajar seorang siswa
biasannya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi
belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapatd dibuktikan dengan munculnya
kelainan prilaku ( misbehavior )siswa
seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi,
sering tidak masuk sekolah, dan sering minggat dari sekolah.
Secara garis
besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua
macam, yaitu ;
1) Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan mum dari dala
didri siswa sendiri.
2) Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan
yang datang dari luar diri siswa.
Kedua faktor ini meliputi aneka ragam hal
dan kedaan yang antara lain tersebut di bawah ini.
1) Faktor Intern Siswa
Faktor intern
siswa meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko-fisik siswa, yakni :
a) Yang bersifat kogniif (ranah cipta ), antara lain seperti
rendahna kapasitas intelektual/inteligensi siswa;
b) Yang bersifat efektif ( ranah rasa ), antara lain seperti
labilnya emosi dan sikap;
c) Yang bersifat fsikomotor ( ranah rasa ), antara lain
seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar ( mata dan
telinga ).2
2) Faktor Ekstern Siswa
Faktor ekstern
siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkongan sekitar yang tidak
mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat di bagi tiga macam yaitu;
a) Lingkungan
keluarga, contohnya: ketidakharmonisa hubungan antara ayah dengan ibu, dan
rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
b) Lingkungan berkampungan/masyarakat, contohnya
: wilyah berkampungan kumuh ( sluuum area ), dan teman sepermainan (peer group ) yang nakal.
c) Lingkungan sekolah, contohnya ; kondisi dan letak gedung
sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar
yang berkualitas rendah.
Selain
faktor-faktor yang bersifat umum d atas, ada fula faktor-faktor lain yang juga
menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor yang dapat di
pandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disabillity ( ketidak mampuan belajar).
Sindrom (syndrome) yang berarti
satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis ( Reber,
1988 ) yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
a) Disleksiaa (dyslexia),
yakni ketidak mampuan belajar membaca.
b) Disgrafia (dysgraphia),
yakni keyidak mampuan belajar menulis
c) Diskalkulia (dyscalculia),
yakni ketidak mampuan belajar matemaetika.
Akan tetap, siswa yang mengalami
sindro-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal
bahkan dianntaranya ada yang memiliki kecerdasa di atas rata-rata. Oleh
karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkinhanya
di sebabkan oleh adanya minimal brain dysfuncttion, yaitu gangguan ringan pada
otal (Lask, 1985: Reber, 1988 )
1. Diagnosis Kesulitan Belajar
Sebelum
menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat
dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikiasi ( upaya mengenal
gejala denagncermat.) terhadap fenomena yang menunjukan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut
diagnosis yang bertujuan menetapkan jebnis penyakit” yakni jenis kesulitan
belajar siswa.
Dalam melakukan diagnosis di perlukan
adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan
pada di temukannnya kesulitan belajjar jenis tertentu yang dialami siwa.
Prosdur seperti ini dikenal sebagai “diagnotis” kesulitan belajar.3
Banyak langkah diagnotis yang dapat ditempuh guru, antara
lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana
yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut;
1. Melakukan observasi kelas untuk melihat prilaku
penyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2. Memeriksa pemglihatan dan pendengaran siswa khususnyayang
diduga mengalami kesulitan belajar.
3. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui
hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
4. Memberikan tes diagnostik bidang kecekapan tertentu untuk
mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya siswa
yang di duga mengalami kesulitan belajar.
Secara umum, langkah-langkah tersebut di atas dapat
dilakukan dengan mudah oleh guru kecuali langkah ke-5 (tes Q). Untuk keperluantes
IQ, guru dan orang tua dapat berhubungan dengan klinik psikologi. Dalam hal
ini, yang sangat perlu dicatat ialah apabila siswa yang mengalami kesulitan
belajar itu ber-IQ jauh di bawah normal(tunagrahita), orang tua hendanya
mengirimkan siswa tersebut kelembaga pendidikan khusus anak-anak tuna grahita 9
sekolah luar biasa), karena lembaga sekolah biasa tidak menyediakan tenaga
pendidian dan kemudahan belajar khusus untuk anak-anak normal. Selanjutanya para siswa yang nyata-nyata
menunjukan misbehavior berat berarti prilakuagresif yang berpotensi antisosial
atau kecanduan narkotika, harus diperlukan secara khusus pula, umpamannya dimasukkan kelembaga
permasyarakatan anak-anak atau ke
“pesantreri” khusus pecandu narkotika.
Adapun untuk mengatasi kesulitan belajar
siswa mengdap sindrom disleksia, disgrafia,dan diskalkuliasebagaimana yang
telah penyusun uraikan dimuka, guru dan orang tua sangat dianjurkan untuk
memanfaatkan support teacher (guru pendukung). Guru khususini biasannya
bertugas menanganipara siswa mengidap sindrom-sindrom tadi disamping melakukan
remedial teaching (pengajaran perbaikan).
Sayangnya disekolah-sekolah kita, tidak seperti kebanyakan sekolah
negara-negara maju, sebelum menyediakan guru-guru pendukung. Namun, untuk
mengatasi kesulitan tidak adanya support teachers itu orang tua siswa dapat
berhubungan dengan biro konsultasi
psikologi dan pendidikan yang biasannya terdapat pada pakultas psikologi
dan fakultas perguruan yang terkemuka di kota-kota besartertentu.
