Silahkan download disini
Rabu, 26 April 2017
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DAN ALTERMATIF PEMECAHAN MASALAHNYA
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
TENTANG
“DIAGNOSIS
KESULITAN BELAJAR DAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH KESULITAN BELAJAR”
DOSEN PPENGAMPU : Saimun, S.Ag, M.Si
Disusun oleh
NAMA : SITI
NURHALIMAH
NIM : 160103088
JURUSAN TADRIS
MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
TH. 2017
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DAN
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH KESULITAN BELAJAR
A.
Diagnosisi
Kesulitan Belajar
Mengatasi
kesulitan belajar, tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor kesulitan belajar.
Oleh karena itu mencari sumber penyebab utama dan sumber-sumber penyebab
penyerta lainnya, adalah menjadi mutlak adanya dalam rangka mengatasi kesulitan
belajar.[1]
Dan
kesulitan belajar tersebut dapat di ketahui dari menurunnya kinerja akademik
dan munculnya misbehavior siswa,
baik yang berkapasitas tinggi maupun yang berkapasitas rendah,karena factor
intern siswa dan ekstern siswa.[2]
Diagnosis,
merupakan istilah teknis (terminology)
yang kita adobsi dari bidang medis. Menurut thorndike dan hagen diagnosis dapat
di artikan sebagai:
1.
Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit
apa yang di alami seseorang dengan melalui pengujian dan studi menurut
gejaja-gejalanya
2.
Studi yang seksama terhadap fakta tentang sesuatu hal
untuk menemukan karakterristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang
esensial.
3.
Keputusan yang di capai setelah dilakukan sesuatu
studi yang seksama atas gejal-gejal atau fakta atau suatu hal
Dari ketiga
pengertian tersebut di atas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tersimpul pula konsep
prognosisnya[s1] . Dengan
demikian, di dalam pekerjaan diagnostik bukan hanya sekedar mengidentifikasi
jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau
penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan
(predicting) kemungkinan dan
menyarankan tindakan pemecahannya.[3]
Sebelum
menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat
dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali
gejala) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar
yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut
diagnosis yang bertujuan menetapkan jenis penyakit yaitu jenis kesulitan
belajar siswa.[4]
Dalam
melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas
langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan
belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai
diagnostik kesulitan belajar.[5]
Banyak
langkah-langkah diagnostik yang dapat disentuh guru, antara lain yang cukup
terkenal adalah prosedur Weener dan Senf ( 1982) sebagaimana yang dikutip
Wardani (1991) sebagai berikut:
1. Melakukan
observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti
pelajaran
2. Memeriksa
penglihatan dan pendengaran siswa, khususnya yang diduka mengalami kesulitan
belajar
3. Mewawancarai
orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal yang mungkin menimbulkan
kesulitan belajar
4. Memberikan
tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan
belajar yang dialami siswa.
5. Memberikan
tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami
kesulitan.[6]
Secara umum,
langkah-langkah terdebut di atas dapat dilakukan dengan mudah oleh guru kecuali
lagkah ke-5 (tes IQ). Untuk keperluan tes IQ, guru dan orangtua siswa dapat
berhubungan langsung dengan klinik psikologi. Dalam hal ini, yang perlu
dicatat siswa apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar itu ber-IQ jauh
dibawah nol (tuna grahita), orantua hendaknya mengirimkan siswa tersebut ke
lembaga pendidikan khusus anak-anak tuna grahita (sekolah luar biasa), karena
lembaga/ sekolah biasa tidak menyediakan tenaga pendidik dan kemudahan belajar
khusus untuk anak-anak abnormal. Selanjutnya, para siswa yang nyata-nyata
menunjukkan kelainan perilaku (misbehavior ) berat seperti perilaku agresif
yang berpotensi antisosial atau kecanduan narkotika, harus diperlakukan secara
khusus pula, umpamanya dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan anak- anak atau ke
pesantern khusus pecandu narkotika.[7]
Adapun untuk
mengatasi kesulitan belajar siswa mengidap sindrom disleksia (ketidakmampuan
belajar membaca), disgrafia (ketidakmampuan belajar menulis), diskalkulia
(ketidakmampuan belajar matematika), guru dan orangtua sangat dianjurkan untuk
memanfaatkan support teacher (guru pendukung).Guru khusus ini biasanya bertugas
menangani para siswa mengidap sindrom-sindrom tadi di samping melakukan
remedial teaching (pengajaran perbaikan).[8]
Perlu
diketahui juga, awalnya banya pendapat yang menyatakan keberhasilan anak dan
pendidikan anak sangat tergantung pada IQ (intelligence quotient). Namun
memasuki abad ke 90-an pedapat
itu mulai berubah. Daniel Goleman mengungkapkan bahwa keberhasilan anak sangat
tergantung pada kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang
dimiliki. Jadi IQ bukanlah satu satunya yang mempengaruhi keberhasilan anak,
masih ada emotional intelligence yang juga perlu diperhatikan.
Ini adalah
kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi, ketahanan dalam
menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan serta mengatur
keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan
emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasaan, dan mengatur suasana hati.
B.
Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Ross dan Stanley ( 1956:332-341 )
menggariskan tahapan-tahapan diagnosis (the level of diagnosis) itu
sebagai berikut.
a. Who
are the pupils having trouble?
b. Where
are the errors located?
c. Why
are the errors occur?
d. What
remedies are suggested?
e. How
can errors be prevented?[9]
C.
Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar
Banyak
alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar
siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu
diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa
langkah penting sebagai berikut :
1. Menganalisis
hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar
bagian untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang
dihadapi siswa,
2. Mengidentifikasi
dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan,
3. Menyusun
program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran
perbaikan).
Setelah
langkah-langkah diatas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat,
yakni melaksanakan program perbaikan.
