Rabu, 26 April 2017

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DAN ALTERMATIF PEMECAHAN MASALAHNYA



PSIKOLOGI PENDIDIKAN
TENTANG
“DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH KESULITAN BELAJAR”
DOSEN PPENGAMPU : Saimun, S.Ag, M.Si
Disusun oleh
NAMA : SITI NURHALIMAH
NIM     : 160103088




JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
TH. 2017

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH KESULITAN BELAJAR
A.            Diagnosisi Kesulitan Belajar
Mengatasi kesulitan belajar, tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor kesulitan belajar. Oleh karena itu mencari sumber penyebab utama dan sumber-sumber penyebab penyerta lainnya, adalah menjadi mutlak adanya dalam rangka mengatasi kesulitan belajar.[1]
Dan kesulitan belajar tersebut dapat di ketahui dari menurunnya kinerja akademik dan munculnya misbehavior siswa, baik yang berkapasitas tinggi maupun yang berkapasitas rendah,karena factor intern siswa dan ekstern siswa.[2]
Diagnosis, merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adobsi dari bidang medis. Menurut thorndike dan hagen diagnosis dapat di artikan sebagai:
1.              Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang di alami seseorang dengan melalui pengujian dan studi menurut gejaja-gejalanya
2.              Studi yang seksama terhadap fakta tentang sesuatu hal untuk menemukan karakterristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial.
3.              Keputusan yang di capai setelah dilakukan sesuatu studi yang seksama atas gejal-gejal atau fakta atau suatu hal
Dari ketiga pengertian tersebut di atas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tersimpul pula konsep prognosisnya[s1] . Dengan demikian, di dalam pekerjaan diagnostik bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan (predicting) kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.[3]
Sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi  (upaya mengenali gejala) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan jenis penyakit yaitu jenis kesulitan belajar siswa.[4]
Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai diagnostik kesulitan belajar.[5]
Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat disentuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener dan Senf ( 1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut:
1.  Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran
2.  Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa, khususnya yang diduka mengalami kesulitan belajar
3.   Mewawancarai  orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar
4.   Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5.  Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan.[6]
Secara umum, langkah-langkah terdebut di atas dapat dilakukan dengan mudah oleh guru kecuali lagkah ke-5 (tes IQ). Untuk keperluan tes IQ, guru dan orangtua siswa dapat berhubungan langsung dengan klinik psikologi. Dalam hal  ini, yang perlu dicatat siswa apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar itu ber-IQ jauh dibawah nol (tuna grahita), orantua hendaknya mengirimkan siswa tersebut ke lembaga pendidikan khusus anak-anak tuna grahita (sekolah luar biasa), karena lembaga/ sekolah biasa tidak menyediakan tenaga pendidik dan kemudahan belajar khusus untuk anak-anak abnormal. Selanjutnya, para siswa yang nyata-nyata menunjukkan kelainan perilaku (misbehavior ) berat seperti perilaku agresif yang berpotensi antisosial atau kecanduan narkotika, harus diperlakukan secara khusus pula, umpamanya dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan anak- anak atau ke pesantern khusus pecandu narkotika.[7]
Adapun untuk mengatasi kesulitan belajar siswa mengidap sindrom disleksia (ketidakmampuan belajar membaca), disgrafia (ketidakmampuan belajar menulis), diskalkulia (ketidakmampuan belajar matematika), guru dan orangtua sangat dianjurkan untuk memanfaatkan support teacher (guru pendukung).Guru khusus ini biasanya bertugas menangani para siswa mengidap sindrom-sindrom tadi di samping melakukan remedial teaching (pengajaran perbaikan).[8]
Perlu diketahui juga, awalnya banya pendapat yang menyatakan keberhasilan anak dan pendidikan anak sangat tergantung pada IQ (intelligence quotient). Namun memasuki abad ke 90-an pedapat itu mulai berubah. Daniel Goleman mengungkapkan bahwa keberhasilan anak sangat tergantung pada kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang dimiliki. Jadi IQ bukanlah satu satunya yang mempengaruhi keberhasilan anak, masih ada emotional intelligence yang juga perlu diperhatikan.
Ini adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasaan, dan mengatur suasana hati.
B.            Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
Ross dan Stanley ( 1956:332-341 ) menggariskan tahapan-tahapan diagnosis (the level of diagnosis) itu sebagai berikut.
a.       Who are the pupils having trouble?
b.      Where are the errors located?
c.       Why are the errors occur?
d.      What remedies are suggested?
e.       How can errors be prevented?[9]
C.            Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar
Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan  tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut :
1.      Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa,
2.      Mengidentifikasi  dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan,
3.      Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
Setelah langkah-langkah diatas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yakni melaksanakan program perbaikan.
Ø   Analisis Hasil Diagnosis
Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnostik kesulitan belajar yang perlu dianalisis sedemikian rupa,sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti. Contoh: Badu mengalami kesulitan khusus dalam memahami konsep  “jurnal penyesuian ”. Jurnal penyesuaian ialah jurnal yang dibuat pada akhir periode untuk menyesuaikan saldo-saldo perkiraan (akun) agar menunjukkan keadaan sebenarnya sebelum penyusunan laporan keuangan. Pemahaman tentang beban gaji yang masih harus dibayar misalnya, Badu masih kesulitan dalam menentukan akun-akun terkait dan membuat jurnal untuk akun-akun yang bersangkutan.
Ø   Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah
Berdasarkan hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan tertentu dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam.
1.      Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
2.      Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua.
3.      Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orang tua .
Bidang kecakapan yang tidak dapat ditangani atau terlalu sulit untuk ditangani baik oleh guru maupun orang tua dapat bersumber dari kasus kasus tunagrahita (lemah mental) dan kecanduan narkotika. Termasuk dalam lingkungan dua macam kasus yang bermasalah berat ini dipandang tidak berketerampilan (unskilled people). Oleh karenanya, para siswa mengalami kedua masalah kesulitan belajar yang berat tersebut tidak hanya memerlukan pendidikan khusus, tetapi juga memerlukan perawatan khusus.
Kembali kesoal Badu. Ternyata, dari hasil diagnosis diketahui bahwa ia belum memilki kecakapan memahami konteks penyesuaian, khususnya beban dibayar dimuka, pendapatan dibayar dimuka. Akibatnya, penyesuaian yang dibuat harusnya beban dibayar dimuka disamakan dengan beban saja dll.
Ø   Menyusun Program Perbaikan
Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Tujuan pengajaran remedial
2.      Meteri pengajaran  remedial
3.      Metode pengajaran remedial
4.      Alokasi waktu pengajaran remedial
5.      Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial
Agar lebih jelas, berikut ini penyusunan sajikan sebuah contoh program pengajaran remedial  yang sengaja dikaitkan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa  bernama Badu  seperti  dimuka .
Contoh:
Program Pengajaran Remedial
Nama siswa                                         :Badu
Kelas                                                   : 11 A2, SMA “XY” Bandung
Jenis kesulitan                                     :Menentukan akun penyesuaian pada gaji yang masih harus dibayar dan membuat jurnalnya
Tujuan Remedial                                 :Badu dapat menentukan akun-akun terkait dengan   penyesuaian gaji yang masih harus dibayar serta dapat membuat jurnal atas akun-akun tersebut
Materi Remedial                                : 1.Sebuah transaksi yang menunjukan adanya pengaruh terhadap kas, yaitu transaksi yang bersifat mengurangi. Serta penerapan pada posisi debit dan kreditnya.
2.Sebuah transaksi yang menunjukan adanya pengaruh terhadap penambahan utang dan tidak memperngaruhi kas, serta posisi debit kredit dari akun yang bersangkutan.
3.Dua buah transaksi yang disajikan untuk dinalisis, yang pertama pembayaran dilakukan diawal dan pembayaran dilakukan diakhir.
Alokasi waktu remedial                      : 90 menit
Evaluasi remedial                                 : Menggunakan instrumen tes isian untuk menganalisis transaksi-transaksi tersebut dan menjurnalnya pada kolom-kolom jurnal yang telah disediakan
Ø   Melaksanakan Program Perbaikan
Pada prinsipnya, program pengajaran remedial itu lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bisa dimana saja, asal tempat itu memungkinkan siswa memusatkan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut. Namun patut dipertimbangkan oleh guru pembimbing kemungkinan digunakannya ruangbimbingan dan penyuluhan yang tersedia disekolah dalam rangka mendayagunakan ruang BP tersebut.
D.             PENELITIAN YANG RELEVAN