Selanjutanya, bagaimana kiat guru
mengatasi kesulitan belajar yang dialami para siswa yang tergolong gifted child
( anak cemerang, berbakay) dan para siswa underchiever ( berprestasi rendah).4
2. Altematif
Pemecahan Kesulitan Belajar
Banyak
alternatif yang diambil guru dalam mengatasi kesulitann belajar siswannya. Akan
tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru angat diharapkan untuk terlebih
dahulu melakukan berapa langkah penting sebagai berikut;
a. Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah
bagian-bagian masalah dan hubungan anatar bagian tersebut untuk memperoleh
penegertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihaapi siswa.
b. Mengidentifikasi dan menentikan bidang kecakapan tertentu
yang memerlukan perbaikan.
c. Penyusun progran perbaikan, khususnya program remedial
teaching (engajaran perbaikan)
Setelah langkah-langkah diatas selesai,
barulah guru melakukan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.
1. Analisis hasil diagnosis
Data dan
informasi yang diperoleh guru melalui diagnotis kesulitan belajar tadi perlu
dianalisis sedeamikian rupa, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa
yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti. Contoh : badu
mengalami kesulitan khusus dan memahami konsep kata “polisemi” . polisemi ialah
sebuah istilah yang menunjukan kata yang memiliki dua makna tau lebih. Kata
“turun”, umpamannya, dapat di pakai dalam berbagai frase seperti turun harga,
turun ranjang,turun tangan, dan seterusnya. Contoh sebaliknya, kata “naik” yang
juga dapat di pakai dalam banyak prase seperti : naik daun, naik darah, naik
banding, dan sebagainnya.
2. Menentukan kecakapan bidang bermasalah
Berdasarkan hasil analisis tadi, guru
diharapkan dapat menentukan bidangg kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah
dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat di
kategorikan menjadi tiga macam.
a. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh
guru sendiri.
b. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat di tangani oleh
guru dengan bantuan orang tua.
c. Bidang kecakapan yang bermasalah yang tidak dapat
ditangani baik oleh guru maupun orang tua.
Bidang kecakapan yang tidak dapat di
tangani atau terlalu sulit untuk diitangani oleh baik guru maupun orang tua
dapat bersumber dari kasus-kasus tunagrahita (lemah mental) dan kecanduan
narkotika. Mereka yang5 termasuk dalam lingkup dua macam kasus yang
bermasalah berat in dipandangtiak berketerampilan (unskilled people). Oleh
karenannya,para siswa yang mengalami kedua masalah yang berkesulitan belajar
yang berat tersbut tidak hanya memerlukan pendidikan khusus, tetapi juga
memerlukan perawatan khusus.
3. Menyusun Program Perbaikan
Dalam hal
menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnnya guru
perlu menetapkan hal-hal sbb;
a. Tujuan pengajaran remedial.
b. Materi pengajaran remedial
c. Metode engajaran remedial
d. Alikasi waktu pengajaran remedial
e. Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program
pengajaran remedial.
4. Melaksanakan Program Perbaikan
Kapan dan
dimana program pengajaran remedial yang telah dirancang itu dapat anda
laksanakan? Pada prinsipnya, progranm pengajaran remedial yang telah dirancang
itu dapat anda laksanakan? Pada prinsipnya, program pengajaram remedial itu
lebh cepat dilaksanakan tentu saja lebih baik. Tempat penyelengaraannya bisa dimana
saja, asal tempat itu memungkinkan siswa klien ( siswa yang memerlukan bantuan
) memusatkan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut. Namun
patut dipertimbangkan oleh guru pembimbing kemungkinan digunakannya ruang
bimbingan dan penyuluhan yang tersedia disekolah dalam rangka mendayagunakan
ruang BP tersebut.
Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai
alternatif-alternatif kiat pemecahan maslah belajar siswa , guru sangat
dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimbingan dan penyuluhan.
Selain itu, guru juga dianjurkan untuk mempertimbangkan pengunaan model-model
mengakar tertentu yang duianggap sesuai sebagai alternatif lain atau pendukung
secara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.7[3]
KESULITAN
BELAJAR
Kesulitan belajar dapat menghinggapi
seseorang dalam kurun waktu yang lama. Beberapa kasus memperlihatkan bahwa
kesulitan ini memengaruhi banyak aspek kehidupan sesorang, baik itu disekolah, pekerjaan, rutinitassehari-hari,
kehidupan keluarga, atau bahkan terkadang dalam hubungan persahabatan dan
bermain. Bebrapa penderita menyatakaan bahwa kesulitan ini berpengaruh pada
kebahagiaan mereka. Sementara itu, bagi penderita yang lain, gangguan ini
menghambat proses belajar mereka, sehingga tentu saja pada gilirannya juga akan
berdampak pada aspek lain dari kehidupan mereka. Terkadang sesorang juga
mengalami berbagai kesulitan belajar yang saling tumpang tindih, sementara itu
yang lainnya ada yang hanya mengalami satum macam kesulitan belajar saja ,
sehingga hanya sedetik pengaruhny bagi aspek lain bagi kehidupan mereka.1
a. Jenis-jenis kesulitan belajar
Mengenali kesulitan belajar jelas berbeda dengan mendiagnosis
penyakit cacar air atau campak. Cacar air dan campak tergolong penyakit dengan
gejala yang dapat dikenali dengan mudah. Berbeda dengan LD yang sangat rumit
dan meliputi begitu banyak kemungkinan penyebab, gejala-gejala, perawatan,serta
penanganan. LD yang memiliki beragam gejala ini, sangatlah sulit untuk
didiagnosis dan dicari penyebabnya secara pasti. Hingga saat ini, belum
ditemukan ibatvyang perawatan sanggup menyembuhkan mereka sepenuhnya.