Ø
Analisis Hasil Diagnosis
Data dan
informasi yang diperoleh guru melalui diagnostik kesulitan belajar yang perlu
dianalisis sedemikian rupa,sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa
yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti. Contoh: Badu
mengalami kesulitan khusus dalam memahami konsep “jurnal penyesuian ”. Jurnal
penyesuaian ialah jurnal yang dibuat pada akhir periode untuk menyesuaikan
saldo-saldo perkiraan (akun) agar menunjukkan keadaan sebenarnya sebelum
penyusunan laporan keuangan. Pemahaman tentang beban gaji yang masih harus
dibayar misalnya, Badu masih kesulitan dalam menentukan akun-akun terkait dan
membuat jurnal untuk akun-akun yang bersangkutan.
Ø
Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah
Berdasarkan
hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan
tertentu dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang
kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam.
1. Bidang
kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
2. Bidang
kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua.
3. Bidang
kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orang tua
.
Bidang
kecakapan yang tidak dapat ditangani atau terlalu sulit untuk ditangani baik
oleh guru maupun orang tua dapat bersumber dari kasus kasus tunagrahita (lemah
mental) dan kecanduan narkotika. Termasuk dalam lingkungan dua macam kasus
yang bermasalah berat ini dipandang tidak berketerampilan (unskilled
people). Oleh karenanya, para siswa mengalami kedua masalah kesulitan
belajar yang berat tersebut tidak hanya memerlukan pendidikan
khusus, tetapi juga memerlukan perawatan khusus.
Kembali
kesoal Badu. Ternyata, dari hasil diagnosis diketahui bahwa ia belum
memilki kecakapan memahami konteks penyesuaian, khususnya beban dibayar
dimuka, pendapatan dibayar dimuka. Akibatnya, penyesuaian yang
dibuat harusnya beban dibayar dimuka disamakan dengan beban saja dll.
Ø
Menyusun Program Perbaikan
Dalam hal
menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru
perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut:
1. Tujuan
pengajaran remedial
2. Meteri
pengajaran remedial
3. Metode
pengajaran remedial
4. Alokasi
waktu pengajaran remedial
5. Evaluasi
kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial
Agar lebih
jelas, berikut ini penyusunan sajikan sebuah contoh program pengajaran
remedial yang sengaja dikaitkan dengan masalah yang dihadapi oleh
siswa bernama Badu seperti dimuka .
Contoh:
Program
Pengajaran Remedial
Nama siswa
:Badu
Kelas
: 11 A2, SMA “XY” Bandung
Jenis
kesulitan
:Menentukan akun penyesuaian pada gaji yang masih harus dibayar dan membuat
jurnalnya
Tujuan
Remedial
:Badu dapat menentukan akun-akun terkait dengan penyesuaian gaji
yang masih harus dibayar serta dapat membuat jurnal atas akun-akun tersebut
Materi
Remedial
: 1.Sebuah transaksi yang menunjukan adanya pengaruh terhadap kas, yaitu
transaksi yang bersifat mengurangi. Serta penerapan pada posisi debit dan
kreditnya.
2.Sebuah
transaksi yang menunjukan adanya pengaruh terhadap penambahan utang dan tidak
memperngaruhi kas, serta posisi debit kredit dari akun yang bersangkutan.
3.Dua buah
transaksi yang disajikan untuk dinalisis, yang pertama pembayaran dilakukan
diawal dan pembayaran dilakukan diakhir.
Alokasi
waktu
remedial
: 90 menit
Evaluasi
remedial
: Menggunakan instrumen tes isian untuk menganalisis transaksi-transaksi
tersebut dan menjurnalnya pada kolom-kolom jurnal yang telah disediakan
Ø
Melaksanakan Program Perbaikan
Pada
prinsipnya, program pengajaran remedial itu lebih cepat dilaksanakan tentu
saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bisa dimana
saja, asal tempat itu memungkinkan siswa memusatkan perhatiannya terhadap
proses pengajaran perbaikan tersebut. Namun patut dipertimbangkan oleh
guru pembimbing kemungkinan digunakannya ruangbimbingan dan penyuluhan yang
tersedia disekolah dalam rangka mendayagunakan ruang BP tersebut.
D.
PENELITIAN YANG
RELEVAN
JURNAL
PENELITIAN PERTAMA
1. Deskripsi
Identitas Penelitian
Jurnal ini
disusun oleh I Putu Mas Dewantara, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa
Universitas Pendidikan Ganesha, dengan judul “Identifikasi Faktor Penyebab
Kesulitan Belajar Keterampilan Berbicara Siswa Kelas VIIE SMPN 5 Negara dan
Strategi Guru untuk Mengatasinya”. Jenis penelitian ini bersifat kulalitatif,
dan disusun pada tahun 2012.
2. Metode
Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian kualitatif. Oleh karena itu, sumber data dalam
penelitian ini adalah siswa kelas VIIE dan guru bahasa Indonesia SMPN 5 Negara.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan observasi.
Metode wawancara digunakan untuk mengumpulkan data mengenai kesulitan belajar
siswa dan rasional guru dalam memilih strategi pembelajaran, sedangkan metode
observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai strategi guru. Data yang
diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan analisis deskriptif kualitatif.
Analisis data dalam penelitian yang dilaksanakan ini berlangsung bersamaan
dengan proses pengumpulan data. Pengolahan data tersebut di antaranya adalah
melalui tiga tahap model alir, yaitu reduksi data, penyajian data, dan
verifikasi data. Teknik yang digunakan dalam memeriksa keabsahan data dan
kejenuhan data dalam penelitian ini adalah ketekunan pengamatan dan triangulasi
data. Triangulasi data yang dilaksanakan menggunakan dua cara, yaitu melalui
sumber dan teori.
3. Hasil
Penelitian
Hasil
penelitian dari jurnal ini yaitu sebagai berikut:[10]
Faktor-faktor
Penyebab Kesulitan Belajar Siswa dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara
1. Motif/Motivasi
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa motif/motivasi siswa yang mengalami kesulitan
belajar dalam pembelajaran keterampilan berbicara tergolong rendah. Hal ini
dapat dilihat dari rendahnya ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran
keterampilan berbicara. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa
kurang bergairah mengikuti pembelajaran walaupun siswa mengetahui pentingnya
memiliki keterampilan berbicara.
2. Kebiasaan
Belajar
Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan belajar siswa yang mengalami
kesulitan dalam pembelajaran keterampilan berbicara tergolong kurang baik.