JURNAL PENELITIAN PERTAMA
1.    Deskripsi Identitas Penelitian
Jurnal ini disusun oleh I Putu Mas Dewantara, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Pendidikan Ganesha, dengan judul “Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Keterampilan Berbicara Siswa Kelas VIIE SMPN 5 Negara dan Strategi Guru untuk Mengatasinya”. Jenis penelitian ini bersifat kulalitatif, dan disusun pada tahun 2012.
2.    Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Oleh karena itu, sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIE dan guru bahasa Indonesia SMPN 5 Negara. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan observasi. Metode wawancara digunakan untuk mengumpulkan data mengenai kesulitan belajar siswa dan rasional guru dalam memilih strategi pembelajaran, sedangkan metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai strategi guru. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan analisis deskriptif kualitatif. Analisis data dalam penelitian yang dilaksanakan ini berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data. Pengolahan data tersebut di antaranya adalah melalui tiga tahap model alir, yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Teknik yang digunakan dalam memeriksa keabsahan data dan kejenuhan data dalam penelitian ini adalah ketekunan pengamatan dan triangulasi data. Triangulasi data yang dilaksanakan menggunakan dua cara, yaitu melalui sumber dan teori.
3.    Hasil Penelitian
Hasil penelitian dari jurnal ini yaitu sebagai berikut:[10]
Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar Siswa dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara
 1.     Motif/Motivasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif/motivasi siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam pembelajaran keterampilan berbicara tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran keterampilan berbicara. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa kurang bergairah mengikuti pembelajaran walaupun siswa mengetahui pentingnya memiliki keterampilan berbicara.
2.     Kebiasaan Belajar
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan belajar siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran keterampilan berbicara tergolong kurang baik. Siswa belajar hanya mengikuti jadwal yang ada di sekolah dan itupun dilakukan secara tidak teratur.  Dilihat dari cara belajar siswa kelas VIIE SMPN 5 Negara, siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran keterampilan berbicara menggunakan metode menghafal dalam belajarnya. Bahkan, banyak yang mengakui hanya belajar dengan teknik membaca dalam hati. Penggunaan teknik membaca dalam hati tentunya kurang tepat digunakan untuk melatih keterampilan berbicara, khususnya dalam melatih pelafalan kata-kata.
 3.     Penguasaan Komponen Kebahasaan
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa mengenai komponen kebahasaan, yaitu menyangkut (a) lafal, nada, intonasi, sendi, durasi, (b) diksi, (c) struktur kebahasaan, dan (d) gaya bahasa masih sangat rendah. Yang menjadi tujuan utama siswa ketika berbicara di depan kelas adalah dapat dengan cepat menyelesaikan pembicaraannya. Hal ini berakibat pada lafal, nada, sendi, dan durasi yang sering diabaikan siswa. Komponen kebahasaan yang juga memengaruhi kesulitan belajar dalam pembelajaran berbicara adalah diksi. Siswa sering merasa kehabisan kata-kata dalam menyampaikan pembicaraannya. Bahkan, penggunaan kosa kata bahasa Bali kerap ditemui pada tuturan siswa karena siswa merasa kesulitan dalam mencari padanan bahasa Indonesianya.
 4.     Penguasaan Komponen Isi
Dari empat komponen isi yang terdiri atas (1) hubungan isi dengan topik, (2) struktur isi, (3) kualitas isi, dan (4) kuantitas isi, hanya penguasaan komponen isi ‘hubungan isi dengan topik’ yang menunjukkan penguasaan yang memadai. Melihat hasil temuan dari komponen isi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa rendahnya kemampuan penguasaan komponen isi siswa kelas VIIE SMPN 5 Negara merupakan salah satu faktor penyebab kesulitan belajar keterampilan berbicara siswa.
5.     Sikap Mental
Penelitian ini menemukan bahwa siswa malu, takut, dan gerogi ketika tampil di depan teman-temannya. Siswa kurang memiliki rasa percaya diri dalam berbicara. Rendahnya rasa percaya diri dalam diri siswa disebabkan oleh kurangnya persiapan dan kurangnya pemahaman terhadap unsur kebahasaan dan nonkebahasaan yang berpengaruh dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Selain itu, rasa kurang percaya diri juga dikarenakan oleh rendahnya pemahaman siswa terhadap komponen isi dan kurangnya pengalaman tampil berbicara di depan umum.
6.     Hubungan/Interaksi antara Guru dan Murid
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan/interaksi antara guru dan siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara tergolong kurang. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya tuntunan saat siswa sedang menyusun pembicaraannya. Selain itu, guru jarang melakukan interaksi dalam bentuk tanya jawab. Alasan guru melakukan hal tersebut adalah karena siswa cenderung diam ketika diminta untuk menjawab pertanyaan ataupun mengajukan pendapat.
 7.     Penggunaan Metode Mengajar
Metode pembelajaran yang sudah digunaksan guru dalam pembelajaran keterampilan berbicara adalah metode ceramah, penugasan, tanya jawab, dan diskusi. Dari metode-metode tersebut, diakui guru bahwa metode ceramahlah paling banyak digunakan. Penggunaan metode ceramah yang mendominasi pembelajaran tampaknya telah menjadi salah satu faktor penyebab kesulitan belajar siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara.
 8.     Penggunaan Media Pembelajaran
Dari hasil wawancara dengan siswa dan guru diperoleh hasil bahwa guru belum menggunakan media dalam pembelajaran. Ketiadaan media dalam pembelajaran diakui siswa bahwa mereka merasa tidak bersemangat dalam pembelajaran berbicara. Kurang bersemangatnya peserta didik berdampak pada hasil belajar keterampilan berbicara yang masih rendah.
       9.     Hubungan/Interaksi antara Siswa dan Siswa
Dari hasil wawancara dengan siswa dan guru diperoleh hasil bahwa dalam pembelajaran keterampilan berbicara, hubungan/interaksi antara siswa dan siswa masih rendah. Hal ini terlihat dari sikap siswa yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan enggan berdiskusi dengan temannya. Dari hasil wawancara baik dengan siswa maupun guru terlihat bahwa sikap siswa pasif dalam pembelajaran keterampilan berbicara.
Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan yang dilakukan terhadap faktor penyebab kesulitan belajar siswa terungkap bahwa dari sembilan faktor tersebut, faktor yang paling dominan menyebabkan kesulitan belajar siswa kelas VIIE SMPN 5 Negara dalam pembelajaran keterampilan berbicara adalah faktor sikap mental. Hal ini tampak dari hasil observasi dan wawancara terhadap guru dan siswa. Rasa malu, takut, cemas, dan tidak percaya diri mengakibatkan siswa sangat tertekan dalam mengikuti pembelajaran.
Strategi Guru untuk Mengatasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Siswa dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara Guru dalam pembelajaran keterampilan berbicara telah menerapkan berbagai strategi untuk mengatasi kesulitan belajar siswa. Strategi yang diterapkan oleh guru adalah strategi pembelajaran langsung (ekspositori), strategi pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher center strategies), strategi pembelajaran deduksi, dan strategi pembelajaran heuristik yang diimplementasikan dengan berbagai metode, teknik, dan media pembelajaran serta dengan menerapkan aspek-aspek penilaian tertentu.
4.    Analisa
Kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan.[11] Sedangkan pada penelitian ini membahas mengenai kesulitan belajar dalam pembelajaran keterampilan berbicara atau penggunaan bahasa ujaran, dalam hal ini yaitu proses psikologis dasar penggunaan bahsa ujaran. Kesulitan belajar merupakan keadaan dimana siswa mengalami hambatan dalam proses belajar yang muncul karena beberapa faktor.
Berdasarkan hasil penelitian di atas faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dalam pembelajaran keterampilan berbicara adalah motif/motivasi, kebiasaan belajar, penguasaan komponen kebahasaan, penguasaan komponen isi, sikap mental, hubungan/interaksi antara guru dan murid, penggunaaan metode mengajar, penggunaaan media pembelajaran dan hubungan/interaksi antara siswa dan siswa.
Menurut Muhibbin Syah faktor-faktor kesulitan belajar ada dua macam, yaitu faktor intern siswa dan faktor ekstern siswa[12]. Dari hasil temuan dalam penelitian di atas faktor intern siswa meliputi motivasi, kebiasaan belajar, penguasaan komponen kebahasaan, penguasaan komponen isi, dan sikap mental. Dan faktor ekstern siswa meliputi hubungan/interaksi antara guru dan murid, penggunaaan metode mengajar, penggunaaan media pembelajaran dan hubungan/interaksi antara siswa dan siswa.
Motivasi menjadi salah satu beberapa faktor kesulitan belajar, karena motivasi diakui sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar[13]. Jika motivasi rendah pada suatu subjek belajar, siswa akan cenderung mengacuhkannya dan akan menimbulkan hasil belajar yang tidak optimal. Motivasi juga mempengaruhi prestasi belajar, tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seorang anak didik.[14]
Kebiasaan belajar yaitu siswa yang belajar hanya pada waktu yang telah ditentukan oleh sekolah dan tehnik belajar yang digunakan kurang tepat seperti dengan menghafal. Padahal keterampilan membutuhkan proses belajar yang berbasis pada praktek dan latihan yang dilakukan secara berkelanjutan dan ajeg. Dan  keterampilan bahasa tentu membutuhkan penguasaan komponen kebahasaan dan penguasaan komponen isi. Dua hal ini merupakan hal dasar dalam keterampilan berbicara. Sedangkan untuk sikap mental berupa kecemasan yang dapat berupa kurangnya penguasaan komponen kebahasaan dan penguasaan komponen isi. Sedangkan menurut Oemar Hamalik kecemasan akan menimbulkan kesulitan belajar.
Interaksi dalam pembelajaran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran baik interaksi antara guru dengan siswa maupun antara sesama siswa, mengingat pemebelajaran di sini siswa bukan belajar sendiri. Keterampilan berbicara membutuhkan stimulus, karena keterampilan ini dapat dimanifestasikan melalui interaksi lebih dari satu individu. Saat stimulus tidak ditemukan maka siswa akan cenderung pasif. Penggunaaan metode mengajar dan penggunaaan media pembelajaran yang tidak mendukung menjadikan suatu kegiatan pembelajaran tidak akan berjalan lancar. Karena keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh bagaimana seorang guru menyampaikan materi tersebut. Jika suatu materi disamaikan dengan metode yang tidak tepat maka terjadi kemungkinan materi tersebut tidak akan diterima oleh siswa dengan baik.
Dalam penelitian ini solusi yang ditawarkan hanya memperhatikan penggunaan strategi, metode, dan fasilitas. Akan tetapi sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar guru perlu terlebih dahulu melakukan identifikasi terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melandasetiap siswa. Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar yaitu: 1) identifikasi, 2) menentukan prioritas, 3) menentukan potensi, 4) menentukan taraf kemampuan dalam bidang yang perlu diremediasi, 5) menetukan gejala kesulitan, 6) menganalisis faktor-faktor yang terkait, 7) menyusun rekomendasi untuk pengajaran.
JURNAL PENELITIAN KEDUA
1.    Deskripsi Identitas Penelitian
Jurnal ini disusun oleh Diah Putri Lestari, mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2012, dengan judul penelitian “Deskripsi Kesulitan Belajar pada Operasi Penjumlahan dengan Teknik Menyimpan Siswa Kelas I SD Negeri 3 Panjer Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen Tahun Ajaran 2011/2012”. Jenis dari penelitian ini bersifat kualitatif.
2.    Metode Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Panjer Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. Subjek penelitian adalah siswa kelas I SDN 3 Panjer, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 17 orang yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Sumber data penelitian berasal dari guru dan siswa.  Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan tes. Peneliti menggunakan instrumen yang berupa lembar pengamatan observasi, wawancara, dokumentasi hasil belajar siswa dan tes. Data yang berupa data kualitataif (berupa nilai) dianalisis dengan menggunakan deskriptif komparatif, sedangkan data yang berupa data kualitatif hasil wawancara menggunakan deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus. Prosedur penelitian meliputi empat tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi dan tahap refleksi.