Tidak semua
kesulitan dalam proses belajar dapat di sebutkan LD. Sebagian anak mungkinhanya
mengalami kesulitan dalam mengembangkan bakatnya. Kadang-kadaang seorang
memperlihatkan ketidakwajaran dalam perkembangan alaminnya, sehingga tampak
seperti penderita LD, namun ternyata hanyalah keterlambatan dalam proses
pendewasaan diri saja. Sebenarnya, para ahli telah menentukan kriteria-kriteria
pasti dimana seseorang dapat dinyatakan sebagai penderita LD.
Kriteria
yang harus dipenuhi sebelum seorang dinyatakan menderita LD tertuang dalan
sebuah buku petunjuk yang berjudul DSM (Diagnostic
and Statistical Manualof Mental Disorders). Diagnosis yang didasarkan pada
DSM umumnya dilakukan ketika seseorang mengajukan perlindungan asuransi
kesehatan dan layanan perawatan.2
Kesulitan belajar dapat di bagi menjadi tiga kategori
besar.
1) Kesulitan dalam Berbicara dan Berbahasa
Kesulitan
dalam berbicara dan berbahasa serng enjadi indikasi awal bagi kesulita belajar
yang dialami sesorang anak. Orang yang mengalami kesulitan jenis ini menemui
kesulitan dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahsa yang tepat, berkomunikasi dengan
orang lain melalui penggunaan bahasa yang benar, atau memahami apa yang orang
lain katakan.
Berdasarkan definisi gangguan ini, maka kita dapat
meringkaskan ciri-ciri spesifiknya sebagai berikut;
(a) Keterlambatan dalam hal pengucapan bunyi bahasa.
Anak-anak
yang mengalami gangguan ini biasannya mengalami maslah dengan mengucapkan
sesuatu denga tepat. Sebagai mana Contoh; pada umur 6 tahun, Wellace masih
mengucapkan kata “Wibbit” yang seharusnya berbunyi “rabbit” dan “twiim” untuk
“swiim”. Keterlambatan perkembangan untuk mengucapan sebenarnya merupakan
sesuatu yang umum terjadi. Sepuluh persen anak di bawah usia 8 tahun mengalami
kesulitan ini. Untungnya, kesulitan mengucapan daapat diatasi sepenuhnya dengan
mengikut terapi bicara.
(b) Keterlambatan dalam hal mengeksresikan pikiran atau
gagasannya melalui bahsa yng baik dan benar.
Sebagian
anak yang menderita kesulitan berbahasa semacam ini mengalami kesulitan dalam
mengkspresikan dirinya saay berbicara. Kesulitan semacam ini disebutjuga
keterlambatan kemampuan untuk berbahasa dengan baik dan benar3.
Susan, yang sering menyebutkan suatu benda dengan nama yang salah, adalah
contoh seorang anak yang mengalami prmasalahan semacam ini. Tetapi tentu saja
gangguan perkembangan berbahasa ini daat timbul alm wujud yang lain. Sebagai
contoh; seorang anak berumur 4 tahun yang hanya dapat mengucapkan dua frasa
saja, dan seorang anak lain yang telah berusia 6 tahun tetapi tidak dapat menjawab pertanyaan yang sederhana sekalipun,
dapat pula di golongkan sebagai anak yang mengalami kesulitan dalam hal
berbahasa.
(c) Keterlambatan dalam hal pemahaman bahasa.
Sebagian
oran menemui kendala dalam mencerna apa yang diucapkan oarang lain. Kendala ini
terjadi ketika otak mereka brada pada frekuensi yang berbeda, dan sistem
penerimaannya sedang tidak berpungsi atau lemah. Kita akan memberikan beberapa
contoh kasus sehubungan dengan hal ini. Seorang anak kecil yang tidak mampu
merespon ketika namannya di panggil, anaak seorang anak pra-sekolah yang
memberikan lonceng, (dalam bahasa inggris; bell)
ketika Anda meminta bola (dalam bahasa inggris; ball). Selanjutnya terdapat pula pekerja yang berulang-ulangtidak
dianggap mengerjakan tugas-tugas yang sederhana sekalipun, pendengaraan mereka
normal, tetapi tidak dapat memberikan respon yang baik dan benar terhadap
suara, kata-kata, atau kalimat yang di dengar. Mereka tampaknya tidak
memerhatikan apa yang orang lain katakan pada mereka. Orang-orang semacam ini
menderita keterlambatan pemahaman bahasa. Hal ini terjadi karena mengucapakan
atau mengekspresikan sesuatu dan memahami apa yang dikatakan orang lain
memilikiketerkaitan yang sangat erat. Karenannya orangyang mengalami masalah
dalam memahami bahasa juga mengalami masalah dalam mengekspresikan.4
2) Gangguan Kemampuan Akademik
Siswa-siswa
yang mengalami ganguan kemampuan akademikberbaur bersaama teman-teman
sekelasnya dari meningkatkan kemampuan membaca, menulis da berhitung mereka.