Siswa belajar hanya mengikuti jadwal yang ada di sekolah dan itupun dilakukan
secara tidak teratur. Dilihat dari cara belajar siswa kelas VIIE
SMPN 5 Negara, siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran
keterampilan berbicara menggunakan metode menghafal dalam belajarnya. Bahkan,
banyak yang mengakui hanya belajar dengan teknik membaca dalam hati. Penggunaan
teknik membaca dalam hati tentunya kurang tepat digunakan untuk melatih keterampilan
berbicara, khususnya dalam melatih pelafalan kata-kata.
3. Penguasaan
Komponen Kebahasaan
Hasil
Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa mengenai komponen kebahasaan,
yaitu menyangkut (a) lafal, nada, intonasi, sendi, durasi, (b) diksi, (c)
struktur kebahasaan, dan (d) gaya bahasa masih sangat rendah. Yang menjadi
tujuan utama siswa ketika berbicara di depan kelas adalah dapat dengan cepat
menyelesaikan pembicaraannya. Hal ini berakibat pada lafal, nada, sendi, dan
durasi yang sering diabaikan siswa. Komponen kebahasaan yang juga memengaruhi
kesulitan belajar dalam pembelajaran berbicara adalah diksi. Siswa sering
merasa kehabisan kata-kata dalam menyampaikan pembicaraannya. Bahkan,
penggunaan kosa kata bahasa Bali kerap ditemui pada tuturan siswa karena siswa
merasa kesulitan dalam mencari padanan bahasa Indonesianya.
4. Penguasaan
Komponen Isi
Dari empat
komponen isi yang terdiri atas (1) hubungan isi dengan topik, (2) struktur isi,
(3) kualitas isi, dan (4) kuantitas isi, hanya penguasaan komponen isi
‘hubungan isi dengan topik’ yang menunjukkan penguasaan yang memadai. Melihat
hasil temuan dari komponen isi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
rendahnya kemampuan penguasaan komponen isi siswa kelas VIIE SMPN 5 Negara
merupakan salah satu faktor penyebab kesulitan belajar keterampilan berbicara
siswa.
5. Sikap
Mental
Penelitian
ini menemukan bahwa siswa malu, takut, dan gerogi ketika tampil di depan
teman-temannya. Siswa kurang memiliki rasa percaya diri dalam berbicara. Rendahnya
rasa percaya diri dalam diri siswa disebabkan oleh kurangnya persiapan dan
kurangnya pemahaman terhadap unsur kebahasaan dan nonkebahasaan yang
berpengaruh dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Selain itu, rasa kurang
percaya diri juga dikarenakan oleh rendahnya pemahaman siswa terhadap komponen
isi dan kurangnya pengalaman tampil berbicara di depan umum.
6. Hubungan/Interaksi
antara Guru dan Murid
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa hubungan/interaksi antara guru dan siswa dalam
pembelajaran keterampilan berbicara tergolong kurang. Hal ini dibuktikan dengan
tidak adanya tuntunan saat siswa sedang menyusun pembicaraannya. Selain itu,
guru jarang melakukan interaksi dalam bentuk tanya jawab. Alasan guru melakukan
hal tersebut adalah karena siswa cenderung diam ketika diminta untuk menjawab
pertanyaan ataupun mengajukan pendapat.
7. Penggunaan
Metode Mengajar
Metode
pembelajaran yang sudah digunaksan guru dalam pembelajaran keterampilan
berbicara adalah metode ceramah, penugasan, tanya jawab, dan diskusi. Dari
metode-metode tersebut, diakui guru bahwa metode ceramahlah paling banyak
digunakan. Penggunaan metode ceramah yang mendominasi pembelajaran tampaknya
telah menjadi salah satu faktor penyebab kesulitan belajar siswa dalam
pembelajaran keterampilan berbicara.
8. Penggunaan
Media Pembelajaran
Dari hasil
wawancara dengan siswa dan guru diperoleh hasil bahwa guru belum menggunakan
media dalam pembelajaran. Ketiadaan media dalam pembelajaran diakui siswa bahwa
mereka merasa tidak bersemangat dalam pembelajaran berbicara. Kurang
bersemangatnya peserta didik berdampak pada hasil belajar keterampilan
berbicara yang masih rendah.
9. Hubungan/Interaksi
antara Siswa dan Siswa
Dari hasil
wawancara dengan siswa dan guru diperoleh hasil bahwa dalam pembelajaran
keterampilan berbicara, hubungan/interaksi antara siswa dan siswa masih rendah.
Hal ini terlihat dari sikap siswa yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan
enggan berdiskusi dengan temannya. Dari hasil wawancara baik dengan siswa maupun
guru terlihat bahwa sikap siswa pasif dalam pembelajaran keterampilan
berbicara.
Berdasarkan
hasil temuan dan pembahasan yang dilakukan terhadap faktor penyebab kesulitan
belajar siswa terungkap bahwa dari sembilan faktor tersebut, faktor yang paling
dominan menyebabkan kesulitan belajar siswa kelas VIIE SMPN 5 Negara dalam
pembelajaran keterampilan berbicara adalah faktor sikap mental. Hal ini
tampak dari hasil observasi dan wawancara terhadap guru dan siswa. Rasa malu,
takut, cemas, dan tidak percaya diri mengakibatkan siswa sangat tertekan dalam
mengikuti pembelajaran.
Strategi
Guru untuk Mengatasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Siswa dalam
Pembelajaran Keterampilan Berbicara Guru dalam pembelajaran keterampilan
berbicara telah menerapkan berbagai strategi untuk mengatasi kesulitan belajar
siswa. Strategi yang diterapkan oleh guru adalah strategi pembelajaran langsung
(ekspositori), strategi pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher center
strategies), strategi pembelajaran deduksi, dan strategi pembelajaran heuristik
yang diimplementasikan dengan berbagai metode, teknik, dan media pembelajaran
serta dengan menerapkan aspek-aspek penilaian tertentu.