3.    Hasil Penelitian
Hasil penelitian dari jurnal ini yaitu: [15]
Peneliti melakukan perbandingan hasil evalusi siswa untuk mengetahui seberapa banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar penjumlahan dengan teknik menyimpan. Pada siklus pertama peneliti melakukan pembelajaran dengan materi nama bilangan, lambang bilangan, nilai tempat dan menguraikan bentuk panjang. Pada siklus pertama ada siswa yang mengalami kesulitan belajar operasi penjumlahan teknik menyimpan karena belum lancar dalam membaca.
Hasil pada siklus pertama menjadikan peneliti melanjutkan penelitian pada siklus kedua dengan melakukan penjumlahan teknik menyimpan dengan bersusun panjang. Menurut Wahyudin (2008: 10) bahwa “Pada kanak-kanak dan kelas I suatu himpunan dikembangkan dengan objek-objek yang nyata”. Oleh karena itu, peneliti menambah media rak nilai tempat dalam pembelajaran. Peneliti juga mengajarkan operasi hitung dengan cara pengelompokkan. Melihat kekeliruan siswa yaitu belum memahami nilai tempat dan menggunakan proses yang keliru dalam melakukan penjumlahan menyimpan dengan bersusun panjang, sesuai dengan yang diuraikan Mulyono Abdurrahman (2003: 261) bahwa ”Anak mengalami kesulitan belajar matematika sering mengalami kesulitan dalam me-ngenal dan menggunakan simbol-simbol dalam matematika seperti +, -, =, <, > dan lain sebagainya”.
Peneliti melakukan siklus ketiga yaitu melakukan penjumlahan menyimpan dengan cara bersusun pendek. Kesulitan siswa dalam mengerjakan penjumlahan teknik menyimpan dengan bersusun pendek sesuai dengan pernyataan Mulyono Abdurrahman (2003: 262-263) “Kekurangan pemahaman tentang simbol, nilai tempat, penggunaan proses yang keliru, perhitungan dan tulisan yang tidak dapat dibaca merupakan kekeliruan umum yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam bidang studi matematika”.
4.    Analisa
Berdasarkan hasil penelitian di atas hal yaSng menimbulkan kesulitan belajar kesulitan belajar pada operasi penjumlahan dengan teknik menyimpan yaitu pada tahap anak kelas 1 SD anak belum memahami makna simbo-simbol dalam matematika, anak juga belum belum lancar membaca sedangkan sebelum anak mampu dalam keterampilan menghitung anak perlu menguasai keterampilan membaca terlebih dahulu. Anak kelas 1 SD umumnya berusia antara 6 hingga 7 tahun. Menurut teori kognitif Jean Piaget usia tersebut bahkan masih pada tahap praoperasional (praoperational stage) yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Dimana anak memang belum mampu mengkonservasi angka dalam tahap ini.
Maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menimbulkan kesulitan belajar pada penelitian di atas adalah faktor intern siswa yaitu mengenai pemahaman mengenai nilai tempat pada instrumen operasi penjumlahan dengan tehnik menyimpan dan pemahaman terhadap simbol-simbol matematika. Hal ini sesuai dengan pandapat Muhibbin Syah  bahwa salah satu faktor intern siswa yang menimbulkan kesulitan belajar yaitu kekurangmampuan psiko-fisik siswa yang bersifat kognitif.[16] Sedangkan untuk faktor ekstern pada penelitian di atas tidak ditemukan, karena media yang dibutuhkan memang sudah sesuai tehnik yang digunakan
JURNAL PENELITIAN KETIGA
1.    Deskripsi Identitas Penelitian
Jurnal ini disusun oleh Meizuvan Khoirul Arief, Langlang Handayani dan Pratiwi Dwijananti, yaitu para mahasiswa jurusan Fisika Universitas Negeri Semarng Indonesia. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang dipublikasikan pada tahun 2012.
2.    Metode Penelitian
Pada penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengetahui kesulitan belajar fisika siswa RSMABI se Kota Semarang. Penelitian ini dilakukan di RSMABI Negeri se Kota Semarang yang meliputi SMA Negeri 2 Semarang, SMA Negeri 4 Semarang.
Dalam penelitian ini, sampel sumber data dipilih secara purposive sampling. Sampel pada penelitian ini dipilih untuk masing-masing RSMABI adalah sebagai berikut: (1) SMA Negeri 2 Semarang sebanyak 3 kelas, meliputi X-5, X-6, X-7, dan (2) SMA Negeri 4 Semarang sebanyak 4 kelas, meliputi X-2, X-3, X-4, X-5. Dalam pengambilan data angket diambil data untuk seluruh sampel yang berjumlah 224 siswa. Namun, untuk data hasil tes uraian siswa diambil data sejumlah 60 siswa. Informasi atau data-data dalam penelitian deskriptif diperoleh melalui dokumentasi dan angket. Data yang diharapkan adalah dokumentasi berupa soal dan hasil tes soal uraian siswa yang disertai langkah-langkah penyelesaiannya. Soal dianalisis dan dikelompokkan ke dalam indikator-indikator kesulitan belajar sesuai dengan teori yang digunakan. Hasil tes soal uraian siswa ini kemudian dianalisis dan digunakan untuk memetakan kesulitan belajar fisika. Kumpulan data berupa skor dianalisis untuk mengetahui persentase tingkat kesulitan belajar fisika siswa. Sedangkan, angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup. Butir-butir pada angket digunakan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa dalam mempelajari fisika yang dipandang dari faktor intern dari dalam diri siswa dan faktor ekstern dari luar diri siswa.
Penskoran dalam penelitian ini digunakan skala Likert. Pertanyaan atau pernyataan pada angket berupa pernyataan positif dan negatif dengan skor 4,3,2,1 untuk pertanyaan atau pernyataan positif dan 1,2,3,4 untuk pertanyaan atau pernyataan negatif. Kumpulan data berupa skor dianalisis untuk mengetahui persentase setiap indikator, kemudian indikator-indikator tersebut dikelompokkan ke dalam masing-masing faktor yang memuat indikator tersebut. Skor jawaban tiap item yang dijawab siswa merupakan data yang dianalisis untuk mengetahui faktor-faktor manakah yang menjadi penyebab kesulitan belajar fisika pada siswa RSMABI.
3.    Hasil Penelitian
Hasil penelitian berdasarkan jurnal ini yaitu: 
Hasil tes soal uraian siswa digunakan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar fisika yang dialami siswa RSMABI. Kesulitan belajar fisika yang dapat dialami siswa dalam penelitian ini dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu dapat dilihat pada tabel berikut:
No
Jenis Kesulitan
Presentase (%)
Kriteria
1
Kesulitan berhitung
39,97
Rendah
2
Penguasaan konsep
46,42
Sedang
3
Mengartikan lambang dan mengkonservasi satuan
27,97
RSendah