Sesorang dapay didagnosis megalami gangguan ini, bila mengalami ;
(a) Keterlambatan dalam hal membaca
Tipe
gangguan ini di sebut juga dengan dengan disleksia. Pada kenyataannya,
kesulitan membaca dialami oleh 2-8 persen anak sekolah dasar.
Ketika Anda berpikit tentang apa saja yang etrlibar
dalam proses “tiga R”; membaca (Reading),
menulis( Riting), dan berhitung (Rithmetic) maka kita akan tercengang
karena kebanyakan dari kita memang mempelajari proses-prose tersebut. Untuk
memahami apa yang Anda baca, maka Anda harus;
Ø Memmusatkan perhatian pada hurup-hurup yang tertukis serta mengendalikan gerakan
mata dengan menjelajahi tiap halaman.
Ø Menenali bunyi tiap-tiap hurup atau gabungan hurup.
Ø Memahami makna kata-kata, tata bahasa dan susunan
kalimatnya.
Ø Menciptakan ide-ide dan gagasan baru.
Ø Membandingkan ide-ide baru dengan yang telah Anda
ketahui.
Ø Mengingat berbagai hal dalam benak Anda.5
(b) Keterlambatan dalam Hal Menulis.
Menulis juga
memerlukan koordinasi berbagai bagian dan fungsi otak. Bagian-bagian otaak yang
mengatur perbendaharaan kata tata bahasa, gerakan tangan dan ingatan harus
berada dalam kondisi serta koordinasi yang baik. Permasalahan dalam hal ini
dapat mengakibatkan gangguan dalam kemampuan menulis sesorang . sebagai contoh;
ennis yang tidak sangup memisahkan atau membedakan berbagai bunyi di dudnia ini
memiliki masalah dalam mengerja kata-kata. Sesorang anak yang memiliki
kesulitan dalam membaca serta mengekspresikan gagasan atau ide dalam bentuk
bahasa yang baik dan bennar, kemungkinan besar menderita ktidak mampuan dalam
menyusun kalimat yang lengkap serta benar.
(c) Keterlambatan dalam Hal Menulis.
Berhitung
melibatkan pengenalan angka-angka, pemahaman berbagai simbol matematis,
mengingat berbagai fakta seperti tabel perkalian, dan pemahaman konsep-konsep
abstrak seperti nilai tempay secara pecahan. Hal seperti inimungkinterasa sulit
bagi anak-anak penderita kesulitan berhitung. Masalah dengan angka-angka atau
konsep dasar sepertinya datang sejak awal. Sedangkan masalah yang berhubungan
denagn matematika yang baru terjadi pada kelas-kelas terakhir lebih sering
berkaitan dengan logika.6
Banyak aspek
dan berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, dan berhitung itu saling tumpang
tindih serta bersatupadu membangun apa yangdi sebut dengan fungsi kemampuan
otak. Jadi, tidaklah aneh bila ada orang yang diagnosis mengalami lebih dari
satu kesulitan belajar. Sebagai contoh; kemampuan untuk memahami suatu bahasa
mendasari proses belajar berbicara. Oleh karena itu, kesulitan lain yang
menghambat sesorang dalam memahami bahasa juga akanmmemengaruhi perkembangan
kemampuan berbicarannya, sehingga hal ini pada gilirannya juga menghambat
proses belajar membaca sert menulis. Ini berlaku pula dengan ganguan-ganguan
atau keterlambatan lainnya. Suatu hambatan atau gangguan pada alur proses kerja
otak aja akan memengaruhi aktivitas apapun.
3) Gangguan belajar Lainnya
DSM juga
mencatat kategori tambahan, seperti “ gangguan kemampuan motorik” dan “
gangguan berkembang khusus yang belum diklasifikasikan”. Gejalaa-gejalanya
adalaah keterlambatan atau keterbelakangan dalam memahami bahasa, kemampuan
akademis serta motorik yang pada gilirannya memengaruhi kemampuannya untuk
mempelajari sesuatu. Tetapi bedanya, itu semua tidak sesuai kriteriannya dengan
jenis-jenis keterlambatan belajar yang telaj kita bahas sebelummya.
Gejala-gejala ini juga mencangkup ganguaan koordinasi tubuh yang pada
gilirannya dapat mengakibatkkan buruknya tulisan sesorang, dan begitu pula
halnya dengan kesulitan mengerja dan mengngingat.
4) Kesulitan Dalam Memusatkan Perhatian
Hampir 4 juta anak menderita kesulitan belajar.