4. Analisa
Kesulitan
belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis
dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan.[11] Sedangkan
pada penelitian ini membahas mengenai kesulitan belajar dalam pembelajaran
keterampilan berbicara atau penggunaan bahasa ujaran, dalam hal ini yaitu
proses psikologis dasar penggunaan bahsa ujaran. Kesulitan belajar merupakan
keadaan dimana siswa mengalami hambatan dalam proses belajar yang muncul karena
beberapa faktor.
Berdasarkan
hasil penelitian di atas faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dalam
pembelajaran keterampilan berbicara adalah motif/motivasi, kebiasaan belajar,
penguasaan komponen kebahasaan, penguasaan komponen isi, sikap mental,
hubungan/interaksi antara guru dan murid, penggunaaan metode mengajar,
penggunaaan media pembelajaran dan hubungan/interaksi antara siswa dan siswa.
Menurut
Muhibbin Syah faktor-faktor kesulitan belajar ada dua macam, yaitu faktor
intern siswa dan faktor ekstern siswa[12].
Dari hasil temuan dalam penelitian di atas faktor intern siswa meliputi
motivasi, kebiasaan belajar, penguasaan komponen kebahasaan, penguasaan
komponen isi, dan sikap mental. Dan faktor ekstern siswa meliputi
hubungan/interaksi antara guru dan murid, penggunaaan metode mengajar,
penggunaaan media pembelajaran dan hubungan/interaksi antara siswa dan siswa.
Motivasi
menjadi salah satu beberapa faktor kesulitan belajar, karena motivasi diakui
sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar[13].
Jika motivasi rendah pada suatu subjek belajar, siswa akan cenderung
mengacuhkannya dan akan menimbulkan hasil belajar yang tidak optimal. Motivasi
juga mempengaruhi prestasi belajar, tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan
indikator baik buruknya prestasi belajar seorang anak didik.[14]
Kebiasaan
belajar yaitu siswa yang belajar hanya pada waktu yang telah ditentukan oleh
sekolah dan tehnik belajar yang digunakan kurang tepat seperti dengan
menghafal. Padahal keterampilan membutuhkan proses belajar yang berbasis pada
praktek dan latihan yang dilakukan secara berkelanjutan dan ajeg.
Dan keterampilan bahasa tentu membutuhkan penguasaan komponen
kebahasaan dan penguasaan komponen isi. Dua hal ini merupakan hal dasar dalam
keterampilan berbicara. Sedangkan untuk sikap mental berupa kecemasan yang
dapat berupa kurangnya penguasaan komponen kebahasaan dan penguasaan komponen
isi. Sedangkan menurut Oemar Hamalik kecemasan akan menimbulkan kesulitan
belajar.
Interaksi
dalam pembelajaran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran baik interaksi
antara guru dengan siswa maupun antara sesama siswa, mengingat pemebelajaran di
sini siswa bukan belajar sendiri. Keterampilan berbicara membutuhkan stimulus,
karena keterampilan ini dapat dimanifestasikan melalui interaksi lebih dari
satu individu. Saat stimulus tidak ditemukan maka siswa akan cenderung pasif.
Penggunaaan metode mengajar dan penggunaaan media pembelajaran yang tidak
mendukung menjadikan suatu kegiatan pembelajaran tidak akan berjalan lancar.
Karena keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh bagaimana seorang guru
menyampaikan materi tersebut. Jika suatu materi disamaikan dengan metode yang
tidak tepat maka terjadi kemungkinan materi tersebut tidak akan diterima oleh
siswa dengan baik.
Dalam
penelitian ini solusi yang ditawarkan hanya memperhatikan penggunaan
strategi, metode, dan fasilitas. Akan tetapi sebelum menetapkan alternatif
pemecahan masalah kesulitan belajar guru perlu terlebih dahulu melakukan
identifikasi terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang
melandasetiap siswa.
Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas
langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan
belajar jenis
tertentu yang dialami siswa. Langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar yaitu:
1) identifikasi, 2) menentukan prioritas, 3) menentukan potensi, 4) menentukan taraf
kemampuan dalam bidang yang perlu diremediasi, 5) menetukan gejala kesulitan,
6) menganalisis faktor-faktor yang terkait, 7) menyusun rekomendasi untuk
pengajaran.
JURNAL
PENELITIAN KEDUA
1. Deskripsi
Identitas Penelitian
Jurnal ini
disusun oleh Diah Putri Lestari, mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2012, dengan judul penelitian
“Deskripsi Kesulitan Belajar pada Operasi Penjumlahan dengan Teknik Menyimpan
Siswa Kelas I SD Negeri 3 Panjer Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen Tahun
Ajaran 2011/2012”. Jenis dari penelitian ini bersifat kualitatif.
2. Metode
Penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Panjer
Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. Subjek penelitian adalah siswa kelas I
SDN 3 Panjer, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen tahun ajaran 2011/2012 yang
berjumlah 17 orang yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan.
Sumber data penelitian berasal dari guru dan siswa. Teknik pengumpulan
data dengan observasi, wawancara dan tes. Peneliti menggunakan instrumen yang
berupa lembar pengamatan observasi, wawancara, dokumentasi hasil belajar siswa
dan tes. Data yang berupa data kualitataif (berupa nilai) dianalisis dengan
menggunakan deskriptif komparatif, sedangkan data yang berupa data kualitatif
hasil wawancara menggunakan deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi
dan refleksi dari tiap-tiap siklus. Prosedur penelitian meliputi empat tahapan
yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi dan tahap
refleksi.
3. Hasil
Penelitian
Hasil
penelitian dari jurnal ini yaitu: [15]
Peneliti
melakukan perbandingan hasil evalusi siswa untuk mengetahui seberapa banyak
siswa yang mengalami kesulitan belajar penjumlahan dengan teknik menyimpan.
Pada siklus pertama peneliti melakukan pembelajaran dengan materi nama
bilangan, lambang bilangan, nilai tempat dan menguraikan bentuk panjang. Pada
siklus pertama ada siswa yang mengalami kesulitan belajar operasi penjumlahan
teknik menyimpan karena belum lancar dalam membaca.