Hal ini berarti siswa RSMABI mengalami kesulitan belajar dalam hal penguasaan konsep. Jika ditinjau dari data yang diperoleh, kondisi tersebut dimungkinkan terjadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berperan dalam menyebabkan kesulitan belajar pada siswa. Faktor-faktor ini dapat diketahui melalui angket yang dibagikan dan diisi oleh siswa.
Pada aspek minat belajar menunjukkan bahwa perolehan persentase untuk indikator kebiasaan belajar fisika sebesar 62,17% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar). Diketahui bahwa siswa kurang mempersiapkan materi sebelum mengikuti pelajaran fisika.
Pada aspek bakat diperoleh persentase untuk indikator pemahaman terhadap fisika sebesar 76,67% (kategori cukup menyebabkan kesulitan belajar) dan kemampuan menyelesaikan soal fisika sebesar 73,88% (kategori cukup menyebabkan kesulitan belajar). Siswa merasa lebih lambat dalam memahami materi fisika dan menyelesaikan persoalan fisika dibandingkan mata pelajaran yang lainnya seperti biologi dan kimia.
Pada aspek motivasi diperoleh persentase untuk indikator perhatian terhadap pembelajaran fisika sebesar 52,68% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar) dan usaha untuk belajar fisika sebesar 61,35% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar). Jika ada suatu materi yang tidak dimengerti siswa saat pembelajaran fisika, siswa tidak berusaha bertanya kepada guru. Selain itu, siswa cenderung diam dan tidak berusaha bertanya kepada temannya yang telah mengerti materi fisika yang dijelaskan guru. Hal ini ditambah dengan kurangnya usaha siswa dalam mempelajari materi fisika yang menggunakan bahasa Inggris karena pada RSMABI menggunakan pembelajaran secara bilingual. Dalam hal ini ditunjukkan dengan kurangnya usaha siswa dalam menyediakan kamus untuk membantu memahami materi fisika yang diajarkan menggunakan bahasa Inggris. Selanjutnya, dapat ditunjukkan pula bahwa siswa kurang memperhatikan ketika guru mengajarkan materi fisika di kelas.
Pada aspek intelegensi diperoleh persentase untuk indikator kecakapan dalam menyelesaikan persoalan fisika sebesar 74,61% (kategori cukup menyebabkan kesulitan belajar), penguasaan bahasa Inggris sebesar 63,43% (kategori cukup menyebabkan kesulitan belajar), dan intensitas mengikuti remidi sebesar 74,33%. Siswa merasa mengalami kesulitan dan tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan fisika. Selain itu, siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi fisika yang disampaikan secara bilingual. Selanjutnya, dari angket diperoleh data bahwa siswa sering mengikuti remidi setiap diadakan evaluasi dalam pembelajaran fisika.
Aspek guru tidak boleh dilepaskan dalam fenomena kesulitan belajar fisika yang dialami siswa khususnya dalam hal penguasaan konsep. Pada aspek ini diperoleh persentase untuk indikator penggunaan metode belajar sebesar 56,40% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar) dan penggunaan alat peraga sebesar 56,92% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar). Metode yang digunakan guru tidak bervariasi dan cenderung menggunakan metode ceramah. Selain itu, guru masih kurang dalam menggunakan laboratorium dalam kegiatan pembelajaran fisika. Selanjutnya, guru masih kurang dalam menggunakan alat peraga baik itu langsung maupun tidak langsung yang dapat ditampilkan melalui LCD.
Pada aspek aktivitas diperoleh persentase untuk indikator keaktifan berorganisasi sebesar 50,78% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar) dan manajemen waktu belajar sebesar 57,70% (kategori kuat menyebabkan kesulitan belajar). Siswa aktif mengikuti kegiatan keorganisasian dan hal ini berimbas pada tidak teraturnya jadwal dalam belajar fisika.
Kesulitan belajar fisika pada siswa harus segera diatasi. Kesulitan belajar fisika yang berkelanjutan menyebabkan siswa kesulitan dalam memahami konsep-konsep fisika selanjutnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru adalah melakukan diagnosis yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kesulitan belajar. Untuk mendiagnosa kesulitan belajar, guru dapat menduga ketika pembelajaran di kelas. Apabila siswa tidak mampu memahami konsep yang baru diajarkan dan siswa terus menerus meminta guru mengulangi dalam menjelaskan suatu konsep maka siswa dapat dikatakan mengalami kesulitan dalam memahami suatu konsep atau penjelasan guru masih sulit dipahami. Setelah penyebab kesulitan diketahui, maka perlu direncanakan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah belajar ini.
4.    Analisa
Berdasarkan hasil penelitian di atas, beberapa faktor yang saling berperan dalam menyebabkan kesulitan belajar pada siswa yaitu; pertama aspek minat belajar pada indikator kebiasaan belajar fisika memilki pengaruh kuat yang menyebabkan kesulitan belajar. Karena ketika siswa memiliki minat belajar rendah ia akan menggunakan sedikit waktunya untuk mempelajarinya.
Kedua aspek bakat pada indikator pemahaman terhadap fisika memiliki cukup pengaruh menyebabkan kesulitan belajar dan kemampuan menyelesaikan soal fisika memilki cukup pengaruh menyebabkan kesulitan belajar.Karena pemahaman yang rendah yang menyebabkan kemampuan menyelesaikan soal yang rendah pula akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Tingkat pemahaman siswa dapat diukur melaui kemampuan menyelesaikan soal yang dimanestifikasikan berupa nilai.