Berdasarkan data yang ada, 20% dari mereka mengalami kesulitan dalam memusatkan
perhatian.7
Anak-anak maupun orang dewasa yang menderita kesulitan
dalam memusatkan perhatian biasannya gemar melamun secara berlebihan. Kendali
demikian, saat mereka berhasil memusatka perhatian pada suatu hal, maka
perhatian itu engan segera mudah buyar kembali.
Dalam diri orang dewasa, tindakan hiferaktif sering
tampak dalam wujud kegugupan dan kegelisahaan. Namun, masalah yang berkaita
dengan perhatian dalam konsentrasi ini terus berlanjut hngga mereka dewasa. Di
tempat kerja orang dewasa penderita ADHD (Attention Deficit Hiperactivity =
Gangguan Hiperaktif Memusatkan Perhatian) sering mengalami masalah yang
berkaitan dengan penyusunantugas dan penyelesaian pekerjaan mereka. Mereka
seolah-olah terlihat tidak mendengarkan atau tidak bersedia mengikuti
pengarahan. Pekerjaan mereka terlihat kacau dan terbelengkalai.
Kesulitan
dalam memusatkan perhatian, baik disertai sikap hiperaktif maupun tidak, tidak
dianggap sebagai kesulitan belajar. Kendati demikian, kesulitan dalam memusatkan
perhatian dapay memengaruhi performa akademis sesorang secara serius, dimana
gangguan ini kerap menyertai kelemahan dalam kemampuan akademis.8
b. Faktor-faktor yang Menyebabkan Kesulitan Belajar
Para ahli
kesehatan jiwa menekankan bahwa hingga saat ini masih belum ada sesorang yang
mengetahui secra pasti sebab-musahab kesulitan belajar. Oleh karena itu, mereka
tidak sanggup membantu para orang tua untuk menemikan penyebab pasti dari
ganguan kejiwaan iniserta melakukan tindakan pencegahan. Terlalu banyak
kemungkinan yang diduga menjadi penyebab dari keterlambatan belajar.
Sesungunya, jka di renungkan mendalam, lebih penting bagi keliarga penderita untuk menemukan cara penyembuhan
yang tepat.
Namun para
ahli tetap perlu mempelajari penyebabnya, sebagai bagian dari upaya mereka
menemukan cara mengatasi gangguan belajar ini.
Sebagian ahli
pernah mengemukakan bahwa gangguan belajar disebabkan oleh ganguan saraf.
Tetapi penelitian yang9 disokong oleh NIMH telah membantu kita untuk
menyadari bahwa penyebab kesulitan belajar itu benar-benar kompleks dan luas.
Bukti paling mutakhir memperlihatkan bahwa sebagian besar keterlambatan belajar
tidak hanyaa berkaitan dengan bagian otak tertentu, tetapi karena kesulitan
dalam menyalurkan berbagai informasi yang datang dari berbagai bagian otak
secara bersamaan.
Dewasa ini,
teori yang paling banyak penganutnya menyatakan bahwa kesulitan elajar itu di
sebabkan oleh kerusakan susunan dari fungsi otak. Dalam khusus khusus terentu bagian para aahli
menyakini bahwa kerusakan terjadi sebelum sang anak di lahirkan.10
PENTINGNYA BRAIN GYM UNTUK KESUKITAN BELAJAR MATEMATIKA
SISWA
Tugas siswa adalah belajar. Dalam hal ini disamping harus
memahami sejumlah
mata pelajaran, siswa di tuntut untuk mampu menyelesaikan
bebagai tugas
belajar yang
dibebankan kepadanya. Sedangkan bebagai peserta didik, yang melakukan aktivitas
belajar +7 jam perhari, siswa juga dihadapkan pada sejumlah tugas-tugas
akademik dan aktivitas aktivitas minat ekstrakurikuler, sebagai wadah
pengembangan potensi dan bakat diri. Pagi berangkat kesekolah, siang pulang
kerumah,sore belajar malam mengerjakan PR, dini hari mempersiapkan pralatn
sekolah. Disamping itu, tidak sedikit juga siswayang memanfaatkan waktu
senggangnya untuk berorgansasi, membantu orang tua, dan bekerja untuk memenuhi
biaya sekolah. Bila dibayangkan , begitu muliannya, betapa banyak tenaga dan
fikiran yang harus dikeluarkannya untuk itu semua. Dalam kondisi seperti ini,
siswa perlu memmerhatikan berbagai hal berbgai hal yang terkait denga cara bagaimana
bisa belajar efektif, tanpa ada gangguan berarti secara bio-psikososial dan tercapai semua yang diorentasikan, baik secara
akademuk dan maupun sosial.