Hasil pada
siklus pertama menjadikan peneliti melanjutkan penelitian pada siklus kedua
dengan melakukan penjumlahan teknik menyimpan dengan bersusun panjang. Menurut
Wahyudin (2008: 10) bahwa “Pada kanak-kanak dan kelas I suatu himpunan
dikembangkan dengan objek-objek yang nyata”. Oleh karena itu, peneliti menambah
media rak nilai tempat dalam pembelajaran. Peneliti juga mengajarkan operasi
hitung dengan cara pengelompokkan. Melihat kekeliruan siswa yaitu belum memahami
nilai tempat dan menggunakan proses yang keliru dalam melakukan penjumlahan
menyimpan dengan bersusun panjang, sesuai dengan yang diuraikan Mulyono
Abdurrahman (2003: 261) bahwa ”Anak mengalami kesulitan belajar matematika
sering mengalami kesulitan dalam me-ngenal dan menggunakan simbol-simbol dalam
matematika seperti +, -, =, <, > dan lain sebagainya”.
Peneliti
melakukan siklus ketiga yaitu melakukan penjumlahan menyimpan dengan cara
bersusun pendek. Kesulitan siswa dalam mengerjakan penjumlahan teknik menyimpan
dengan bersusun pendek sesuai dengan pernyataan Mulyono Abdurrahman (2003:
262-263) “Kekurangan pemahaman tentang simbol, nilai tempat, penggunaan proses
yang keliru, perhitungan dan tulisan yang tidak dapat dibaca merupakan
kekeliruan umum yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam
bidang studi matematika”.
4. Analisa
Berdasarkan
hasil penelitian di atas hal yaSng menimbulkan kesulitan belajar kesulitan
belajar pada operasi penjumlahan dengan teknik menyimpan yaitu pada tahap anak
kelas 1 SD anak belum memahami makna simbo-simbol dalam matematika, anak juga
belum belum lancar membaca sedangkan sebelum anak mampu dalam keterampilan
menghitung anak perlu menguasai keterampilan membaca terlebih dahulu. Anak
kelas 1 SD umumnya berusia antara 6 hingga 7 tahun. Menurut teori kognitif Jean
Piaget usia tersebut bahkan masih pada tahap praoperasional (praoperational
stage) yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Dimana anak memang
belum mampu mengkonservasi angka dalam tahap ini.
Maka dapat
disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menimbulkan kesulitan belajar pada
penelitian di atas adalah faktor intern siswa yaitu mengenai pemahaman mengenai
nilai tempat pada instrumen operasi penjumlahan dengan tehnik menyimpan dan
pemahaman terhadap simbol-simbol matematika. Hal ini sesuai dengan pandapat
Muhibbin Syah bahwa salah satu faktor intern siswa yang menimbulkan
kesulitan belajar yaitu kekurangmampuan psiko-fisik siswa yang bersifat
kognitif.[16] Sedangkan
untuk faktor ekstern pada penelitian di atas tidak ditemukan, karena media yang
dibutuhkan memang sudah sesuai tehnik yang digunakan
JURNAL
PENELITIAN KETIGA
1. Deskripsi
Identitas Penelitian
Jurnal ini
disusun oleh Meizuvan Khoirul Arief, Langlang Handayani dan Pratiwi Dwijananti,
yaitu para mahasiswa jurusan Fisika Universitas Negeri Semarng Indonesia. Jenis
penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang dipublikasikan pada tahun
2012.
2. Metode
Penelitian
Pada
penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus untuk mengetahui kesulitan belajar fisika siswa RSMABI se Kota Semarang.
Penelitian ini dilakukan di RSMABI Negeri se Kota Semarang yang meliputi SMA
Negeri 2 Semarang, SMA Negeri 4 Semarang.
Dalam
penelitian ini, sampel sumber data dipilih secara purposive sampling. Sampel
pada penelitian ini dipilih untuk masing-masing RSMABI adalah sebagai berikut:
(1) SMA Negeri 2 Semarang sebanyak 3 kelas, meliputi X-5, X-6, X-7, dan (2) SMA
Negeri 4 Semarang sebanyak 4 kelas, meliputi X-2, X-3, X-4, X-5. Dalam
pengambilan data angket diambil data untuk seluruh sampel yang berjumlah 224
siswa. Namun, untuk data hasil tes uraian siswa diambil data sejumlah 60 siswa.
Informasi atau data-data dalam penelitian deskriptif diperoleh melalui
dokumentasi dan angket. Data yang diharapkan adalah dokumentasi berupa soal dan
hasil tes soal uraian siswa yang disertai langkah-langkah penyelesaiannya. Soal
dianalisis dan dikelompokkan ke dalam indikator-indikator kesulitan belajar
sesuai dengan teori yang digunakan. Hasil tes soal uraian siswa ini kemudian
dianalisis dan digunakan untuk memetakan kesulitan belajar fisika. Kumpulan
data berupa skor dianalisis untuk mengetahui persentase tingkat kesulitan
belajar fisika siswa. Sedangkan, angket yang digunakan dalam penelitian ini
adalah angket tertutup. Butir-butir pada angket digunakan untuk mengetahui
faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa dalam mempelajari fisika yang
dipandang dari faktor intern dari dalam diri siswa dan faktor ekstern dari luar
diri siswa.
Penskoran
dalam penelitian ini digunakan skala Likert. Pertanyaan atau pernyataan pada
angket berupa pernyataan positif dan negatif dengan skor 4,3,2,1 untuk
pertanyaan atau pernyataan positif dan 1,2,3,4 untuk pertanyaan atau pernyataan
negatif. Kumpulan data berupa skor dianalisis untuk mengetahui persentase
setiap indikator, kemudian indikator-indikator tersebut dikelompokkan ke dalam
masing-masing faktor yang memuat indikator tersebut. Skor jawaban tiap item
yang dijawab siswa merupakan data yang dianalisis untuk mengetahui
faktor-faktor manakah yang menjadi penyebab kesulitan belajar fisika pada siswa
RSMABI.