Ketiga aspek motivasi pada indikator perhatian terhadap pembelajaran fisika memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar dan usaha untuk belajar fisika memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar.Motivasi sangat berperan penting dalam proses belajar siswa, karena merupakan dorongan bagi siswa untuk belajar. Motivasi sebagai pendorong perbuatan, sesuatu yang akan dicari untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dipelajari. Motivasi memiliki pengaruh terhadap pembelajaran siswa yaitu meningkatkan usaha dan energi. Ketika motivasi rendah maka hasil dari proses belajar siswa akan tidak optimal.
Keempat aspek intelegensi pada indikator kecakapan dalam menyelesaikan persoalan fisika memiliki cukup pengaruh menyebabkan kesulitan belajar, penguasaan bahasa Inggris memiliki pengaruh menyebabkan kesulitan belajar, dan intensitas mengikuti remidi memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar. Kapasitas intelegensi berpengaruh pada proses penerimaan materi belajar oleh siswa. Intelegensi merupakan faktor intern siswa yang bersifat kognitif. Sebgaimana kutipan Muhibbin Syah bahwa faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni yang bersifat kognitif, seperti rendahnya kapasitas intelegensi siswa, yangbersifat afektif, seperti labilnya emosi dan sikap, yang bersifat psikomotor, seperti terganggunya alat-alat indra penglihatan danpendengaran.
Kelima aspek guru pada indikator penggunaan metode belajar memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar dan penggunaan alat peraga memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar. Perlunya kreativitas guru dalam memilih metode dan menggunakan media pendukung, karena hal ini akan berpengaruh pada efektivitas proses pembelajaran.
Keenam aspek aktivitas pada indikator keaktifan berorganisasi sebesar memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar dan manajemen waktu belajar memiliki pengaruh kuat menyebabkan kesulitan belajar. Seorang siswa yang aktif berorganisasi tetapi tidak diimbangi dengan manajemen waktu yang baik, maka akan menyita waktu yang semestinya untuk belajar digunakan untuk kesibukan berorganisasi.
Cara untuk mengatasi kesulitan belajar yaitu melakukan diagnosis yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kesulitan belajar. Setelah penyebab kesulitan diketahui, maka perlu direncanakan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah belajar ini. Prosedur atau langkah-langkah melaksanakan diagnosis kesulitan belajar yaitu; 1) mengidentifikasi peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan, belajar, 2) melokasisasi letak kesulitan belajar, 3) menentukan faktor penyebab kesulitan belajar, 4) memperkirakan alternatif bantuan, 5) menetapkan kemungkinan cara mengatasinya, 6) tindak lanjut.
E.     EVALUASI DIAGNOSTIK
 Evaluasi Diagnostik : Yang dilaksanakan untuk keperluan mengenal latar belakang (psikologi fisik, lingkungan) dari murid yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar.
Menurut Muzayyin, meskipun dalam sumber ilmu pendidikan Islam, klasifikasi jenis evaluasi di atas tidak kita temukan secara eksplisit, namun dalam praktek dapat diketahui bahwa pada perinsipnya jenis evaluasi seperti ini sering sekali ditemukan. Di samping itu di dalam pendidikan Islam kita bisa saja mengadopsi hal-hal yang positif yang datang dari luar untuk diterapkan pula dalam pendidikan Islam selama yang diadopsi itu tidak bertentangan denganprinsipkependidikandalamIslam.
Allah dalam berbagai firman-Nya dalam kitab suci Al Qur’an memberitahukan kepada kita bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian tugas pendidikan yang dilaksanakan oleh pendidik. Ada tiga tujuan pedagogis dari sistem evaluasi Tuhan terhadap perbuatan manusia yaitu ;
1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupanyangdialaminya.
2. Untuk mengetahui sampai di mana atau sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah diterapkanRasulullahSAWterhadapumatnya.
3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat-tingkat hidup keislaman manusia, sehingga diketahui manusia yang paling mulia di sisi Allah yaitu yang paling bertaqwa kepada-Nya, manusia yang sedang dalam iman dan ketaqwaannya, dan manusia yang ingkar kepada ajaranIslam.
Adapun sistem evaluasi yang terapkan oleh Allah tidak menggunakan sistem laboratorial seperti dalam dunia ilmu pengetahuan modern sekarang. Namun prinsip-prinsipnya menunjukan bahwa sistem pengukuran terhadap prilaku manusia yang beriman dan tak beriman secara umum telah pula ditunjukan dalam Al Qur’an. Misalnya ayat-ayat yang menunjukan bahwa sifat-sifat atau watak manusia mukmin adalah bila shalat mereka khusyu’, melaksanakan perintah zakat, menjaga kemaluan terhadap wanita yang bukan istri (seperti tersebut dalam QS. Al-Mu’minun ayat1-5). Orang beriman jika disebut nama Allah, gemetarlah hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya (seperti tersebut dalam QS. Al-Anfal ayat2). Dan jika ditimpakan musibah mereka mengucapkan : “InnalillaahiwainnaIlahiraji’uun”.
Untuk mengetahui sejauh mana kuatnya iman seseorang, Allah SWT terkadang mengevaluasinya melalui berbagai cobaan yang besar. Allah SWT berfirman :
أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون
ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين

Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji (dievaluasi) lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut,29:2-3).
Sasaran evaluasi dengan teknik testing tersebut, adalah ketahanan mental beriman dan taqwa kepada Allah. Jika mereka ternyata tahan terhadap uji coba Tuhan, mereka akan mendapatkan kegembiraan dalam segala bentuk, terutama kegembiraan yang bersifat mental rohaniah. Seperti kelapangan dada, ketegaran hati, terhindar dari putus asa, kesehatan jiwa dan kegembiraan paling tinggi nilainya adalah mendapatkan tiket masuk surga.
Sistem evaluasi untuk mengetahui apakah bersyukur ataukah kufur terhadap Tuhan, sebagaimanafirman-Nya :
قال الذي عنده علم من الكتاب أنا آتيك به قبل أن يرتد إليك طرفك فلما رآه مستقرا عنده قال هذا من فضل ربي ليبلوني أأشكر أم أكفر ومن شكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن ربي غني كريم

“……..iapun berkata (orang yang berilmu dari Al-Kitab) : ia termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakan aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml,40).








































DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta. PT Rineka Cipta
Makmun,AbinSyamsuddin.2005. Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajara Modul. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Abdurrahman, Mulyono. 1998. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta. PT Rineka Cipta.
Bahri Djamarah, Syaiful. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.