Belajar
memang tidak hanya proses untuk memperoleh kepandaian atau lmu, tapi juga untuk
mengubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBOI,
1989: 13). Bigg, misalnya mengertikan belejar sebagai tiga fungsi yaitu;
1) Kegiatan pengisisan kemampuan kognitif realitas atau
fakta, sebanyak-banyaknya (aspek
kuantitatif)[4]
2) Proses palidasi atau pengabsahan terhadap ppestasi yang
dicapai (aspek institusional)
3) Belajar merupakan proses perolehan arti dan pemahaman
serta cara-cara untuk menafsirkan Dunia disekeliling siswa. Sehingga dengan
berbekan pengetahuan dan pengalaman tersebut, terjadi engubahan tingkah laku
dan gaya berpikir (aspek kualitatif)
Di samping itu, belajr juga diartikan
sebagai prses mengubah, mereduksi, memerinci, menyimpan, dann memekai setiap
masukan (infut) pengetahuan yang
datang dari alata indra sebagai enejan fungsi kognitif. Karena bagian paling
mendasardari kognisi manisia adalah representation of knowledge, atau bagaimana
informai yang bersal dari pengalaman-pengalaman sensorik di simbolkan dan di
kombinasikan dengan suatu yang tersimpan dalam otal. Pendapat ini dikemukakan
oleh Solso (Solso, 1991 : 9 ).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
belajr adalah proses pengubahan individu (secara kognitif, efektif dan
psikomotorik) yang relatif permanen akibat danya latihan, pembelajaran atau
pengetahuan konkret sebagai produk adanya interaksi dengan lingkungan luar.
Belajar tidak lain adalah pematangan fungsi kognitif, dan kognitif adalh peta
pikir otak yang menghubungkan antara aspek internal dan eksternal, hingga
tercipta pengetahuan. Dan begitu, otak adalah pusat segala kegiatan dan minat
manusia diatur dan dikendalikan.” Otak adalah seorang seniman, seorang ahli
kimia, seorang ahli teknik, ia terus bekerja menyusun dan mengatur dirinya
sendiri. Ia bukan saja tempat penyimpanan yang paling efektif di dunia,
melainkan juga pencatat kejadian dan pengurus perpustakaan yang episien
kecepatannya belum tertandingi oleh komputer manapun” (H. Benson dalam Paisak,
2003 : 57 ).
Dalam proses belajar, berpikir, sebagai
hasil kerja otak,, merupakan hal yang terpenting dan banyak berperan. Agar
fungsi kinerjannya bisa dioptimalkan: sebagai drive sebagai gaya pikir adftif
dan sehat, yang beriorentasi pada peningkatan hasil belajar siswa, terutma
dalam mengembangkan kecerdasan-kecerdasannya, maka aspek ini perlu mendapatkan
perhatian lebih. Dengan demikia, otak itu sangat terpengaruh bagi proses dan
hasil belajar siswa.
Menurut Paisak (2003 : 17 ), dalam otak
menusia itu terdapat 7 kecerdasan, yaitu linguistik, matematika,
spesial.kinestik, musik, intrpribadi, dan antarpribadi,. Semua potensi ada pada
manusia, namun kadarnya berbeda. Sesorang munkin saja memiliki satu kecerdasa
yang menonjol, tapi kadar kecerdasan lainnyarendah. Musisi seperti Iwan Fals,
EwinGutawa, Ebiet G. Ade , dan Yovie Widianto adalah sejumlah orang yang
memiliki kecerdasan musik yang tinggi, tetapi mungkin saja kecerdsan
matematikamereka rendah.
Memang, peredaban suat bangsa yang maju
ditandau oleh pendidikan yang maju pula. Namun sayang, orientasu pendidikan di
indonesia cendrung mengoptimalkan satu adau du kecerdasan saja ( matematika dan
linguistik). Fokusnya lebih pada otalk sebelah kiri yang bertanggung jawab atas
konpertensi numerikdan bahasa, itu saja masih belum optimal. Penghargaanpun
masih terpakuuntuk dua kecerdasan itu saja.tapi ironisnya, dalam
perkembangannya, salah satu dari dua kecerdasan ini banyak malah menimbulkan
masalah dan perlu mendapat perhatian serius dari para ahlidan pendidik.
Berdasarkan dari hasil penelitin di
indonesia, di temukan bahwa tingkatpenguasaan peserta didik dalam matematika
pada semua jenjangpendidikan maih sekitar34%. Ini sangta memperhatinkan.
Anggapn masyarakat, khususnya dikalangan pelajar, matematika masuh merupakanmata
pelajaran sulit, membingungkan bahkan sanagt di takuti oleh sebagian besar
pelajar. Tahun 2000 lalu international
Assocation of edication Evaluationin Achievement (IEA) menerbitkan hasil
survei prestasi belajar matematika dan IPA bagi siswa-siawa sekolah usia 13
tahun di 42 negara, dan Indonesia berada pada posisi ke-39 untuk kemampuan IPA
dan ururtan ke-40 untuk prestasi belajar matematika. Ini menunjukan bahwa mutu
pendidikan kita memang sangat mengkhwatirkan (Kompas, 2001).
Matematika oleh sebagaian besarvsiswa
masih dianggap sebagai momok, ilmu yang kering,teoetis, penuh dengan
lambang-lambaang,rumus-rumus yang sulit dan sangat membngungkan.akinatnta,
matematika tidaklagi menjadi disiplin ilmu yang objektif sistemati, tapi justru
menjadi bagian yang sangat subjektif dan kehilangan sifat netralnya. Repotnya
lagi, kondisi tersebut di perparah oleh sikap guru pengjar matematika yang
sering berprilaku killer, galak,
mudah parah, suka mencela, menoton, dan terlalu cepat dalam mengajar.