3. Hasil
Penelitian
Hasil
penelitian berdasarkan jurnal ini yaitu:
Hasil tes soal uraian siswa
digunakan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar fisika yang dialami siswa
RSMABI. Kesulitan belajar fisika yang dapat dialami siswa dalam penelitian ini
dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu dapat dilihat pada tabel berikut:
No
|
Jenis
Kesulitan
|
Presentase
(%)
|
Kriteria
|
1
|
Kesulitan
berhitung
|
39,97
|
Rendah
|
2
|
Penguasaan
konsep
|
46,42
|
Sedang
|
3
|
Mengartikan
lambang dan mengkonservasi satuan
|
27,97
|
RSendah
|
Hal ini
berarti siswa RSMABI mengalami kesulitan belajar dalam hal penguasaan konsep.
Jika ditinjau dari data yang diperoleh, kondisi tersebut dimungkinkan terjadi.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berperan dalam menyebabkan
kesulitan belajar pada siswa. Faktor-faktor ini dapat diketahui melalui angket
yang dibagikan dan diisi oleh siswa.
Pada aspek
minat belajar menunjukkan bahwa perolehan persentase untuk indikator kebiasaan
belajar fisika sebesar 62,17% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar).
Diketahui bahwa siswa kurang mempersiapkan materi sebelum mengikuti pelajaran
fisika.
Pada aspek
bakat diperoleh persentase untuk indikator pemahaman terhadap fisika sebesar
76,67% (kategori cukup menyebabkan kesulitan belajar) dan kemampuan
menyelesaikan soal fisika sebesar 73,88% (kategori cukup menyebabkan kesulitan
belajar). Siswa merasa
lebih lambat dalam memahami materi fisika dan menyelesaikan persoalan fisika
dibandingkan mata pelajaran yang lainnya seperti biologi dan kimia.
Pada aspek
motivasi diperoleh persentase untuk indikator perhatian terhadap pembelajaran
fisika sebesar 52,68% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar) dan usaha
untuk belajar fisika sebesar 61,35% (kategori kuat menyebabkan kesulitan
belajar). Jika ada
suatu materi yang tidak dimengerti siswa saat pembelajaran fisika, siswa tidak
berusaha bertanya kepada guru. Selain itu, siswa cenderung diam dan tidak
berusaha bertanya kepada temannya yang telah mengerti materi fisika yang
dijelaskan guru. Hal ini ditambah dengan kurangnya usaha siswa dalam
mempelajari materi fisika yang menggunakan bahasa Inggris karena pada RSMABI
menggunakan pembelajaran secara bilingual. Dalam hal ini ditunjukkan dengan
kurangnya usaha siswa dalam menyediakan kamus untuk membantu memahami materi
fisika yang diajarkan menggunakan bahasa Inggris. Selanjutnya, dapat
ditunjukkan pula bahwa siswa kurang memperhatikan ketika guru mengajarkan
materi fisika di kelas.
Pada aspek
intelegensi diperoleh persentase untuk indikator kecakapan dalam menyelesaikan
persoalan fisika sebesar 74,61% (kategori cukup menyebabkan kesulitan belajar),
penguasaan bahasa Inggris sebesar 63,43% (kategori cukup menyebabkan kesulitan
belajar), dan intensitas mengikuti remidi sebesar 74,33%. Siswa merasa
mengalami kesulitan dan tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan fisika.
Selain itu, siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi fisika yang disampaikan
secara bilingual. Selanjutnya, dari angket diperoleh data bahwa siswa sering
mengikuti remidi setiap diadakan evaluasi dalam pembelajaran fisika.
Aspek guru
tidak boleh dilepaskan dalam fenomena kesulitan belajar fisika yang dialami
siswa khususnya dalam hal penguasaan konsep. Pada aspek ini diperoleh
persentase untuk indikator penggunaan metode belajar sebesar 56,40% (kategori
kuat menyebabkan kesulitan belajar) dan penggunaan alat peraga sebesar 56,92%
(kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar). Metode yang digunakan guru
tidak bervariasi dan cenderung menggunakan metode ceramah. Selain itu, guru
masih kurang dalam menggunakan laboratorium dalam kegiatan pembelajaran fisika.
Selanjutnya, guru masih kurang dalam menggunakan alat peraga baik itu langsung
maupun tidak langsung yang dapat ditampilkan melalui LCD.
Pada aspek
aktivitas diperoleh persentase untuk indikator keaktifan berorganisasi sebesar
50,78% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar) dan manajemen waktu
belajar sebesar 57,70% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar). Siswa aktif
mengikuti kegiatan keorganisasian dan hal ini berimbas pada tidak teraturnya
jadwal dalam belajar fisika.
Kesulitan
belajar fisika pada siswa harus segera diatasi. Kesulitan belajar fisika yang
berkelanjutan menyebabkan siswa kesulitan dalam memahami konsep-konsep fisika
selanjutnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru adalah melakukan
diagnosis yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kesulitan
belajar. Untuk mendiagnosa kesulitan belajar, guru dapat menduga ketika
pembelajaran di kelas. Apabila siswa tidak mampu memahami konsep yang baru
diajarkan dan siswa terus menerus meminta guru mengulangi dalam menjelaskan
suatu konsep maka siswa dapat dikatakan mengalami kesulitan dalam memahami
suatu konsep atau penjelasan guru masih sulit dipahami. Setelah penyebab
kesulitan diketahui, maka perlu direncanakan tindakan yang tepat untuk
mengatasi masalah belajar ini.
4. Analisa
Berdasarkan
hasil penelitian di atas, beberapa faktor yang saling berperan dalam
menyebabkan kesulitan belajar pada siswa yaitu; pertama aspek
minat belajar pada indikator kebiasaan belajar fisika memilki pengaruh kuat
yang menyebabkan kesulitan belajar. Karena ketika siswa memiliki minat belajar
rendah ia akan menggunakan sedikit waktunya untuk mempelajarinya.
Kedua aspek bakat
pada indikator pemahaman terhadap fisika memiliki cukup pengaruh menyebabkan
kesulitan belajar dan kemampuan menyelesaikan soal fisika memilki cukup
pengaruh menyebabkan kesulitan belajar.Karena pemahaman yang rendah
yang menyebabkan kemampuan menyelesaikan soal yang rendah pula akan berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. Tingkat pemahaman siswa dapat diukur melaui
kemampuan menyelesaikan soal yang dimanestifikasikan berupa nilai.