[1] Abu Ahmadi. Psikologi Belajar. 1991. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hal.91
[2] Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. 1995. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal. 175
[3] H.Abin Syamsyuddin Makmun. Psikologi Kependidikan.2005. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Hal.307
[4] Ibid. Hal .174
[5] Ibid. Hal. 175
[6] Ibid. Hal. 175
[7] Ibid. Hal. 175
[8] Ibid. Hal. 175
[9] Ibid. Hal. 309
[11] Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1998), h. 7-8
[12] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), h.173

[13] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), h. 153.
[14] Ibid., h. 155
[16] Ibid.h.173


 [s1]Implisit = selengkapnya
Maksudnya, secara lengkap kita itu biasa menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi oleh siswa ( kasus ) itu masih mungkin atau tidak mungkin untuk kita bisa atasi, dan apakah ada alternatif yang mungkin bisa untuk kita tempuh?.



ingin mendapatka penghasilan dengan nonton youtube haya 5 detik saja ayo daftarkan diri anda di rajaview dengan web dibawah dibawahini
https://rajaview.id/berpenghasilanview

0 komentar:

Posting Komentar

RPP tentang SITEM PETIDAKSAMAAN LINIER TIGA VARIABEL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : MA. Ittihadil Ummah Mata Pelajaran/Tema : Matematika/Sistem Persamaan dan Pe...