Pranato, salah satu pemerhati pendidikan
matematika dan dosen matematikaITB, menyebutnya, “selain kurang bervariasinya
pola pengejaran yang ada, ketakutan anak didik pada matematika juga disebabkan
oleh pola pengajaran guru yang otoriter, yang menganggap siswa yang banyak
bertanya sebagai hal yang kurang ajardan tidak patuh pada pola pengejaran guru.
Disamping itu, juga dises=babkan ileh tekanan berlebihan pada hapalan,
kecepatan berhitung dab prestasi individu, sertabanyaknya guru pengajar mata
pelajaran ini yang tidak mengetahui proses terpenting dalam bermatematika
adalah nalar, bukan kemampuan berhitung, dan mereka menganggap siswa yang tidak
bisa berhitung tidak pinter matematika” (Wirasto, 1987).
Secara umum, tujuan diberikannya
matematika di sekolah adalah untuk
mempersiapkan peserta didik agar bisa menghadapai perubahan kehidupan dan dunia yang selalu berkembang dan sarat
perubahan, melalui latihan bertindak atas dasr pemikiran logis, rasional, , dan
kritis. Juga untuk memersiapkan siswa agar dapat bermatematika dalam kehidupan
sehari-hari, mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi dan seni(IPTEKS0.
Sedangkan penekanan tujuan umum pembelajarn matematik disekolah adalah penataan
nalaar, pembentukan sikap siswa dan keteramplan dalam penerapan ilmu matematika
(Depdikbud, 1995).
Namun sejauh mana tujuan pendidikan
matematika disekolah sudah dapat direalisasikan? Inilah kirannya yang masih
menjadikeprihatinan kita bersama,. Sebab, banyak kesulitan yang ada dan merambah
hamoir keseluruh komponen pembelajaran matematika, mulai dari faktor intern
(siswa, guru, kurikulum, sarana, dan prasarana yang belum memadai) sampai pada
faktor ekstern ( pentingnya peran orang tua dan lingkungan ). Dalam hal ini,
psikolog Alva Handayani menyebutkan, peranan orang tua sangat dibutuhkan untuk
mengatsi foia matematika anak. Menurutnya, mengajar matematika bukan sekadar
mengenalkan angka dan menghapalnya, namun bagaimana anak didik memahami
kebermaknaan matematika dengan arahan, dukungan, dan bimbingan orang tua
dirumah(Marpaung, 1998).
Menurut Drost
(1998), kurikurum SMU diindoesia hanya dapat diikiti oleh 30 persen siswanya.
Kurikulum matematika yang padat, menyebabkan pengajaran
matematikadisekolah-sekolah cndrung didominasi proses transfer of knowledge
sajadan tidak memberikan kesempatan kepda siswa untuk menetukan sebdirikearah
mana mereka berksplorasi dan menemukan pengetahuan yang bermakna bagi diri
mereka . selain itu, kurikulum matematika juga kurang sistematis dan tumpag
tindih. Keterkaitan antara ssatu bidang studi dan bidang studi lain tampaknya
juga kurang diperhitungkan secara matang. Sebagai contoh , di SMU, dalam
penyelesaian sistem persamaan linear (SPL), determinan matriks lebih dahulu
diberikan dari pada bahasa tentang matriks. Padahal, determinan matriks
tercakup dalam pokok bahasan matriks, serta contoh-contoh yang lain (Sriyano dalam BASIS, 2004: 46)
Dari uarain diatas, dapat di ketahui bahwa
disamping begitu berat beban belajar yang harus di selesaikan siswa untuk
setiap jenjang pendidikan yang dilalui, arah pendidikan diindonesia yang masih
menenangkan kerja otak kiri (otak rasional) yang menyimpan dua kecerdasan
matematis dan bahaasa dan seriusnya komplelsitas permasalahan pendidikan dan
pembelajaran matematika, kirannya problem otak yang belum dipungsikan secara
optimal (engan sejumlah potensi yang dimiliki) juga perlu mendapat perhatian
serius dan di carikan alternatif pemecahannya.
Senam otak ( brain gym), kirannya dapat
dijdikan sebagai salah satu solusi penting, agar otak bisa fungsikan secara
optimal. Karena bukan hanya tubuh yang bisa disehatkan, otak bisa juga di
sehatkan. “senam otak bermanfaat menjadikan otak bekerja lebih efisien.
Sehingga, otak akan membutuhkannlebih sedikit enerki ketika akaan bekerja. Ni
juga akan membuat otak bekerja lebih ringan, dan tidak mudah mengelami
kelelahan, “ begitu kata Mangungson, Psokolog UI (Jawa Pos, 1005). Brain gym,
merupakan serangkaian gerak sederhana yang menyenangkan dan di gunakan oleh
para murid di Educational Kinesology (Edu-K), untuk meningkatkan kemampuan
belajarmereka dengan menggunakan keseluruhan otak. Geraakan-gerakan dalam senam
itu membuat segala macam pelajaran menjadi lebih mudah, dan terutama sangat
bermanfaat bagi kemampuan akademik.