Ketiga aspek
motivasi pada indikator perhatian terhadap pembelajaran fisika memiliki
pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar dan usaha untuk belajar fisika
memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar.Motivasi
sangat berperan penting dalam proses belajar siswa, karena merupakan dorongan
bagi siswa untuk belajar. Motivasi sebagai pendorong perbuatan, sesuatu yang
akan dicari untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan
dipelajari. Motivasi
memiliki pengaruh terhadap pembelajaran siswa yaitu meningkatkan usaha dan
energi. Ketika motivasi rendah maka hasil dari proses belajar siswa akan
tidak optimal.
Keempat aspek
intelegensi pada indikator kecakapan dalam menyelesaikan persoalan fisika
memiliki cukup pengaruh menyebabkan kesulitan belajar, penguasaan bahasa
Inggris memiliki pengaruh menyebabkan kesulitan belajar, dan intensitas
mengikuti remidi memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar. Kapasitas
intelegensi berpengaruh pada proses penerimaan materi belajar oleh siswa.
Intelegensi merupakan faktor intern siswa yang bersifat kognitif. Sebgaimana
kutipan Muhibbin Syah bahwa faktor intern siswa meliputi gangguan atau
kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni yang bersifat kognitif, seperti
rendahnya kapasitas intelegensi siswa, yangbersifat afektif, seperti
labilnya emosi dan sikap, yang bersifat psikomotor, seperti terganggunya alat-alat
indra penglihatan danpendengaran.
Kelima aspek guru
pada indikator penggunaan metode belajar memiliki pengaruh kuat menyebabkan
kesulitan belajar dan penggunaan alat peraga memiliki pengaruh kuat menyebabkan
kesulitan belajar. Perlunya kreativitas guru dalam memilih metode dan
menggunakan media pendukung, karena hal ini akan berpengaruh pada efektivitas proses
pembelajaran.
Keenam aspek
aktivitas pada indikator keaktifan berorganisasi sebesar memiliki pengaruh kuat
menyebabkan kesulitan belajar dan manajemen waktu belajar memiliki pengaruh
kuat menyebabkan kesulitan belajar. Seorang siswa yang aktif berorganisasi
tetapi tidak diimbangi dengan manajemen waktu yang baik, maka akan menyita
waktu yang semestinya untuk belajar digunakan untuk kesibukan berorganisasi.
Cara untuk
mengatasi kesulitan belajar yaitu melakukan diagnosis yang bertujuan untuk
mengidentifikasi jenis dan penyebab kesulitan belajar. Setelah penyebab
kesulitan diketahui, maka perlu direncanakan tindakan yang tepat untuk
mengatasi masalah belajar ini. Prosedur atau langkah-langkah melaksanakan
diagnosis kesulitan belajar yaitu; 1) mengidentifikasi peserta didik yang
diperkirakan mengalami kesulitan, belajar, 2) melokasisasi letak kesulitan
belajar, 3) menentukan faktor penyebab kesulitan belajar, 4) memperkirakan
alternatif bantuan, 5) menetapkan kemungkinan cara mengatasinya, 6) tindak lanjut.
E.
EVALUASI
DIAGNOSTIK
Evaluasi Diagnostik : Yang dilaksanakan untuk
keperluan mengenal latar belakang (psikologi fisik, lingkungan) dari murid yang
mengalami kesulitan-kesulitan belajar.
Menurut Muzayyin, meskipun dalam sumber ilmu pendidikan Islam, klasifikasi jenis evaluasi di atas tidak kita temukan secara eksplisit, namun dalam praktek dapat diketahui bahwa pada perinsipnya jenis evaluasi seperti ini sering sekali ditemukan. Di samping itu di dalam pendidikan Islam kita bisa saja mengadopsi hal-hal yang positif yang datang dari luar untuk diterapkan pula dalam pendidikan Islam selama yang diadopsi itu tidak bertentangan denganprinsipkependidikandalamIslam.
Allah dalam berbagai firman-Nya dalam kitab suci Al Qur’an memberitahukan kepada kita bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian tugas pendidikan yang dilaksanakan oleh pendidik. Ada tiga tujuan pedagogis dari sistem evaluasi Tuhan terhadap perbuatan manusia yaitu ;
1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupanyangdialaminya.
2. Untuk mengetahui sampai di mana atau sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah diterapkanRasulullahSAWterhadapumatnya.
3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman manusia, sehingga diketahui manusia yang paling mulia di sisi Allah yaitu yang paling bertaqwa kepada-Nya, manusia yang sedang dalam iman dan ketaqwaannya, dan manusia yang ingkar kepada ajaranIslam.
Adapun sistem evaluasi yang terapkan oleh Allah tidak menggunakan sistem laboratorial seperti dalam dunia ilmu pengetahuan modern sekarang. Namun prinsip-prinsipnya menunjukan bahwa sistem pengukuran terhadap prilaku manusia yang beriman dan tak beriman secara umum telah pula ditunjukan dalam Al Qur’an. Misalnya ayat-ayat yang menunjukan bahwa sifat-sifat atau watak manusia mukmin adalah bila shalat mereka khusyu’, melaksanakan perintah zakat, menjaga kemaluan terhadap wanita yang bukan istri (seperti tersebut dalam QS. Al-Mu’minun ayat1-5). Orang beriman jika disebut nama Allah, gemetarlah hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya (seperti tersebut dalam QS. Al-Anfal ayat2). Dan jika ditimpakan musibah mereka mengucapkan : “InnalillaahiwainnaIlahiraji’uun”.
Untuk mengetahui sejauh mana kuatnya iman seseorang, Allah SWT terkadang mengevaluasinya melalui berbagai cobaan yang besar. Allah SWT berfirman :
أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون
ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين
Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji (dievaluasi) lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut,29:2-3).
Sasaran evaluasi dengan teknik testing tersebut, adalah ketahanan mental beriman dan taqwa kepada Allah. Jika mereka ternyata tahan terhadap uji coba Tuhan, mereka akan mendapatkan kegembiraan dalam segala bentuk, terutama kegembiraan yang bersifat mental rohaniah. Seperti kelapangan dada, ketegaran hati, terhindar dari putus asa, kesehatan jiwa dan kegembiraan paling tinggi nilainya adalah mendapatkan tiket masuk surga.
Sistem evaluasi untuk mengetahui apakah bersyukur ataukah kufur terhadap Tuhan, sebagaimanafirman-Nya :
قال الذي عنده علم من الكتاب أنا آتيك به قبل أن يرتد إليك طرفك فلما رآه مستقرا عنده قال هذا من فضل ربي ليبلوني أأشكر أم أكفر ومن شكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن ربي غني كريم
“……..iapun berkata (orang yang berilmu dari Al-Kitab) : ia termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakan aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml,40).
Menurut Muzayyin, meskipun dalam sumber ilmu pendidikan Islam, klasifikasi jenis evaluasi di atas tidak kita temukan secara eksplisit, namun dalam praktek dapat diketahui bahwa pada perinsipnya jenis evaluasi seperti ini sering sekali ditemukan. Di samping itu di dalam pendidikan Islam kita bisa saja mengadopsi hal-hal yang positif yang datang dari luar untuk diterapkan pula dalam pendidikan Islam selama yang diadopsi itu tidak bertentangan denganprinsipkependidikandalamIslam.
Allah dalam berbagai firman-Nya dalam kitab suci Al Qur’an memberitahukan kepada kita bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian tugas pendidikan yang dilaksanakan oleh pendidik. Ada tiga tujuan pedagogis dari sistem evaluasi Tuhan terhadap perbuatan manusia yaitu ;
1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupanyangdialaminya.
2. Untuk mengetahui sampai di mana atau sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah diterapkanRasulullahSAWterhadapumatnya.
3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman manusia, sehingga diketahui manusia yang paling mulia di sisi Allah yaitu yang paling bertaqwa kepada-Nya, manusia yang sedang dalam iman dan ketaqwaannya, dan manusia yang ingkar kepada ajaranIslam.
Adapun sistem evaluasi yang terapkan oleh Allah tidak menggunakan sistem laboratorial seperti dalam dunia ilmu pengetahuan modern sekarang. Namun prinsip-prinsipnya menunjukan bahwa sistem pengukuran terhadap prilaku manusia yang beriman dan tak beriman secara umum telah pula ditunjukan dalam Al Qur’an. Misalnya ayat-ayat yang menunjukan bahwa sifat-sifat atau watak manusia mukmin adalah bila shalat mereka khusyu’, melaksanakan perintah zakat, menjaga kemaluan terhadap wanita yang bukan istri (seperti tersebut dalam QS. Al-Mu’minun ayat1-5). Orang beriman jika disebut nama Allah, gemetarlah hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya (seperti tersebut dalam QS. Al-Anfal ayat2). Dan jika ditimpakan musibah mereka mengucapkan : “InnalillaahiwainnaIlahiraji’uun”.
Untuk mengetahui sejauh mana kuatnya iman seseorang, Allah SWT terkadang mengevaluasinya melalui berbagai cobaan yang besar. Allah SWT berfirman :
أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون
ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين
Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji (dievaluasi) lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut,29:2-3).
Sasaran evaluasi dengan teknik testing tersebut, adalah ketahanan mental beriman dan taqwa kepada Allah. Jika mereka ternyata tahan terhadap uji coba Tuhan, mereka akan mendapatkan kegembiraan dalam segala bentuk, terutama kegembiraan yang bersifat mental rohaniah. Seperti kelapangan dada, ketegaran hati, terhindar dari putus asa, kesehatan jiwa dan kegembiraan paling tinggi nilainya adalah mendapatkan tiket masuk surga.
Sistem evaluasi untuk mengetahui apakah bersyukur ataukah kufur terhadap Tuhan, sebagaimanafirman-Nya :
قال الذي عنده علم من الكتاب أنا آتيك به قبل أن يرتد إليك طرفك فلما رآه مستقرا عنده قال هذا من فضل ربي ليبلوني أأشكر أم أكفر ومن شكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن ربي غني كريم
“……..iapun berkata (orang yang berilmu dari Al-Kitab) : ia termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakan aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml,40).
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi, Abu.
1991. Psikologi Belajar. Jakarta. PT Rineka Cipta
Makmun,AbinSyamsuddin.2005. Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajara Modul.
Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Syah,
Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung:
PT Remaja Rosda Karya.
Abdurrahman,
Mulyono. 1998. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta.
PT Rineka Cipta.
Bahri
Djamarah, Syaiful. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
http://pasca.undiksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnal_bahasa/article/viewFile/355/149, diakses
pada hari Sabtu 18 Februari 2017.
http://www.jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pgsdkebumen/article/download/304/163, diakses
pada hari Sabtu 18 Februari 2017.
[2] Muhibbin
Syah. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. 1995. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. Hal. 175
[9] Ibid.
Hal. 309
[10]http://pasca.undiksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnal_bahasa/article/viewFile/355/149, diakses
pada hari Sabtu 18 Februari 2017.
[11] Mulyono
Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta :
PT Rineka Cipta, 1998), h. 7-8
[15] http://www.jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pgsdkebumen/article/download/304/163, diakses
pada hari Sabtu 18 Februari 2017.
[16]
Ibid.h.173
[s1]Implisit = selengkapnya
Maksudnya, secara lengkap kita itu biasa
menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi oleh siswa ( kasus ) itu masih mungkin
atau tidak mungkin untuk kita bisa atasi, dan apakah ada alternatif yang
mungkin bisa untuk kita tempuh?.
ingin mendapatka penghasilan dengan nonton youtube haya 5 detik saja ayo daftarkan diri anda di rajaview dengan web dibawah dibawahini
https://rajaview.id/berpenghasilanview
RPP tentang SITEM PETIDAKSAMAAN LINIER TIGA VARIABEL
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : MA. Ittihadil Ummah Mata Pelajaran/Tema : Matematika/Sistem Persamaan dan Pe...