Edu-K merupakan suatu sistem yang
memberdayakan semua orangyang belajar, tana harus umur, dengan menggunakan
aktivitas gerakan-gerakan untuk mengeluarkan seluruh potensisesorang. Prinsip
brain gym adalah cross the mind line, yang melibatkan hampir seluruh bagian
tubuh; mata, tangan, kaki, perut, dan sebagainnya. Seperti menyilangkan kaki
kanan pada kaki kiri, yang dipadukan dengan gerakan tangan kiri yang menyilang
pada tangan kanan (cross crawl). Ini dilakukan secara bergantian tangan kiri
hitungan dua kali delapan. Perpaduan gerakan ini membuat otak kanan dan kiri
aktifsecara kebersamaan dan menghasilkan kerja luar biasa. Gerakan brain gym
dapat membantu banyak orang; anak-anak, pemuda, sampai orang tua, untuk
mengoptimalkan kemampuan belajarnya, dengan pembagian otak kedalan tiga fungsi yakni, dimensi lateralis (otak kiri
kanan), dimensi pemfokusan (otak dpan belakang), serta dimensi pemusataan (otak
atas bawah), lengkap dengan geraka-gerakanpenggugahnya (Paul E & Gail E
Dennison, 2005)
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Matematika adalaah bahasa simbolis untuk
mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatifdan keruangan, perhitungan
matematika dan keruanagan, yang memudahkan manusi berpikir dalam memecahkan
masalah kehidupan sehari-hari.
Hasil belajar matematika ada dua macam.
Perhitungan matematika dan penalaran matematika. Ada tiga elemen bidang studi
matematika. (1) konsep. (2) keterampilan, dann (3) pemecahan masalah. Ada empat
pendekatan yang paling berpengaruh dengan pengajaran maematika, (1) urutab
belajar yang bersifat perkembangan,, (2) belajar tuntas, (3) strategi belajr
dan (4) pemecahan masalah.
Kesulitn belajar matematika sering di
sebut juga disleksia, dan kesulitan belajar matematika sering di sebut juga
disleskia,dan kesulitan belajar matematika yang berat di sebut aleksia.Ada
beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika, (1) gangguan dalam
memahami memahami hubungan keruanagn, (2) abnormalitas persepsi visual,(3)
gangguan asosiasi visual-motor,(4) perseverasi, (5) kesulitan mengenal dan
memahami simbol, (6) gangguan penghayatan tubuh, (7) kesulitan dalam bahasa dan
membaca, dan (8) sekor PIQ yang jauh lebih rendah, dari pada sekor VIQ.
Ada beberapa kekeliruan umum yang
dilakukan oleh anak erkesilitan belajar matematika yaitu, dalam memahami
simbol, nilai tempat, perhitungan , penggunaan proses yang keliru,, dan tulisan
yang tidak dapat dibaca.
Asesmen kesulitn belajar matematik dapat dilakukan
secara informaldan/atau secara formal. Instrumen asesmen formar memerlukan
pengujian validitas dan realibitas.
Ada beberapa prinsip pengajaran remedial
matemayika, yaitu; (1) perlunya menyiapkan
anaka untuk belajar matematika, (2) mulai dari yang konkret ke yang
abstrak, (3) kesempatan untuk erlatih dan mengulang yang cukup, (4)
generalisasi ke berbagai situasi baru, (5) bertolak dari kekuatan dan kelemahan
siswa, (6) perlunya membangun fondasi yang kuat tentang konsep dan keteramplan
matematiaka, (7) penyediaan program
matematika yang seimbang, dan (8) gangguan kalkulator untuk menanamkan
penalaran matematika.
Hasil/pertemuan Penelitian Dan Analisis.
Hasil/pertemuan
Penelitian
Pertemuan yang sata dapat dari
judul yang saya buat tentang kesulitan belajar matematika di madrasah kelas 1
MTS ISLAAH AL-UMMAH thn 2017/2018 adalah
a.
Kesulitan
dalam Berbicara dan Berbahasa
Ø Keterlambatan dalam hal membaca
Ø Keterlambatan dalam Hal Menulis.
Ø Keterlambatan dalam Hal Menulis.
Analisis.
Jadi yang saya
ketahui tentang kesulitan belajar matematika di madrasah kelas 1 dia selalu
kesulitan tentang mengenai pembagiian, penjumlahan, pengurangan dan perkalian,
juga kesulitan bagi para siswa dalam mengerjakan trigonometri dan saya
mengajari mereka dengan caranya mudah dalam mengerjakan matematika seperti
mereka kesulitan mengenai penjumlahan.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Dr. Molyono Abdurrahman, 2003, PENDIDIKAN Bagi Anak Berkesulitan Belajar, jakarta: PT RINEKA
CIPTA.
2. Dr. Muhibbin Syah, M.ED. 2010, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT REMAJA ROSDAKARTA.
3. Derek Wood, dkk. 2009, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar, Jogjakarta : KATA HATI.
4. Moch. Masykur Ag dan Abdul Halim Fathani, 2007, Mathematical Intelligence, Jogjakarta :
AR-RUZZ MEDIA.
LAMPIRAN
[1]
Mulyono Abdurrahman , Pendidikan
Bagi Anak Berkesulitan Belajar, penerbit PT RINEKA CIPTA, thn.2003, hal.251-252






0 komentar:
Posting Komentar